PENTING-TAK PENTING KOMUNITAS SASTRA


Isbedy Stiawan ZS

SAYA memulai pembicaraan ini dengan ilustrasi begini… PADA suatu malam, mungkin malam-malam sebelum dan setelahnya, di pelataran sebuah pusat kesenian (bisa pula atas nama taman budaya, gelanggang seni, dst.nya) beberapa orang—lelaki-perempuan—asyik mengobrol ngalor-ngidul. Buah cakap mereka dari soal kesenian sampai politik dan melebar ke soal seks… mungkin.

Konon, setiap malam, sejumlah orang itu (mereka menyebut dirinya seniman) berkumpul membentuk lingkaran atau setengah lingkaran dimana di hadapannya “bertengger” beberapa botol minuman beraroma alkohol dan beberapa bungkus kacang. Sambil menikmati minuman dan panganan itu—ditambah lagi sebatang rokok yang tak henti dihisap—malam tak terasa terus beranjak, percakapan kian melebar. Dan, pelukan, aduhai kian dirapatkan.

Mereka—sejumlah orang yang menyebut diri seniman itu—masih berada di tempat itu hingga larut malam, bahkan menjelang dini hari. Yang membuat orang berdecak kagum, adakah mereka memiliki simpanan rasa kantuk untuk menyisihkan waktu (camkan: menyisihkan!) untuk berkarya—berkesenian!

Diskusi dan perdebatan, bolehlah. Kata orang, seniman tak “dapat hidup” tanpa mengenal lingkungan. Karenanya, lewat dialog dan perdebatan semacam itu bersama individu lainnya, akan memperkaya “pengalaman” sang kreator. Mungkin karena harapan itulah, sejumlah orang (mereka menyebut seniman) bersepakat mencari tempat bertemu untuk bertemu dan berdialog: mempercakapkan sesuatu atau beberapa suatu yang penting dan tak penting. Sampai larut malam, bahkan (mungkin) sampai dini hari.

Bukan soal percakapan yang hendak saya katakan di sini. Yang hendak saya katakan di sini, yang “asyik” itu, dialog sejumlah orang (mereka menyebut seniman) sambil menikmati beberapa botol cairan alkohol. Memang terlihat (mungkin juga terdengar) percakapan mereka menjadi asyik. Apalagi, ditambah, sesekali dengan tawa berderai atau cekikikan.

Percakapan dalam bentuk apapun dengan sejumlah orang yang terlibat, pastilah tak akan (lagi) fokus, ditambah lagi percakapan mereka dilakukan (nyaris) setiap malam. Kalaulah yang hadir di dalam “majelis” itu setiap malamnya adalah orang-orang yang memunyai kesamaan pandangan dan tujuan (misalnya dalam hal ini adalah kesenian), dapatkah “majelis” tersebut disebut komunitas?

Memang, tidak sedikit dari sering adanya pertemuan atau berkumpul untuk membicarakan sesuatu yang sepaham, boleh jadi, kemudian muncul ide terbentuknya suatu perhimpunan, perkumpulan, atau yang lazim di kalangan seniman disebut komunitas.

