Feeds:
Tulisan
Komentar

Arsip untuk Juli, 2007

PENTING-TAK PENTING KOMUNITAS SASTRA

Isbedy Stiawan ZS

SAYA memulai pembicaraan ini dengan ilustrasi begini… PADA suatu malam, mungkin malam-malam sebelum dan setelahnya, di pelataran sebuah pusat kesenian (bisa pula atas nama taman budaya, gelanggang seni, dst.nya) beberapa orang—lelaki-perempuan—asyik mengobrol ngalor-ngidul. Buah cakap mereka dari soal kesenian sampai politik dan melebar ke soal seks… mungkin.
Konon, setiap malam, sejumlah orang [...]

Untuk mentranslate bahasa

HUSNUL KHULUQI

KETIKA pertama kali melihatnya di sebuah pertemuan sastra di Tangerang, Banten, sekitar pertengahan 1996, lelaki muda itu tak mengesankan seorang buruh pabrik. Penampilannya rapi dengan kemeja yang dimasukkan ke celana pantalon. Kulitnya putih bersih, walau urat-urat yang menjalar di tangannya tampak menonjol. Rambutnya yang dipendek disisir rapi dengan belahan di sebelah kiri. Wajahnya manis. Bahasa [...]

Untuk mentranslate bahasa

Kurnia Effendi
SENIMAN, termasuk sastrawan, sebenarnya pekerja kreatif individual. Kerja sama antarseniman muncul ketika sebuah karya harus tampil dalam medium berikutnya. Misalnya sebuah novel yang ditulis oleh seorang pengarang, akan melibatkan kreator seni lain saat diterbitkan menjadi buku. Mereka antara lain penyunting yang umumnya juga seorang penulis atau ahli bahasa, dan perupa (pelukis atau pegrafis) [...]

Untuk mentranslate bahasa

Wilson Nadeak
Upaya memasyarakatkan sastra di sekolah-sekolah dan kampus perguruan tinggi patut
dihargai. Kegiatan-kegiatan yang bersifat spontan atau yang bersifat tematis
(misalnya memperingati Chairil Anwar, Hari Kartini, dsb) pun merupakan kejadian
yang patut ditradisikan. Sementara kehadiran sastrawan di tengah-tengah mnereka
dengan membacakan karya-karya mereka sendiri, atau terlibat di dalam diskusi
dengan siswa dan mahasiswa, juga patut dibanggakan. Tetapi, jika peristiwa itu
hanya [...]

Untuk mentranslate bahasa

LAKSANA CENDAWAN DI MUSIM HUJAN

Iwan Gunadi 

Seorang dosen di Fakultas Sastra Universitas Indonesia heran ketika ber­kunjung ke Universitas Leiden, Belanda. Dia heran bukan lantaran koleksi kar­ya-karya sastra lama Indonesia di sana jauh lebih lengkap ketimbang di negeri­nya. Banyak kalangan, terutama para akademisi, sudah lama memaf­humi­nya. Kolonialisme, inilah yang kemudian sering muncul sebagai tumbal argumentasi.  
Tentu, bukan hal itu yang membuatnya heran. [...]

Untuk mentranslate bahasa