KOMUNITAS SASTRA SEBAGAI BASIS PENGEMBANGAN “IDEOLOGI KESASTRAAN”


Ahmadun Yosi Herfanda

Sastrawan dan Wartawan

Prolog

Ada dua istilah kunci yang harus dijelaskan lebih dulu dalam makalah ini, yakni ‘komunitas sastra’ dan ‘ideologi kesastraan’. Melani Budianta mendefinisikan ‘komunitas sastra’ sebagai kelompok pecinta sastra yang didirikan secara sukarela oleh penggiat dan pengayom sastra atas inisiatif sendiri, yang ditujukan bukan terutama untuk mencari untung, melainkan untuk tujuan-tujuan lain sesuai dengan minat dan perhatian para anggota kelompok (nirlaba).[1]

Secara sederhana, istilah ‘komunitas sastra’ barangkali dapat didefinisikan sebagai ‘kelompok penulis dan pecinta sastra’. Definisi singkat ini terasa lebih pas, mengingat pada kenyataannya — seperti yang tampak pada Komunitas Sastra Indonesia (KSI), Forum Lingkar Pena (FLP), Komunitas Utan Kayu (KUK), dan Masyarakat Sastra Jakarta (MSJ), misalnya – yang bergabung di dalam wadah komunitas sastra tidak hanya para kreator sastra, tapi juga para pembaca, penonton (penggembira), editor, penerbit dan organiser sastra. Sebutan ‘kelompok’ juga lebih pas, mengingat selama ini tidak adanya sistem keanggotaan yang ketat di dalam komunitas-komunitas tersebut.

Sedangkan ‘ideologi kesastraan’ adalah paham, teori, atau tujuan terpadu yang terkandung di dalam teks-teks yang disebut karya sastra – baik prosa (esei, cerpen dan novel) maupun puisi. Definisi tersebut merujuk pada penjelasan dari ideolog Prancis, Destutt de Tracy (1796), yang menciptakan istilah ‘ideologi’ guna menunjukkan suatu ilmu baru yang meneliti ide-ide manusia, asal mulanya, sufat-sifatnya, serta hukum-hukumnya.[2] Dalam kacamata politik, ideologi adalah paham, teori, atau tujuan terpadu yang merupakan satu program sosial-politik. Namun, dalam arti umum, ideologi adalah ide-ide yang mendasari sebuah sistem filsafat atau pandangan hidup suatu kelompok tertentu, yang menampak pada pola aktivitas, ekspresi, dan tujuan kekaryaannya.

Estetik dan Tematik

Di dalam berbagai tulisan dan pembicaraan tentang konsep estetika dan orientasi penciptaan karya sastra, kita kerap mendengar istilah ‘ideologi estetik’ dan ‘ideologi tematik’. Sesungguhnya, disengaja atau tidak oleh pengarangnya, di dalam tiap karya sastra terkandung dua aspek ideologis sekaligus, yakni ‘ideologi estetik’ dan ‘ideologi tematik’.

Hal itu terjadi, karena sesungguhnya karya (teks) sastra tidak pernah bebas nilai. Sebab, karya sastra lahir dari kreator (manusia kreatif) yang membawa muatan nilai-nilai, baik sebatas kekayaan intelektual mapun keyakinan yang mewarnai kehidupannya sehari-hari. Bahkan, seorang kreator sastra yang menolak nilai-nilai yang dianut masyarakatnya pun tetap bermuatan nilai-nilai. Karena, sesungguhnya penolakannya terhadap nilai-nilai yang lazim (mapan) adalah perjuangannya untuk memapankan nilai-nilai baru yang diyakini kebenarannya.[3]

‘Ideologi estetik’ adalah paham, teori, atau tujuan terpadu yang berkaitan dengan anutan estetik dan terlihat pada aspek estetika karya sastra. Atau, semacam ‘keyakinan estetik’ yang menjadi landasan proses penciptaan karya sastra. Untuk puisi, misalnya terlihat pada aspek tipografi, rima, dan pencitraannya. Sedangkan untuk prosa fiksi (cerpen dan novel) terlihat pada struktur dan unsur-unsur ceritanya, seperti alur, plot, dan karakterisasi. Sedangkan ‘ideologi tematik’ adalah paham teori, dan tujuan terpadu, serta sistem filsafat dan pandangan hidup yang terkandung didalam (isi) karya sastra. ‘Ideologi tematik’ inilah yang tidak pernah terlepas dari ‘ideologi’ ataupun pandangan hidup pengarangnya dan membuat karya sastra tidak pernah bebas nilai, meski dengan alasan kebebasan imajinasi sekalipun.

