SEPINTAS SASTRAWAN DAN KOMUNITAS SASTRA DI KALIMANTAN


Micky Hidayat

Sastrawan, Menetap di Kalimantan Selatan

Haram manyarah, waja sampai kaputing.[1]

Pulau Kalimantan sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang mempunyai luas 553.000 kilometer persegi atau 28,3 % dari luasnya seluruh Negara kita dan 5,5 kali pulau Jawa (758.000 km2 luasnya termasuk wilayah Malaysia, yang sekarang disebut Malaysia Timur, Serawak, Brunei dan Sabah), di masa penjajahan Belanda dulu dikenal dengan sebutan Pulau Dayak dan pulau hutan yang penuh dengan berbagai cerita misteri dan menakutkan. Dulu, orang-orang di luar Kalimantan beranggapan bahwa penduduk yang menghuni pulau ini adalah orang liar, orang biadab, orang Dayak yang makan orang, hitam seperti arang, manusia berekor dan anggapan mengerikan lainnya. Stigma negatif demikian tidaklah mengherankan, karena memang politik penjajahan Belanda di masa lampau terkenal dengan politik “pecah-belah”nya (devide et impera) itu, dan memublikasikan ke seantero dunia, bahwa orang atau suku Dayak di Kalimantan itu jahat, ganas, makan orang, hitam, suka potong kepala dan lain sebagainya. Pada kenyataannya, orang Dayak dan orang Banjar tidaklah berbeda dengan suku bangsa lain di tanah air ini yang ingin duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi, merasa senasib dan sepenanggungan serta memiliki rasa solidaritas yang tinggi terhadap sesama warga bangsanya. Orang Kalimantan pun welcome dan dapat hidup secara rukun dan damai dengan suku Jawa, Bugis, Madura, Sunda, Batak, Ambon, keturunan Arab, Melayu, Tionghoa, dan berbagai suku atau bangsa lainnya yang kini bertebaran menghuni pulau Kalimantan. Kalaupun beberapa tahun lalu di dua wilayah provinsi di Kalimantan pernah terjadi peristiwa kerusuhan akibat konflik antaretnis yang menimbulkan banyak korban nyawa dan harta-benda, pemicu tragedi memilukan itu hanyalah persoalan ‘di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’ yang (sengaja) diabaikan atau terabaikan oleh sebagian penduduk dari salah satu etnis pendatang.

Pulau dengan keindahan alamnya yang menakjubkan dan memendam harta karun berupa sumber daya alam nan melimpah ini dulu juga dikenal dengan pulau Borneo atau Tanjung Negara (nama sewaktu kerajaan Hindu) dengan nama aslinya “Pulau Bagawan Bawi Lewo Telo”, yang merupakan taburan berlian di lintang katulistiwa (Equator).

Kalimantan, artinya ialah pulau yang mempunyai sungai yang besar-besar (Kali = sungai dan Mantan = besar). Tahun 1950, Kalimantan menjadi salah satu provinsi – bersama provinsi lainnya seperti Sunda Kecil, Sulawesi, Sumatera, Maluku, Jawa Barat, dan Jawa Timur – dengan ibu kotanya Banjarmasin, dikepalai seorang Gubernur, Dr. Murdjani. Dalam perkembangan selanjutnya (1957), Kalimantan terbagi menjadi 4 provinsi, yaitu Kalimantan Selatan dengan ibu kotanya Banjarmasin, Kalimantan Tengah  ibu kotanya Palangka Raya, Kalimantan Timur ibu kotanya Samarinda, dan Kalimantan Barat ibu kotanya Pontianak. Sedangkan Kalimantan Utara, seperti Kuching (Serawak),  Brunei dan Sabah masuk dalam wilayah Malaysia Timur. Perkembangan terakhir ini tercetus wacana untuk memekarkan 4 provinsi lagi, yaitu Provinsi Kapuas Hulu, Provinsi Barito Raya, Provinsi Kalimantan Tenggara, dan Provinsi Borneo Raya.

Dalam hal seni dan budaya, Kalimantan sebagai salah satu kantong budaya di Indonesia sejak dulu memiliki seniman-seniman kreatif yang menciptakan karya seni budaya berbagai ragam yang berkualitas – sebagai produk budaya yang di dalamnya terkandung harkat atau kemaslahatan hidup bermasyarakat, adat-istiadat, ritual-ritual, berbagai pemikiran, perasaan, pandangan hidup maupun nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh nenek moyangnya. Beragam karya seni yang hingga kini terus dipelihara atau dilestarikan antara lain berpuluh jenis seni tari, seni suara, seni lukis, seni ukir, dan seni sastra (syair, pantun, sastra lisan  lamut, bakisah, dan madihin). Menyangkut tradisi penulisan sastra Indonesia modern  di 4 provinsi Kalimantan, kemunculannya tidaklah bersamaan. Kegiatan penulisan sastra Indonesia di Kalsel dimulai pada 1930-an, Kaltim 1940-an, Kalbar 1950-an, dan Kalteng 1960-an.

Kalimantan Selatan

Sastra Indonesia di Kalimantan Selatan sesungguhnya sudah mulai dilakukan sebelum perang dunia kedua, di sekitar pertengahan atau akhir tahun 1930-an, atau hampir bersamaan dengan kurun waktu kegiatan penulisan yang dilakukan oleh para sastrawan Angkatan 1930-an (Angkatan Pujangga Baru). Meskipun pada kurun waktu awal penulisan para sastrawan Kalsel tidak setenar Angkatan Pujangga Baru, karena mereka umumnya menulis pada penerbitan (majalah dan koran) lokal, tidak sebagaimana sastrawan Angkatan Pujangga Baru yang menciptakan karya-karyanya yang menjadi karya monumental karena menulis dalam majalah Pujangga Baru – satu-satunya penerbitan penting yang memuat karya sastra para sastrawan di zamannya. Para sastrawan Kalsel yang memulai kegiatan penulisan karya sastra ini antara lain Merayu Sukma, Anggraini Antemas (Yusni Antemas), M. Yusuf Aziddin, Artum Artha, Ramlan Marlim, Hadharyah M, Merah Danil Bangsawan, dan lain-lain. Mereka juga telah mempunyai sejumlah buku, baik yang diterbitkan Kalsel atau usaha sendiri, maupun di luar Kalsel.

Namun kegiatan para sastrawan di Kalsel ini cenderung beraktivitas secara sendiri-sendiri dan belum terakomodasi atau terhimpun dalam satu institusi sebagaimana Pujangga Baru. Para sastrawan yang bermodalkan bakat alam inilah diklaim sebagai generasi sastrawan perintis kesusastraan Indonesia modern di Kalimantan. Pada umumnya para sastrawan perintis ini pada masa revolusi fisik juga aktif terlibat dalam pergerakan politik untuk mencapai Indonesia merdeka.

Dalam sejarah sastra Indonesia modern terdapat periodesasi yang disebut juga angkatan dalam kesusastraan Indonesia. Pada kurun waktu 1942 s.d. awal 1950-an kesusastraan Indonesia diisi oleh generasi atau yang dikenal dengan Angkatan 45 yang dipelopori oleh Chairil Anwar. Pada kurun waktu ini bermunculan pula karya para sastrawan Kalsel baik dari mereka yang menulis sebelum tahun 1940-an maupun mereka yang baru memublikasikan karyanya dalam peeiode ini, seperti Artum Artha yang produktif memublikasikan karya puisi, cerpen dan romannya di media massa berwibawa di Jakarta seperti majalah Mimbar Indonesia dan Siasat/Gelanggang. Sederet nama lain yang juga intensif menulis dan memublikasikan puisi-puisinya ke majalah Mimbar Indonesia, Waktu, Pantja Warna, dll, adalah Maseri Matali, Asyikin Noor Zuhri, Masrin Mastur, dll. Penyair Maseri Matali sendiri sempat disinggung oleh Paus Sastra H.B. Jassin dalam bukunya Tifa Penyair dan Daerahnya sebagai salah seorang penyair berbakat dari pedalaman Kalimantan yang bersahut-sahutan dengan generasi seangkatannya (Angkatan 45).

Setelah Angkatan 45, sebuah angkatan baru (diistilahkan Ajip Rosidi sebagai Angkatan Terbaru) dicetuskan lagi di Jogjakarta, yaitu Angkatan 50 yang dipelopori oleh W.S. Rendra, Ajip Rosidi, Toto Sudarto Bachtiar, Subagio Sastrowardoyo dll. Para sastrawan Kalsel yang muncul dan mulai aktif menulis dalam berbagai genre penulisan; puisi cerpen, novel ialah Hijaz Yamani, Ramta Martha (Rahmat Marlim), Azn. Ariffin, Dachry Oskandar, D. Zauhidhie, Taufiqurrahman, Yustan Aziddin, Salim Fachry, Sholihin Hasan, Aliansyah Ludji, Rustam Effendi Karel, Korsen Salman, Imran Mansyur, Abdul Kadir Ahmad, Syamsul Suhud, Syamsul Bahriar AA, Syamsiar Seman, Goemberan Saleh, Sir Rosihan,  dll. Karya para sastrawan ini dipublikasikan di berbagai majalah dan surat kabar terbitan lokal dan Jakarta, seperti Pahatan, Pusparagam, Bandarmasin, Minggu Pagi, Mimbar Indonesia, Kisah, Budaya Jaya, Zenith, Siasat, Gembira, Gajah Mada, Indonesia, Horison, Roman, Cerita, Konfrontasi, dan lain.lain.

