HUDAN, TAUFIQ, DAN GENERASI NOL BUKU


M. Faizi

Guru dan Penyair, Tinggal di Sumenep, Madura

Pada 1970-an, suatu “bangsa yang maju”, menyeret Rob Halford, pentolan Judas Priest, band heavy metal kugiran dari Inggris, ke meja hijau karena sebuah kasus: seorang pemuda bunuh diri di depan tape saat memutar lagu, Better Than You Better Than Me. Jauh sebelumnya, pada pertengahan abad 19, Uncle Tom’s Cabin-nya Harriet Beecher Stowe yang nangkring di runner up buku laris dunia mengundang protes banyak orang karena dianggap telah memicu revolusi sosial. Dan, pada kisaran tahun yang sama, hal serupa juga menimpa Gustave Flaubert, penulis Madame Bovary karena dianggap terlalu saru dalam menulis fiksi.

Sebegitu hebatkah lirik lagu/novel dalam mempengaruhi penikmatnya?
Ya, hanya hasil khayalan, tetapi karya sastra merupakan pantulan dari kenyataan (imagined reality). Rupanya, “bangsa yang maju” itu melupakan teori ini meskipun mereka yang telah menciptakannya. Karena realitas imagined berada di seberang jalan realitas empiris, hukum positif (seharusnya) tidak perlu menuntut si Rob, Stowe, maupun Flaubert. Tapi, mengapa mereka nekat melakukannya juga? Satu alasannya: lirik lagu tersebut dianggap tabu atau berbahaya!

Orientasi pragmatisme telah lama ditinggalkan dan “diolok-olok” oleh strukturalisme. Namun, pembaca menemukan kursi empuknya di sidang resepsi sastra. Mereka, “bangsa yang maju” itu, ternyata pragmatis. Pengaruh dan nilai/moral menjadi pertimbangan penting juga pada akhirnya.

Beberapa hari yang lewat, di koran ini, perdebatan seputar itu terjadi lagi. Esai Hudan Hidayat (HH), Sastra yang Hendak Menjauh dari Tuhannya (6/5/2007) direspons oleh Taufiq Ismail (TI) dengan judul HH dan Gerakan Syahwat Merdeka (17/6/2007), dan ditanggapi balik HH dengan Nabi tanpa Wahyu (1/7/07).

Selepas rehat dan membanding-bandingkan dua pendapat itu, saya mengambil simpulan dalam setarik napas: dua tulisan, dua pandangan, sebuah ketegangan. Jarak di sana begitu tegas: anak muda dengan “pandangan semangat dan perubahan”; orang tua dengan “pandangan khawatir dan kemapanan”. Dua hal ini, secara logis, tidak akan menemukan objektivitas dari titik tengah. Karena, ini kata Karl Popper, pendekatan itu berlangsung bukan karena kita telah banyak menemukan pengetahuan yang benar, melainkan karena lebih banyak menyingkirkan pengetahuan yang salah.

Kekhawatiran TI patut dimaklumi mengingat memang demikianlah kaum tua. Mereka akan selalu khawatir terhadap kehancuran generasi sesudahnya. Uap kekhawatiran itu menyembur pada tanggapan baliknya, dengan gaya khas kaum tua yang menantang dengan ironi: melarang dengan amar, dan seolah-olah tiada pintu untuk ber-jidal. Sayang sekali, serangan TI –seperti dirasakan HH– terlalu menohok dan terkesan menghakimi tanpa apresiasi. Dug!

Mungkin karena TI terlalu berapi-api, akibatnya tanggapan HH semakin menjadi-jadi. Semangat mudanya bergolak. Ia pun menolak. Meskipun, juga sayang sekali, HH tampak terlalu emosional sehingga argumennya tidak masuk akal. Di satu sisi ia mengatakan “gaya vulgar” hanya sebagai sampiran menuju Tuhan, tetapi di sisi lain ia takut dengan cara berlindung kepada Alquran (QS 7/Al-A’raf: 22), tentang pelukisan Adam dan Hawa yang telanjang di surga. Pendekatan analogi juga tidak kufu karena menyejajarkan kitab suci dengan fiksi.

Sebagai pembaca, saya merasa terkena imbasnya. Pukulan-pukulan itu, meskipun tidak mengenai saya secara langsung, tetapi sepintas cukup membuat saya takut. Sebab, pertarungan ini merupakan “tarung kelas berat” dan tidak sekadar debat antarpenonton yang memihak jagonya meskipun kalah ataupun salah. Ngeri deh! Polemik lebih “gawat” daripada sekadar polemik. Tidak hanya pukulan, tetapi ada lempar-melempar petasan di dalam tulisan.

Lalu, dalam tarikan napas yang kedua, saya mereka-reka. Bagaimana cara “mendamaikan”-nya? Tampaknya, kekhawatiran yang pertama dan gairah kedua pihak memang membutuhkan orang ketiga. Dialah pembaca. Tapi, pembaca yang bagaimana? Jika dibandingkan dengan jumlah penulis dan karya sastra yang ada, sebetulnya kita tak punya kritikus, tak punya tukang baca.

Bertolak dari gambaran di atas, saya berkesimpulan bahwa pragmatisme masih menjadi tuan di pikiran sekelompok orang dan menjadi hantu di pikiran lainnya. Yang cengeng/tabu adalah profan, yang berat/serius adalah yang sakral. Semangat zaman, menyangkut nilai dan moral di mata pembaca, ternyata tidak banyak berubah.

