SASTRA INDONESIA DI SULAWESI TENGGARA: WARISAN TRADISI TULIS YANG BELUM TERGENGGAM


Ahid Hidayat
Alumnus Program Magister Ilmu Susastra FIPB Universitas Indonesia
dan Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Haluoleo

Warisan Terpendam, Warisan Tergenggam
Adakah nama Sulawesi Tenggara dalam peta sastra Indonesia? Bila merujuk kepada warisan tradisi penulisan pada masa lampau, semestinya nama Sulawesi Tenggara sudah tercatat dalam peta itu. Di provinsi ini, pada masa silam, berdiri antara lain sebuah kerajaan (yang kemudian berubah menjadi kesultanan) bernama Buton. Kerajaan yang diperkirakan berdiri pada awal abad XIV dan berakhir pada tahun 1960 ini meninggalkan kekayaan warisan yang masih terpendam: naskah. Sebuah proyek inventarisasi naskah Buton yang dikerjakan oleh Achadiati Ikram dkk. telah berhasil melakukan pembuatan katalog dan sinopsis isi sebanyak 320 naskah koleksi Abdul Mulku Zahari.[2]
La Niampe menyatakan bahwa di Kesultanan Buton tradisi penulisan naskah ini berkembang di kalangan keluarga bangsawan yang diajar oleh para ulama yang datang ke Buton atas undangan para sultan.[3] Para ulama yang datang ke Negeri Butun antara lain Syarif Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman, Firus Muhammad, Sayid Raba, Said Ulwi, Haji Sulaiman atau lebih dikenal dengan nama Haji Pada, Abdullah atau Mojina Kalau, Tuan Muda Abdul Rahman Khudari Wan Ali Fatani, serta Syekh Muhammad bin Syais Sumbul al-Makki. Dari didikan para ulama yang datang itulah kemudian di kesultanan ini lahir para penulis seperti Muhammad Idrus Qaimuddin, Muhammad Isa Qaimuddin, Haji Abdul Ganiu, Haji Abdul Hadi, La Kobu, dan Abdul Khalik Maa Saadi.[4] Oleh karena itu, tidaklah salah jika Saifuddin Gani menjuluki Kesultanan Buton ini sebagai negeri pujangga.[5] Karena kegemilangan tradisi penulisan di masa silam itulah, maka perkembangan sastra di Sulawesi Tenggara semestinya dapat menyamai kemajuan di daerah lain yang memiliki tradisi masa silam yang sama.

Akan tetapi, walaupun tradisi penulisan di masa Sultan Muhammad Idrus Qaimuddin (penulis Bula Malino, memerintah pada 1824-1851) di Buton lebih kurang sezaman dengan Raja Ali Haji (penggubah Gurindam 12, 1809-1870) di Riau,[6] ternyata keberlanjutan tradisi penulisan ke masa kini tidaklah sama. Keberlanjutan hidup sastra Melayu, menurut Abdul Razak Zaidan, mewujud dalam bentuk “metamorfosis”, seperti pengolahan mantra dalam tradisi Melayu Riau oleh Sutardji Calzoum Bachri, penafsiran tambo oleh Gus tf, serta pergulatan kreatif Ediruslan P. Amanriza dan Taufik Ikram Jamil.[7] Sementara Riau telah melahirkan beberapa generasi sastrawan ternama, Sulawesi Tenggara hingga kini masih belum juga melahirkan sastrawan yang dikenal khalayak pembaca di seluruh Indonesia. Tepatlah kiranya jika Achadiati Ikram dkk. menganggap koleksi naskah Buton sebagai warisan terpendam.[8] Warisan tradisi tulis yang terpendam dari masa Kesultanan Buton itu belum digali dengan baik sehingga belum juga lahir penulis-penulis yang dapat menorehkan nama Sulawesi Tenggara pada peta sastra Indonesia. Adapun di Riau, tradisi penulisan semasa Raja Ali Haji dan sebagainya telah menjadi warisan yang tergenggam oleh generasi penerusnya di masa kini.

Perbedaan kondisi keberlanjutan tradisi masa silam pada masa kini antara Riau (serta beberapa daerah lain yang memiliki tradisi tulis pada masa silam) dengan Sulawesi Tenggara, khususnya Buton (yang juga memiliki tradisi yang sama di masa lalu) tentu menarik untuk menjadi bahan penelaahan. Tulisan ini pertama-tama akan membahas posisi Sulawesi Tenggara dalam peta sastra Indonesia. Selanjutnya akan diuraikan pertumbuhan sastra Indonesia di Sulawesi Tenggara; siapa saja pengarang yang berkecimpung dalam dunia sastra di provinsi ini serta berbagai persoalan yang muncul dalam proses pertumbuhan tersebut.