Dekade 1960-an di tanah air diwarnai oleh munculnya dualisme angkatan, yakni Angkatan 63 atau Angkatan Manifes yang dicetuskan oleh Satyagraha Hoerip dan Angkatan 66 yang dideklarasikan oleh H.B. Jassin. Pada tahun 1963 telah terjadi apa yang disebut Manifes Kebudayaan yang banyak didukung oleh para sastrawan yang anti-komunis di tanah air. Di antara para pencetus dan penandatangan Manifes Kebudayaan ini di Jakarta adalah H.B. Jassin, Wiratmo Sukito, Goenawan Mohamad, dll. Sedangkan para manifestan di Kalimantan Selatan terdapat pula para sastrawan seperti Yustan Aziddin dan Rustam Effendi Karel. Sastrawan Kalsel lainnya yang di tahun 1960-an itu bermukim di Jawa Timur yaitu Hijaz Yamani dan Andi Amrullah juga mendukung dan ikut menandatangani Manifes Kebudayaan tersebut. Dan para sastrawan Kalsel yang produktif dan muncul dalam dekade 60-an ini antara lain M.H. Hadharyah Roch, A.S. Ibahy, Ardiansyah M, Murjani Bawi, Bachtar Suryani, Gusti Muhammad Farid, dan lain-lain. Pada 1963 untuk pertama kali terbit antologi puisi penyair se-Kalimantan Perkenalan di Dalam Sajak Penyair Kalimantan. Kemudian terbit pula beberapa antologi puisi perorangan dari penyair D. Zauhidhie (Imajinasi, 1960), Bachtar Suryani (Kalender, 1967), Syamsiar Seman (Bingkisan, 1968), dan Maseri Matali (Nyala, 1968).

Perkembangan sastra(wan) dekade 1970-an di Kalimantan Selatan terbilang sangat pesat dan menggembirakan, sebagaimana hingar-bingarnya  percaturan sastra di tanah air. Terutama di Kalsel, kenyataan perkembangan yang menggembirakan ini dirayakan lagi dengan dibentuknya lembaga atau organisasi kesenian seperti Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kalimantan Selatan  (kini menjadi Dewan Kesenian Kalimantan Selatan) yang digagas pada Musyawarah Seniman (Musen) pertama se-Kalimantan Selatan, 28 April s.d. 2 Mei 1971 di kota Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara. DKD Kalsel periode pertama ini diketuai oleh seniman dan politisi Anang Adenansi. Kemudian berturut-turut di berbagai kota dan kabupaten lainnya di Kalsel juga mendirikan dewan kesenian. Dan melalui program komite sastranya, DKD Kalsel menerbitkan majalah bulanan kebudayaan Bandarmasih, penerbitan rutin antologi puisi bersama maupun perorangan, antara lain Panorama, Bandarmasih, Jembatan, Jembatan II, Air Bah, 10 Penyair Hulu Sungai Utara, Banjarbaru Kotaku, Penjuru Angin, Riak-riak Barito, dll. Tahun 1978, Pustaka Jaya Jakarta menerbitkan antologi puisi Tanah Huma dari tiga penyair Kalsel, D. Zauhidhie, Yustan Aziddin, dan Hijaz Yamani. Demikian pun sayembara penulisan puisi dan even lomba deklamasi dan baca puisi secara rutin diselenggarakan dan diprakarsai DKD Kalsel.

Para sastrawan yang muncul pada dekade ini adalah Ajamuddin Tifani, Eza Thabry Husano, Arsyad Indradi, Hamami Adaby, M. Syarkawi Mar’ie, Yuniar M. Ary, A. Rasyidi Umar, Bakhtiar Sanderta, Sabrie Hermantedo, Andi Amrullah, Ibrahim Yati, Soufyan Surya, A. Mudjahidin S, Ulie S. Sebastian, Ibramsyah Amandit, Adjim Arijadi, Roeck Syamsuri Saberi, A. Dimyati Riesma, Rizhanuddin Rangga, Syarkian Noor Hadie, Johan Kalayan, Yan Pieter A.K. (Nayan van Houten), Dardy C. Hendrawan, Mas Husaini Maratus, Ahmad Fahrawi, Tarman Effendi Tarsyad, Burhanuddin Soebely, dan lain-lain.

Oleh karena aktivitas bersastra di Kalsel kemunculannya lebih awal, maka penulisan sastra di daerah ini tumbuh dan berkembang lebih pesat dibandingkan provinsi lainnya di Kalimantan. Dan sebagai salah satu kantong kesusastraan di Indonesia, Kalimantan Selatan memiliki sastrawan-sastrawan yang kreatif dan eksis dengan karya-karya sastranya yang tidak kalah kualitasnya dengan karya para sastrawan luar Kalsel. Karya para sastrawan Kalsel baik secara kuantitas maupun kualitas tidak hanya hadir sebagai khasanah lokal (Kalsel), tetapi juga memberi kontribusi bagi masyarakat dan perkembangan sastra Indonesia modern. Bila ada anggapan bahwa Kalsel adalah gudang sastrawan, hal itu tak bisa dimungkiri dan stigma itu masih melekat hingga hari ini.

Dekade awal 1980-an hingga pertengahan 1990-an – untuk sementara – diklaim sebagai ‘puncak’ pertumbuhan ataupun perkembangan sastra di Kalimantan Selatan. Namun di dua dekade ini karya sastra yang paling dominan hadir adalah genre puisi. Hal ini terbukti dari jumlah karya sastra (sajak) dan penyair Kalsel yang muncul ke permukaan. Menurut sastrawan dan kritikus sastra Korrie Layun Rampan, bukan hanya perkembangan kuantitas sastrawan dan karya sastra, tapi juga perkembangan kualitas sastra sangat pesat di Kalsel.  Rubrik-rubrik sastra di media cetak lokal maupun nasional didominasi oleh puisi. Khususnya untuk publikasi karya puisi, cerpen, cerber, dan esai di media cetak lokal, para sastrawan Kalsel merasa terbantu dengan kehadiran rubrik sastra di harian Banjarmasin Post, Media Masyarakat, dan Dinamika Berita (sekarang Kalimantan Post). Lebih spektakuler lagi, harian Banjarmasin Post – koran tertua di Kalimantan yang kini merger dengan harian Kompas – merupakan satu-satunya penerbitan di dunia – berdasarkan klaim Ajip Rosidi – yang berani menyajikan rubrik puisi bernama Dahaga untuk sosialisasi karya para penyair. Sedemikian banyaknya penyair yang menulis untuk Dahaga, sehingga pada setiap hari pemunculannya rubrik ini dijejali oleh sajak dan sangat luar biasa dalam melahirkan penyair – tentu dengan klasifikasi; penyair yang sajaknya berkualitas dan tidak berkualitas. Secara representatif dapat digambarkan, bahwa sepanjang tahun 1981 saja tercatat sebanyak 251 orang penyair yang menulis untuk Dahaga dengan jumlah sajak tak kurang dari 2.336 buah (berdasarkan data penelitian pengamat sastra Kalsel, Tajuddin Noor ganie). Rubrik puisi Dahaga yang sempat bertahan sekitar 7 tahun (1978-1985) ini digawangi oleh tiga serangkai sastrawan, yaitu Yustan Aziddin (Wapemred. Banjarmasin Post), D. Zauhidhie, dan Hijaz Yamani (ketiganya kini sudah almarhum). Tumbuh suburnya perpuisian – hingga muncul anggapan Kalsel mengalami inflasi puisi dan kepenyairan –  di Kalsel juga memacu antarpenyair untuk saling berkompetisi menerbitkan sajak-sajaknya, baik secara perseorangan maupun secara kolektif  bersama penyair luar Kalsel yang diterbitkan Banjarmasin, Surabaya, Jakarta, Jogjakarta, Bandung, Tasikmalaya, Padang, dan beberapa kota lainnya, hingga Brunei Darussalam dan Malaysia. Bahkan pada dekade 1980-an itu pula – berdasarkan hasil penelitian tak resmi penyair Jogja, Bambang Widiatmoko – Kalsel diklaim menduduki peringkat kedua dalam kategori populasi penyair terbanyak di Indonesia setelah Jogjakarta. Even-even sastra seperti forum diskusi atau temu sastrawan juga marak diselenggarakan di berbagai kota dan kabupaten di wilayah Kalsel. Forum sastra paling monumental di era 1980-an adalah Fo-rum Penyair Muda 8 Kota se-Kalimantan Selatan 1982, yang digagas oleh komunitas penyair  bernama  Himpunan  Penyair  Muda  Banjarmasin  (HPMB).  Sastrawan/penyair  yang menonjol  dengan  wawasan estetik puisi dan menemukan gaya pengucapan atau bahasanya sendiri serta beberapa di antaranya memiliki reputasi kepenyairan nasional pada dekade ini, antara lain  Ajamuddin Tifani,Ahmad Fahrawi,Burhanuddin Soebely, Tarman Effendi Tarsyad  (walaupun  awal  ke-munculan keempat sastrawan ini pada dekade 1970-an, tapi oleh Abdul Hadi WM di Forum Puisi Indonesia ’87 di TIM dikategorikan sebagai generasi penyair 80-an), Y.S. Agus Suseno, M.Rifani Djamhari, Noor Aini Cahya Khairani, Ali Syamsuddin Arsi, Ariffin Noor Hasby, Sandi Firly, Fahruraji Asmuni, Eddy Wahyuddin SP, Muhammad Radi, Zain Noktah, Kony Fahran (kini bermukim di Tenggarong, kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim), Jamal T. Suryanata,  Eko Suryadi WS,  Abdul Karim, Tajuddin Noor Ganie, Radius Ardanias, Maman. S. Tawie, Iwan Yusi, Micky Hidayat, Akhmad setia Budhi, Aria Patrajaya, Sri Supeni, Mas Alkalani Muchtar, dan lain-lain untuk menyebut hanya beberapa nama. Iklim bersastra yang terbilang kondusif dan bergairah pada dekade 80-an dan 90-an tersebut boleh dikata merupakan era kebangkitan sastra Kalsel dengan ledakan-ledakan kreativitas yang telah berimplikasi melahirkan sejumlah sastrawan dengan kapasitas intelektual dan  kegigihan  idealisme yang  cukup  penting  diperhitungkan pada khasanah sastra Indonesia.