Menurut model analisis intertekstual dari  pemikir post-strukturalis Prancis, Julia Kristeva,[4] ‘ideologi’ pengarang – juga ideologi yang hidup di sekitar pengarang — adalah teks yang ikut mempengaruhi kelahiran suatu karya sastra, dan karena itu patut diperhitungkan dalam menafsirkan karya tersebut. Sebuah pendekatan yang tidak pernah menganggap ‘pengarang telah mati’ meski karyanya telah  dilempar ke publik’, sebab sang pengarang tetap hidup (abadi) dan berdenyut – bersama ideologinya – di dalam karyanya, dan dia (pengarang) akan kembali ‘berbicara’ tiap karyanya dibaca orang. Membaca Saman karya Ayu Utami, misalnya, kita akan melihat Ayu Utami bersama ideologi, pandangan hidup dan ide-ide ‘feminisme sempalan’. Membaca Perempuan di Titik Nol kita akan melihat kegelisahan seorang Nawal el-Sadawi dalam melihat nasib kaumnya yang tertindas di tengah-tengah budaya patriarkhi. Begitu juga kalau kita membaca Ayat-ayat Cinta-nya Habiburrahman El-Shirazy atau Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, kita akan mendengar kearifan hidup dan ide-ide pencerahan dari kedua pengarang bestseller tersebut.

Ideologi Komunitas

Berpijak pada pengertian ideologi dalam bingkai politik, sepanjang sejarah sastra Indonesia, barangkali, baru kelompok sastrawan Lekra yang memproklamirkan ideologi bersastranya secara terbuka, yakni ‘realisme sosialis’ yang senafas dengan Marxisme – dengan politik sebagai panglima. Sastra cenderung hanya ditempatkan sebagai ‘alat’ penyebaran ideologi dalam membangun ‘kekuatan politik’ untuk mencapai kekuasaan. Meskipun sangat indah yang mengagumkan, dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, misalnya, gambaran pertentangan kelas tampak sangat jelas – pendekatan khas kaum Marxis – dan kaum borjuis menjadi sasaran tembak utama.

Komunitas-komunitas sastra yang ada dewasa ini rata-rata tidak mengumumkan ideologi kesastraannya. Komunitas Utan Kayu (KUK), misalnya. Pada situs web komunitas ini (www.utankayu), KUK —  Teater Utan Kayu, Galeri Lontar, dan Jurnal Kebudayaan Kalam, Institut Studi Arus Informasi, Kantor berita Radio 68-H, dan, Jaringan Islam Liberal (JIL) – hanya menyebut kegiatan mereka sebagai upaya untuk memelihara semangat dan prinsip kebebasan berpikir serta berekspresi. Atau,  membela kemerdekaan bersuara, dengan menyebut Orde Baru yang represif sebagai pendorong munculnya gerakan mereka. Sementara, era Orde Baru sendiri sudah lewat dan kini iklim politik, pers, dan kebudayaan kita sudah cukup terbuka.

Jika kita amati, sebagaimana terlihat pada dukungan mereka terhadap karya-karya sastra seksual yang ‘melawan tabu’ dan membela kekebasan seks, semacam Saman-nya Ayu Utami, juga pemikiran-pemikiran yang dikembangkan melalui JIL dan Kalam, KUK cenderung pada ideologi liberalisme. Dengan merujuk pada definisi Tracy, maka dapat dikatakan bahwa paham, teori, sikap hidup, tujuan dan konsep gerakan mereka adalah liberal. Sehingga, tidak terlalu salah anggapan bahwa KUK, dalam banyak hal, terutama dalam kesastraan dan pemikiran agama, ikut melaksanakan agenda liberalisasi yang dilakukan oleh Barat (AS).