Sulawesi Tenggara dalam Peta Sastra Indonesia
Satu-satunya buku sejarah sastra Indonesia yang mencatat kegiatan sastra di Sulawesi Tenggara adalah Pengantar Sejarah Sastra Indonesia karangan Yudiono K.S.[9] Catatan Yudiono K.S. dalam buku itu didasarkan pada sebuah hasil penelitian Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara tentang komunitas sastra di Sulawesi Tenggara.[10] Dalam buku-buku sejarah sastra Indonesia yang lain, belum pernah tercatat seorang pun sastrawan yang lahir dan/atau tinggal menetap di Sulawesi Tenggara. Dalam Ikhtisar Kesusastraan Indonesia Modern karangan Pamusuk Eneste misalnya, dalam seluruh angkatan sastra yang ada, tidak seorang sastrawan pun yang berasal dari Sulawesi Tenggara.[11]

Sesungguhnya ada dua sastrawan yang lahir di Sulawesi Tenggara. Namun keduanya memulai dan menjalani proses kepengarangan di daerah lain. Kedua sastrawan itu adalah La Ode Pesu Aftarudin dan Asia Ramli Prapanca.[12] La Ode Pesu Aftarudin adalah kelahiran Kampung Kasaka, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Ia mulai menulis puisi ketika duduk di bangku SGA Garut. Puisi-puisinya dimuat antara lain pada majalah Basis, Horison, dan Budaya Jaya. Ketika kuliah di IKIP Bandung (kini Universitas Pendidikan Indonesia), ia mulai pula menulis masalah-masalah sastra dan kebudayaan.[13] Adapun Asia Ramli Prapanca lahir di Kampung Usuku, Kecamatan Tomia, yang kini termasuk wilayah Kabupaten Wakatobi. Ia menempuh pendidikan menengah di Banyuwangi, Pasuruan, dan Ambon hingga kemudian kuliah di IKIP Ujung Pandang (kini Universitas Negeri Makassar). Tahun 1993 ia menerbitkan kumpulan puisi berjudul Berita dari Karaeng.[14]

Karena proses kepengarangan keduanya berlangsung di luar Sulawesi Tenggara – La Ode Pesu Aftarudin di Jawa Barat dan Asia Ramli Prapanca di Sulawesi Selatan, maka keduanya tidak serta-merta menjadikan provinsi tanah kelahiran keduanya sebagai kantong sastra yang patut diperhitungkan. Tidak adanya sastrawan asal Sulawesi Tenggara yang ditokohkan atau tokoh sastra yang tinggal di Sulawesi Tenggara ini kiranya harus diakui sebagai salah satu penyebab mengapa kekayaan warisan tradisi penulisan dari masa silam masih saja terpendam, sementara daerah lain yang memiliki sastrawan yang ditokohkan di daerahnya warisan tradisi penulisan itu dapat tergenggam.[15] Kenyataan ini sejalan dengan pernyataan Goenawan Mohamad bahwa “kesusastraan Indonesia adalah … kesusastraan kota”.[16] Di Sulawesi Tenggara pun, kegiatan seni masih terpusat di Kendari sebagai ibukota provinsi.

Upaya menempatkan nama Sulawesi Tenggara untuk dikenal sebagai salah satu kantong sastra di Indonesia mulai dilakukan oleh Syaifuddin Gani, seorang penyair kelahiran Salubulung, Mambi, Sulawesi Barat, yang memulai aktivitas berkesenian sebagai pemain drama di Teater Sendiri, dua puluh tahun lalu. Kumpulan puisinya berjudul Perjalanan yang terbit pada 2004 dapat dicatat sebagai kumpulan puisi tunggal pertama yang terbit di Kendari. Di samping mengirimkan karya-karyanya sendiri, penyair ini secara aktif mengirimkan karya-karya puisi karangan kawan-kawannya ke sejumlah media yang terbit di luar Sulawesi Tenggara, baik cetak maupun elektronik. Maka sejak 2005, karya-karya Syaifuddin telah tersebar di berbagai media yang terbit di luar Sulawesi Tenggara seperti Republika, Seputar Indonesia, Horison, Annida (Jakarta), Gong (Yogyakarta), Lampung Post (Bandar Lampung), Bali Post, Sundih (Denpasar), Pedoman Rakyat (Makassar), Analisa (Medan), dan Pikiran Rakyat (Bandung).[17]

Selain Syaifuddin Gani, masih ada beberapa penulis lain yang “melaut di samudera sastra Indonesia”, walaupun mereka belum seproduktif Syaifuddin Gani. Di bidang puisi, terdapat nama Iwan Konawe (nama lain dari Iwan Comcom atau Irawan Tinggoa) dan Sendri Yakti – karya keduanya antara lain pernah dimuat di Majalah Gong. Di bidang prosa, karya-karya S. Gali (kadang-kadang menggunakan nama pena Galih) yang dimuat di majalah Horison dan Majalah Gong setidaknya telah memperkenalkan keberadaan penulis cerpen di Kendari.[18] Kemunculan Syaifuddin Gani serta penulis lain seperti Iwan Konawe, S. Gali, dan Sendri Yakti dalam gugusan peta sastra Indonesia ini memang masih terlalu sedikit jumlahnya bagi pertumbuhan sastra yang cukup sehat di sebuah provinsi; tetapi intensitas berkarya Syaifuddin Gani dan kawan-kawannya setidaknya dapat memberikan harapan bahwa di masa depan Sulawesi Tenggara dapat menyejajarkan diri sebagai kantong sastra setara dengan kantong sastra daerah lain.[19]