Pertengahan 1990-an hingga memasuki abad 21, yaitu awal 2000-an hingga 2008 ini, walaupun iklim bersastra di Kalsel tidak sesemarak dekade sebelumnya, namun denyut kehidupan dan kegairahan para sastrawan untuk berkarya masih tetap terasa dan tidak pernah mengalami stagnasi atau kemandekan. Para sastrawan terkini dari generasi 2000-an yang sedang berproses, kreatif serta produktif dan mulai bermunculan ikut menyumbangkan bentuk, warna dan pengucapan literer, dan mereka pun bersemangat merayakan kreativitas bersastra, bersaing  bersama sastrawan generasi 1990-an serta disokong oleh  sastrawan dari generasi 1980-an dan beberapa dari generasi 1970-an yang masih menunjukkan vitalitas berkarya. Sederet nama sastrawan baru generasi pertengahan 1990 hingga 2000-an ini antara lain: Sainul Hermawan, M. Hasbi Salim, Harie Insani Putra, Abdurrahman Al Hakim, Abdurrahman El Husaini, Isuur Loeweng, M. Nahdiansyah Abdi, Hajriansyah, Elang W. Kusuma, Aliman Syahrani, Shah Kalana Al-Haji, Hardiansyah Asmail, Andi Jamaluddin AR. AK., Fahmi Wahid, Fitriadi, M. Fitran Salam, Joni Wijaya, dll. Para sastrawan ini menulis dalam berbagai genre, seperti puisi, cerpen, esai, dan novel. Pada dekade ini bermunculan pula para penulis perempuan yang rata-rata masih berstatus mahasiswi dan aktivis seni di kampusnya, di antaranya: Nonon Jazouly, Dewi Alfianti, Hudan Nur, Nina Idhiana, Syafiqotul Machmudah, Rahmatiah, Ratih Ayuningrum, Nailiya Nikmah, Anna Fajarona, Endang Fitriani, Rismiyana, Annisa, dan Helwatin Najwa. Karya-karya berupa puisi, cerpen, dan esai sastra para perempuan muda yang pintar, cerdas dan memiliki potensi hebat ini semakin menunjukkan adanya upaya masing-masing mereka untuk mengeksplorasi sumber-sumber penciptaan yang beraneka-warna, dan menjelajahi berbagai kemungkinan bentuk maupun gaya pengucapan. Dan kehadiran maupun peran para sastrawan generasi baru ini setidaknya turut pula memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi pertumbuhan dan perkembangan sastra Indonesia di Kalsel. Tetapi, berkaca pada pengalaman, hanya sastrawan yang memang benar-benar mempunyai ketangguhan dan kesungguhan yang terus-menerus untuk menciptakan karya yang berkualitas secara estetik maupun tematik,  gigih dan konsisten, memperlakukan kerja sastra yang identik dengan ‘kekerasan’, ‘kekejaman’, dan ‘berdarah-darah’ yang kemudian mampu mempertahankan eksistensi kesastrawanannya.

***

Sepanjang tahun 1980 hingga 1990-an, kesusastraan Indonesia mutakhir dilanda hiruk-pikuk dengan terjadinya ledakan-ledakan luar biasa dahsyatnya sehubungan dengan  gerakan sastra secara kolektif yang memunculkan komunitas budaya atau komunitas sastra di berbagai wilayah di Indonesia.   Komunitas Sastra Indonesia (KSI), Revitalisasi Sastra Pedalaman (RSP), Komunitas Budaya Buruh Tangerang (BUBUTAN), Roda-Roda Budaya Tangerang, Komunitas Sastra Tegal, untuk menyebut hanya beberapa nama, merupakan gerakan sastra yang mencuat sebagai fenomena pertumbuhan sastra yang menarik. Bahkan di tahun 90-an keberadaan KSI dan RSP menjadi perbincangan dan diangkat sebagai polemik panjang di berbagai media massa nasional.    Menjamurnya  komunitas sastra yang diklaim sebagai lahirnya “pusat-pusat” pergerakan sastra baru ini berbarengan dengan ramainya polemik  tentang “marjinalisasi” sastra Indonesia dan peran para sastrawan akibat sistem penunjang kreativitas yang sangat tidak memadai. Tumbuhnya komunitas-komunitas sastra  ini tak dimungkiri menimbulkan pula  konseku-

ensi interpretatif beragam baik positif maupun sinisme. Namun yang pasti, kehadiran komunitas-komunitas sastra alternatif ini di samping ingin memperbaiki berbagai ketimpangan yang ada dalam perangkat sistem sastra di Indonesia, tampaknya dimaksudkan juga sebagai upaya ‘perlawanan’ atau ‘pembangkangan’ para sastrawan yang merasa terpinggirkan terhadap pusat-pusat kekuasaan yang melakukan penetrasi terhadap dunia sastra, dalam konteks ini negara, media massa, sekaligus mendobrak arogansi sentralisme dan monopoli para sastrawan mapan yang bertahta di pusat kesenian seperti Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ)nya. Dalam pandangan kreatif, lahirnya komunitas sastra merupakan penentangan terhadap legitimasi dan kewibawaan pemegang otoritas sastra di pusat – yang sebelumnya dapat dianggap sebagai penghalang kreativitas.

Bagi sastrawan Kalimantan Selatan, menjamurnya komunitas sastra di berbagai wilayah tanah air sesungguhnya bukan sesuatu yang asing. Di awal 1980-an – selain komite sastra di Dewan Kesenian Kalsel, bidang seni sastra di Badan Koordinasi Kesenian Nasional Indonesia (BKKNI) Kalsel, dan Himpunan Sastrawan Indonesia (HIMSI) Kalsel serta cabang-cabang HIMSI di berbagai kota dan kabupaten –  khususnya Banjarmasin sebagai ibu kota provinsi, sudah memiliki komunitas sastrawan bernama Himpunan Penyair Muda Banjarmasin (HPMB). Kehadiran HPMB yang didirikan pada tahun 1981 oleh para aktivis sastra – terutama para penyair muda kreatif, gigih, punya daya gerak dan cukup militan – ini  merupakan fenomena tersendiri bagi perjalanan dan persentuhan proses kreatif kepenyairan Kalsel. Ide awal pembentukan komunitas sastra ini sebenarnya  hanya  sekadar  wadah  berhimpun  para  penyair  yang bermukim  di kota Banjarmasin,  namun pada proses perjalanannya komunitas ini juga  banyak diminati oleh para penyair yang berdomisili di luar wilayah Banjarmasin, yaitu kota Banjarbaru, Martapura dan Kotabaru untuk bergabung sekaligus ikut berpartisipasi membesarkan komunitas ini. Oleh karena pembentukan komunitas ini pada awalnya hanya  secara informal,  namun  untuk menampung   minat dan antusiasme para aktivis penyair yang ingin bergabung, maka komunitas ini perlu membenahi internal organisasinya secara formal, antara lain melengkapi struktur kepengurusan, program kerja, dan perangkat Anggaran Dasar (AD) serta  Anggaran Rumah Tangga (ART).  Karena mayoritas  pendiri dan penggiat sastranya adalah penyair, maka HPMB lebih memberikan tekanan program kegiatan pada perpuisian,  seperti  diskusi sastra  secara  bergiliran  dari  rumah  ke rumah antarpenyair, penerbitan buku kumpulan puisi, sayembara penulisan puisi, serta forum-forum penyair berskala kota, kabupaten, dan provinsi. Salah satu forum sastra yang terbilang fenomenal pernah diselenggarakan komunitas ini adalah Forum Penyair Muda 8 Kota se-Kalimantan Selatan 1982 dan Forum Siklus 5 Penyair Banjarmasin di Banjarmasin. Kiprah komunitas ini sempat  mengalami  kevakuman  selama  beberapa  tahun  karena  berbagai  kesibukan  para penggiatnya di luar komunitas.  Akhirnya  pada pertengahan  tahun 1980-an, komunitas ini bubar dengan sendirinya.Walaupun komunitas penyair ini hanya tinggal nama, namun kiprah, andil ataupun sumbangsihnya dalam meramaikan dan merayakan rumah besar sastra di Kalsel bahkan turut pula mewarnai peta sastra tanah air patutlah untuk diapresiasi dan senantiasa dikenang.

