MEMAHAMI TAUFIQ ISMAIL


Beni Setia

Pengarang, Tinggal di Caruban

SECARA metodologis, tulisan Taufiq Ismail, “HH dan Gerakan Syahwat Merdeka” (JP, 17/6/2007), yang merespons tulisan Hudan Hidayat, “Sastra yang Hendak Menjauh dari Tuhannya (JP, 6/5/2007), mengapungkan dua hal. Satu, konsep Islami, yang operasional saat melihat tubuh perempuan, sehingga tiap yang bukan muhrim tak boleh tampil terlihat auratnya — terlebih telanjang dan berzina.Pendekatan ini tak berkaitan dengan tua atau muda -lihat, M. Faizi, “Hudan, Taufiq, dan Generasi Nol Buku” (JP 8/7/2007). Ini pendekatan standar muslim, meski mungkin jadi bersifat fundamentalistik saat diaplikasikan sebagai acuan nilai untuk mengukur perilaku orang lain –dalam dakwah aksi dan bukan sekadar teguran dan penolakan batini dalam konsep amar makruf nahi munkar. Itu, barangkali yang membuat Amerika ngeri membayangkan Islam, yang diintroduksi Samuel Hutington sebagai potensi clash of civilation.

Lepas dari benar atau salah, dari wacana itu kita menemukan satu hal yang tampaknya digarisbawahi dan dijadikan kecemasan Barat: bagaimana cara Islam memaknai perbedaan, bagaimana cara Islam mengelola pluralistik, dan bagaimana Islam menerima kehadiran yang berbeda tanpa terlalu bernafsu meluruskannya. Ilusi kebebasan individu, harapan tentang perlunya jaminan buat berbeda itu terlihat jelas dalam tulisan Mariana Amiruddin, “Perkosaan Teks-teks Sastra” (JP 15/7/2007).

Di titik ini kita bisa memetakan perbedaan antara keduanya. Bila Tauifiq Ismail cenderung melihat tubuh, ketelanjangan, dan sanggama sebagai sesuatu yang ada di ruang privat, sesuai dengan tirai muhrim yang menyebabkan lelaki dan wanita mengada sebagai orang kita dan orang asing –dan karenanya menentang upaya menjadikannya wacana publik. Tubuh, ketelanjangan, dan sanggama adalah hal yang terlarang –bahkan dilarang di taraf ilahiah, sehingga tak benar bila dijadikan mainan estetik.

Sementara Mariana Amiruddin melihat tubuh, ketelanjangan, dan sanggama sebagai sesuatu yang menarik, memesona dan karenanya perlu diempati. Tubuh dan turunannya itu tak dilihat sebagai objek yang disorot dan dinilai dengan kaca mata moral dan konsep halal-haram agama –bahkan syahwat binatangiah. Tubuh dan turunannya dilihat Mariana sebagai subjek dan karenanya dihidupkan keunikannya dengan semacam atau bermacam tafsir non-agami. Tubuh jadi media untuk mengumbar tafsir, asumsi, opini berhias data sosial-budaya, dan seterusnya bagi yang menandai.

Yang menarik, bukan tubuh dan turunannya lagi yang dominan sebagai teks atau objek pertelaan, tapi justru tafsir, asumsi, opini berhias data sosial-budaya dan seterusnya itu yang mendominasi. Dengan membebaskan tubuh dan turunannya itu seseorang bisa mengembara ke mana-mana dan menghadirkan apa saja yang membuat orang penasaran. Potensi kemungkinan itu yang tampaknya membuat orang percaya pada adanya kebebasan berkreasi dan berpendapat. Lantas kenapa tubuh dan turunannya harus dilarang?

Bagi saya, jawabannya ada dua. Kita kembali ke basis. Apa Anda Islam atau seorang free thinker? Sekaligus, dua, tubuh dan turunannya sebagai potensi kreatif menarik untuk dijelajahi, karena laku dijual sebagai dagangan sastrawiah atau ilmiah yang trendy.

Di luar itu, omongan sengak bau apak Taufiq Ismail tidak bisa dikaitkan dengan sikap puritan muslimnya, tapi harus dikaitkan dengan proyek besar apresiasi sastranya. Sebuah proyek yang dimulai dari kehadiran suplemen “Kaki Langit” di Majalah Horison, yang membuat Horison eksis, dan sosialisasi sastra di dalam kop “Sastrawan Bicara Siswa Bertanya” (SBSB). Kecenderungan yang membuatnya berhubungan dengan guru dan siswa SMA dan pesantren, yang menyebabkan sastra harus berhubungan dengan tuntunan moral dan konsep halal-haram agama –terutama bila berkaitan dengan masalah tubuh dan turunannya.

Itu yang membuat Taufiq Ismail tua, moralis, dan keguru-guruan –ia merasa terkait anak muda yang harus dididik. Tak heran bila ia menuntut agar sastrawan yang gemar mengintroduksi tubuh dan turunannya di ruang publik mempublikasikan karyanya dengan model terlibat ala SBSB. Tuntutan apak yang nyebelin. *

Tulisan ini dikutip dari Harian Jawa Pos (Surabaya), 29 Juli 2007.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s