DALAM KOMUNITAS: IDEOLOGI MEMBENTUK ESTETIKA


Kurnia Effendi

SENIMAN, termasuk sastrawan, sebenarnya pekerja kreatif individual. Kerja sama antarseniman muncul ketika sebuah karya harus tampil dalam medium berikutnya. Misalnya sebuah novel yang ditulis oleh seorang pengarang, akan melibatkan kreator seni lain saat diterbitkan menjadi buku. Mereka antara lain penyunting yang umumnya juga seorang penulis atau ahli bahasa, dan perupa (pelukis atau pegrafis) yang membuat ilustrasi untuk sampul bukunya.

Perjalanan jadi lebih panjang bila novel yang telah menjadi buku itu ternyata menarik minat seorang sutradara untuk difilmkan. Proses sampai menjadi karya sinema lebih banyak melibatkan para seniman dan teknisi lain. Sebut saja penulis skenario, pembuat storyboard, juru kamera, aktor dan aktris, juru rias, penata artistik, penyunting film, pembuat efek suara dan efek gambar, pengisi ilustrasi musik, dan seterusnya. Umumnya, ketika karya sastra yang semula dibuat secara individual itu terjun ke dunia industri (buku, film, pertunjukan teater) akan membutuhkan banyak campur tangan para seniman bidang lain.

Sebuah kerja sama yang nyaris sempurna lazimnya didukung oleh ikatan kimiawi antarpersonal. Mereka memiliki rasa saling membutuhkan, rasa saling memiliki tujuan, dan boleh jadi tumbuh persahabatan di antara hubungan bisnis itu. Persahabatan yang didukung profesionalisme tentu melahirkan sinergi yang baik. Misalnya seorang pengarang yang dekat dengan redaktur, sepanjang kualitas karyanya tetap dijaga, tak ada salahnya untuk saling memberikan fasilitas. Contoh lain, sebuah tim pembuat film yang secara garis besar terdiri dari produser, sutradara, pemeran, dan penulis cerita bisa memahami keinginan satu sama lain tanpa menjatuhkan mutu kinerja, walhasil bakal mencapai sebuah film yang baik. Dengan kata lain, mereka yang ahli dalam bidangnya masing-masing itu mengusung satu visi dan misi dalam memproses sebuah karya bersama.

Kegiatan yang tidak individual itu bisa berawal dari komunitas, atau sebaliknya bisa pula mendorong lahirnya komunitas. Tanpa perlu mendefinisikan komunitas, kita tahu bahwa sekumpulan orang dalam bidang yang sama atau berbeda dengan tujuan awal yang kira-kira sama, membentuk sebuah ikatan keorganisasian (belum tentu organisasi yang sungguh-sungguh tertib dan resmi), berusaha secara berkala menyelenggarakan kegiatan. Bentuk kegiatan itu bisa macam-macam. Sebuah komunitas seni, atau khususnya sastra, pun tidak luput dari kegiatan sosial. Contoh yang paling hangat adalah upaya penggalangan dana untuk membantu saudara sebangsa yang tertimpa musibah gempa di Jogja beberapa waktu lalu, pernah dilakukan oleh Komunits Sastra Indonesia (KSI) yang kegiatan utamanya bersastra.

Ada apa di balik komunitas sastra yang tumbuh subur di Indonesia ini? Apakah dengan komunitas seorang pegiat sastra menjadi lebih dipandang? Atau sebaliknya, komunitas akan lebih bersinar bila didukung oleh para pegiat sastra yang sudah mapan? Mengenai pengaruh komunitas sastra bagi seorang pengarang atau pertumbuhan sastra di Indonesia, pernah saya tulis untuk Kompas di tahun 1998. Ketika itu, KSI telah melakukan tahap pertama pemetaan komunitas sastra seluruh Indonesia.

Bicara mengenai ideologi dalam komunitas, sadar atau tidak, memang ada. Meskipun tidak selalu ditulis secara jelas, namun tersirat dalam AD/ART organisasi. Apakah semua komunitas memiliki AD/ART seperti KSI? Belum tentu. Namun demikian bukan berarti tak ada visi dan misi. Saya kira ideologi melekat pada visi dan misi itu. Katakanlah sebuah komunitas yang salah satu kegiatannya adalah memberi pelatihan penulisan kreatif, selain memang memandang perlu pertumbuhan jumlah penulis, boleh jadi sembari memasukkan serpihan ideologi dalam pengajarannya. Mungkin sudah diketahui sejak awal bahwa KSI yang digagas salah satunya oleh Wowok Hesti Prabowo, memiliki pondasi sastra buruh (para pegiat sastra dari kalangan pegawai pabrik di Tangerang) yang menitikberatkan kaderisasi sastrawan dari para buruh yang memiliki talenta literer. Pada perkembangannya memang sempat menimbulkan friksi terhadap tarik-menarik kepentingan di dalam tubuh organisasi. Namun lantaran unsur kekeluargaan yang tinggi di antara para anggota KSI, masih tampak jejak dan kontribusinya terhadap perjalanan sastra Indonesia.

Komunitas besar semacam Bengkel Teater dan Komunitas Utan Kayu, lebih dipengaruhi oleh tokoh sentralnya, yakni Rendra dan Goenawan Mohamad. Masing-masing tentu membawa ideologi yang berbeda satu sama lain. Ideologi itu tertanam dan membersit dalam bentuk ejawantahnya: karya, kegiatan, pendapat; menjadi semacam “mazhab” yang membedakan dirinya dari yang umum. “Mazhab” itu kemudian mewarnai panggung sastra Indonesia. Dan jangan lupa, “mazhab” yang membentuk masing-masing anggotanya itu akan, seperti layaknya partai, menjadi kubu-kubu yang acap menimbulkan pro dan kontra.

