SASTRA KOMUNITAS


Sutardji Calzoum Bachri 

Salah satu gejala yang menarik dewasa ini adalah munculnya dengan marak berbagai komunitas sastra atau budaya di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Sebuah penelitian menyebutkan lebih dari 50 komunitas sastra budaya di sekitar Jabotabek. Tentu dapat dibayangkan ratusan jumlahnya kalau untuk seluruh Indonesia.

Berbagai kegiatan sastra seni atau budaya tentulah merupakan aktivitas utama komunitas-komunitas tersebut. Dari diskusi sastra atau seni, menerbitkan buku-buku sastra, menampilkan pementasan sastra (baca puisi dan cerpen) atau teater dan pameran lukisan dan pagelaran musik, sampai pada diskusi-diskusi nonsastra (sosial politik).

Kecenderungan yang mewarnai kegiatan kegiatan mereka terutama ditentukan oleh visi sastra dan pandangan hidup dari tokoh-tokoh utamanya serta para pengelolanya. Ada komunitas yang cenderung pada kegiatan-kegiatan penampilan, penerbitan serta diskusi sastra dan seni relijius, ada komunitas yang cenderung agak “sekuler”, ada pula yang lebih tertarik pada tradisi atau pada problem problem setempat (daerah).

Begitu pula karakter individual para pengelolanya mewarnai “karakter” komunitasnya. Ada komunitas terasa sangat serius, terkesan ingin elitis, dan mencoba melakoni citra intelektual. Sebaliknya ada komunitas yang orang-orangnya lebih santai, lebih berupaya menikmati dan mensyukuri hidup dengan cara mencari dan menciptakan sisi gembira dari perih kehidupan, serta selalu bersikap kritis terhadap sesuatu yang berbau intelektual dan karena itu kelihatan sebagai komunitas yang anti-intelektual. Dari bentuknya ada yang terorganisasi rapi dan terasa formal, dengan para pengelola yang berdisiplin dan berdedikasi, serta dana atau sponsor yang memadai. Disamping itu ada pula yang tidak formal, lebih merupakan kumpulan beberapa sastrawan atau budayawan yang sering kongko-kongko di warung atau cafe, sambil nyanyi-nyanyi membicarakan sastra, agama, filsafat, dan macam-macam lainnya.

Dapat diduga, mungkin sebagian besar pengarang di kota-kota besar terutama yang muda usia, ikut berkecimpung akrab dengan satu atau dua komunitas, berpartisipasi dengan kegiatan-kegiatan dari komunitas masing-masing. Meski tentu saja seorang penyair atau pengarang prosa mengerjakan karya kreatifnya secara individual, namun keakrabannya dengan komunitasnya bisa banyak memberikan pengaruh terhadap karya-karyanya atau sebaliknya karya-karyanya lebih duluan memberikan pengaruh pada komunitasnya dibanding pada komunitas luar. Agaknya belum terasa berlebihan kalau dikatakan bahwa kesusastraan kita sekarang cenderung menjadi kesusastraan komunitas. Atau kesusastraan Indonesia dewasa ini adalah himpunan produk-produk sastra dari berbagai komunitas sastra.

Tentu saja diharapkan kehadiran para kritikus sastra yang bisa memberikan penilaian secara jujur tanpa bias terhadap produk-produk sastra itu. Namun, biasanya kritikus sastra baru tampil memaparkan (menulis) makalahnya kalau diundang dalam diskusi yang diselenggarakan oleh komunitas. Dengan kata lain ia telah lulus saringan subjektif dari komunitas yang mengundangnya. Dan bila ia menulis di media massa, tak jarang media massa itu milik suatu komunitas. Situasi semacam ini menyebabkan sang kritikus atau pengamat sastra bisa cenderung lebih mempertajam kemampuannya menghibur dan berbasa-basi untuk tuan rumah, dibanding mengasah ketajaman kritik dan wawasannya.

Dalam keadaan dewasa ini dimana banyak sekali komunitas-komunitas sastra dengan berbagai sikap dan visi serta penilaian sastra yang cenderung subjektif atau asyik sendiri, saya kira adalah lebih konkret untuk menggalakkan perhatian terhadap studi tentang komunitas-komunitas sastra (berikut dengan pencapaian kreatifnya) secara mendalam dan objektif dibanding misalnya perhatian terhadap cultural studies yang agaknya kurang relevan. Hasil penelitian yang mendalam dan objektif tentang suatu komunitas sastra kiranya bisa membantu kita untuk selalu bersikap kritis dan sehat dalam menilai dan berhadapan dengan produk kreatif dan aktivitas-aktivitas dari suatu komunitas sastra yang ditawarkan kepada masyarakat.

Tulisan ini dikutip dari Harian Kompas, 4 Agustus 2000.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s