Setelah komunitas penyair (HPMB), pada pertengahan tahun 1980-an dunia sastra Kalsel disemarakkan lagi dengan bertumbuhannya komunitas sastra di berbagai daerah kabupaten dan kota, baik yang terorganisir maupun organisasi informal. Namun atmosfer yang tercipta dari komunitas tersebut tentu berpengaruh positif bagi perkembangan dan pertumbuhan sastra di masing-masing wilayah komunitas itu berada. Di Banjarmasin berdiri Bengkel Sastra Banjarmasin, Sanggar Sastra Mandiri, Busur Sastra dan Teater Balambika (BSTB), Lingkaran Sastra Mozaika, Forum Diskusi Sastra Poetica (bermarkas di Taman Budaya Kalsel), Keluarga Penulis Banjarbaru, Dapur Seni Amandito (Kota Banjarbaru), Sanggar Marta Intan (Martapura, Kabupaten Banjar), Posko La Bastari (Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan), Sanggar Sastra Sukmaraga (Kabupaten Hulu Sungai Utara), Sanggar Sastra Mandastana, Sanggar Riak-riak Barito (Kabupaten Barito Kuala), Sanggar Anggrek Harivi (Kabupaten Tanah Laut), Pusat Olah Seni Sastra Kotabaru, Sanggar Bamega 88 (Kabupaten Kotabaru), dan Himpunan Penulis, Pengarang dan Penyair Nusantara (HP3N) Korwil Kalsel. Dari puluhan organisasi komunitas yang berbentuk formal maupun nonformal ini sebagian besar juga tinggal nama alias bubar tanpa alasan yang jelas.

Dekade 1990-an hingga 2000-an, bermunculan pula komunitas-komunitas sastra di berbagai kantong budaya yang pertumbuhan dan perkembangan sastranya cukup meriah.  Seperti  di kota Banjarbaru berdiri komunitas Kilang Sastra Batu Karaha, Forum Taman Hati, Kelompok Studi Sastra Banjarbaru, Front Budaya Godong Kelor, Rumah Sastra Pelanduk, serta Sanggar Ar Rumi dan Sanggar Matahari, X-Pas Borneo (ketiganya di kota Martapura, kabupaten Banjar), dan beberapa komunitas sastra lainnya, baik yang berjalan sendiri maupun berkelompok.  Sederet  komunitas yang  frekuensi  kegiatan  bersastranya cukup tinggi di beberapa kampus perguruan tinggi negeri maupun swasta dan bermunculannya Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSSI)  di beberapa  sekolah  menengah atas di Kalsel yang diprakarsai majalah sastra Horison, juga tak bisa diabaikan perannya. Namun dalam perjalanannya, di antara komunitas ini hanya beberapa yang mampu bertahan hidup hingga hari ini.

Untuk menciptakan iklim bersastra kembali kondusif sebagaimana yang pernah dirasakan para sastrawan di Banjarmasin dan memulihkan pamor Banjarmasin sebagai barometer sastra(wan) di Kalimantan Selatan, maka para aktivis sastra Banjarmasin, Banjarbaru, dan penyair yang juga aktivis KSI Jogjakarta, Bambang Widiatmoko – dalam diskusi nonformal di Taman Budaya Kalsel – sepakat membentuk organisasi sastra representatif sebagai wadah menjalin mekanisme pergaulan dan komunikasi yang  intens dan lebih intensif antarsastrawan, yaitu Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Banjarmasin. Antusiasme dan spontanitas kawan-kawan membentuk KSI di kota seribu sungai ini tentu dilandasi konsep atau pemikiran yang matang tanpa rekayasa apalagi terpengaruh oleh hingar-bingar gerakan politik sastra. Acara pendeklarasian KSI Banjarmasin berlangsung di kantor harian Radar Banjarmasin (grup Jawa Pos), 22 Februari 2004, dan dihadiri pula oleh Iwan Gunadi (Ketua Yayasan KSI) sekaligus berkenan menguraikan sejarah berdirinya KSI Jabotabek. KSI Banjarmasin periode 2004-2007 ini memiliki perangkat keorganisasian lengkap, antara lain struktur kepengurusan, anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, serta program jangka pendek dan jangka panjang.Dalam mekanismenya,  komunitas ini tidaklah menerapkan peraturan yang kaku, artinya anggota dari komunitas lain boleh bergabung di komunitas ini. Dan sesuai dengan ide dasar pembentukannya, komunitas ini bukan sekadar wadah bertemu atau ngumpul-ngumpulpara sastrawan,  tetapi diharapkan  menjadi atmosfer yang kondusif bagi sastrawan untuk menemukan jati diri, kebebasan berekspresi, mencari nilai, membangun citra, sebagai wadah alternatif untuk menumbuhkan apresiasi dan mengembangkan kehidupan sastra, serta memacu proses kreatif untuk menghasilkan karya sastra berkualitas. Bahkan  KSI Banjarmasin sering  menjalin  kerja sama  dalam  menjalankan  program kegiatannya dengan beberapa komunitas lain yang ada di Banjarmasin maupun komunitas sastra lainnya di Kalsel.  Tidak ada  istilah  komunitas lain di luar  KSI Banjarmasin adalah “musuh”, “lawan”, “saingan atau tandingan”. Sebab  kehadiran komunitas ini di samping untuk mengembangkan eksistensinya dalam pergaulan sastra Kalsel maupun pergaulan sastra di tanah air, juga untuk meredam semangat konflik internal maupun eksternal dari komunitas itu sendiri. Dan komunitas ini lahir bukan dilandasi oleh sikap ekstrem untuk melawan, menandingi, menjauhi, atau bahkan melakukan pembangkangan terhadap arogansi pusat-pusat kekuasaan atau sentralisme sastra. Saling bersinergi, bermitra dan berkolaborasi dalam pergaulan sastra antarkomunitas atau hubungan sosial antarsastrawan ini tentu menimbulkan pengaruh positif dengan terus terjalinnya rasa kebersamaan, terciptanya rasa memiliki dan keinginan yang kuat satu dengan lainnya untuk merawat dan membesarkan KSI. Perjalanan KSI Banjarmasin yang mencapai usia ketiga tahunnya ini tentu tidak selalu berjalan mulus dan sering mengalami berbagai kendala. Namun berkat kegigihan, ketulusan niat dan kemauan yang kuat untuk turut berpartisipasi memasyarakatkan sastra, meningkatkan apresiasi, dan menyalurkan kreativitas bersastra, segala kendala tersebut dapat teratasi. Suatu fenomena cukup menarik bagi sebuah paguyuban sastra yang baru terbentuk ini adalah rekrutmen keanggotaan atau kepengurusannya tidak saja dari kalangan sastrawan (penyair, cerpenis, novelis), pengamat maupun kritikus sastra, tapi juga merekrut/merangkul simpatisan atau aktivis sastra dari beragam latar belakang profesi, seperti aktivis teater,  pelajar, mahasiswa, guru, dosen, pegawai negeri sipil, wartawan (redaktur sastra),  para pengamen jalanan dan masyarakat umum yang punya kepedulian dan menyukai seni sastra. Fenomena ini bolehlah dikatakan sebagai upaya KSI untuk membongkar  eksklusifisme di kalangan sastrawan, sehingga tak ada lagi sastrawan yang  bertengger  di menara gading kemapanan. Hal ini sejalan dengan komitmen KSI yang ingin menghapuskan jarak apresiasi publik (masyarakat) terhadap karya sastra dan para sastrawannya. Di samping itu, dengan turut bergabungnya orang-orang dari beragam profesi ini paling tidak akan berdampak positif pula terhadap upaya pengembangan wilayah apresiasi sastra ke berbagai sektor kehidupan. Untuk melaksanakan segala aktifitas kegiatan, komunitas sastra ini tak pernah mengalami kendala berarti karena lebih sering difasilitasi oleh Taman Budaya Kalsel. Sedangkan sumber pendanaan sebagai penunjang pelbagai kegiatan diperoleh melalui swadaya antaranggota atau pengurus komunitas sendiri dan partisipasi dari para donatur/simpatisan yang memiliki idealisme kepedulian terhadap KSI. Dalam hal berkarya, suasana persaingan kreatif antarsastrawan di komunitas ini tentu wajar sepanjang masing-masing mereka tidak bermaksud mengklaim bahwa karyanya lebih bagus atau berkualitas ketimbang karya orang lain, atau melecehkan karya para sastrawan di luar komunitasnya. Ada kecenderungan dari para sastrawan yang berkiprah di komunitas ini, yang  tampak tidak  begitu berminat untuk  menciptakan maupun menanggapi isu, sensasi, gossip-gosip atau pergunjingan politik sastra dan segala omong-kosong yang tak ada konteksnya bagi persentuhan proses kreatif yang ingin dibangunnya. Dengan ketekunan dan kerja keras mereka terus berkarya tanpa merasa perlu berteriak-teriak meminta pengakuan, perhatian ataupun legitimasi dari pusat kekuasaan sastra. Di tengah gegap-gempitanya percaturan sastra tanah air, para sastrawan di komunitas ini juga terus menggulirkan semangat kreatifnya dan ingin membuktikan pada dunia luar bahwa karya mereka juga tak kalah bagus dan relatif berkualitas dibanding dengan karya para sastrawan yang mempunyai nama besar di Jakarta maupun kota lainnya. Lagi pula, sebuah paguyuban, kelompok, perhimpunan, perkauman, komunitas atau apapun namanya hanyalah sekadar wadah untuk berkreativitas, berbagi dan berkomunikasi para sastrawan yang terlibat di dalamnya. Sebagaimana tujuan awal gagasan pendiriannya, komunitas ini bertujuan ingin membangun sebuah lingkungan sastra yang kondusif untuk menyalurkan kreativitas sekaligus menciptakan kemungkinan-kemungkinan kreatif, turut membantu memasyarakatkan sastra dan menumbuhkan apresiasi sastra.  Stigma, tudingan gegabah dan penilaian serampangan tentang karya para sastrawan komunitas adalah karya jelek, karya sampah dan kurang bermutu sudah selayaknya diakhiri. Lagipula karya sastra yang dihasilkan seorang sastrawan komunitas tetaplah sebagai hasil karya individual yang tidak ada korelasi dengan komunitas tempatnya bernaung.   Sebagian dari mereka juga tak memedulikan pada legitimasi dan berbagai klaim yang menolak maupun menjustifikasi kehadirannya. Namun para sastrawan di komunitas ini tetap mengikuti dan menjaring berbagai informasi kegiatan, perkembangan atau peristiwa sastra di tanah air melalui  media massa cetak  dan  elektronik,  media  internet, menjalin korespondensi de- ngan teman-teman sastrawan di luar Kalsel melalui surat elektronik (email) atau jaringan  komunikasi via sms.