Komunitas (community) atau kelompok atau “segeromobolan” dari individu-individu lalu berkuimpul untuk suatu visi dan misi bersama. Artinya, komunitas tidak lantas hanya “membesarkan” satu individu (biasanya hanya ketua atau yang dituakan), maka komunitas tersebut sudah menjadi sebuah organisasi yang mengacu kepada struktur tertentu. Akhir-akhir ini, komunitas sering bersanding sastra (seni) atau tak disandingkan namun masyarakat memaklumi kalau komunitas tersebut adalah kumpulan dari individu-individu seniman (sastrawan). Misalnya, yang disanding langsung alias transparan adalah Komunitas Sastra Indonesia (KSI), Masyarakat Sastra Jakarta (MSJ), dan mungkin banyak lagi. Sedangkan yang tersanding, misal, Komunitas Utan Kayu (KUK), Revitaslisasi Sastra Pedalaman (RSP), Sanggar Minum Kopi (Bali), Akademi Kebudyaan Yogyakarta (AKY), Komunitas Seribu Bulan (KSB di Lampung), Komunitas Berkat Yakin (KoBer di Lampung), CWI (Jakarta), Meja Budaya, dan masih banyak lagi. Dengan demikian, komunitas sastra merupakan sekumpulan orang yang terlibat atau faham tentang sastra. Di komunitas itu, mereka kerap bertemu untuk berdiskusi, berdebat, atau bersama-sama melakukan penelitian soal kesastraan. Dapat pula, di komunitas itu adalah tempatnya bertemu individu-individu sastrawan. Boleh jadi, komunitas sastra itu, tempatnya menguji karya mereka sebelum dilempar ke publik lebih luas. Atau sekadar “mengisi” hal-hal yang dinilai masih kurang dari suatu karya milik komunitasnya, sebelum terpublikasi. Mungkin itu, mungkin pula masih banyak lagi manfaat dari adanya komunitas. Saya kurang paham, sebab saya tak (pernah) terlibat dalam satu komunitas. Tetapi yang jelas, saya berpikiran positif, dari “majelis” di pelataran itu lahir pula karya-karya seni yang bernas dan berkualitas. Jika mereka adalah komunitas teater tak jarang lahir karya pertunjukan yang bermutu. Sedang komunitas sastra, pikiran-pikiran yang mencuat dari diskusi komunitas itu lahir pikiran terobosan mengenai sastra, lahir karya sastra (puisi, cerpen, atau novel) yang “menggemparkan” publik sastra.

Bahkan, dari sebuah komunitas “pelataran sebuah pusat kesenian” muncul novel baik itu ditulis oleh seorang atau dari dua pengarang, kemudian “menghebohkan” publik sastra setelah diulas di semua media massa oleh komunitasnya sendiri. Komunitas seperti ini terlihat manfaatnya. Apalagi jika penerbitnya juga bagian dari komunitas, kritisinya adalah anggota komunitas. Sehingga tak perlu menanti beberapa bulan setelah terbit—bahkan mungkin beredar pun di toko buku belum—ulasan sudah tersebar di berbagai media massa.

Komunitas sastra semacam ini jelas kontribusinya, amat jelas dayagunanya. Namun, tidak sedikit pula komunitas sastra yang ada hanya menguntungkan tokoh-tokoh tertentu: ketuanya atau yang banyak menyandang dana setiap pertemuan. Satu contoh, KSI. Kita maklumi bahwa sampai kini KSI identik Wowok Hesti Prabowo, Wowok identik pada KSI. Begitu pula Revitalisasi Sastra Pedalaman identik dengan Kusprihyanto Namma, begitu sebaliknya. Puthut EA adalah AKY, MSJ sama dengan Slamet Rahardjo Rais. CWI ya Hudan Hidayat. Cybersastra ialah Medi Loekito atau Saut Sitomorang, dan seterusnya.

Sebagai orang di luar komunitas sastra, saya tetap memandang postif adanya komunitas seperti itu. Silakan saja sastrawan membentuk atau terlibat di dalam komunitas sastra tertentu. Sejauh komunitas itu menguntungkan bagi keberlangsungan dan kreativitas bersastra. Tetapi, jika tidak memberi manfaat apa-apa, lebih baik bekerja sendiri. Dan, menjadikan community hanya untuk berdialog jika memang perlu dan dibutuhkan.

Saya di Lampung tidak memiliki dan tidak berada di komunitas apa pun. Mungkin banyak yang tidak percaya, itu sebabnya seorang cerpenis sempat aneh ketika saya jelaskan kalau saya tidak terlibat pada suatu komunitas ataupun di salah satu milis sastra. Padahah di Lampung cukup banyak komunitas: KoBer, UKMBS, Teater Satu, Sekolah Kebudayaan Lampung (SKL). Hanya saja, saya kenal baik dengan individu-individu di semua komunitas tersebut. Namun demikian, saya sangat membutuhkan dialog: diskusi, sekadar mengobrol, dan (atau) cuma silaturahim sesama seniman (sastrawan). Karena itu, pada saat-saat tertentu saya menyambangi beberapa komunitas yang ada di Lampung. Apalagi “jam kerja” saya adalah dari pukul 08.00 hingga 12.00, setelah itu saya mendapat “kebebasan” untuk keluar rumah. “Kebebasan” itulah saya manfaatkan untuk bertemu teman seniman/sastrawan.