Pertumbuhan Sastra Indonesia di Sulawesi Tenggara
Pertumbuhan sastra di Sulawesi Tenggara tidak dapat dilepaskan dari hadirnya komunitas-komunitas seni di provinsi ini, sejak akhir tahun 1960-an. Pada masa itu, berdiri dua komunitas yakni Ikatan Seniman Sulawesi Tenggara (Ika Sastra) dan Ikatan Seniman dan Budayawan Angkatan Sekarang (ISBAS). Komunitas Ika Sastra (berdiri hingga akhir 1980-an) dimotori oleh Heri Imran Nur, Munawar Fatiha, Nor Satega Ali, Saleh Manja dan Sarham D.T. (nama yang disebut terakhir ini bersama Muh. Edi Sul kemudian mendirikan ISBAS). Kegiatan Ika Sastra yang penting dicatat adalah Festival drama se-Sulawesi Tenggara pada tahun 1968 dan 1971.[20]

Walaupun telah dicatat Yudiono K.S. dalam Pengantar Sejarah Sastra Indonesia, kehidupan sastra di Sulawesi Tenggara pada kurun 1960-an sampai awal 1990-an sesungguhnya masih agak gelap. Hingga saat ini belum ditemukan dokumen-dokumen yang membuktikan adanya publikasi karya sastra, baik dalam bentuk buku maupun media cetak. Yang lebih mengemuka pada masa itu adalah kegiatan di bidang seni drama, bidang seni yang merupakan aktivitas utama dua komunitas yang telah disebutkan di atas. Setelah Ika Sastra dan ISBAS bubar, komunitas seni yang aktif kemudian adalah Teater Angkasa, komunitas yang anggotanya adalah pegawai RRI Kendari yang memfokuskan perhatian pada drama-drama radio serta pertunjukan untuk mengisi acara yang diselenggarakan oleh lembaga penyiaran tersebut.

Dari tahun 1990-an hingga sekarang, sastra tumbuh di Sulawesi Tenggara juga antara lain dari komunitas yang kegiatan utamanya adalah teater. Pada periode ini, patut dicatat kehadiran kelompok Teater Sendiri yang didirikan pada 21 Juni 1992 oleh dramawan Achmad Zain.[21] Di samping kegiatan seni teater yang menjadi aktivitas utamanya, kelompok ini telah berperan penting dalam menumbuhkan kehidupan sastra di provinsi ini. Diawali dengan penerbitan antologi penyair Sulawesi Tenggara Dengung (1996), Teater Sendiri kemudian menerbitkan empat kumpulan puisi berupa antologi bersama yakni Sendiri (2003), Sendiri 2, Malam Bulan Puisi (2004), Pembacaan Sajak Akhir Tahun (2005), dan Sendiri 3 (2006).[22] Teater Sendiri juga menerbitkan dua kumpulan puisi tunggal yaitu Perjalanan (kumpulan puisi Syaifuddin Gani), dan Merobek Malam (kumpulan puisi Achmad Zain).[23] Di samping Teater Sendiri, pada 2004 ada sembilan komunitas lain yang bidang kegiatan utamanya mencakup sastra.[24] Akan tetapi, kesembilan komunitas tersebut kini sudah tidak terdengar lagi aktivitasnya. Dua komunitas/lembaga yang tercatat pernah membuat publikasi karya adalah Studio Drama FKIP Unhalu yang menerbitkan Memberi Harga pada Kata: Kumpulan Sajak Mengenang Chairil Anwar 2007, dan Rumah Puncak Puisi Kolaka yang menerbitkan Tanah Merah Tanah Sorume Tanah Mekongga.[25]

Pertengahan 2004, Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara berdiri. Di samping menyelenggarakan kegiatan bengkel sastra (mencakup penulisan dan musikalisasi puisi, penulisan cerpen, serta penulisan naskah drama) dan sejumlah perlombaan sastra (antara lain baca puisi, musikalisasi puisi, penulisan cerita rakyat), lembaga ini memberikan sumbangan penting bagi dunia kesusastraan di Sulawesi Tenggara yakni terbitnya Antologi Puisi Kendari, Jejak Haluoleo Antologi Puisi Pelajar Kota Kendari, Antologi Drama Sulawesi Tenggara, serta Langkolee Si Kupu-kupu Antologi Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara.[26] Kedatangan sastrawan nasional ke Sulawesi Tenggara untuk memberikan pelatihan yang diselenggarakan Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara juga dirasakan telah meningkatkan kegairahan bersastra khususnya di Kota Kendari.[27]

Pada akhir 2007, Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara memberikan penghargaan penghargaan kepada seniman dan kelompok seni yang berdedikasi menghidupkan kesenian di Sulawesi Tenggara – penghargaan sastra pertama yang diberikan sejak Provinsi Sulawesi Tenggara berdiri. Hal lain yang juga berarti bagi pertumbuhan sastra di Sulawesi Tenggara adalah terbukanya kesempatan bagi para pengarang di Sulawesi Tenggara untuk mengikuti kegiatan sastra tingkat nasional yang dikoordinasi oleh Pusat Bahasa (seperti kegiatan Bengkel Sastra yang diselenggarakan oleh Majelis Sastra Asia Tenggara dan berbagai acara dalam rangkaian kegiatan Bulan Bahasa Nasional di Jakarta).