Dulu, masyarakat Nusantara mendudukkan sastra kepada fungsi religio-magis. Pada zaman penyebaran agama (Islam), misalnya, sastra digunakan para raja sebagai media penyampaian ajaran rohani kepada rakyatnya (Jakob Sumardjo, 1995). Orientasi ini pula yang memperkenalkan slogan Horace, dulce et utile, dengan dukungan Gianbattista Vico, verum, quis factum: sastra itu (seharusnya) indah dan berguna. Tesis ini dianggap benar karena demikianlah ia terjadi. Oleh karena itu, mengacu pada diktum pulchrum continetur in bono. Bonum enim quod placet. Pulchrum authem estquod visum placet. Yang indah (biasanya) bersatu dengan kebaikan.

Dalam anggapan saya, persoalan serius yang perlu dipikirkan agar dialog ini lebih asyik adalah dengan mempertimbangkan kembali keberadaan masyarakat pembaca sastra di Indonesia yang kaya penulis, kaya karya, tetapi soal minat baca dan apalagi apresiasi, aduhai masya Allah!

Banyak sastrawan yang mengeluh menghadapi masyarakat yang tidak membaca (Ini sebuah generalisasi. Jika ada perkecualian –kata Mahmud al-’Aqqad– tentu hal itu tidak dapat dijadikan pijakan penetapan hukum). Siapa mereka? Merekalah “generasi nol buku”. Kalaupun mereka membaca, mereka tetaplah masyarakat –dalam istilah Seno Gumira Ajidarma– pembaca iklan dan tabloid di kala senggang.

Lebih parah lagi, di saat kita mempertimbangkan pembaca/apresiator/kritikus sebagai kambing hitam, di saat yang sama data buta huruf saja masih dimanipulasi. Jadi, tidak heran jika karya-karya yang dicemaskan itu beredar udar dengan hanya sedikit saja yang mau mengapresiasi. Sebab, bagaimana mungkin akan ada sikap kritis jika apresiasi saja merupakan hal yang mewah?

Sekadar bukti, ingat kembali ke lirik lagu. Beberapa tahun yang lewat, lagu Anyone, debutan duo Swedia, Roxette, dilarang di Jerman karena dianggap memberi sugesti fatalis kepada pendengarnya. Di Indonesia, lagu itu nangkring di chart-chart radio pada awal kemunculannya. Demikian juga dengan Asereje-nya Las Ketchup. Lagu itu sempat dihujat dan dituding mendewakan aliran sesat. Namun, di sini, lagu itu di-remix jadi dangdut buat suka-suka. Nah, dalam kasus apresiasi sebagaimana contoh, sebetulnya kita ini bangsa yang “maju” atau “terbelakang”?

Slogan “pengarang telah mati” kerap kali ditulis, tetapi orientasi pragmatisme tampaknya tak juga mati-mati. Ia tetap dipegang teguh sebagai “iman” para seniman. Karena, sesungguhnya, dengan anugerah kreativitas dan imajinasi di atas standar manusia kebanyakan, tugas penulis/seniman tidaklah sekadar berkarya lalu habis perkara, melainkan juga bertanggung jawab atas karyanya. Sebab, seniman/sastrawan percaya bahwa karya itu hidup dan separo napasnya juga berasal dari napas yang mereka gunakan untuk bertahan dalam berkarya di dunia.

Pembaca harus diagungkan, tidak boleh dianggap bodoh, dan tidak boleh digurui: semua prinsip ini tidak sepenuhnya terjadi dalam orientasi pragmatik. Sebab, sastrawan/seniman selalu mendidik melalui karya (saya kira, prinsip ini berada di dalam hati kecil meskipun cara itu memang selalu berbeda). Sebagaimana kata Pablo Neruda, mereka adalah pendidik bangsa.

Di Indonesia, dalam pandangan saya, pembaca membutuhkan penulis yang tahu betul kondisinya; bagaimana agar dapat memberi tahu cara memilih dan tidak saja memberi pilihan semata; mana yang harus diberitahukan dan mana yang harus ditunjukkan. Sebab, masyarakat yang nol buku dan miskin apresiasi lebih suka “diberitahu” daripada “ditunjukkan”.

Jika TI menuntut sastrawan/penulis harus jadi orang baik-baik, menulis baik-baik, punya jalan pikiran baik-baik, HH tetap akan seperti lazimnya anak muda. Dari dulu sampai sekarang, di mata generasi tua, cara berpikir kelompok anak muda tetaplah sama: ingin bebas, ingin perubahan, dengan risiko yang kerap kali berseberangan dengan kelompok tua.

Namun, lebih dari itu, baik TI maupun HH dalam polemiknya masih tetap memosisikan diri sebagai penulis. Nah, bagaimana jika sekarang mereka mencoba menjadi pembaca di tengah masyarakat yang menganggap tidak penting membaca, yang kurang menghargai sastra, dan tentunya menganggap apresiasi sebagai barang mewah? Pasti, hati kecil mereka akan bicara tentang “kebenaran”, meskipun hal itu dianggap nggak keren jika disampaikan dalam sebuh esai. (*)

Tulisan ini dikutip dari Harian Jawa Pos (Surabaya), 8 Juli 2007.

Iklan

2 responses to “HUDAN, TAUFIQ, DAN GENERASI NOL BUKU

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s