Untuk apa? Saya meyakini dari pertemuan itu ada saja lahir gagasan/inspirasi untuk dijadikan sebuah tulisan: cerpen atau puisi. Tetapi, saya tak terlalu berharap apalagi pamrih dari suatu pertemuan dan percakapan itu akan memicu lahirnya sebuah karya sastra.

Seharusnya komunitas yang baik dapat memperlakukan anggotanya dengan ukuran yang sama. Jika tidak akan timbul kecemburuan dan itu akan memicu konflik. Bahkan, sebuah komunitas yang sudah besar pun akan bubar jika konflik sudah semakin meruncing. Bukan mustahil Komunitas Utan Kayu yang namanya sudah besar karena dihuni oleh orang-orang besar bisa seketika bubar, apabila pengelolaan kominutas membiarkan konflik di dalamnya. Malah komunitas yang terdiri dari individu-individu yang sudah punya nama dapat dengan mudah ambruk, sekiranya komunitas memperlakukan anggotanya pilih-kasih, hanya terpusat kepada pimpinan, atau tokoh tertentu—misalnya yang banyak mendanai pertemuan/komunitas.

Saya masih menganggap positif perkembangan dan keberagaman komunitas sastra di Indonesia. Bahkan, dengan menjamurnya komunitas sastra itu semakin renyah dan ramai kehidupan sastra kita. Kita tengok saja komunitas diskusi Nalar di Bandung yang memiliki jadwal cukup padat menggelar berbagai disuksi seputar sastra, seni dan kebudyaaan. Begitu pula komunitas-komunitas sastra lainnya, baik yang berkembang di Bali, Yogyakarta, Riau, Jakarta, dan lain-lain. Dan, kiranya komunitas sastra berbeda dengan sejenis organisasi massa. Karena itu, komunitas satra tidak bisa membuat kotak-kotak atau sekat-sekat bagi kehidupan sastra. Publik sastra bisa saja menolak, misalnya, sastra seks yang pernah dirayakan oleh sebagian orang-orang sastra dan dibela habis-habisan oleh mereka yang sepaham. Tetapi, tak ada yang berani mengecam “sok moralis” toh bagi publik sastra yang menolaknya? Sebab, yang pro dan kontra terhadap suatu faham sastra mestilah tetap menghormati perbedaan. Apalagi karya sastra bukan harga mati bagi sebuah kebenaran. Dari sastra kita dapat belajar banyak tentang makna demokrasi, keberagaman tafsir dan perbedaan pendapat. Dengan demikian, alih-laih komunitas sastra dapat menjebak publik sastra pada kotak-kotak tertentu, “meracuni” publik sastra dengan ideologi tertentu pun sulit sekali. Betapa pun sesungguhnya ideologi itu sanga perlu bagi seseorang—apalagi yang bernama komunitas. Hadirnya karya-karya sastra yang ditulis Puthut EA, Eka Kuniawan—dan beberapa lainnya, tak bisa dipungkiri (pernah) memengaruhi sastra Indonesia. Kehadiran puisi-puisi yang terpublikasi di Kalam juga tak lepas “menggiring” cara penyair kemudian menulis puisinya. Paling mudah melihat pengaruh sastra yang berkembang bisa dari media massa yang memunculkan—kecuali untuk beberapa sastrawan yang sudah matang dan memiliki kekhasan. Karya-karya sastra yang diterbitkan Media Indonesia berbeda dengan yang kerap dimuat di Koran Tempo, juga Kompas, apalagi Republika. Sedangkan media massa dengan readaktur sastra yang tak memunyai “ideologi tertentu” akan “berwarna” lain lagi karya-karya yang ditampilkan—boleh jadi berwarna-warna. Adalah Abdul Hadi WM dapat dijadikan contoh dari seorang redaktur memiliki “ideologi” tertentu. Kita sama-sama tahu ketika Abdul Hadi WM menggawangi “Lembar Dialog” Berita Buana pada 1980an hingga beberapa tahun kemudian, ia adalah salah satu juru bicara sastra sufistik (kadang disebut juga sastra transendental). Maka puisi-puisi yang dimuatnya (mungkin pula yang dikirim para penyair) adalah puisi-puisi yang bernafaskan sufistik atau sejenis itu, begitu pula esai-esai di lembar senibudaya media itu juga berkecenderungan seperti itu. Pada masa itu banyak bermunculan penyair sufistik (religius, transendental) dan pemikir transenden. Apakah berusia lama sastra ber”ideologi” sufistik? Kiranya banyak penyair yang hanya “latah” menulis puisi sufistik, karena redakturnya beridelogi sufistik. Artinya, menulis puisi karena hendak mendapat perhatian lebih dari redaktur, bukan disebabkan panggilan. Entahlah, apakah “perayaan” terhadap sastra seks dan (atau) beraroma kelamin serta ranjang juga akan berusia pendek? Hanya waktu yang menentukan, cuma publik sastra yang dapat menjawab untuk menerima atau menolak. Jika menerima berarti umurnya panjang, apabila menolak usianya akan tak lama. Saling memengaruhi dalam berkarya saya kira adalah hal wajar, apalagi sastrawan yang baru muncul terpengaruh atau terkagum-kagum pada karya yang ditulis sastrawan yang lebih dulu. Kita bisa lihat, bagaimana “besarnya” pengaruh karya-karya yang ditulis Seno Gumira Ajidarma, Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohammad, Sutardji Calzoum Bachri kepdasa sastrawan gegerasi yang berikutnya. Ataupun karya-karya Eka Kurniawan, Puthut EA, Gus tf Sakai, Agus Noor, Kurnia Effendi, Raudal Tanjung Banua, bisa kita lihat pula (kadang) pengaruhnya kepada sastrawan yang lain. Saya memang sempat mengkhatirkan akan terjadi keseragaman/penyeragaman ketika muncul karya-karya ber-ala Eka Kurniawan dan Puthut EA, misalnya beberapa sastrawan mulai cenderung menulis semirip yang dilakukan Eka-Puthut. Terus terang saya kurang meyakini bahwa komunitas sastra yang ada benar-benar untuk sebuah perbaikan bagi mutu karya para anggotanya. Kecuali komunitas sebagai persinggahan bagi sekelompok orang yang rindu dan haus berdialog dan berdiskusi di luar persoalan penciptaan dan proses kreatif. Sedang urusan kreativitas dan penciptaan adalah soal pribadi dan subyektif. Selain itu, keahlian (dan juga kekhasan) tidak dapat dicampuri di luar dirinya. Komunitas hanya dapat mengisi kemampuan intelektual, mengasah kecerdasan terhadap pengamatan atas suatu gagasan, membantu mengarahkan sudut pandang pada persoalan yang ingin digarap. Tetapi, gaya adalah milik individu.