Dalam perjalanannya tiga tahun belakangan ini, KSI Banjarmasin telah mampu melakukan manuver-manuver kegiatan sekaligus menunjukkan eksistensi atau jati dirinya pada publik sastra Banjarmasin khususnya dan Kalimantan Selatan pada umumnya. Walaupun selama  perjalanannya tidak  memperoleh  subsidi dana  dari lembaga apa pun, termasuk lembaga semacam Dewan Kesenian dan instansi pemerintah yang punya kaitan dengan seni-budaya, namun komunitas ini dapat menjalankan agenda kegiatan sastranya secara berkesinambungan baik dalam skala kecil maupun besar. Berbagai kegiatan penting yang sudah dilakukan KSI Banjarmasin antara lain: diskusi sastra, sastrawan masuk sekolah, workshop penulisan karya cerpen, sayembara penulisan puisi dan cerpen, lomba baca puisi, lomba musikalisasi puisi, penerbitan antologi puisi, penggagas sekaligus penyelenggara forum-forum temu sastra/sastrawan se-kota Banjarmasin maupun se-Kalimantan Selatan, dan lain-lain. Saat ini sedang menyiapkan antologi puisi tentang kerusakan lingkungan bekerja sama dengan sebuah lembaga swadaya masyarakat Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Kalimantan Selatan.

KSI Banjarmasin yang pada awal pendiriannya dimaksudkan sebagai wadah berhimpunnya para sastrawan di seluruh wilayah Kalimantan Selatan – oleh karena anggotanya juga heterogen dan berdomisili di berbagai kota dan kabupaten – dalam perjalanannya tercetus gagasan atau wacana dari beberapa teman aktivis di kantong-kantong sastra Kalsel untuk mendirikan komunitas sastra di masing-masing daerah kabupaten dan kota (di Kalimantan Selatan terdapat 13 kota dan kabupaten). Gagasan ini pun akhirnya terealisasi  dengan  berdirinya KSI  di Kabupaten Kotabaru (berjarak sekitar 400 km dari Banjarmasin) pada tahun 2005, diketuai oleh penyair Eko Suryadi WS. Kemudian tahun 2006 KSI juga dideklarasikan di Kabupaten Tanah Bumbu (sebuah kabupaten baru hasil pemekaran dari kabupaten Kotabaru) dan diketuai oleh penyair Abdul Karim. Di tahun 2008 ini di beberapa daerah Kalsel juga sudah merencanakan membentuk KSI, antara lain di kota Banjarbaru, kabupaten Banjar, kabupaten Barito Kuala, kabupaten Hulu Sungai Tengah, kabupaten Balangan, kabupaten Hulu Sungai Utara, dan kabupaten Tabalong. Apabila pengembangan sayap KSI di Kalsel ini benar-benar terwujud, mungkin julukan populasi KSI terbanyak untuk seluruh provinsi di Indonesia sungguhlah elok bila dianugerahkan kepada Kalimantan Selatan.

Kalimantan Tengah

Pertumbuhan dan perkembangan sastra di Kalimantan Tengah, tidaklah sesubur di Kalsel, Kaltim maupun Kalbar. Sastrawan, pengamat dan peneliti sejarah kesusastraan di Kalimantan seperti Korrie Layun Rampan pun merasa agak kesulitan menelusuri jejak-jejak sastra di bumi Tambun Bungai ini. Tidak seperti daerah tetangga dekatnya Kalsel, dari dekade ke dekade sastrawan-sastrawan  Kalteng yang layak diperhitungkan  di perca percaturan sastra nasional hanya bisa dihitung dengan bilangan jari. Setelah generasi sastrawan Tjilik Riwut, J.F. Nahan, Marsiman Affandie,  Badar Sulaiman Usin, JJ. Kusni, dan Joko S. Passandaran, regenerasi sastrawan di daerah ini dari dekade ke dekade berjalan sangat lamban. Sastrawan Kalteng yang karyanya mampu berbicara dalam skala nasional, antara lain Badar Sulaiman Usin (Haji Achmad Badar bin Sulaiman Usin Buthaib), kelahiran Kabupaten Pulang Pisau, 9 April 1927. Ia adalah sastrawan perintis kesusastraan Indonesia modern di Kalteng dekade akhir 1940-an, dan merupakan satu-satunya sastrawan paling produktif melahirkan karya sastra terutama puisi hingga menjelang akhir hayatnya. Buku puisinya yang sempat diterbitkan adalah Rambahan (penerbit Keluarga Besar Garasi, Palangka Raya, 2000). Di samping sajak, ia juga menulis cerpen, esai sastra, cerita rakyat, dan reportase seni-budaya daerah Kalteng, dan dipublikasikan di media massa cetak Jakarta dan berbagai daerah di tanah air. Cerpennya berjudul Pertemuan dengan Musim meraih Juara Harapan I sayembara mengarang fiksi majalah Sarinah, Jakarta. Sastrawan yang juga pensiunan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Tengah ini dikenal sangat  tekun membina para penyair pemula maupun penyair muda kota Palangka Raya dan gigih dalam  mengembangkan sastra di wilayahnya. Ia meninggal dunia di Palangka Raya, 23 Mei 2002. Kemudian, Marsiman Affandie dengan sejumlah sajaknya yang dihimpun dalam antologi Perkenalan dalam Sajak, bersama dengan penyair lain dari seluruh Kalimantan.  JJ. Kusni, sastrawan kelahiran Kabupaten Katingan, yang karena pergolakan politik di Indonesia 1960-an, mengharuskannya menjadi sastrawan eksil di manca negara dan sejak 2003 hingga sekarang tinggal di Paris sebagai dosen serta masih aktif menulis, terutama sajak dan esai sastra di media Indonesia maupun di situs cybersastra.net. Antologi sajaknya yang paling akhir  Sansana Anak Naga (penerbit Ombak, Jogjakarta, 2005),  dan Joko S. Passandaran

(nama aslinya Johanes Joko Santoso Passandaran), penyair kelahiran Jawa Timur yang lama bermukim di Jogjakarta,  kemudian menjadi guru SMA  di Kuala Kapuas (Kalteng), lalu pindah ke Palangka Raya dan mengajar di Universitas Palangka Raya (Unpar). Awal tahun 2000-an ia hijrah ke Jogjakarta dan menetap hingga kini. Buku antologi sajaknya yang sudah diterbitkan adalah Kwatrin-kwatrin Lautan (1975), Darmaga II (1975), dan Bulaksumur Malioboro (Dema UGM, Jogjakarta, 1975). Ketiga sastrawan ini tak bisa dimungkiri merupakan tokoh penggerak roda komunitas sastra di Kalimantan Tengah, namun setelah Badar yang kini hanya dapat dikenang lewat jasa dan karya sastranya. Begitu pun setelah Kusni dan Joko Passandaran yang sudah berpuluh tahun meninggalkan Kalteng, secara otomatis perjalanan, regenerasi sastrawan dan  persentuhan proses-kreatif sastra di Kalteng menjadi tersendat-sendat yang berimplikasi pada stagnasi yang cukup panjang, bahkan hingga hari-hari ini belum ada indikasi ditemukannya potensi sastrawan maupun karya-karya yang memiliki prospek menjanjikan sebagai penanda eksistensi dan kebangkitan sastra(wan) di daerah ini.