Komunitas sastra yang berkembang sangat pesat dengan anggota mencapai ribuan, yakni Forum Lingkar Pena (FLP), juga tidak pernah mengumumkan ideologi kesastraan maupun asas kelembagaannya. Namun, dengan gerakan fiksi Islami yang dimotorinya, sambil merujuk pada pemikiran Tracy dan pengertian ideologi secara umu, maka FLP dapat dianggap memiliki dan mengembangkan ‘ideologi kesastraan’ yang  bersifat Islami. Islam memang bukan ideologi, tetapi ketika nilai-nilai Islam diadopsi sebagai dasar suatu paham ata teori estetika sastra, dan sekaligus sebagai landasan nilai-nilai tematiknya, maka karya-karya sastra yang lahir dari padanya dapat dianggap sebagai karya-karya sastra yang membawa ‘ideologi kesastraan’ yang Islami.

Komunitas sastra yang agak unik, barangkali adalah Komunitas Sastra Indonesia (KSI). Di dalam Anggaran Dasar KSI sudah disebutkan bahwa asas organisasi komunitas sasra ini adalah Pancasila. Namun, kedekatannya pada para sastrawan buruh pabrik, dan karya-karya beberapa tokohnya yang mengangkat realitas getir para buruh pabrik Tangerang, seperti terlihat pada sajak-sajak Wowok Hesti Prabowo dan Khusnul Khuluqi, sempat mengundang kecurigaan ideologi kesastraan KSI adalah realisme sosial. Apalagi, diantara karya-karya keduanya tampak  menempatkan kaum majikan (borjuis) sebagai sasaran tembak, dengan penggambaran yang mengesankan pertentangan kelas: kaum buruh hidup sengsara dan tertindas, sedangkan kaum majikan hidup mewah dan berkuasa.

Namun, kecurigaan itu jelas tidak benar, dengan banyak alasan. Pertama, membela kaum buruh, kaum yang lemah dan tertindas, tidak otomatis berarti Marxis. Sebab, Islam sendiri, juga agama apapun, mengajarkan pada umatnya untuk membela kaum yang lemah dan melawan penindasan. Kedua, di dalam tubuh KSI ada keberagaman dan selalu bersemangat untuk membela keberagaman (multi kultural). Di antara para anggota Dewan Pendiri KSI, misalnya, ada yang cenderung sosialis, ada yang cenderung kejawen (teosofis), dan ada pula yang Islam taat. Namun, rata-rata bersikap sangat moderat. Dan, ketiga, jelas disebutkan dalam Anggaran Dasar-nya bahwa asas KSI adalah Pancasila – bukan yang lain.

Keberagaan tersebut juga tampak pada karya-karya keluarga besar KSI, sejak realistik sampai sufistik. Dan, ketika pemikiran yang bersinggungan dengan ‘ideologi kesastraan’ mengerucut di kalangan tokoh-tokoh KSI, misalnya ketika merumuskan konsep estetik Angkatan 2000, yang disepakati adalah ‘keberagaman estetika’. Dan, keberagaan estetika serta multikulturalitas itulah yang disepakati sebagai landasan konseptual Angkatan 2000 versi KSI, berbeda dengan konsep estetika yang coba ditemukan serta ditemukan Korrie Layun Rampan saat mengumumkan lahirnya Angkatan 2000.

Orientasi Penciptaan

Merujuk pada anggapan bahwa karya sastra tidak pernah bebas nilai, dan para kreator karya sastra adalah sosok-sosok yang bermuatan ‘ideologi’ atau pandangan hidup tertentu, maka karya sastra sesungguhnya merupakan media yang tak terhindarkan dari pengembangan ideologi, baik disengaja ataupun tidak oleh para penciptanya. Pengembangan suatu ideologi melalui karya sastra akan mengalami semacam intensifikasi, ketika para kreatornya memilih orientasi penciptaan yang bersifat pragmatik untuk tujuan ideologis tertentu.

