PAGUYUBAN PANGARANG WANOJA SUNDA ”PATREM” ”NGARIUNG” MEMBAHAS KARYA


Pagi mulai menghangat ketika anggota Paguyuban Pangarang Wanoja Sunda ”Patrem” berdatangan di rumah Aam Amilia. Selain sebagai pribumi, Ceu Aam demikian ia akrab disapa, memang menjabat sebagai Ketua Patrem. Rumah yang tadinya sunyi itu kini menjadi riuh.

Apalagi setelah Yooke Tjuparmah, Teti Khodijah, Naneng Daningsih, dan Sum Darsono tiba di lokasi. Rasa kangen pun tumpah. Wajar saja, Sum Darsono memang sengaja datang dari Garut untuk menghadiri pertemuan rutin Patrem itu. ”Eh… pan ieu teh sono atuh,” ujarnya sambil saling berpelukan satu sama lain.

Hadir berada di antara para pengarang perempuan Sunda memang beda. Rasa kekeluargaannya terasa sangat kental. Coba saja lihat makanan yang dihidangkan, bukan saja disiapkan sahibul bait, tetapi juga dibawa oleh para tamu yang datang. ”Beginilah kalau kita berkumpul, biasanya saling membawa makanan sendiri-sendiri. Dari hanya seadanya, sampai ngaronyok seperti ini,” ujar Chye Retty Isnendes, anggota Patrem muda yang bergabung ke organisasi ini sebagai angkatan ketiga.

Tusuk konde
Aam menuturkan, Patrem awalnya hanya sebuah kumpulan pertemuan antarpengarang wanoja Sunda. Penggagasnya almarhumah Ningrum Djulaeha. Kemudian dibentuk menjadi sebuah paguyuban oleh Ningrum bersama Tini Kartini, Yooke Tjuparmah, Naneng Daningsih, Ami Raksanagara, Aam Amilia, dll. Secara resmi, Patrem disahkan pada 18 November 1982. ”Tapi kalau kumpul-kumpul awal sih tahun 1970-an,” kata Aam.

Nama resmi yang digunakan kumpulan ini adalah Paguyuban Sastrawati Sunda Patrem, lengkap memiliki AD/ART. Salah satu yang ikut membidani kelahirannya antara lain Ny. Popong Otje Djundjunan.

Patrem, menurut Chye Retty, adalah sejenis tusuk konde yang sering digunakan perempuan Sunda. Patrem juga merupakan perkakas  perang yang digunakan Putri Citra Resmi atau Diyah Pitaloka dalam Palagan Bubat. Patrem menjadi simbol paguyuban sastrawati Sunda yang diharapkan menjadi metamorfosis kekuatan, kehormatan, martabat, dan keindahan yang ditorehkan melalui karya tulisan sastra Sunda.

Nama-nama yang pernah menjabat sebagai Ketua Patrem adalah Ningrum Djulaeha sebagai ketua pertama Patrem dan menjabat beberapa periode. Digantikan kemudian oleh Tini Kartini, Ami Raksanagara, Naneng Daningsih juga beberapa periode, baru kemudian dipegang oleh Aam Amilia. Aam akan menghabiskan masa kerja periode pertamanya sampai Agustus 2010.

Perkumpulan ini terus berkembang. Hal itu dibuktikan Patrem dengan semakin bertambahnya pengarang wanita yang menjadi anggota paguyuban ini. Antara lain bermunculan nama-nama seperti Hana Rohana Suwanda, Holisoh M.E., Sum Darsono (Garut), Cicih Kurniasih (Tasikmalaya), Cucu Siti Nurjanah (Cianjur), Mumun Munayah, almarhumah Sukaesih Sastrini (Sumedang), Yatty M. Wihardja, Pipiet Senja (Jakarta), Mien Setianingrum, Dadah Abdulrozak, Suci D. Wihardja, Teti Suharti, Tetty S. Nataprawira, Etti R.S. (sekarang Ketua PPSS), dan nama-nama baru kalangan penulis muda yang produktif. Mereka antara lain Teti Hodijah, Chye Retti Isnendez, Ruhaliah, Imas Rohilah, Ai Koraliati, Senny Alwasilah, dll.

Seiring dengan munculnya para penulis perempuan nonfiksi, Patrem mengubah keanggotaan, tidak lagi terbatas pada para penulis fiksi, tetapi juga nonfiksi. Bahkan AD/ART pun mengalami perubahan. Patrem mulai lebih mengembangkan  keanggotaannya  tahun 2009.

Arisan karya
Kegiatan utama Patrem adalah berkarya dan membahas karya. Ada tradisi menarik yang kerap dilakukan para anggota Patrem. Setiap sebelum mengadakan pertemuan, petugas pemberi informasi Patrem akan menganjurkan semua anggota yang akan hadir untuk membawa karya.

”Kami menyebutnya arisan karya. Setiap orang membawa karya masing-masing, kemudian dipilih karya siapa yang akan dibahas saat itu, begitu seterusnya mirip arisan,” ujar Yooke Tjuparmah.

Selain mendorong anggota untuk terus berkarya, karya yang dibuat pun dievaluasi.  ”Siapa pun harus membawa karya dan tidak boleh menolak kalau terpilih untuk dibahas. Malah seringnya semua ingin dibahas, makanya ada pengundian,” tutur Yooke melanjutkan.

Kegiatan lainnya, pada era ketua Naneng Daningsih, sempat dibentuk koperasi simpan pinjam. Malah sangat menolong anggota. Namun karena banyak anggota dari generasi pertama Patrem yang mulai tidak aktif dan lebih banyak pinjamnya dari pada menyimpan, koperasi itu tidak berumur panjang.

