PERKOSAAN TEKS-TEKS SASTRA


Mariana Amiruddin

Tanggapan tulisan Taufiq Ismail

Tak ada yang lebih mengejutkan selain rentetan istilah yang dilemparkan dalam esai Taufiq Ismail (TI) (Jawa Pos Minggu, 17 Juni 2007). Buat saya lebih mengerikan dari apa yang dia khayalkan tentang Gerakan Syahwat Merdeka (GSM), Sastra Mazhab Selangkang (SMS), dan Fiksi Alat Kelamin (FAK). Eseinya adalah fiksi yang sama dengan istilah-istilahnya itu. Sebuah esai yang miskin interpretasi. Ada kemalasan untuk menjabarkan karya orang-orang yang dikritiknya. Saya menyebutnya kritik sastra tanpa etika; tanpa telaah dan argumentasi yang menggugah. Pernyataan TI tentang Hudan Hidayat dkk. dan “sejumlah aktivis lebih dari lima orang” bisa dibilang upaya mematikan latar belakang siapa pun penulis yang juga aktivis yang ikut serta menulis di ruang kreatif. Sebagai anak muda, saya takut memahami pikiran TI itu. Apalagi mengkhayalkan orang-orang yang disindirnya itu sebagai sebuah gerakan. Seolah-olah yang disebut “mereka” adalah pasukan perusak yang terorganisasi, ada ketuanya, ada dedengkotnya. Dan target pencapaian mereka adalah memorak-porandakan moral manusia Indonesia. Menurut saya TI menganggap manusia Indonesia tak boleh mempunyai imaji yang majemuk, harus satu saja, yaitu imaji yang sama dengan dirinya.Namun apa yang dinyatakan TI justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Muncul interpretasi baru terhadap esai TI; upaya membonsai ruang kreatif yang majemuk menjadi seragam, miskin, dan dangkal. Penulis-penulis yang objek imajinya tubuh –sebab asal muasal manusia takkan terlepas dari tubuh, dan kenapa pula manusia mengabaikannya?– lalu disosialisasikan sebagai ancaman.TI mengejek mereka, penulis yang punya pengakuan dan kompetensi melakukan penulisan kreatif dengan caranya sendiri. TI seperti hendak bilang; kau tak boleh menulis begitu. Dilarang melakukannya dengan cara begitu. Harus dengan cara TI.

Bagi saya, kewajiban kritikus (terutama penulis esai di media massa) bukan begitu –sebagaimana TI menyebut Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, dan kini Hudan Hidayat dkk. ditambah lima aktivis lainnya. Bahwa interpretasi seharusnya bukan pertama-tama mencari maksud pengarang, melainkan menyingkap makna dan hasilnya adalah sebuah produksi makna baru. Tentu bukan dengan cara sewenang-wenang atau tidak dengan memerkosanya (baca: memfitnahnya). Apalagi memaksa pra-pemahaman yang dimilikinya atau prasangka yang sudah ada di kepalanya. Kritikus punya peran yang berat (sama beratnya dengan pengarang) dalam melakukan interpretasi: menjadi aktor intertekstualitas, dengan kepala yang sudah terbuka serta mendengarkan apa yang sedang diungkap karya tersebut. Haryatmoko, doktor bidang Etika Sosial/Teologi Moral dan Sosial Universitas Indonesia mengajarkan saya tentang ini ketika membimbing tesis untuk penelitian novel Saman selama dua tahun di pascasarjana.

Oleh karena itu, saya harus meluruskan kembali tulisan TI yang kacau itu supaya tak terjadi distorsi, bahwa penulis esai yang sedang membahas karya orang seharusnya bagai seorang narator yang dalam narasinya dapat menjadi sumber inspirasi pembaca (bukan kalang-kabut mengejek karya orang sekaligus pribadi pengarang). Narator di sini adalah yang memasuki dunia batin tokoh-tokoh dalam karya orang dan hasilnya dapat memberikan suatu pandangan baru. Ini yang tidak dilakukan TI.