Persoalan krusial yang menjadi penyebab terhambatnya perkembangan sastra(wan) di Kalteng tentu tak terlepas dari peran media massa, terutama media cetak, yang kurang memberikan ruang untuk sosialisasi karya para sastrawan atau calon sastrawan. Sejatinya sastrawan dan media massa saling bersinergi untuk menumbuhkan apresiasi sastra. Sastrawan sangat membutuhkan media untuk memublikasikan karyanya, sehingga karya tersebut dapat dibaca atau dinikmati oleh masyarakat pecinta, peminat, pemerhati maupun kritikus sastra.  Tahun 1980-an di Kalteng, khususnya Palangka Raya sebagai ibu kota provinsi, pernah terbit Koran Dinamika Pembangunan, akan tetapi tak ada memberikan ruang untuk karya sastra, sehingga sastrawan – mayoritas penyair – Kalteng lebih suka memublikasikan karyanya ke koran Banjarmasin Post di Banjarmasin. Sederet nama penyair di antaranya: Badar Sulaiman Usin, Joko S. Passandaran, J.F. Nahan, M. anwar MH, Mas Eko, Wansel Eryanatha Rabu, Sutran, Dini Sufian, Bella Sanjaya, Najmi fuadi, Bungepith, R. Hariyanti, dan Lukmanul Hakim MA. Jana – untuk menyebut hanya beberapa nama. Dekade 1990-an hingga awal 2000-an, terkecuali Badar Sulaiman Usin, hampir semua nama penyair yang pernah meramaikan perpuisian di Kalteng tersebut kini tak terdengar lagi gaung karyanya. Memang di Kalteng kini mempunyai dua koran, Palangka Pos dan Kalteng Post, namun rubrik sajak yang disajikan kedua media cetak lokal pada terbitan hari Minggunya hanya diisi oleh para remaja/pelajar dan penyair pemula yang sajak-sajaknya masih belum memadai sebagai karya sastra.

Sedangkan komunitas sastra yang pernah eksis di Kalteng pada dekade 1980-an, antara lain Ikatan Pecinta Seni Sastra Palangka Raya (IPSSPR) dan Ikatan Sastrawan Indonesia (ISASI) – kedua komunitas sastra ini didirikan oleh Badar Sulaiman Usin. IPSSPR sempat menerbitkan bulletin Dermaga dalam puluhan edisi untuk kemudian di tengah perjalanan tak mampu lagi terbit. Kemudian di Sampit, kabupaten Kotawaringin Timur pada pertengahan 1990-an didirikan Komunitas Seniman Sastra Betang (KSSB) oleh penyair dan dramawan Amang Billem (ketika masih bermukim di kota Banjarmasin dan Jakarta, nama  kepenyairannya  dikenal sebagai Ibrahim Yati) dan  penyair Ariel Abu Hasan (almarhum). Komunitas sastra ini sempat mementaskan dramatisasi puisi, pergelaran sastra, musikalisasi puisi, dan pembacaan puisi di beberapa kota Kalimantan, Sulawesi, dan Solo. Komunitas ini masih eksis berkegiatan sastra hingga kini. Sedangkan lembaga kesenian semacam Dewan Kesenian Provinsi Kalimantan Tengah yang memiliki bidang seni sastra, selama beberapa tahun ini tak pernah terdengar lagi berita kegiatan sastranya. Kabar terakhir yang cukup mencerahkan bagi iklim berkesenian ialah adanya rencana pihak pemerintah provinsi Kalteng, dalam hal ini kemauan atau gagasan gubernur Agustin Teras Narang, untuk segera merenovasi total infrastruktur kesenian yakni Taman Budaya Provinsi Kalimantan Tengah – yang selama beberapa tahun ini  tampak seperti gedung tua tak berpenghuni, dibiarkan tak terawat dan terbengkalai. Dengan difungsikannya Taman Budaya yang dilengkapi fasilitas (gedung pertunjukan, bengkel-bengkel seni, teater terbuka, dan sarana maupun prasarana penunjang lainnya) yang representatif, maka para seniman/sastrawan merasa menemukan dan memiliki kembali sebuah ‘rumah’ dengan ruang-ruangnya yang besar sebagai tempat beraktivitas dan berekspresi, sehingga keberadaan Taman Budaya ini mampu membangkitkan dan memberikan denyut kehidupan serta kegairahan berkesenian (bersastra) di Kalimantan Tengah. Semogalah!

Kalimantan Timur

Secara historis, pertumbuhan dan perkembangan sastra di Kalimantan Timur terjadi  di sekitar pertengahan tahun 1940-an. Karya sastra awal ini terutama dari genre puisi yang dipublikasikan melalui surat kabar Masyarakat Baroe pimpinan Oemar Dachlan yang terbit di Kaltim. Umumnya puisi-puisi para penya-ir ini bernapaskan romantik revolusi dan perjuangan melawan penjajah. Para penyair pemula ini adalah kaum remaja terpelajar yang telah mengenyam pendidikan di zaman kolonial Belanda. Di antara yang paling terkemuka ialah Ahmad Dahlan (nama samarannya D. Adham) yang pernah menjadi anggota DPR/MPR RI. Kemudian Mansyah Usman (mantan Direktur Bank Pembangunan Daerah Kaltim), Oemar Mayyah Effendi, Maswan Dachri, Kadrie Oening (mantan wali kota Samarinda), M. Suhana, Burhan Dahlan, Haji Ami, dan lain-lain. Dekade 1950-an muncul generasi sastrawan setelahnya, antara lain A. Sani Rahman, Hamdi AK, Abd. Alwie, E.M. Adeli, Hiefnie Effendi, Ahmad Noor,  Masdari Ahmad, H.M. Ardin Katung, dll.

Dekade 1960-an, banyak sastrawan yang muncul, tetapi dari sebagian besar usia kepenulisan sastrawan generasi ini relatif pendek. Di antara nama yang menonjol dari generasi ini ialah Djumri Obeng, Awang Shabriansyah, Sudin Hadimulya, Hermansyah, dll. Djumri Obeng dan Awang Shabriansyah menulis beragam genre karya sastra seperti cerpen, sajak, novelet, novel, dan naskah drama, dan karya-karya mereka sempat muncul di majalah Sastra pimpinan H.B. Jassin. Cerpen Djumri Obeng Langit Hitam yang dimuat majalah Sastra kemudian dipilih untuk sebuah antologi dwibahasa: Indonesia-Prancis. Novelnya Dunia Belum Kiamat dan novel otobiografis Merah Putih di Langit Sanga-sanga termasuk novel yang menarik perhatian publik sastra, khususnya mengenai latar Kalimantan Timur. Sedangkan Awang Shabriansyah banyak menulis di majalah Budaya, Sastra, dan Mimbar Indonesia. Sajak-sajak dan cerpennya mencapai bentuk ucap yang matang dan ia beberapa kali mendapat hadiah sastra dalam penulisan sajak dan cerpen. Yang khas dan menarik dari Djumri Obeng dan Awang Shabriansyah, dunia yang ditampilkan keduanya adalah dunia pedalaman yang seluruhnya belum modern di tengah dunia modern kita dewasa ini. Djumri Obeng umumnya menggarap tema-tema mite dan legenda dari masyarakat Dayak pedalaman. Cerpen, sajak dan drama-dramanya banyak berkisah tentang roh-roh halus, setan, demit, serta situasi dan kondisi masyarakat Dayak pedalaman yang sederhana dan belum tersentuh kemajuan. Sedangkan Awang Shabriansyah banyak menggarap tema dukun dan dunia perdukunan, dunia niaga, kerinduan, nostalgia dan sebagainya.

Dekade awal 1970-an hingga 1980-an secara estafet bermunculan pula penulis-penulis baru di samping generasi terdahulu yang masih aktif menulis, antara lain: Korrie Layun Rampan, Ibramsyah Amandit, Sidharta Wijaya, Sandy, R. Panji Setianto, Ani AS (Ahmad Rizani Asnawi), Saiff Bacham (Saiful Bachri AM – sajak-sajaknya banyak bermunculan di majalah Horison, Basis, harian Suara Karya, Salemba, dan media massa yang terbit di Jogjakarta, Jakarta, Surabaya dan Bandung), Syamsul Munir Asnawie, Johansyah Balham, Ibrahim Konong, Masdari, M. Nansi, H. Zairin Dahlan, M.D. Hasjim Masjkur, A. Rifai Ahmad, Bachtiar Syambaha, Frans Dino Hero, Arkanita, Sattar Miskan, Sarwani Miskan, Mugni Baharuddin, Karno Wahid, M. Surya Mas’ud, Hamidin, Syarifuddin Basran, Yadi AM, Adam A. Chiefni, Fiece Esf, Hermansyah, Muchran Ismail, Dimas Hono,  Budi Warga,  M.S. Koloq,  Sukardi Wahyudi, Syafruddin Pernyata, Nanang Rijono, Abdul Rahim Hasibuan, Kony Fahran (sastrawan yang cukup lama aktif berkarya dan bermukim di Banjarmasin dan kini menjadi wartawan sekaligus mengelola sebuah tabloid di Tenggarong, kabupaten Kutai Kartanegara), serta sederet nama lainnya. Dari generasi sastrawan ini nama Korrie Layun Rampan tak bisa dimungkiri merupakan seorang sastrawan paling menonjol  atau terkemuka dalam sejarah penulisan sastra di Kaltim sejak generasi sastrawan 1940-an hingga generasi sastrawan Kaltim terkini, sehingga pantaslah bila Korrie mendapat julukan sebagai ‘Presiden Sastrawan Mahakam’.  Dunia sastra bagi sastrawan kelahiran Samarinda, 17 Agustus 1953, ini seakan tak bisa dipisahkan dari napas hidup dan kehidupannya. Di awal tahun 1970-an, ketika kuliah di Jogjakarta, ia sempat bergabung dengan sebuah komunitas sastra yang melegenda, yaitu Persada Studi Klub (PSK) yang diasuh oleh ‘presiden penyair’ malioboro, Umbu Landu Paranggi. Komunitas ini banyak melahirkan sejumlah sastrawan ternama seperti Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi AG, Ragil Suwarna Pragolapati, Arwan Tuti Artha, Teguh Ranusastra Asmara, Iman Budhi Santosa, Suminto A. Sayuti, Mustofa W. Hasyim, Agus Dermawan T, Yudhistira ANM Massardi, Gunoto Saparie, Yoko S. Passandaran, dan lain-lain. Sebagai sastrawan (penyair, cerpenis, novelis), pengamat, peneliti, dokumentator, editor, peresensi buku, esais, dan kritikus sastra, nama Korrie tidak saja dikenal di Indonesia, tapi juga dikenal di manca negara. Sedemikian produktifnya sastrawan yang juga mantan redaktur pelaksana majalah Sarinah ini, sehingga mampu menghasilkan sekitar 200 judul buku sastra, meliputi kumpulan puisi, cerpen, novel, esai, dan kritik sastra, serta cerita anak-anak. Menerjemahkan sejumlah karya klasik pengarang dunia seperti karya Leo Tolstoy, Luigi Pirandello, Anton Chekov, Knut Hamsun, Guy de Maupassant, O’Henry, dan lain-lain, serta menerjemahkan sekitar 100-an judul cerita anak-anak. Beberapa cerpen, esai, resensi buku, cerita film, dan karya jurnalistiknya mendapat hadiah dari berbagai sayembara. Di samping itu Korrie juga menulis sekitar lima puluh judul buku cerita anak-anak, di antaranya ada yang mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Depdikbud/Depdiknas, melalui bukunya Cuaca di Atas Gunung dan Lembah (1985) dan Manusia Langit (1997). Sedangkan novelnya Upacara dan Api Awan Asap meraih hadiah Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta, 1976 dan 1998. Tahun 2004 ia mendapat anugerah Kaltim Post Award 2004 atas dedikasi, prestasi, dan kesetiaannya dalam bidang sastra selama lebih dari tiga puluh tahun. Atas dedikasi dan kesetiaannya di bidang sastra pula pada tahun 2006 Korrie menerima Hadiah Seni dari Pemerintah RI. Sekarang Korrie bermukim di Sendawar, Kabupaten Kutai Barat, Kaltim, dan berstatus sebagai wakil rakyat di DPRD Kabupaten Kutai Barat, menjabat Ketua Komisi I, di samping juga mengelola koran Sentawar Pos di Kutai Barat sebagai pemimpin umum/pemimpin redaksi. Sampai hari ini Korrie masih produktif menulis dan masih rajin bergiat di ranah sastra tanah air.