Hingga di sini, belum sedikit pun dibahas peran media cetak lokal di Kendari bagi pertumbuhan sastra di provinsi ini. Sampai akhir 2007, dapat dikatakan bahwa pertumbuhan sastra di Sulawesi Tenggara tidak berlangsung di media cetak. Dari tiga media cetak yang terbit harian di Kendari, sampai akhir tahun lalu, tidak ada satu pun media yang menyediakan ruang tetap untuk memuat karya sastra. Karena ketiadaan ruang sastra di media massa (di Kendari) itulah maka para penulis di Kendari lebih banyak mempublikasikan karyanya dalam bentuk buku yang digandakan dalam jumlah terbatas (sekitar puluhan eksempar saja) oleh kelompoknya seperti yang dilakukan oleh Teater Sendiri dan Teater 72 Kolaka. Bila tidak dipublikasikan dalam bentuk buku yang dicetak terbatas, sebagian penulis mendokumentasikan karyanya dalam bentuk manuskrip (dalam pengertian satu eksemplar naskah yang di-print), seperti yang dilakukan oleh antara lain Syaifuddin Gani, Kamilus Nara Odung, dan Irianto Ibrahim.[28]

Upaya pemublikasian karya sastra dengan mengirimkannya ke media-media massa di luar Sulawesi Tenggara baru dilakukan pada tahun 2005 – sebuah cara pemublikasian karya yang hanya dilakukan oleh satu atau dua penulis Sulawesi Tenggara. Ruang sastra di koran lokal itu baru hadir pada awal tahun ini setelah para pekerja seni di Kendari pada 29 Desember 2007 mengadakan diskusi sastra yang mengangkat tema “Sastra dan Media”. Salah satu rekomendasi yang dihasilkan dalam diskusi tersebut adalah, “Meminta media massa di Kendari menyediakan ruang sastra yang terbit secara berkala satu minggu satu kali untuk menyalurkan ekspresi kreatif dan meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni sastra khususnya, dan seni-budaya pada umumnya”.[29] Risalah diskusi tersebut mendapat tanggapan positif dari salah satu media di Kendari, sehingga mulai 5 Januari 2008 setiap Sabtu media tersebut menyajikan rubrik “Sastra & Budaya”.

Selama sekitar delapan bulan (sampai 23 Agustus 2008) pengelolaan rubrik tersebut dibantu secara suka rela oleh dua pekerja seni Kendari, salah satunya adalah Syaifuddin Gani. Hingga terbitan tersebut, rubrik “Sastra & Budaya” di koran itu telah terbit sebanyak 34 kali. Dalam catatan pengelolanya, dalam 34 edisi yang terbit, rubrik itu telah memuat 22 cerita pendek, 133 puisi dari 31 penyair, dan 10 esai. Dari sejumlah itu, porsi terbesar diberikan kepada cerita pendek, puisi dan esai yang ditulis oleh penulis-penulis lokal Kendari, yakni 17 cerpen (68,18%), 88 puisi (66,92%) dari 22 penyair lokal (70,97%) dan 8 esai (80%).[30] Pemuatan karya penulis-penulis lokal menjadi prioritas walaupun dari segi kualitas boleh jadi berada di bawah kualitas karya pengarang-pengarang yang sudah ternama. Kebijakan tersebut diambil agar semakin banyak penulis-penulis lokal yang karyanya terpublikasikan. Berdasarkan data publikasi karya di atas, baik dalam bentuk buku cetakan yang terbatas tirasnya maupun di media massa, dapat dikemukakan daftar nama penulis puisi dan cerpen Sulawesi Tenggara. Para penulis yang berkreasi mencipta puisi berjumlah lebih dari enam puluh orang,[31] sementara penulis cerita pendek baru berkisar belasan orang saja.[32]

Sebelum mengakhiri bahasan tentang pertumbuhan sastra di Sulawesi Tenggara ini, perlu pula dikemukakan ragam tulis lain yang juga mulai tumbuh yakni penulisan cerita populer dan penulisan cerita anak. Penulisan cerita populer di Sulawesi Tenggara dimulai oleh Krisni Dinamita dengan karyanya berjudul Cintai Aku Sekali Lagi.[33] Jejak Krisni Dinamita ini kemudian diikuti oleh Arham-Kendari yang menulis cerita lucu dengan judul yang merupakan parodi dari buku lain, yakni Jakarta Underkompor, Sebuah Memoar Garing.[34] Adapun penulisan cerita anak digeluti antara lain oleh Lukas Atakasi dan La Ode Boa.[35]

Penutup
Setelah membahas kekayaan warisan tradisi penulisan dari masa lampau yang masih terpendam, posisi Sulawesi Tenggara dalam peta sastra Indonesia, serta pertumbuhan sastra Indonesia di Sulawesi Tenggara, dapatlah dikemukakan beberapa simpulan berikut. Sulawesi Tenggara sesungguhnya mewarisi tradisi penulisan yang mengagumkan dari masa Kesultanan Buton. Namun, keberlanjutan tradisi penulisan dari masa silam ke masa kini di Sulawesi Tenggara ini tidaklah semulus di daerah lain yang memiliki warisan tradisi penulisan yang sama. Akibatnya, Sulawesi Tenggara hingga kini belum memiliki posisi yang kukuh dalam peta sastra Indonesia. Tidak adanya tokoh sastra yang dapat membangun masyarakat sastra di provinsi ini, serta belum tumbuhnya kesadaran akan tanggung jawab kultural pada media massa di daerah ini antara lain menjadi penyebab tidak mulusnya pewarisan tradisi tulis itu. Walaupun demikian, para penulis di Sulawesi Tenggara telah melakukan berbagai upaya untuk membangun kegairahan penulisan kreatif sehingga pertumbuhan sastra pada satu dekade terakhir ini dapat dirasakan cukup menggembirakan.

