BANGKITNYA KOMUNITAS PEREMPUAN PENULIS


Siang itu matahari cukup terik. Keringat terus menetes membasahi lekuk liku tubuh. Saya berjalan dengan langkah tergesa menuju PDS HB Jassin dan merasakan embusan angin dingin di tubuh begitu membuka pintu gedung. Tak lama berselang, terdengar langkah sepatu berhak. Seorang perempuan berusia 50-an berperawakan subur menaiki tangga PDS HB Jassin dengan sedikit tergopoh-gopoh. Ia membawa map dan berkas-berkas di tangannya.

Perempuan yang bernama Nelly Putti Lenggo itu kemudian memanggil perempuan lain, yang ternyata adalah Ketua PDS HB Jassin, Ariany Isnamurti. Mereka bercakap sebentar kemudian menunjukkan berkas-berkas pada saya.

“Saya mau bertemu dengan Gubernur Sulawesi Selatan habis ini di Kemayoran. Mau memperkenalkan organisasi ini kepada beliau. Di Sulawesi sana tahun ini katanya diadakan Festival Sastra,” kata Nelly Putti Lenggo, Ketua Wanita Penulis Indonesia (WPI), di dalam gedung HB Jassin yang sejuk. Rupa-rupanya WPI memang gemar mengadakan pertemuan rutin dan rapat di gedung PDS HB Jassin.

“Harus sering-sering menggaungkan. Kalau tidak, banyak perempuan di daerah yang bakal tidak kenal dengan nama WPI,” katanya melanjutkan pembicaraan.

Ia lalu bercerita mengenai awal pertemuannya dengan WPI. Saat itu, ia masih menjadi seorang wartawan dan mewawancarai langsung penulis gaek Titiek Said. Melihat semangat anak muda, Titiek Said kemudian mendorongnya untuk ikut bergabung ke dalam organisasi WPI. Jadilah Putti Lenggo bergabung dengan WPI hingga ia kini menjadi ketuanya.

“Banyak manfaat yang bisa didapat dari WPI, tapi minimal kita bisa belajar untuk mengekspresikan perasaan ke dalam kata-kata,” ujarnya.

Hal ini juga senada diucapkan oleh Titiek Said, generasi pertama yang merupakan salah satu pendiri WPI, ketika ditemui di salah satu warung makan di Taman Ismail Marzuki. Menurutnya, dengan menulis, minimal perempuan belajar untuk tidak memendam perasaan dan menjadi berani untuk menuangkan pikiran serta gagasan.

“Zaman saya dahulu, tak seperti zaman sekarang. Semua serbaterbatas. Ada sebuah trauma muncul atas peran serta perempuan di kancah publik, terutama dalam hal tulisan karena saat itu situasi politik sedang tak menentu. Banyak penulis perempuan yang akhirnya menulis dengan menggunakan nama samaran. Namun, semenjak tahun 1970-an beberapa perempuan mulai berani untuk menulis di media massa atau buku. Nah, organisasi ini dibentuk untuk mewadahi dan membina calon dan juga penulis perempuan,” tuturnya bersemangat.

Maka, ia bersama dengan perempuan penulis ketika itu yakni La Rose, Titiek WS, Suyuti, Sari Narulita, serta Upi Sundari menggagas dibentuknya sebuah organisasi bernama Wanita Penulis Indonesia (WPI) pada Januari 1983. WPI didirikan untuk melawan trauma akan terbatasnya ruang lingkup perempuan. Awalnya, kegiatan berlangsung di rumah dan beranggotakan hanya segelintir orang. Namun, lama-kelamaan organisasi ini berkembang dan anggota pun bertambah banyak. Kegiatan kumpul dan acara WPI lantas mulai diadakan di hotel-hotel.

“Waktu itu kami sering diejek sebagai penulis bau parfum karena kami wangi. Tetapi, kami senang-senang saja. Tak tersinggung dengan sindiran itu. Parfum kan juga bagian dari diri perempuan seperti halnya lipstik dan bedak,” ujarnya sembari tertawa.