Soal orientasi penciptaan itu, kiaranya cukup menarik untuk merujuk pada pemikiran Abrams (1981),[5] yang  mengelompokkan karya sastra ke dalam empat orientasi penciptaan. Pertama, karya sastra sebagai tiruan alam atau penggambaran alam. Kedua, karya sastra sebagai alat atau sarana untuk mencapai tujuan tertentu pada pembacanya. Ketiga, karya sastra sebagai pancaran perasaan, pikiran, ataupun pengalaman sastrawannya. Dan, keempat, karya sastra sebagai sesuatu yang otonom, mandiri, lepas dari alam sekeliling, pembaca maupun pengarangnya. Pada orientasi keempat inilah prinsip seni untuk seni (lart pour lart)[6] berkembang.

Pada ‘orientasi kedua’ Abram, karya sastra dipandang sebagai media untuk tujuan-tujuan yang cenderung pragmatis. Misalnya saja, sastra untuk sosialisasi ajaran agama (sastra dakwah), sastra untuk membangun kesadaran politik tertentu, atau untuk mendorong munculnya kesadaran sosial, seperti novel Max Havelar karya Multatuli[7] dan sajak-sajak kritik sosial Rendra. Dalam orientasi ini, sajak-sajak Rabendranat Tagore[8] juga dipercayai ikut mendorong semangat patriotisme kaum terpelajar India untuk membebaskan bangsanya dari penjajahan Ingris. Sementara, sajak-sajak Kahlil Gibran[9] ikut menyebarkan kearifan hidup bagi jutaan pembacanya di seluruh dunia.

Orientasi kedua itu pula sebenarnya yang menjadi orientasi penciptaan karya sastra di kalangan kaum sosialis dengan konsep realisme sosialnya. Tetapi kemudian, pada perkembangannya yang ekstrem, seperti tampak pada para sastrawan Lekra,[10] sastra hanya dimanfaatkan sebagai alat untuk kepentingan ideologi, politik, dan kekuasaan. Ini memang ‘jebakan’ yang paling berbahaya dari orientasi yang terlampau pragmatis. Di satu sisi, pengembangan ideologi mengalami intensifikasi, namun di sisi lain, prestasi estetik cenderung dilupakan, karena tidak lagi menjadi tujuan penciptaan. Kenyataannya, hanya Pramoedya Ananta Toer, dari kalangan pengarang Lekra yang berhasil mengimbangi orientasi ideologisnya dengan kecanggihan estetika (teknik bertutur dan ploting yang begitu kuat), sehingga karya-karyanya, terutama Bumi Manusia, begitu memukau.

Namun, sebenarnya, apapun orientasi penciptaan karya sastra, karena merupakan sekumpulan sistem tanda yang menyimpan makna, dan lahir dari kreator yang tidak bebas ideologi, maka ia akan memiliki kemampuan tersembunyi (subversif) untuk mempengaruhi perasaan dan pikiran pembaca, termasuk menanamkan ideologi tertentu. Karya sastra yang melukiskan keindahan alam, misalnya, secara tidak langsung akan mengajak pembacanya untuk menghayati kebesaran Sang Pencipta sekaligus cinta kelestarian alam. Demikian juga karya-karya sastra yang mengajarkan kearifan hidup tertentu, akan mengajak pembacanya untuk memiliki kearifan yang sama. Pada tingkat fanatisme tertentu, baik paham tentang kelestarian alam, ataupun kearifan hidup tententu, pada dasarnya adalah sebuah ideologi. Dan, ketika fanatisme itu menyemangati proses penciptaan karya sastra, maka sesungguhnya ia telah menjadi ‘ideologi kesastraan’.

Apalagi, ketika proses penciptaan karya sastra secara sengaja diagendakan atau didasarkan pada paham yang telah mapan, semacam Sufisme, Liberalisme, Sekularisme, Hedonisme, Komunisme, Kapitalisme, maupun Marxisme, maka karya sastra tersebut akan memperlihatkan ‘ideologi kesastraan’ yang sangat jelas, dan ke sanalah proses penciptaan karya sastra itu diorientasikan.

