TRADISI INTELEKTUAL MELAYU


Abdul Malik

Melayu dan tamadun (peradaban)-nya tergolong satu di antara tamadun yang cukup tua di dunia. Berdasarkan bukti-bukti prasejarah yang diperoleh, bangsa Melayu dijangka telah ada sejak 4.000 tahun yang lalu yaitu dimulai pada 2.000 S.M. (Proto Melayu, Melayu Tua).

Hasil penelitian terkini yang dilakukan oleh Prof. Liang Liji, Universitas Beijing, China membuktikan bahwa pada abad ke-17—11 S.M. telah terjadi perhubungan antara Melayu dan China. Dalam perpustakaan Dinasti Han, On Shu Oi Li Zhi disebutkan bahwa pada masa Maharaja Han Wu Di (140—87 S.M.) telah dibuka perjalanan dari China ke India melalui Semenanjung Tanah Melayu. Maharaja Sun Quan pada 222—252 M. mengirim Zhu Ying dan Kang Tai untuk menjalin persahabatan dengan Negeri-Negeri Melayu (Liang Liji, 13 Juni 2010). Berikutnya, barulah datang Yi Jing dan para pendeta agama Budha ke Sriwijaya untuk belajar agama Budha mulai abad ke-7 M.

Satu di antara ciri yang menonjol dari setiap puncak tamadun Melayu itu ialah berkembangnya tradisi intelektual. Nampaknya, tradisi intelektual menjadi ciri utama tamadun Melayu yang terus dipertahankan oleh dunia Melayu zaman-berzaman di mana pun pusat tamadun Melayu itu berada dan bila masa pun ianya ada.

Puncak pertama tamadun Melayu terjadi pada zaman Kemaharajaan Sriwijaya (633—1397 M.). Tamadun Melayu-Budha yang menaungi kejayaan Sriwijaya ini memang menghasilkan mahakarya yang menjadi satu di antara keajaiban dunia yaitu Candi Borobudur. Akan tetapi, lebih daripada itu Sriwijaya juga menjadi pusat pengajian ilmu agama Budha terbesar di Asia Tenggara kala itu. Alhasil, bahasa Melayu, yang oleh orang China disebut bahasa Kunlun dan oleh orang India disebut bahasa Dwipantara menjadi bahasa internasional di Asia Tenggara.

Puncak kedua tamadun Melayu berlangsung pada zaman Kerajaan Melaka (abad ke-13—16). Pada awal abad ke-15 Kerajaan Melaka sudah menjadi pusat perdagangan dunia di sebelah timur yang maju pesat. Para saudagar yang datang dari Persia, Gujarat, dan Pasai—sambil berniaga—juga menyebarkan agama Islam di seluruh wilayah kekuasaan Melaka.

Tak hanya itu, mereka pun menyebarkan bahasa Melayu karena penduduk tempatan yang mereka kunjungi tak memahami bahasa mereka, begitu pula sebaliknya. Bersamaan dengan masa keemasan Melaka ini, dimulailah tamadun Melayu-Islam. Bahasa Melayu pun mendapat pengaruh bahasa Arab dan bangsa-bangsa pedagang itu (Arab, Parsi, dll.) menjadikannya sebagai bahasa kedua mereka.

Menurut Ensiklopedia Bahasa Utama Dunia (1998:56), ulama Gujarat seperti Nuruddin al-Raniri berkarya dan berdakwah dengan menggunakan bahasa Melayu. Begitu pula Francis Xavier yang menyampaikan summon dalam bahasa Melayu ketika beliau berada di Kepulauan Maluku. Masuknya Islam ke dunia Melayu makin meningkatkan bahasa Melayu sebagai bahasa internasional dalam dunia Islam dan menjadi bahasa kedua terbesar setelah bahasa Arab (www.prihatin.net).

Pada masa kejayaan Melaka itu bahasa dan kesusastraan Melayu turut berkembang. Bahasa Melayu menjadi bahasa resmi kerajaan, bahasa perdagangan, bahasa ilmu dan pengetahuan, di samping bahasa perhubungan sehari-hari rakyat. Malangnya, pada 1511 Kerajaan Melaka dapat ditaklukkan oleh Portugis dan lebih tragis lagi, khazanah kebudayaan zaman Melaka itu musnah terbakar ketika terjadi penyerbuan oleh penjajah tersebut. Sultan Mahmud Syah berundur ke Pahang, lalu mendirikan pusat kerajaan Melayu di Bintan pada 1513, dengan wilayahnya meliputi Indragiri, Siak, Kampar, Rokan, dan lain-lain.