”Yah, begitulah namanya organisasi hobi. Kalau sedang intens pasti hidup. Kalau lagi kurang berminat, sepi,” ujar Naneng Daningsih menambahkan.

Sementara kegiatan-kegiatan yang terkait karya sastra Sunda antara lain, menerbitkan antologi carita pondok (carpon) yang berjudul ”Guriang Tujuh”, mengadakan ceramah sastra dengan menghadirkan pembicara Saini K.M. dan Abdullah Mustappa, mengadakan lomba pidato, lomba membaca carpon, lomba membaca sajak, mengadakan lomba melukis dan mendongeng carita Sunda, serta melakukan kunjungan sosial kepada anggota yang sakit.

Ciri khas kedua yang kental dapat ditemui di Patrem adalah silaturahmi dan kekeluargaannya. Nyaris tidak ada jarak antara anggota senior dan anggota baru. Hal itu diakui Yayi, mahasiswa Jurusan Sastra Sunda UPI Bandung angkatan 2008. Menurut dia, setelah ia bergabung dengan Patrem, banyak hal yang dapat lebih diketahui, terutama dalam hal membuka wawasan berkarya dan pengalaman berorganisasi.

”Kalau di kampus biasanya kan terbatas teori, tetapi kalau bisa kumpul dengan tokoh-tokoh dan praktisi sastra seperti ini, ilmu pengetahuan dan wawasan saya jadi lebih luas,” ujar Yayi.

Hal sama diakui Chye Retti dan Ruhaliah. Dua anggota dari kalangan akademik ini mengaku tidak ada jarak antara anggota Patrem dari berbagai generasi.

Selain kalangan akademik, anggota Patrem berasal dari latar yang berbeda, ada guru, karyawan, ibu rumah tangga biasa, sampai wartawan. Sekretariat Patrem di Jln. Sersan Sodik No. 4 Bandung.  (Eriyanti)

Jangan Sampai Mati

Tidak berbeda dengan komunitas penulis lainnya, Patrem ada kalanya sepi dari kegiatan. Selain anggotanya sibuk dengan berbagai kegiatan masing-masing, faktor usia anggota juga memengaruhi. “Ada kalanya ada anggota yang sakit. Ada kalanya ada yang melahirkan, ah macem-macem we lah,” ujar Aam Amilia.
Pernah kejadian, Patrem telah merancang acara sedemikian rupa, tetapi karena ada anggota yang melahirkan, kegiatan itu tertunda.
Melihat kenyataan demikian, semua anggota sepakat harus melakukan regenerasi. Antara lain dengan lebih mengenalkan Patrem kepada kalangan muda, terutama mahasiswa jurusan sastra Sunda. Keinginan ini bersambut dengan adanya beberapa anggota Patrem dari kalangan akademis, seperti Ruhaliah, doktor dari Jurusan Sastra dan Bahasa Sunda FPBS UPI dan Chye Retti Isnendes, dosen dari fakultas yang sama.
Melalui kedua anggota inilah, Patrem dikenalkan lebih dekat kepada mahasiswa, sehingga bermunculan anggota baru dari kalangan perempuan muda. Kendati begitu, banyak juga anggota baru yang mengenal Patrem karena kegiatan dan karya-karya anggota Patrem.
Sejak berdiri sampai sekarang, banyak karya anggota Patrem yang sudah diterbitkan. Tidak hanya karya perorangan tetapi juga karya antologi bersama seperti antologi carita pondok “Guriang Tujuh” yang terbit tahun 1980-an.
Agar Patrem tetap hidup, kini sedang dipersiapkan penerbitan antologi bersama yang ketiga. Selain itu, juga sedang dirancang ceramah, gelar wicara, dan diskusi yang mengundang pakar sastra.
Dari rencana kerja tahun 2010 yang diberikan kepada “PR”, sedikitnya terdapat lima program pada tahun ini, yakni menerbitkan antologi bersama, mengadakan ceramah sastra, diskusi membedah karya, dan mengadakan lomba mengarang carpon.
“Kita tidak muluk-muluk untuk mengadakan kegiatan yang besar-besar. Nu penting mah, kumaha carana supaya Patrem ulah paeh. Minimal aya we kegiatan-kegiatan leutik mah,” ujar Aam.
Kendati begitu, dari perjalanan keorganisasiannya, banyak anggota Patrem yang memperoleh penghargaan sastra. Antara lain, hadiah “Rancage” diraih oleh Tini Kartini, Etti R.S, dan Holisoh. Hadiah Lembaga Basa Jeung Sastra Sunda (LPBB) diraih oleh Holisoh M.E., Etti R.S., dan Aam Amilia. Carpon panilih Mangle diraih oleh Ai Koraliati, Imas Rohilah, Holisoh M.E., Aam Amilia, Riswanti, dan Chye Retti Isnendes.
Sajak pilih Mangle diperoleh oleh Etti R.S., Chye Retti Isnendes, dll. Sementara untuk kolom panilih Mangle jatuh ke tangan Yooke Tjuparmah dan beberapa yang lainnya. Bahkan ada juga anggota Patrem yang sudah meraih Anugerah Budaya Jawa Barat yaitu Aam Amilia pada tahun 2009.
Tidak hanya di panggung lomba, banyak pula anggota Patrem yang sudah menerbitkan buku seperti Tini Kartini, Aam Amilia, Holisoh M.E., Ai Koraliati, Dr. Ruhaliah, dan yang lainnya. Beberapa karya anggota Patrem yang sudah diangkat ke layar lebar antara lain “Sebening Kaca” karya Yati M. Wihardja dan “Sanggeus Halimun Peuray” karya Aam Amilia. (Eriyanti)

Kedua tulisan di atas pernah dipublikasikan di Harian Pikiran Rakyat (Bandung), 18 April 2010

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s