Meski disebut demikian, ia melanjutkan, tidak berarti WPI kalah serius dengan organisasi lainnya. Mereka memiliki struktur organisasi yang jelas serta program acara sistematis. Di antaranya adalah seminar bersama pengarang, pelatihan penulisan bagi perempuan penulis, pentas baca puisi, serta penerbitan buku. Misalnya, workshop dengan tema Bagaimana Menulis Kisah-kisah Perjuangan di Masa Revolusi 1945, penerbitan buku Wanita Pejuang, atau pentas baca puisi di Balai Pustaka yang dihadiri oleh tokoh perempuan seperti Marrie Mohammad, Rennie Singgih, Poppy Hayono Isman, serta Amoroso Katamsi. Anggota WPI pada masa tersebut juga banyak yang berasal dari kalangan jurnalis, aktivis, serta pencipta lagu seperti Herawati Dyah, Titiek Puspa, ataupun Lili Munir.

“Anggota kami tidak cuma menulis novel, tetapi juga tulisan esai politik, artikel kesehatan, kuliner, sampai prosa, puisi, serta lagu. Kita tak cuma menulis untuk diri sendiri, tetapi juga berupaya menghasilkan dampak sosial bagi masyarakat sekitar. Jika dibilang penulis perempuan suka emosional dan sentimental, itu salah. Unsur emosi hanya merupakan bakat dan penunjang dalam penulisan kebanyakan perempuan. Di sini kami juga belajar dan menerapkan bagaimana menggunakan kaedah logika yang baik dan runut. Yang paling penting dalam dunia penulisan adalah tak hanya menulis tetapi juga harus cerdik memasarkan karya. Sering-sering ke toko buku melihat selera pasar itu kuncinya, tapi jangan sampai mengikuti. Ciptakan tren sendiri,” ujarnya.

Titiek mengatakan, WPI sempat tidak aktif pada tahun 2000 karena kesibukan pengurusnya. Lalu, pada tahun 2006, ia bersama dengan Irna Hadi, Yvonne de Fretes, Nelly Mulia, dan Muthia, WPI digalakkan kembali. Pada akhir tahun, pengurus baru pun dibentuk dengan Ketua Umum saat itu Yvonne de Fretes. Komitmen untuk terus menjalankan organisasi ditunjukkan juga dengan mengadakan program-program acara penting, salah satu di antaranya temu acara dengan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Dalam pertemuan itu, Linda Gumelar menyatakan kesiapannya untuk mendukung dengan menjadi anggota kehormatan WPI bersama Dewi Motik dan Pramono. Apresiasi atas kiprah perempuan kemudian dituangkan dalam acara pemberian penghargaan kepada 30 perempuan pilihan dengan pembicara di antaranya Marianna Aminuddin dari Jurnal Perempuan.

“Sekarang program utama kita lebih kepada regenerasi WPI, kami-kami ini kan sudah tua, mesti ada pengganti generasi muda yang semangat untuk meneruskan. Apalagi, minat daerah sedang tinggi atas kegiatan perempuan menulis, misalnya NTT, Sumatera Barat, Semarang, Lombok, Sulsel, Pekanbaru serta Kerinci,” kata Putti Lenggo.

Ia mengatakan, untuk ke depannya, WPI sedang berencana untuk menerbitkan sejumlah buku di antaranya mengenai elpiji, lingkungan hidup, serta kumpulan puisi dan prosa serta mengadakan sejumlah pelatihan dan kursus penulisan bagi para calon penulis perempuan di Indonesia.

“Kalau tak perempuan sendiri yang membina, lantas siapa lagi?” katanya menutup pembicaraan. (Utami Diah Kusumawati/utamidk@jurnas.com)

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Jurnal Nasional (Jakarta), 26 Juni 2011.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s