Tahun 1980-an ini juga ditandai dengan terbitnya dua buku kumpulan sajak, seperti 3 yang tidak Masuk Hitungan, yang memuat sajak-sajak penyair H. Ahmad Dahlan, Ahmad Noor, dan Burhan Dahlan, serta Seorang Lelaki di Terminal Hidup, yang memuat karya hampir seluruh sastrawan Kaltim, seperti H. Ahmad Dahlan, Kadrie Oening, Mansyah Usman, Muchran Ismail, Djumri Obeng, dll.

Dekade 1990-an dan 2000-an, perkembangan sastra di Kaltim cukup pesat. Munculnya penyair dan cerpenis baru ini juga membuka tirai baru sebagai penanda  semaraknya dunia sastra di daerah ini. Generasi sastrawan ini diwakili oleh Roedy Harjo Widjono AMZ, Andi Baharuddin, Zulhamdani AS, Herman A. Salam, Jafar Haruna, Arif Er Rachman, Hasan Aspahani, Abdillah Syafe’i, Ade Ikhsan, Muhammad Fajar, Muhammad Syafiq, Amien Wangsitalaja, dan puluhan penulis lainnya. Sederet nama penyair dan cerpenis perempuan ikut pula meramaikan khasanah sastra di Kaltim, seperti Shantined, Maya Wulan, Fitriani Um Salva, Gita Lydia, Dian Herawati Situmorang, Atik Sri Rahayu, Atik Sulistyowati, Kartika Heriyani, Hermiyana, Eni Ayu Sulistyowati, Khoiriyyatuzzahro, Miranti Rasyid, Sari Azis, Siti Maleha, Wuri Handayani, Alya Kashfy, Mega Ayu Mustika, dan masih puluhan cerpenis serta penyair perempuan lainnya. Demikian halnya dengan ramainya penerbitan buku-buku sastra karya para sastrawan Kaltim, baik antologi puisi/cerpen secara perseorangan maupun antologi bersama, paling tidak merupakan representasi dari kuantitas maupun  capaian kualitas karya-karya mereka. Beberapa nama dari generasi ini yang mampu menembus lapisan permukaan sastra nasional adalah  Karno Wahid,  Amien Wangsitalaja,  Hasan Aspahani, Shantined, dan Maya Wulan – untuk menyebut beberapa nama. Karya-karya puisi dan cerpen mereka dipublikasikan di berbagai media massa nasional, seperti Horison, Kompas, Media Indonesia, Republika, Koran Tempo, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Mata Baca, Jurnal Cerpen Indonesia, dll. Karya mereka juga dihimpun dalam beberapa antologi puisi dan  kumpulan cerpen.

Di samping kehadiran lembaga-lembaga kesenian yang ikut memberikan peran sebagai salah satu wadah berekspresi para sastrawan, seperti Dewan Kesenian Kalimantan Timur, Dewan Kesenian Samarinda, Balikpapan, Tenggarong, Bontang, dan Dewan Kesenian di beberapa  kabupaten lainnya,  peran media massa yang  terbit di Kaltim, khususnya Samarinda, dengan rubrik sastranya, seperti majalah sastra Kudungga, Gelora Mahakam, Sampe, Mimbar Masyarakat, Meranti, Suluh Marhaen, Manuntung (kini menjadi Kaltim Post), dan Suara Kaltim,  juga cukup  besar dalam  menunjang  kehadiran dan eksistensi para sastrawan dari generasi ke generasi. Gejala yang menarik dewasa ini adalah munculnya dengan cukup marak berbagai komunitas sastra atau budaya di beberapa kota/kabupaten di Kaltim, di antaranya Jaringan Penulis Kalimantan Timur (JPKT), yang tentu saja (diharapkan) mampu membangun semangat aktivitas baru atau menciptakan produk kreatif baru dalam ranah sastra di Kalimantan Timur.

Kalimantan Barat

Pertumbuhan dan perkembangan sastra di Kalimantan Barat, tidaklah sesubur di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Pada tahun 1950-an dan 1960-an yang muncul secara  nasional   hanya Munawar Kalahan,  Herry Hanwari,  Soesani A., dan Yusakh Ananda. Dan yang paling menonjol dari generasi sastrawan ini hanya Yusakh Ananda (nama aslinya Zubier Muchtar) yang karyanya pernah mendapat pujian H.B. Jassin, dan beberapa cerpennya disertakan H.B. Jassin dalam antologi Angkatan 66: Prosa dan Puisi (1968), dan di antaranya dibukukan dalam kumpulan cerpen Demikianlah pada Mulanya (1980) menunjukkan konsistensinya di dunia sastra. Meskipun sastrawan ini tidaklah terlalu produktif menghasilkan karya, namun dua cerpennya, yakni Kampungku yang Sunyi dan Yang Masih Kuingat mampu menarik perhatian dunia dan diterjemahkan ke dalam dua bahasa: Prancis dan Belanda. Menurut Korrie Layun Rampan, karya-karya fiksi sastrawan kelahiran Kabupaten Sambas, Kalbar, 1934, ini merupakan puncak atau periode awal tumbuh dan berkembangnya kesusastraan Indonesia modern di Kalimantan Barat. H.B. Jassin dan Ajip Rosidi memberikan penghargaan yang pantas untuk sastrawan yang sampai hari tuanya terus menetap di Kalbar dan tetap setia berkarya. Dan  atas dedikasi serta kualitas karya-karyanya itu maka kumpulan cerpennya Demikianlah pada Mulanya secara khusus dibicarakan Korrie Layun rampan dalam Cerita Pendek Indonesia, Buku II, seri khusus kritik cerpen (sedang dipersiapkan penerbitannya).

Pada periode yang sama, Yusakh Ananda didampingi oleh rekannya, seorang penyair kuat dari Kalbar, Munawar Kalahan (kini sudah almarhum). Sajak-sajak penyair yang pernah menjabat sebagai Ketua DPRD Kalimantan Barat ini juga dinilai berkualitas. Generasi sastrawan baru yang muncul setelah Yusakh Ananda dan kawan-kawan adalah Khairani Harfisari, Sulaiman Pirawan, Sataruddin Ramli, Effendi Asmara Zola, dan lain-lain. Karya-karya mereka dipublikasikan di media massa lokal seperti koran dan radio di kota Pontianak. Dekade 1980-an, lewat komunitas “Kelompok Penulis Pontianak” (KOMPAK – dideklarasikan 1 April 1984) yang dimotori oleh sastrawan muda Odhy’s dan kawan-kawan, generasi baru sastrawan mulai bermunculan, seperti Aant S. Kawisar (sempat menjadi redaktur di majalah sastra Horison), Aryo Arno Morario, Diant MST, Dharmawati TST, Mizar Bazarvio, Odhy’s, Tulus Sumaryadi, Tadjoel Khalwaty AS, Zailani Abdullah, Yudhiswara, Wyaz Ibn Sinentang, Chandra Argadinata, Mizan AR, Suwarto S, Uray Kastarani Has, dan Nie’s Alantas. Oleh perkembangan media massa, baik daerah maupun pusat (Jakarta), bermunculan pula nama-nama Mayzar Seylendra, Aspan Ananda, Pradono, Mulyadi, Syarif Zolkarnaen Shahab, Yoseph Oedilo Oendoen, Harun Das Putra, dll. Karya-karya mereka ini tersebar di harian Akcaya di Pontianak dan di sejumlah media massa di Jakarta seperti Horison, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Kompas, Swadesi, Mutiara, Merdeka, Media Indonesia, Republika, Pelita, majalah Kartini, Amanah, Panji Masyarakat, dll.

