KADO UNTUK TAUFIQ DAN HUDAN


Kuswaidi Syafi’ie

Penyair dan Dosen Tasawuf di PP Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta

 

“Bagi mereka, kritik Taufiq Ismail itu tak lain merupakan pengebirian dan penghujatan terhadap berbagai karya sastra yang tidak sealur dengan filosofi sastra yang dikehendakinya. Mereka berteriak histeris tentang kebebasan untuk menulis apa saja, termasuk perkara kelamin, selangkangan, dan anggota tubuh yang lain.”

Orasi kebudayaan Taufiq Ismail di depan Akademi Jakarta pada 2006 sesungguhnya bisa digolongkan sebagai serangkaian ungkapan profetik di depan berbagai modus angkara murka yang semakin hari semakin berjibun. Saya menyimak orasi itu secara lengkap dan seksama.

Orasi itu dari awal sampai akhir sepenuhnya merupakan kritik terhadap berbagai destruksi yang saling menjalin dan berkelindan secara solid dalam menikam dan meruntuhkan bangunan nilai-nilai suci kemanusiaan universal yang dari abad-abad silam secara estafet telah ditegakkan dengan susah payah dan penuh ketulusan oleh para nabi, para wali, dan pemimpin-pemimpin yang saleh.

Di dalam orasinya itu, terdengar dengan lantang “ajakan” Taufiq Ismail kepada siapa pun yang memiliki kepedulian (termasuk para penulis sastra) untuk memikirkan dan berikhtiar membendung gelombang destruksi yang pahit itu agar tidak terlalu leluasa mencabik generasi yang akan datang. Di antaranya dengan memberikan kritik terhadap, meminjam bahasa Taufiq Ismail, “penulis cerpen-puisi-novel erotis yang umumnya asyik berdandan dengan dirinya sendiri, mabuk posisi selebriti, ke sana disanjung ke sini dipuji, tidak bersedia merenungkan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh tulisannya.”

Kritik Taufiq Ismail inilah yang kemudian memancing lahirnya keculasan dan kepandiran paradigmatik yang dikerahkan Hudan Hidayat, Binhad Nurrohmat, Mariana Amiruddin dan mungkin sejumlah sastrawan yang lain. Bagaimana tidak bisa dikatakan culas dan pandir, Taufiq Ismail memfokuskan orasinya pada keamburadulan moralitas secara mondial (tidak melulu perihal karya sastra yang dianggapnya destruktif dalam derap sistem sosial, bahkan porsi kritiknya terhadap sastra itu lebih sedikit ketimbang kritiknya terhadap hal-hal busuk yang lain), sementara mereka mengabaikan kebejatan-kebejatan sosial yang sesungguhnya tidak hanya disodorkan oleh Taufiq Ismail, tapi juga dibeber oleh hampir seluruh media massa (baik cetak maupun elektronik) setiap hari. Mereka tidak menangkap hal yang substansial dalam orasi itu, tapi malah membelokkannya ke suatu arah yang betul-betul artifisial dan kebak dengan alibi: memasung kreativitas dan membelenggu kebebasan berpikir. Waduh!

Bagi mereka, kritik Taufiq Ismail itu tak lain merupakan pengebirian dan penghujatan terhadap berbagai karya sastra yang tidak sealur dengan filosofi sastra yang dikehendakinya. Mereka berteriak histeris tentang kebebasan untuk menulis apa saja, termasuk perkara kelamin, selangkangan, dan anggota tubuh yang lain. That is not problem for me!

Secara psikologis, boleh jadi keberangan mereka itu dilatarbelakangi oleh pengakuan mereka sendiri secara diam-diam bahwa kebanyakan karya sastra yang mereka tulis tak lebih dari guratan-guratan dan ilustrasi tubuh yang tidak sanggup menawarkan filosofi apa pun selain kewadagan tubuh itu sendiri. Sebab, andaikan mereka merasa bahwa karya sastra yang mereka hasilkan tidaklah serendah itu derajatnya, untuk apa gerangan mereka mesti gusar? Bukankah dengan demikian kegusaran mereka itu tidak pada tempatnya? Wadh’u syayin fi ghairi mahallihi zhulmun.