Puncak ketiga tamadun Melayu terjadi pada zaman Kerajaan Riau-Johor (1530—1824). Secara lengkap, nama kerajaan ini adalah Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Pada masa ini di Johor berkembang tradisi intelektual untuk menggantikan khazanah Melaka yang telah musnah. Di samping itu, diterbitkan pula karya-karya baru. Di antara karya tradisi Johor itu yang terkenal ialah Sejarah Melayu (Sulalatu’s Salatin ‘Peraturan Segala Raja’) tulisan Tun Mahmud Sri Lanang gelar Bendahara Paduka Raja. Karya yang amat masyhur ini mulai ditulis di Johor pada 1535 selesai pada 1021 H. bersamaan dengan 13 Mei 1612 di Lingga.

Menurut Francois Valentijn, pendeta sekaligus pakar sejarah berkebangsaan Belanda, pada abad ke-18 bahasa Melayu di bawah Kerajaan Riau-Johor telah mengalami kemajuan pesat dan telah menyamai bahasa-bahasa Eropa. Berikut ini penuturannya.

“Bahasa mereka, bahasa Melayu, bukan sahaja dituturkan di daerah pinggir laut, tetapi juga digunakan di seluruh Kepulauan Melayu dan di segala negeri Timur, sebagai suatu bahasa yang dipahami di mana-mana sahaja oleh setiap orang, tidak ubah seperti bahasa Perancis atau Latin di Eropa, atau sebagai bahasa lingua franca di Italia dan di Levant. Sungguh luas tersebarnya bahasa Melayu itu sehingga kalau kita memahaminya tidaklah mungkin kita kehilangan jejak, karena bahasa itu bukan sahaja dipahami di Persia bahkan lebih jauh dari negeri itu, dan di sebelah timurnya sehingga Kepulauan Filipina.”

Pada permulaan abad ke-19 di Singapura bersinar kepengarangan Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Karya-karya Abdullah itu penting artinya bagi pelanjutan dan pengembangan bahasa dan tamadun Melayu sebagai penerus tradisi intelektual yang mencirikan tamadun Melayu.

Setelah Riau dan Johor dipecah dua oleh penjajah pada 1824, pusat tamadun Melayu berpindah ke Kerajaan Riau-Lingga (1824—1913). Masa ini disebutkan oleh banyak penulis menjadi kemuncak utama perkembangan tamadun Melayu. Dengan Raja Ali Haji sebagai tokoh utamanya, diikuti oleh banyak sekali penulis dan ilmuwan lain, di Kerajaan Riau-Lingga pada pertengahan dan akhir abad ke-19 serta awal abad ke-20 kreativitas ilmu, pengetahuan, dan budaya mengalir dengan subur. Tak berlebihanlah apabila disebut bahwa pada abad itu Kerajaan Riau-Lingga menjadi pusat tamadun Melayu-Islam.

Untuk mengoptimalkan kreativitas intelektual dan kultural mereka, para cendekiawan dan budayawan Kerajaan Riau-Lingga mendirikan pula Rusydiyah Klab pada 1880. Rusydiyah Klab merupakan perkumpulan cendekiawan Riau-Lingga, tempat mereka membahas pelbagai hal yang berkaitan dengan ihwal pekerjaan mereka.

Kegiatan intelektual dan dunia kepengarangan tak akan lengkap tanpa percetakan. Sadar akan kenyataan itu, kerajaan mendirikan percetakan (1) Rumah Cap Kerajaan di Lingga, (2) Mathba’at Al-Riauwiyah di Penyengat, dan (3) Al-Ahmadiyah Press di Singapura. Dengan adanya ketiga percetakan itu, karya-karya Riau-Lingga itu dapat dicetak dengan baik, yang pada gilirannya disebarluaskan. Alhasil, aktivitas intelektual yang berlangsung di Kerajaan Riau-Lingga diketahui masyarakat internasional di seluruh dunia.

Nyatalah bahwa Kepulauan Riau pada masa lalu menjadi pusat tamadun Melayu yang amat penting. Seyogianyalah tradisi intelektual yang menjadi ciri utama tamadun Melayu itu dapat dikekalkan dan berkesinambungan. Sangat tak patut, menurut hemat saya, kalau generasi yang hidup pada masa ini hanya sekadar menggantungkan kebanggaan pada apa yang telah dibuat oleh generasi terdahulu.

Kawasan Melayu yang lain, kerajaan-kerajaan negeri di Malaysia dan Propinsi Riau dan Kalimantan Barat misalnya, sedang berupaya keras dan sangat giat untuk menjadikan negerinya atau daerahnya sebagai pusat tamadun Melayu baru. Sebagai kawasan yang memang menjadi pusat tamadun Melayu pada masa lampau, sudah sepatutnyalah Kepulauan Riau pun ikut bersaing. Untuk itu, daerah ini mesti memiliki Pusat Pengajian Tamadun Melayu sebagai tempat semua aktivitas intelektual itu diselenggarakan.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di http://web.batampos.co.id/, 22 Agustus 2010.

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s