Epilog

Komunitas sastra – apapun namanya – adalah wadah berkumpulnya para kreator dan pecinta sastra yang tidak bebas ideologi, tidak bebas teori dan pandangan hidup, dalam pengertian Tracy tadi. Karena itu, disengaja atau tidak, benar-benar dirancang ataupun menggelinding begitu saja, benar-benar diagendakan bersama ataupun muncul begitu saja dari karya-karya para anggotanya, komunitas sastra itu akan menjadi basis pengembangan suatu ‘ideologi kesastraan’.

Bagi komunitas-komunitas sastra yang bersikap menggelinding saja – atau terlalu moderat — dalam menyiasati ‘ideologi kesastraan’, maka persoalan ideologis di dalamnya akan cenderung mencair. Sebaliknya, komunita sastra yang menempatkan ideologi tertentu sebagai semacam agenda perjuangan, maka ideologi yang dipilihnya akan cenderung mengental dan komunitas sastra tersebut akan menjadi basis pengembangan suatu ‘ideologi kesastraan’ yang sangat efektif.

Suatu komunitas sastra, tentu, dapat memilih salah satu di antara kedua sikap ideologis tersebut. Tetapi, sejarah membuktikan, bahwa gerakan sastra yang tidak memiliki landasan ideologis yang kuat akan sulit untuk melahirkan suatu karya besar, karena tidak memiliki semangat juang untuk memenangkan ideologi tertentu. Ibaratnya, perjuangan tanpa landasan ideologi atau keyakinan tertentu adalah perjuangan yang hambar, tanpa greget, dan tidak terarah. Pada gaya perjuangan yang demikian tidak akan ada kata ‘berani mati’ atau ‘berani malu’ untuk memenangkan keyakinannya.[11]

Karena itu, barangkali, KSI perlu mulai berpikir serius untuk menempatkan ideologi tententu – Pancasila, misalnya – sebagai agenda perjuangannya. Misalnya, untuk melawan Liberalisme dan Kapitalisme. Sehingga, asas Pancasila tidak hanya teronggok bisu di dalam Anggaran Dasar KSI, tetapi menjadi sumber gairah baru untuk memenangkan perjuangan melalui kelahiran karya-karya besar dan penciptaan ‘wacana sastra’ yang mampu menandingi karya-karya dan wacana sastra yang tidak Pancasilais.

Jakarta, 15 Januari 2008

Daftar Rujukan

  1. Abrams, MH, A Glossary of Literary Lamps, Holt Rinehart and Winston, New York, first edition, 1981
  2. Hasanuddin WS, Prof, Dr, Mhum, Ensiklopedi Sastra Indonesia, Penerbit Titian Ilmu, Bandung, cetakan pertama 2004.
  3. Herfanda, Ahmadun Yosi, Drs, MTI,  Antara Kecendekiaan dan Budaya Berkarya, makalah untuk Simposium Pemberdayaan Ummat, ICMI Orsat Kairo, di Auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Al-Azhar, Kairo, 19 April 2002.
  4. Heryanto, Ariel, MA, Perdebatan Sastra Kontekstual, Penerbit Rajawali, Jakarta, cetakan pertama, 1985.
  5. Iwan Gunadi, Lima Tahun KSI, Komunitas Sastra Indonesia, Tangerang, cetakan pertama 2001.
  6. Kristeva, Julia, Revolution in Poetic Language, 1974.
  7. Kristeva, Julia, Desire in Language: A Semiotic Approach to Literature and Art, 1979.
  8. Layun Rampan, Korrie, Angkatan 2000 Dalam Sastra Indonesia, Grasindo, Jakarta, 2001.
  9. Selden, Raman, A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory, Harvester-Wheatsheaf, University of Lancaster, 1985.

Tulisan ini dikutip dari makalahnya pada Kongres Komunitas Sastra Indonesia di Kudus, Jawa Tengah, 19-21 Januari 2008.


[1] Dikutip oleh Iwan Gunadi dalam artikel Kualitas Komunitas Sastra (Harian Republika, 4 Juni 2004)

[2] Dikutip oleh Hasanuddin WS, Prof., Dr., MHum., dkk., dalam Ensiklopedi Sastra Indonesia (Titian Ilmu, Bandung, 2004, halaman 345).