Daftar Pustaka

Afrion, Antilan Purba & M. Yunus Rangkuti (penyunting), Medan Puisi, Antologi Puisi Pesta Penyair Indonesia The 1st Medan International Poetry Gathering. Medan: Laboratorium Sastra Medan. 2007
Aftarudin, Pesu. Pengantar Apresiasi Puisi. Bandung: Angkasa. 1990.
Arham-Kendari. Jakarta Underkompor, Sebuah Memoar Garing. Jakarta: Gramedia. 2008.
Dengung, Antologi Puisi Penyair Sulawesi Tenggara. Kendari: Teater Sendiri. 1996.
Dinamita, Krisni. Cintai Aku Sekali Lagi. Yogyakarta: C Publishing. 2005.
Eneste, Pamusuk. Ikhtisar Kesusastraan Indonesia Modern. Jakarta: Djambatan. 1988.
Gani, Syaifuddin (penyunting). Sendiri 3 Antologi Sajak Teater Sendiri. Kendari: Teater Sendiri. 2006.
Gani, Syaifuddin. “Kongres Komunitas Sastra Indonesia di Kudus, Apa Kabar Kendari?” dalam Kendari Pos, 2 Februari 2008.
Gani, Syaifuddin. “Mereguk Cinta di Negeri Butuni” {online} diperoleh dari http://kendariekspres.com, diakses tanggal 13 September 2008.
Gani, Syaifuddin (penyunting). Malam Bulan Puisi. Kendari: Teater Sendiri. 2004.
Gani, Syaifuddin. Perjalanan. Kendari: Teater Sendiri. 2004.
Hanan, Sandra Safitri (penyunting). Jejak Haluoleo Antologi Puisi Pelajar Kota Kendari. Kendari: Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara. 2004.
Hanan, Sandra Safitri (penyunting). Kamus Budaya Sulawesi Tenggara. Kendari: Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara. 2007.
Hidayat, Ahid, Rahmania dan Uniawati, “Komunitas Sastra di Sulawesi Tenggara”, Laporan Penelitian Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara. 2004.
Hidayat, Ahid. “Risalah Diskusi Telaah Karya dan Ruang Sastra di Media Massa” di Taman Budaya Prov. Sultra, Kendari, 29 Desember 2007.
Hidayat, Ahid. Memberi Harga pada Kata: Kumpulan Sajak Mengenang Chairil Anwar 2007. Kendari: Studio Drama FKIP Unhalu. 2007.
Horison No. 7 Tahun XXXVI, Juli 2003
Ikram, Achadiati dkk. (penyunting). Katalog Naskah Buton Koleksi Abdul Mulku Zahari. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2001.
Indradi, Arsyad (penyunting). Antologi Puisi Penyair Nusantara 142 Penyair Menuju Bulan. Banjarbaru: Kelompok Studi Sastra Banjarbaru. 2006.
Miharja, Dimas Arika (penyunting). Kenduri Puisi Bungahati untuk Diah Hadaning. Yogyakarta: Ombak. 2008.
Mohamad, Goenawan. Seks, Sastra, Kita Jakarta: Sinar Harapan. 1981.
Murniah, Dad (penyunting). Antologi Drama Sulawesi Tenggara. Kendari: Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara. 2005.
Murniah, Dad (penyunting). Antologi Puisi Kendari. Kendari: Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara. 2004.
Pembacaan Sajak Akhir Tahun 2005. Kendari: Teater Sendiri. 2005.
Prapanca, Asia Ramli. Berita dari Karaeng Ujung Pandang: Macassar Impresariat Cooperation. 1993.
Rahmania (penyunting). Langkolee Si Kupu-kupu Antologi Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara. Kendari: Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara. 2006.
Rampan, Korrie Layun. “Estetika Sastra”, makalah Kongres Komunitas Sastra Indonesia di Kudus, Jawa Tengah, 19-21 Januari 2008.
Rosdin, Ali, Amiruddin dan Ramlah Mappau. “Khazanah Sastra Sulawesi Tenggara: Manusia dan Karyanya”, Laporan Penelitian Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara. 2004.
Sarjono, Agus R. “Pengantar Dewan Kesenian Jakarta” dalam Sarjono, Agus R. dkk. (penyunting) Birahi Hujan Suara dari Jawa Timur Yogyakarta: Logung Pustaka & Akar Indonesia. 2004.
Sedyawati, Edi dkk. (penyunting). Sastra Melayu Lintas Daerah. Jakarta: Pusat Bahasa. 2004.
Sendiri 2. Kendari: Teater Sendiri. 2004.
Sendiri. Kendari: Teater Sendiri. 2003.
Suryadi A.G., Linus (penyunting). Tonggak 3. Jakarta: Gramedia. 1987.
Tanah Merah Tanah Sorume Tanah Mekongga. Kolaka: Rumah Puncak Puisi. 2007.
Umry, Shafwan Hadi, Sahril & Hassan Al Bana (penyunting). Ragam Jejak Sunyi Tsunami Medan: Balai Bahasa Sumatera Utara. 2005.
Yudiono K.S. Pengantar Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: Grasindo. 2007.
Zain, Achmad. Merobek Malam. Kendari: Teater Sendiri. 2007.

