Feeds:
Tulisan
Komentar

Arsip untuk Juni, 2009

Mohamad Guntur Romli
Kurator TUK, Jakarta
Makalah Saut Situmorang, “Politik Kanonisasi Sastra”, yang ditulisnya untuk Kongres Cerpen V di Banjarmasin, menjelang akhir Oktober 2007 ini, membidik sebuah sasaran utama: TUK. Bagi Saut, TUK adalah biang keladi “politik kanonisasi sastra” yang tidak sehat yang berlangsung sekarang. Tetapi Saut tak mengerti apa sebenarnya TUK. Dia mengatakan, TUK adalah sebuah [...]

Untuk mentranslate bahasa

Terimakasih Bung Radityo untuk kiriman wawancara dengan Goenawan ini.
Bagian dari wawancaranya ini tentang Orde Lama Bung Karno, Lekra dan Pram merupakan yang terpenting, dan sekali gus menyingkapkan pandangannya yang konsisten terhadap dua hal itu. Sebagaimana yang sudah juga ditulisnya sebagai lembaran ekstra Majalah Tempo beberapa tahun yang lalu (1990?) yang saya terimka copynya dari Umar [...]

Untuk mentranslate bahasa

Goenawan Mohamad adalah orang Barat yang lahir di Batang, demikian julukan yang pernah diberikan kepadanya oleh Hamid Basyaib. Bagaimana pemikirannya tentang dinamika kesusasteraan Indonesia saat ini: tentang serangan sekelompok sastrawan pada dirinya dan Komunitas Utan Kayu yan ia dirikan? Bagaimana pula ia memaknai perdebatan sastra yang pernah terjadi dulu dan sekarang?
Pendiri majalah TEMPO itu menuturkan [...]

Untuk mentranslate bahasa

Rizka Maulana

Mas Sitok, saya mau wawancara tertulis lewat e-mail dengan Anda.
Soalnya bulan Ramadhan ini jalanan macet dan saya tinggal di Bogor.
Kalau Mas Sitok setuju, inilah pertanyaannya:

RM: Dalam polemik yang bersliweran tentang TUK (atau KUK) Mas Sitok
tidak memberikan keterangan atau komentar selama ini.
Mengapa? Menganggap sepi serangan itu?

SS:  Hello, Rizka. Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaanmu,
izinkan saya bertanya dulu. Dapatkah [...]

Untuk mentranslate bahasa

A. Kurnia
Di bawah ini adalah petikan wawancara tertulis yang saya lakukan dengan Goenawan Mohamad, yang jawabannya saya terima pada tanggal 25 Agustus 2007 lalu. Rencananya akan saya gunakan sebagai bahan tesis saya, akan tetapi petikan wawancara ini saya kira bemanfaat untuk dibaca, mengingat debat ramai di beberapa mailing list di internet akhir-akhir ini.
Pertanyaan: Ada yang [...]

Untuk mentranslate bahasa

Iwan Gunadi
Pemerhati Komunitas Sastra
“Asa adalah api dan teman-teman di komunitasnya adalah kayu bakar.” Kalimat tersebut meluncur dari bibir seorang penyair muda asal Yogyakarta pada suatu seminar tentang komunitas sastra di Jakarta. Asa–dan mungkin teman-temannya–juga berasal dari Yogyakarta dan sama-sama penyair muda. Tapi, bukan asal daerah dan profesi Asa yang mula-mula ingin didiskusikan di sini. [...]

Untuk mentranslate bahasa

Kami, di Komunitas Utan Kayu (KUK), tahu bahwa Saut Situmorang dan sejumlah pendukungnya tak henti-hentinya menyerang kami di internet. Maaf, kami tidak bisa membalas, bahkan belum bertanya, apa alasan kebencian itu. Kami sedang sibuk.
Kami baru selesai menyelenggarakan Festival Sastra Internasional di Jakarta dan di Magelang, di bawah Borobudur, dengan sebuah tim yang diketuai Sitok Srengenge. [...]

Untuk mentranslate bahasa

Matdon
Penyair/Penulis Budaya di Sejumlah Media
Jumat malam 20 Juli 2007, selepas acara pembukaan “Ode Kampung#2″  Temu Komunitas sastra se-Nusantara, di Komunitas Rumah Dunia Desa Ciloang Serang Banten, penyair Wan Anwar (Serang), Saut Situmorang (Yogyakarta), Toto St Radik (Serang), Wowok Hesty Prabowo (Presiden Panyair Buruh/Tangerang), dan Gola Gong (pemilik Rumah Dunia) terlibat perbincangan serius, masih soal keberadaan [...]

Untuk mentranslate bahasa

ESTETIKA KOMUNITAS SASTRA

Budi Darma
Kritikus Sastra

Komunitas Tanpa Label
Jangan dikira bahwa komunitas sastra hanya ada di Indonesia, sebab, komunitas sastra ada di mana-mana, di seluruh dunia. Juga, jangan dikira bahwa komunitas sastra di Indonesia baru ada mulai tahun 1980-an, sebab, jauh sesudah itu sebetulnya sudah ada komunitas sastra. Ingat, komunitas hanyalah sebuah label, sementara, ada label atau tidak, selama [...]

Untuk mentranslate bahasa

DUSTA

Saut Situmorang
Penyair dan Esais, Tinggal di Yogyakarta
Sinisme historis dalam melihat kondisi “sastra Indonesia” kontemporer
sudah memenuhi kepala saya selama bertahun-tahun waktu saya membaca
artikel berjudul aforistis “Karya Bagus, Argumentasi Lemah” oleh
Chavchay Syaifullah di Media Indonesia, Minggu 8 Oktober 2006 lalu
tentang “kegagapan forum” orang-orang Teater Utan Kayu di arena
sastra “internasional” berbahasa Inggris seperti Ubud Writers and
Readers Festival. [...]

Untuk mentranslate bahasa

Tulisan yang Lebih Tua »