PUJANGGA BARU, ANTARA MAJALAH SASTRA DAN KOMUNITAS SASTRA


Iwan Gunadi

Untuk menyokong semangat pergerakan nasional, pada periode 1920-an dan 1930-an, banyak tokoh nasional, termasuk para sastrawan, mencoba mencari dan merumuskan identitas kebudayaan Melayu (baca: Indonesia): apakah kebudayaan Melayu mesti digali dari khazanah asli kebudayaan yang hidup di Nusantara atau berkaca pada kebudayaan Barat. Di bidang kesusastraan, pertanyaan tersebut dijawab Sutan Takdir Alisjahbana dengan mencoba menerobos aturan-aturan yang kaku yang selama ini diberlakukan Balai Pustaka. Takdir menginginkan hadirnya kesusastraan baru yang berkaca pada kesusastraan Barat, yang notabene becermin pada kebudayaan Barat. Di wilayah yang disebut terakhir itu pula sesungguhnya sasaran akhir gagasan Takdir secara menyeluruh. Latar seperti itu pula yang menjadi habitat upaya penerbitan Majalah Pujangga Baru lengkap dengan komunitas pendukungnya.

Mulanya, konsep “Pujangga Baru” merupakan sebuah upaya Takdir menggagas tradisi kesusastraan Melayu yang baru di Hindia Belanda di bawah pengaruh kebudayaan Barat. Sebab, menurutnya, hanya dengan pendekatan baru di bawah pengaruh kebudayaan Barat, kesusastraan Melayu dapat diperkaya. Melalui gagasan tersebut, Takdir seperti membayangkan akan adanya suatu pencerahan dalam tradisi kesusastraan Melayu sebagaimana yang pernah dicapai Tachtigers (Angakatan 1880) yang menunjukkan kebangkitan kembali kesusastraan Neoromantik di Belanda pada abad ke-19. Kritik-kritik Takdir pada kesusastraan yang berkembang selama 1920-an pun sering menggunakan terminologi Tachtigers.

Gagasan itu ingin dijadikan Takdir sebagai suatu gerakan. Untuk itu, dia mencoba mencari dukungan. Ketika Armijn Pane mendukung gagasannya, Takdir menyatakan pentingnya dibentuk organisasi pengarang yang siap mendukung dan menyebarluaskan gagasan itu. Tapi, Armijn tak setuju. Yang lebih utama, menurutnya, adalah penerbitan majalah kesusastraan yang bebas, tidak seperti yang dilakukan Majalah Balai Pustaka dengan kebijakan redaksional yang membatasi. Perhimpunan pengarang tanpa penyambung lidah, tambahnya, amat kecil artinya dalam mencapai tujuan. “Kalau sudah ada majalah itu, akan adalah pemartabatan pujangga semuanya, sedang kalau ada perkumpulan dan tiada majalahnya, maka maksud perkumpulan itu tiada akan banyak tercapai,” tulis Armijn kepada Takdir dalam satu suratnya tertanggal 18 November 1932.

Sambil terus mencari dukungan dari pengarang-pengarang muda dari pelbagai pelosok Nusantara, yang dilakukan melalui surat edaran yang dibikin Armijn, Takdir dan Armijn terus mengupayakan kehadiran penerbitan majalah kesusastraan itu. Januari 1933, Armijn menyambangi Jakarta. Dalam pertemuan dengan Takdir dan Amir Hamzah, teman Armijn ketika di algemene middelbare school (AMS) Solo, Jawa Tengah, anggaran dasar yang telah disusun Armijn untuk pembentukan organisasi pengarang didiskusikan. Tujuannya adalah memajukan dan meningkatkan kesusastraan Indonesia berdasarkan bahasa Melayu (sic!) dan kegiatan utama untuk mencapai tujuan itu adalah penerbitan majalah sastra. Hasil pertemuan itu kemudian disosialisasikan melalui surat edaran kepada 40 nama yang sebelumnya pernah disurati Armijn. Surat edaran tersebut terutama untuk menjajaki respons para pengarang itu tentang mana yang akan didahulukan: organisasi pengarang atau majalah. Ternyata, pendapat Armijn yang menang: mereka setuju agar dimulai dengan penerbitan majalah sebelum dibentuk organisasi pengarang. Akhirnya, nomor pertama majalah itu terbit pada Juli 1933. “Nama majalah itu ialah Pujangga Baru, sebab majalah itulah akan jadi penambat pujangga-pujangga muda, pujangga-pujangga baru yang sekarang. Di situlah mereka itu bersuara sebebas-bebasnya,” tulis surat edaran tertanggal 8 Februari 1933.[1]

Namun, setelah kekuasaan Hindia Belanda beralih dari Belanda ke Jepang, cita-cita perjuangan Pujangga Baru gagal menarik minat para sastrawan generasi berikutnya. Cara pendekatan Pujangga Baru yang bersifat romantis, sentimental, dan kedaerahan dianggap tak sesuai sama sekali untuk suasana yang menuntut tindakan, bukan impian.[2]. Kantor Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidosho) yang didirikan Pemerintah Jepang di Jakarta juga hadir untuk mengorganisasi para pengarang dan seniman Indonesia selama 1942-1945 demi tujuan politisnya[3].


[1] Keith Foulcher, Pujangga Baru; Kesusasteraan dan Nasionalisme di Indonesia 1933-1942, terjemahan Sugiarta Sriwibawa (Jakarta: PT Girimukti Pasaka, 1991), hlm.14-23.

[2] A. Teeuw, Sastra Baru Indonesia (Ende: Penerbit Nusa Indah, 1980), hlm. 149.

[3] Pamusuk Eneste, editor, Buku Pintar Sastra Indonesia, edisi ketiga (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2001), hlm. 122.

One response to “PUJANGGA BARU, ANTARA MAJALAH SASTRA DAN KOMUNITAS SASTRA

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s