Yang menjadi sasaran kritik Taufiq Ismail adalah karya sastra yang mengumbar kelamin dan selangkangan secara an sich. Tak lebih dan tak kurang: sebentuk karya sastra yang secara lahir-batin betul-betul kudisan. Dengan menguasai sedikit teknik dalam penulisan karya sastra, siapa pun akan dengan mudah melahirkan karya sastra seperti itu. Sebab, untuk menulis karya sastra yang demikian sama sekali tidak diperlukan adanya investigasi yang tekun dan rumit. Racikannya terdiri dari bahan-bahan yang mudah didapat di mana saja: bayang-bayang tentang kelamin dan selangkangan ditambah dengan secuil imajinasi penulisnya: selesai, siap saji.

Akan tetapi, bagi Hudan Hidayat dan komplotannya, karya sastra ecek-ecek seperti itu mesti diberikan tempat yang luas dan dibiarkan tumbuh dengan subur. Tidak tanggung-tanggung, demi menguatkan statemennya itu dia merasa perlu untuk melontarkan dalil-dalil teologis yang dicomot secara serampangan dari sejumlah ayat dalam Alquran.

Tengoklah pembuka tulisannya yang berumbul Sastra yang Hendak Menjauh dari Tuhannya (JP, 6 Mei 2007): “Nakal dan santun, pornografi atau suara moral, gelombang syahwat seperti kata Taufiq Ismail, ternyata bersandar pada-Nya jua.” Pada sepuluh paragraf berikutnya, Hudan Hidayat mengulangi lagi kalimat pembukanya itu dengan merujukkannya pada QS. al-Baqarah ayat 30, mestinya ayat 36.

Dan, inilah yang tidak dipahami oleh Hudan Hidayat: dia telah melakukan salto secara sembrono dengan argumentasi teologisnya itu dari medan hidup yang menagih tanggung jawab sosial ke sebuah arena yang belum dihuni oleh manusia sebagai agent of change. Ketika panggung hidup yang gaduh dengan kebaikan dan keburukan itu telah dibebani taklif oleh Allah SWT dengan diturunkannya kitab-kitab suci dan para rasul, maka sama sekali tidaklah rasional membiarkan segala orkestrasi keburukan semakin menderu-deru, apalagi dengan sengaja sampai menyandarkan hal yang tidak senonoh itu semata kepada-Nya. Sebab, kalau demikian, lantas di manakah letak urgensi adegium yang pernah dilontarkan Kanjeng Nabi SAW bahwa hari ini mesti lebih baik dari kemarin dan besok harus lebih bermutu dari sekarang?

Dalam konteks ini, Hudan Hidayat perlu betul-betul memahami apa yang dia sebut sendiri dalam tulisannya sebagai takdir dunia. Takdir yang mencolot dari tangan-Nya terhadap apa pun, apalagi yang berkaitan dengan kehidupan dan nasib manusia, sebenarnya tidaklah tunggal, tapi dua wujud. Yaitu takdir mubram dan takdir mu’allaq. Yang pertama adalah ketentuan di mana Allah SWT tidak mau melakukan bargaining dengan siapa pun untuk mengubahnya. Allah SWT seringkali menyimpan rapat-rapat takdir jenis ini. Sedangkan posisi takdir yang kedua terletak di antara Allah SWT dan manusia. Melalui jendela takdir yang terakhir inilah manusia dituntut oleh hadirat-Nya untuk selalu melakukan perbaikan terhadap nasibnya sendiri dari waktu ke waktu bersama usia yang semakin tua. Itulah yang coba diejawantahkan oleh Taufiq Ismail melalui orasinya.
Wallahu yahdina ila sabilil haqq. ***

 

Tulisan ini dikutip dari Harian Jawa Pos (Jawa Timur),  5 Agustus 2007.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s