Puncak kesusastraan Indonesia mutakhir di Kalimantan Barat ditempati oleh dua penyair yang keduanya sudah almarhum, yaitu Odhy’s (1955-2005) dan Yudhiswara (1957-2006) yang sempat memublikasikan sajak-sajak mereka di media massa Jakarta dan kota-kota lainnya di Kalimantan, Jawa, Sumatera, Brunei Darussalam, dan Malaysia, di samping telah menerbitkan sajak-sajak mereka dalam antologi tunggal maupun bersama. Odhy’s (nama lengkapnya Muhammad Zuhdi Saad, lahir di Pontianak, 8 Agustus 1955, dan meninggal dunia di India, 3 Mei 2005) mulai menulis, terutama cerpen, puisi, esai, artikel, dan resensi buku sejak 1975. Karyanya dipublikasikan di berbagai media massa daerah dan Jakarta. Antologi sajak tunggal terbarunya adalah Sang Guru Sufi (penerbit BUKULAILA, Yogyakarta, Maret 2005). Sosok kepenyairan dan karyanya juga tercantum dalam Leksikon Kesusastraan Indonesia, dan Buku Pintar Kesusastraan Indonesia (keduanya dieditori Pamusuk Eneste), Jejak Langkah Sastra Indonesia (Korrie Layun Rampan, 1986), Leksikon Susastra Indonesia (Korrie Layun Rampan, 2002), Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia, Buku II (susunan KorrieLayun Rampan, dalam proses penerbitan). Odhy’s juga sering diundang membacakan sajak-sajaknya di berbagai forum sastra(wan) di tanah air dan  kegiatan sastra di negara serumpun, antara lain: Forum Puisi Indonesia (TIM, Jakarta, 1987), Dialog Borneo (Serawak, malaysia Timur, 1987), sebagai pembicara dalam Pertemuan sastrawan Nusantara VI (di Kuching, Malaysia Timur, 1988), Dialog Kalimantan Borneo IV (Pontianak, Kalbar, 1995),  Simposium Antarbangsa Raja Ali Haji (Pulau penyengat, Riau, 1996), dan beberapa forum sastra lainnya. Forum sastra yang tak sempat diikutinya – beberapa bulan sebelum acara diselenggarakan ia sudah wafat – adalah Cakrawala Sastra Indonesia, di Taman Ismail Marzuki, 13-15 September 2005 (penyelenggara Dewan Kesenian Jakarta). Dalam acara ini DKJ juga menerbitkan antologi puisi Perkawinan Batu (DKJ, 2005) yang memuat puisi para penyair Kalsel, Kaltim, dan Kalbar. Judul antologi itu diambil dari salah satu judul sajak Odhy’s “Perkawinan Batu”. Semasa hidup dan berkiprah di dunia sastra, Odhy’s juga aktif bergiat di Dewan Kesenian Kalimantan Barat (DKKB, sebagai Ketua Komite Sastra) dan Dewan Kesenian Kota Pontianak (DKKP, juga menjabat Ketua Komite Sastra). Sementara sajak-sajak Yudhiswara juga dipublikasikan di berbagai media massa Jakarta, Brunei, Malaysia, dan sempat pula menerbitkaan 9 antologi puisi,  di antaranya  Hujan Lolos dari Sela Jari dan Jakarta dalam Puisi Mutakhir (Masyarakat Sastra Jakarta, 2000, editor Korrie Layun Rampan). Beberapa sajaknya juga dimuat dalam bunga rampai Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia, Buku II (susunan Korrie Layun Rampan).

Maraknya komunitas sastra di tahun 1980-an dan 1990-an di Kalbar, khususnya di kota Pontianak, seiring waktu makin menampakkan kesenyapannya. KOMPAK (Kelompok Penulis Pontianak), HPCP (Himpunan Pencipta Cerpen dan Puisi), HP3N (Himpunan Penulis, Pengarang dan Penyair Nusantara), Komite Sastra di Dewan Kesenian Kalbar maupun Dewan Kesenian Pontianak, hingga hari-hari terakhir ini sudah tak terdengar lagi gaung kegiatan maupun lahirnya karya-karya besar dari para sastrawannya. Apalagi sepeninggal Odhy’s dan Yudhiswara – sebagai motor penggerak ataupun motivator sastra(wan) – kegiatan dan perkembangan sastra nampak tersendat-sendat hingga berujung pada krisis penciptaan karya sastra. Semoga saja masa-masa stagnasi di ranah sastra Kalimantan Barat ini tidaklah berkepanjangan.

***

Demikianlah gambaran sepintas tentang sastrawan dan komunitas sastra di empat provinsi Kalimantan dari dekade ke dekade pertumbuhan dan perkembangannya. Sastra Indonesia di Kalimantan, bagaimana pun ia masih bernapas, berdenyut, bergerak, dan  bersuara, di tengah riuh-gemuruhnya eksploitasi dan eksplorasi membabi-buta para penjarah, perampok, begal,  terhadap kekayaan sumber daya alam (hutan, minyak bumi, batubara, bijih besi, emas) di Kalimantan yang semakin terkikis dan kritis hingga berdampak pada bencana longsor dan banjir di mana-mana. Ya, sastra dan sastrawan di Kalimantan, sampai hari ini masih tetap hidup, punya tempat dan peran di ranah kesusastraan Indonesia!

Palangka Raya, Desember 2007-Banjarmasin, Januari 2008.

Daftar Pustaka

Hijaz Yamani, Kegiatan Para Sastrawan Kalimantan Selatan dari Waktu ke Waktu, makalah “Temu Sastrawan se-Kalimantan Selatan 1998” (Komite Sastra Dewan Kesenian Kalimantan Selatan, September 1998).

Korrie Layun Rampan, Kalimantan Timur dalam Sastra Indonesia (harian Merdeka, 9 Juni 1983).

Korrie Layun Rampan, 70 Tahun Sastra Indonesia di Kalimantan Selatan (Radar Banjar, 8 Juni 2003).

Micky Hidayat, Mengenal Kegiatan Sastra di Kota Pasir, Palangkaraya: Menaburkan Puisi di Hamparan Hutan dan Rawa-rawa (harian Pelita, 25 April 1984).

Micky Hidayat, Persoalan Sentralisasi, Publikasi, dan Komunitas dalam Pertumbuhan dan Perkembangan Sastra Indonesia Mutakhir (harian Banjarmasin Post, 7 September 2000).

Micky Hidayat, Komunitas Penyair dan Sastra Koran (wawancara di harian Banjarmasin Post, 16 Agustus 2001).

Micky Hidayat, Sosialisasi Karya, Komunitas, dan Dinamika Kepenyairan – Menyambut Deklarasi Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Banjarmasin (harian Radar Banjarmasin, 8 Februari 2004)

Perkawinan Batu, antologi puisi penyair Kalimantan (Cakrawala Sastra Indonesia, Taman Ismail Marzuki, Dewan Kesenian Jakarta, September 2005).

Rambahan, antologi puisi H.A. Badar Sulaiman Usin (penerbit Keluarga Besar Garasi, 2000).

Tulisan ini dikutip dari makalahnya pada Kongres Komunitas Sastra Indonesia, Kudus, Jawa Tengah, 19-21 Januari 2008.


[1] Semboyan  Pahlawan Nasional asal Kalimantan Selatan,  Pangeran Antasari,  dalam perjuangan (Perang Banjar)  melawan penjajah Belanda. Artinya, haram atau pantang menyerah,  semangat tetap membaja sampai ke ujung.

5 responses to “SEPINTAS SASTRAWAN DAN KOMUNITAS SASTRA DI KALIMANTAN

  1. Ping-balik: rePublik Sastra » Blog Archive » Sepintas Sastrawan Dan Komunitas Sastra Di Kalimantan·

  2. Ketika di Kalteng dulu, saya mengenal nama-nama penyair/sastrawan Kalteng seperti Fridolin Ukur, Badar Sulaiman Usin, Kusni, J.F. Nahan, dan M. Makmur Anwar. Kalangan yang lebih muda, selain nama-mana dalam artikel, ada seorang penyair muda wanita yang berbakat ketika menjadi mahasiswa saya yaitu Wahidah F. Dirun. Kemudian, Ami… (putri M. Makmur Anwar). Untuk lingkup Kalteng pada waktu itu, potensinya termasuk lebih dari lumayan. Kemudian, ada beberapa nama lain yaitu Suryadipura (Pengasuh Ruang Sastra salah satu Radio Swasta Naga di Palangkaraya) dan …(guru bahasa Inggris di salah satu sekolah di Kalteng), Pahit Narotama (putra M. Makmur Anwar). Saya tidak tahu di mana keberadaan mereka sekarang. Begitulan. Salam!

  3. Tulisan ini merupakan catatan dan dokumentasi berharga bagi kehidupan sastra Indonesia di Bumi Kalimantan. Sayang kalau dilewatkan. Selamat buat penulisnya dan selamat buat pengelola media ini. Ars longa vita brevis! Salam sastra!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s