Dalam karya fiksi, begitu banyak kita temukan metafora. Tentu TI juga sering menemukannya. Metafora adalah proses retorika dan di dalamnya akan muncul dua interpretasi; yaitu yang menerima begitu saja (taken for granted) dan yang dianggap problematika. TI saya masukkan dalam kategori taken for granted atau “menerima begitu saja”, bukan sebagai suatu yang mengusung wacana. Kalau interpretasi terhadap metafora itu menjadi “begitu saja”, maka yang terjadi adalah ekspresi yang pendek dan tidak membutuhkan elaborasi (pencarian), apalagi advokasi. Jadinya picik, lucu dan garing…

Inilah distorsi yang mulai menggerogoti para kritikus yang taken for granted seperti yang saya katakan di awal tulisan ini. Bagi kami (Rich, Cixous, dan saya), penulisan tubuh perempuan (di antaranya kelamin) dan sebagainya, tak sekadar “ditangkap” sebagai tubuh itu sendiri, adalah karya-karya yang dari tubuhnya dapat memantulkan ruang tempat manusia becermin dan mengukur hidupnya dengan pikiran dan jiwa di dalamnya. Seperti dalam Of Woman Born, Adrienne Rich melawan tubuh perempuan yang jatuh pada mitos, dengan menyatakan bahwa tubuh pun dapat menatap dunia dan merekonstruksinya. Rich melakukan permainan feminin dalam karya sastranya untuk mengatakan bahwa manusia dapat mengembalikan sistem nilai tubuhnya pada sesuatu yang lebih adil, pada tindakan politik di mana domestik bisa menjadi ranah publik, dan perempuan akan bertempur dari sana, dari orientasi seksualitasnya yang konstruktif. Saya sendiri meneliti novel Saman karya Ayu Utami menghasilkan makna (seperti yang ditulis Haryatmoko dalam buku saya) yang mampu menjelaskan keprihatinan utama para tokoh perempuan, yaitu mendobrak pembatasan baik oleh tradisi, tatanan sosial, dan sebetulnya juga agama dalam hal yang berkaitan dengan seksualitas (ketubuhan, keperawanan, hubungan seksual, hasrat seksual, perkawinan, perselingkuhan, dan perkosaan).
***
Perlu bagi saya memberi highlight dalam esai TI 17 Juni lalu, karena bagi saya efeknya bisa jadi sangat mengerikan ketika TI memberi stigma pada mereka sebagai penulis angkatan FAK. Pernyataan ini jelas potensial agresi seorang narator yang ingin segera menutup mata dan pikiran pembaca karya-karya mereka.

TI lalu membangun tahap-tahap pembacaan sastra mereka kepada keluarga, RT, RW, sekolah, dan kantor dalam acara halalbihalal atau natal. Dan yang paling tidak etis adalah mengkhayalkan para sastrawan yang tertuduh itu lebih bagus melakukan demonstrasi orgy -TI seperti sedang membayangkan karya-karya mereka bagai blue film dan ini menjadi salah satu referensinya. Saya menjadi terkejut sebab sepertinya TI memperlakukan pembaca adalah anak kecil yang bodoh, yang tak mungkin lagi kepalanya diasah untuk bisa menikmati sastra dengan pikiran dan hati terbuka. Singkatnya, TI mengajak pembaca menjadi terbelakang yang kepalanya dipenuhi pikiran-pikiran jorok.

Mengutip Nawal El-Saadawi, novelis perempuan Mesir yang menjawab ejekan atas novelnya Perempuan di Titik Nol, “saatnya membawa pembaca membaca di atas kesadarannya, bukan lagi di bawah kesadarannya.” ***

*) Mariana Amiruddin, peneliti sastra, redaktur Jurnal Perempuan, penulis Novel Tuan dan Nona Kosong bersama Hudan Hidayat dan penulis Perempuan Menolak Tabu.

Tulisan ini dikutip dari Harian Jawa Pos (Surabaya), 15 Juli 2007.

Iklan

2 responses to “PERKOSAAN TEKS-TEKS SASTRA

  1. salut, sampai sekarang, tetapi mengapa harus selalu menjadi saling berseberangan. salam budaya, asa bjb

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s