[3] Kaum nudis pun sesungguhnya membawa nilai, karena penolakannya terhadap nilai-nilai kesopanan adalah untuk memapankan nilai-nilai yang bebas dari aturan kesopanan. Justru karena keyakinannya pada ‘nilai kebebasan untuk bertelanjang’ mereka berani hidup bersama dalam ketelanjangan. Di kalangan kaum nudis bahkan ada larangan berpakaian di depan umum. Mereka menganggap telanjang di depan umum lebih sopan disbanding berpakaian di depan umum. Begitu pula kalau kita memahami para pengarang yang memperjuangkan kebebasan seks, bukan berarti mereka tidak membawa nilai-nilai, karena kekebasan seksual yang mereka perjuangkan adalah ‘nilai baru’ yang mereka yakini kebenarannya, meskipun bertentangan dengan nilai-nilai yang diyakini masyarakat pada umumnya. Kebebasan bertelanjang (nudis) ataupun kekebasan seksual (free sex) telah menjelma menjadi ide bersama, paham, keyakinan, atau ideologi hidup mereka.

Jadi, sesungguhnya, manusia yang berpikir, yang beride, yang berpengetahuan, tidak pernah kosong atau bebas nilai. Barangkali, hanya manusia yang paling primitif, yang derajatnya mendekati hewan, yang kosong atau bebas nilai. Mereka telanjang, karena belum ada etika (kesopanan) yang mengatur mereka untuk menutupi auratnya. Mereka bebas melakukan hubungan seks dengan siapapun yang disuka (suka sama suka), karena tidak ada etika moral, adat maupun agama yang mengatur hubungan seks. Perbedaan antara manusia primitif dan manusia nudis atau free sex adalah, manusia primitif memang belum memiliki harkat, martabat, dan derajat manusi, alias belum mengalami proses humanisasi sehingga derajatnya masih setara dengan binatang. Sedangkan kaum nudis dan free sex adalah manusia yang memiliki ide (bersama) untuk menolak kemanusiaannya, menjalani dehumanisasi, untuk mempraktekkan peradaban binatang.

[4] Menurut Kristeva, intertekstualitas merupakan kunci untuk memahami sebuah teks sastra secara lengkap. Dalam dua bukunya — Revolution in Poetic Language (1974) dan Desire in Language: A Semiotic Approach to Literature and Art (1979) —  Kristeva mengingatkan pentingnya dimensi ruang dan waktu dalam menafsir teks sastra, termasuk paham, ideaologi, dan ide-ide di ruang intelektual pengarang.

[5] Abrams, MH, A Glossary of Literary Lamps, Holt Rinehart and Winston, New York, 1981

[6] Konsep ataupun prinsip lart pour lart atau seni untuk seni pertama kali berkembang di Prancis. Para penganut prinsip ini meyakini bahwa seni diciptakan untuk seni itu sendiri, tidak ada kaitannya dengan masalah moral atau tujuan-tujuan pragmatis lainnya.

[7] Novel Max Havelaar karya Multatuli dipercayai menjadi sumber inspirasi bagi munculnya gerakan politik etis di kalangan eksekutif pemerintahan Hindia-Belanda. Dari gerakan ini muncul niat baik (political will) untuk lebih mencerdaskan kaum pribumi, hingga banyak didirikan lembaga-lembaga pendidikan dan penerbitan untuk pribumi seperti Balai Pustaka.

[8] Tagore adalah penyair India penerima Nobel Sastra tahun 1913.

[9] Kahlil Gibran adalah penyair AS kelahiran Libanon. Buku-buku kumpulan sajaknya, seperti Sang Nabi (The Prophet) menjadi best seller di seluruh dunia.

[10] Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) adalah organisasi budayawan underbow PKI. Salah satu tokohnya adalah Pramoedya Ananta Toer.

[11] Dari pemahaman ini, barangkali, kita dapat menemukan alas an, kenapa pengarang semacam Ayu Utami tidak malu-malu untuk mengumumkan bahwa dirinya penganut seks di luar nikah, dan anti lembaga pernikahan.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s