Saya kira tak ada salahnya membikin citra diri dengan kemampuannya yang utuh. Dengan keberbedaan masing-masing ideologi dalam setiap komunitas, baik besar maupun kecil, justru membuat dinamika yang melahirkan opini-opini cerdas. Sudah pasti bahwa setiap gesekan menimbulkan panas, tetapi juga menghasilkan kecemerlangan. Satu pendapat yang sama alias seragam (sebagaimana lazim disuarakan oleh anggota MPR/DPR di masa pemerintahan Soeharto) justru lambat-laun menunjukkan penurunan kualitas dan ketumpulan karya. Pertentangan pendapat akan memaksa setiap orang (di luar atau di dalam komunitas) akan terus mencari jawaban yang paling benar menurut cara pandangnya. Karena kita tahu bahwa tak pernah ada jawaban paling benar, sepanjang dunia berputar dan kepentingan selalu berubah-ubah, rancak-banalah khazanah kesusastraan kita.

Dengan demikian menurut saya, ideologilah yang membuat sebuah komunitas bisa survive. Ideologi pula yang terus mempertahankan dan melahirkan komunitas-komunitas sastra di pelbagai tempat. Sebut saja untuk wilayah Jabotabek: Kelompok Poci Bulungan, Masyarakat Sastra Jakarta, Forum Lingkar Pena, Komunitas Meja Budaya, Komunitas Yin Hua, Creative Writing Institute, sampai yang berkesan main-main seperti Komunitas Lidah Buaya, dan seterusnya. Di luar Jakarta, bahkan sampai ke Aceh, tentu banyak lagi, dengan tujuan awal mewadahi potensi seniman (sastrawan) daerah. Dan pada akhirnya, ideologi juga membentuk estetika, baik dalam karya maupun dalam sikap anggotanya.

Saat teknologi informasi menjadi bagian kehidupan kita sehari-hari, muncul pula gagasan bersastra di media maya. Awalnya merupakan solusi atau katarsis ketika ruang media massa untuk sastra sangat terbatas. Bahkan ada semacam pendapat, betapa sulitnya menembus dinding “arogansi” redaktur budaya. Yayasan Multimedia mungkin salah satu perintisnya yang resmi membuat organisasi cyber-sastra dan memilih Medy Loekito sebagai presidennya. Sebagai alternatif untuk mengobarkan karya sastra, media maya tidak serta-merta diterima khalayak. Ada sinisme di antara para sastrawan yang beruntung mendapat tempat di “mimbar” media cetak, namun lambat-laun situasi berubah. Kini sama-sama kita sadari bahwa internet bukan piranti yang harus dijauhi, namun justru harus kita kuasai. Ternyata teknologi informasi jauh mempermudah seluruh proses kerja, termasuk dalam bersastra. Tentu ini menjadi semacam genre sastra dilihat dari sistemnya.

Memang urusan kualitas karya patut dipertanyakan. Tetapi lihatlah sekarang, banyak karya-karya cemerlang lahir di media maya, banyak pula naskah tak bermutu terbit dalam halaman kertas. Mau apa lagi? Dunia seni, termasuk sastra, selalu mengandung dua hal: baik dan buruk. Tergantung dari tujuan menulis dan bagaimana kita memilih bahan bacaan.

Faktanya, beratus komunitas telah lahir melalui media maya dalam bentuk mailing list (milis). Karena media maya tidak terbatas ruang, jangkauannya menjadi lebih luas. Sebuah komunitas media maya bisa beranggotakan orang Kediri sekaligus warga yang tinggal di Amerika. Apa boleh buat? Ketakterbatasannya itu (kecuali oleh padamnya listrik) membuat kemungkinannya menjadi lebih terbuka lebar. Anggota bisa keluar-masuk sekehendak hati. Pertanyaan berikutnya, adakah ideologi dan estetika dalam komunitas sastra cyber?

Sekali lagi, ideologi itu ada, tersirat atau tersurat dalam profilnya. Itu sebabnya anggota yang cocok dengan ideologi milis bersangkutan akan betah sementara yang tak cocok akan hengkang dengan mudah. Ideologi ini yang membedakan karakter milis, misalnya, antara Pasar Buku, Musyawarah Burung, Apresiasi Sastra, Klub Sastra Bentang, Fordisastra, Penyair, Komunitas BungaMatahari, dan banyak lagi. Karena keuntungan secara sosialisasi dan penyebarannya sangat tinggi, media maya juga digunakan oleh komunitas sastra seperti Forum Lingkar Pena yang didirikan oleh kakak-beradik Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia. Bahkan baru-baru ini Jurnal Kalam (Komunitas Utan Kayu) pun membuka jalur on line dalam internet, digawangi Hasif Amini. Menyusul majalah berkala Cipta yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta dan ditangani oleh Nirwan Ahmad Arsuka.

Saya kira tulisan ini cukup menjadi pengantar diskusi lebih lanjut. Diharapkan terjadi gesekan pendapat yang akan melahirkan kecemerlangan gagasan baru. Terutama mengenai ideologi dan estetika yang mencerminkan citra diri komunitas sastra.

Jakarta, 30 Juni 2007

(Ditulis untuk diskusi Ode Kampung 2, Temu Komunitas Sastra, Rumah Dunia, 2007)

Dikutip dari situs www.rumahdunia.net, 18 Juli 2007.

One response to “DALAM KOMUNITAS: IDEOLOGI MEMBENTUK ESTETIKA

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s