________________________________________
[1] Penulisan makalah ini dapat dirampungkan antara lain karena bantuan dari beberapa kolega dan kawan-kawan penulis di Kendari. Penulis perlu menyampaikan terima kasih kepada: Syaifuddin Gani dan Achmad Zain – yang telah membantu meminjami penulis bahan-bahan yang diperlukan untuk makalah ini; pimpinan dan staf Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk memperoleh informasi di perpustakaan; serta Deddy Amrand yang telah meluangkan waktu untuk mendiskusikan draf akhir makalah ini.
[2] Hasil kerja Achadiati Ikram dkk. itu terhimpun dalam sebuah buku Katalog Naskah Buton Koleksi Abdul Mulku Zahari (Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2001). Naskah-naskah yang diinventarisasi mencakup kurun empat abad, dari awal abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-20. Naskah tertua yang terdata dalam katalog tersebut adalah naskah kategori Islam berjudul Al-Aqwâl Al-Hidâyat yang selesai ditulis pada 19 Jumadil Akhir 1031 H (sekitar tahun 1621 M).
[3] La Niampe, “Butun” dalam Edi Sedyawati dkk. (editor), Sastra Melayu Lintas Daerah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004), hlm. 172.
[4] ibid, hlm. 174-8.
[5] Syaifuddin Gani, “Mereguk Cinta di Negeri Butuni” {online} Kendari Ekspres, diperoleh dari http://kendariekspres.com, diakses tanggal 13 September 2008.
[6] Ali Rosdin, Amiruddin & Ramlah Mappau, “Khazanah Sastra Sulawesi Tenggara: Manusia dan Karyanya” (Laporan Penelitian Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara, 2004), hlm. 14.
[7] Abdul Razak Zaidan, “Epilog: Keberlanjutan ke Masa Kini” dalam dalam Edi Sedyawati dkk. (editor), Sastra Melayu Lintas Daerah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004), hlm. 399.
[8] Akhadiati Ikram dkk. (penyunting), Katalog Naskah Buton Koleksi Abdul Mulku Zahari (Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2001), hlm. 1. Bab “Pendahuluan” buku ini dimulai dengan judul subbab “Warisan Terpendam: Koleksi Naskah Buton”.
[9] Yudiono K.S., Pengantar Sejarah Sastra Indonesia (Grasindo, Jakarta, 2007), hlm. 175-6.
[10] Penelitian ini dilaksanakan oleh Ahid Hidayat, Rahmania dan Uniawati, dilaksanakan pada tahun 2004.
[11] Pamusuk Eneste, Ikhtisar Kesusastraan Indonesia Modern (Djambatan, Jakarta, 1988). Bandingkan dengan Sulawesi Utara, misalnya. Pada masa Pujangga Baru, daerah ini telah memiliki sastrawan yang dikenal di tingkat nasional seperti J.E. Tatengkeng yang lahir di Kolongan Sangihe, dan M.R. Dayoh yang lahir di Airmadidi, Minahasa, Sulawesi Utara (hlm. 39).
[12] Ada satu pengarang lain yang kalau dilihat dari namanya ada hubungannya dengan Sulawesi Tenggara, yaitu Wa Ode Wulan Ratna. Dalam Kamus Budaya Sulawesi Tenggara susunan Sandra Safitri Hanan (Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara, Kendari, 2007) hlm. 113, Wa Ode adalah gelar bangsawan kaum perempuan di Buton dan Muna. Namun, cerpenis ini sesungguhnya lahir di Jakarta dan proses kepengarangannya agaknya dimulai di kota itu juga.
[13] Pesu Aftarudin, “Catatan Kecil Pengarang” dalam Pengantar Apresiasi Puisi (Angkasa, Bandung, 1990), hlm. 101. Selain terbit dalam sebuah buku kumpulan puisi Doa Sebatang Lilin (Nurcahya, Yogyakarta, 1980), sejumlah puisi karya Pesu Aftarudin juga dimuat dalam sebuah antologi susunan Linus Suryadi A.G., Tonggak 3 (Gramedia, Jakarta, 1987).
[14] Asia Ramli Prapanca, Berita dari Karaeng (Macassar Impresariat Cooperation, Ujung Pandang, 1993), hlm. 61. Asia Ramli Prapanca kini lebih banyak berkreasi bidang teater.
[15] Daerah-daerah yang kini dikenal memiliki tradisi kukuh dalam melahirkan para sastrawan di Indonesia tidak lepas dari adanya tokoh yang hidup di daerah ini dapat dibuktikan dengan melihat daftar sastrawan yang kita kenal dalam sejarah sastra Indonesia baik pada masa sebelum kemerdekaan maupun pada dekade awal setelah kemerdekaan. Daerah yang dianggap memiliki tradisi kukuh dalam melahirkan sastrawan di Indonesia seperti dinyatakan Agus R. Sarjono, “Pengantar Dewan Kesenian Jakarta” dalam Birahi Hujan Suara dari Jawa Timur (Logung Pustaka & Akar Indonesia, Yogyakarta, 2004, hlm. vii) adalah Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Riau, Jawa Tengah, Lampung, Sumatera Utara, dan Sulawesi Utara.