Itu sebabnya, komunitas sastra sangat kecil mampu membangun sastra komunitas. Artinya, jika saja istilah ini diartikan komunitas memunyai misi menawarkan sastra “yang sesuatu” kepada publik sastra. Sebab publik juga punya selera terhadap karya sastra. Lain soal jika sastra komunitas bermakna sastra yang “bertendensi” pada komunitas, sebagaimana karya-karya sastra yang berperharian pada lokal genius.

Terlepas dari perlu tidaknya komunitas sastra ataupun sastra komunitas (sungguh, istilah ini saya masih asing), saya kira gaya Gola Gong dalam karya-karyanya tak mungkin bisa diserap mentah-mentah oleh anggota di Rumah Dunia ini, sebab yang renyah dan enak dari suatu panganan adalah bagaimana memasaknya. Demikian pula karya sastra. Bagaimana sastrawan mampu mengemas dengan ciamik suatu gagasan/tema sehingga menjadi khas pribadi—dan bukan khas dari komunitas tertentu.*

Naskah ini pernah dipresentasikan pada Ode Kampung 1 di komunitas Rumah Dunia, Serang, pada 2006. Teks ini dikutip dari situs www.rumahdunia.net.

Iklan

2 responses to “PENTING-TAK PENTING KOMUNITAS SASTRA

  1. tolong tuliskan sedikit analisis semiotik novel Ular Keempat karya Gus tf Sakai. kepentingan ini sangat mendesak. terimakasih. salam sastra

  2. tolong dong jawab pertanyaan q!

    apa pengertian dari sastra?
    apa perbedaan antara karya sastra dengan karya yang bukan sastra?
    dan tolong berikan contohnya!

    tolong aq yahh ini tugas dari guru q

    aq disini masih nggak tau apa2 tentang sastra

    tolong jawabannya dikirim ke sehr_komisch@plasa.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s