[16] Goenawan Mohamad, Seks, Sastra, Kita (Sinar Harapan, Jakarta, 1981), hlm. 39.
[17] Di samping dimuat di media-media cetak di atas, karya-karya puisi Syaifuddin Gani dimuat pula dalam sejumlah antologi puisi seperti Ragam Jejak Sunyi Tsunami (Balai Bahasa Sumatera Utara, Medan, 2005), Antologi Puisi Penyair Nusantara 142 Penyair Menuju Bulan (Kelompok Studi Sastra Banjarbaru, Banjarbaru, 2006), Medan Puisi, Antologi Puisi Pesta Penyair Indonesia The 1st Medan International Poetry Gathering (Laboratorium Sastra Medan, 2007), dan Kenduri Puisi Bungahati untuk Diah Hadaning (Ombak, Yogyakarta, 2008).
[18] Lihat Horison Juli 2003, hlm. 20-23. Majalah tersebut memuat cerpen S. Gali berjudul “Jemuran”.
[19] Kemunculan Syaifuddin Gani dari Sulawesi Tenggara dan pengarang-pengarang lain dari berbagai daerah di Indonesia antara lain pernah disinggung oleh Korrie Layun Rampan dalam “Estetika Sastra”, makalah Seminar “Meningkatkan Peran Komunitas Sastra Sebagai Basis Perkembangan Sastra Indonesia” dalam Kongres Komunitas Sastra Indonesia di Kudus, Jawa Tengah, 19-21 Januari 2008.
[20] Ahid Hidayat, Rahmania dan Uniawati, “Komunitas Sastra di Sulawesi Tenggara” (Laporan Penelitian Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara, 2004), hlm. 9.
[21] Syaifuddin Gani (penyunting), “Tentang Teater Sendiri” dalam Sendiri 3 Antologi Sajak Teater Sendiri (Teater Sendiri, Kendari, 2006), hlm. 61.
[22] Antologi penyair Sulawesi Tenggara Dengung (Teater Sendiri, Kendari, 1996) memuat sejumlah puisi karya 7 penulis Sulawesi Tenggara. Antologi sajak Sendiri (Teater Sendiri, Kendari, 2003) memuat 73 puisi karya 13 anggota Teater Sendiri. Sendiri 2 (Teater Sendiri, Kendari, 2004) memuat 100 puisi karya 14 anggota Teater Sendiri. Malam Bulan Puisi disunting oleh Syaifuddin Gani (Teater Sendiri, Kendari, 2004) memuat 17 puisi karya 18 penulis serta 43 sajak karya 19 pelajar. Antologi sajak Pembacaan Sajak Akhir Tahun (Teater Sendiri, Kendari, 2005) memuat 63 sajak dari 20 penyair – termasuk di dalamnya 3 sajak Evi Idawati, 2 sajak Sapardi Djoko Damono, dan 2 sajak Moh. Wan Anwar. Sendiri 3 disunting oleh Syaifuddin Gani (Teater Sendiri, Kendari, 2006) memuat 127 sajak karya 13 anggota Teater Sendiri. Sampai saat ini, tidak ada kelompok kesenian lain, bahkan kelompok kesenian yang mengkhususkan diri di bidang sastra, di Sulawesi Tenggara yang memiliki produktivitas penerbitan karya sastra sebanyak Teater Sendiri.
[23] Kumpulan sajak Perjalanan (Teater Sendiri, Kendari, 2004), memuat 64 sajak karya Syaifudin Gani tahun 2002-2003. Adapun Merobek Malam (Teater Sendiri, Kendari, 2007) memuat 28 sajak Achmad Zain ciptaan tahun 2007.
[24] Ahid Hidayat, Rahmania & Uniawati, op.cit. hl. 15.
[25] Memberi Harga pada Kata: Kumpulan Sajak Mengenang Chairil Anwar 2007 disunting oleh Ahid Hidayat (Studio Drama FKIP Unhalu, Kendari, 2007) memuat 30 puisi karya enam alumni dan dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Haluoleo. Adapun Tanah Merah Tanah Sorume Tanah Mekongga (Rumah Puncak Puisi, Kolaka, 2007) memuat 54 puisi karya 20 anggota Teater 72 Kolaka.
[26] Antologi Puisi Kendari disunting dan diberi kata pengantar oleh Dad Murniah (Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara, Kendari, 2004) memuat 83 puisi karya delapan penyair Sulawesi Tenggara. Jejak Haluoleo Antologi Puisi Pelajar Kota Kendari disunting oleh Sandra Safitri Hanan (Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara, Kendari, 2004) memuat 35 puisi karya 23 pelajar peserta Bengkel Puisi yang diselenggarakan oleh Kantor Bahasa Agustus 2004 bimbingan Slamet Sukirnanto, Fredie Arsie & Harlina Irdijati. Antologi Drama Sulawesi Tenggara disunting oleh Dad Murniah (Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara, 2005) memuat 15 naskah drama karya 15 penulis drama Sulawesi Tenggara. Langkolee Si Kupu-kupu Antologi Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara disunting oleh Rahmania (Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara, Kendari, 2006) memuat 26 cerita rakyat hasil lomba penulisan cerita rakyat setahun sebelumnya.
[27] Dalam waktu empat tahun, Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara telah mendatangkan sejumlah sastrawan/seniman antara lain AGS Arya Dipayana, Ahmadun Y. Herfanda, Gunoto Saparie, Hamsad Rangkuti, dan Slamet Sukirnanto. Kehadiran para sastrawan ini biasanya tidak hanya mengisi acara di Kantor Bahasa, tetapi juga dimanfaatkan untuk berdiskusi dengan para pekerja seni di Kendari. Kedatangan sastrawan nasional ke Sulawesi Tenggara sebenarnya telah terjadi pula sebelum Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara berdiri. Pada 2003, Majalah Sastra Horison menyelenggarakan acara “Sastrawan Bicara Siswa Bertanya” di lima sekolah di Sulawesi Tenggara (SMAN 1 Kendari, SMAN 2 Kendari, SMAN Ranomeeto, MAN Kendari, dan SMAN 1 Raha). Sastrawan yang datang pada acara itu adalah Agus R. Sarjono, Cecep Syamsul Hari, Moh. Wan Anwar, Putu Wijaya, Sutardji Calzoum Bachri, Taufiq Ismail, dan Titie Said. Kegiatan lain Majalah Horison di Kendari adalah Pelatihan Sastra dan Jurnalistik dengan pemateri Moh. Wan Anwar dan Herry Dim, serta “Sastrawan Bicara Siswa Bertanya” di SMKN 3 Kendari pertengahan April 2008, mendatangkan empat sastrawan yaitu Agus R. Sarjono, Cecep Syamsul Hari, Joni Ariadinata dan Putu Wijaya.
[28] Terdapat beberapa manuskrip yang biasanya hanya dibuat untuk kepentingan pendokumentasian karya oleh penulisnya sendiri, seperti Syaifuddin Gani (2006) pernah membuat manuskrip “Dermaga” yang memuat 37 sajaknya, Kamilus Nara Odung, membuat manuskrip “Rasa Itu Siksa”, dan Irianto Ibrahim membuat dua buah manuskrip, masing-masing berjudul “Barasanji di Atas Karang” dan “Bunda Kirimi Nanda Doa-doa”.
[29] Risalah Diskusi “Telaah Karya dan Ruang Sastra di Media Massa” di Taman Budaya Prov. Sultra, Kendari, 29 Desember 2007, hlm. 2.
[30] Data diambil dari bahan yang dipersiapkan oleh pengelola ruang “Sastra & Budaya”, data tersebut mungkin berbeda dengan data karya yang dipublikasikan. Data tersebut penting dikemukakan sebagai bukti bahwa rubrik “Sastra & Budaya” memang dibuka terutama untuk memberikan ruang bagi para penulis lokal mempublikasikan karyanya. Mulai edisi 30 Agustus 2008, kedua pekerja seni yang telah bersuka rela membantu itu tidak lagi turut mengelola rubrik tersebut. Sejak itu, kebijakan mengenai karya yang dimuat dalam rubrik itu agaknya berubah. Dalam empat edisi terakhir yang terbit 30 Agustus sampai dengan 20 September 2008, hanya satu cerpen karya penulis lokal yang dimuat, sementara selebihnya adalah tulisan (puisi, cerpen, esai) yang diambil dari tulisan pernah dimuat pada koran satu atau dua minggu sebelumnya yang diperoleh melalui jaringan koran tersebut.
[31] Mereka adalah (berdasarkan urutan abjad): A.R. Ar-Rasyidi Budiman, Abd. Razak Abadi, Achmad Zain, Ahid Hidayat, Arnes, Asidin La Hoga, Asmar Laode, Carmil Edo Sendiri, Cipto Hadi, Didit Marshel, Didul, Djusdiman, Er Agung Abdillah, Etsan, Farah Hamdana, Fatmi Yuliana, Firman Sofyan, Gatot Subair, Hafid Triadmo, Hamzah, Herman, Iqbal Oktavian, Irawan Tinggoa, Irianto Ibrahim, Irwansyah Maal (Iwa Q), Iwan Comcom, Jag Donat, Jurais, Karmil Edo Sendiri, Kiki Reskiyana Ilyas, Kristiana, La Ode Balawa, La Ode Farid Akhyar, La Ode Sadia, La Ode Syaiful Islami, Laila Kurniawaty, LM Gusman Nasiru, Mashun, Moh. Wan Anwar, Muh. Ilyas, Munawar Jibran, Mustakim Cerbon, Nur Iman, Rahmad, Royan Ikmal, Rusland Manan, Rustina, S. Gali, Sahrul, Salim, Samsuddin, Sartian Sorume, Sendranto R., Sendri Yakti, Sri Dewi Neneng, Subur, Subur Assiddiq Didie Boim, Sumarlan Rasyid, Syaifuddin Gani, Tongis Alamsyah, Uniawati, Wa Ode Rizki Adi Putri, Witarmin Akbar, dan Zainal Surianto.
[32] Abd. Razak Abadi, Astuty Natalia, Galih, Irianto Ibrahim, Muh. Syahrial Ashaf, Muh. Syaiful, None Tirayoh, Syaifuddin Gani, Uniawati, Zakiah M. Husba, Marniati Murtaba, dan Karamanuru.
[33] Krisni Dinamita, Cintai Aku Sekali Lagi (C Publishing, Yogyakarta, 2005).
[34] Arham Kendari, Jakarta Underkompor, Sebuah Memoar Garing (Gramedia, Jakarta, 2008).
[35] Ali Rosdin, Amiruddin & Ramlah Mappau, op.cit., hlm. 34, 38.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di sites.google.com.

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s