KOMUNITAS SEBAGAI SEBUAH IDEOLOGI: Komunitas Sastra sebagai Basis (Komunikasi) Ideologi Kesusastraan


Shiho Sawai

Universitas Gadjah Mada/

Tokyo University of Foreign Studies

“Komunitas sastra” adalah bentuk pelaksanaan kegiatan sastra yang khas di Indonesia. Sebenarnya, jika kita menganggap bahwa komunitas sastra sebagai sarana memproduksi atau mengonsumsi sastra secara kolektif, hal ini sudah terlihat umum di banyak negara selain Indonesia pada zaman sebelum munculnya kapitalism percetakan. Misalnya, pada zaman pertengahan di Perancis, ataupun pada abad ke-19 di Jepang, membaca buku secara berkelompok adalah hal yang umum, sebab buku adalah benda yang masih sangat berharga dan langka di wilayah tersebut pada zaman tersebut. Namun keunikan di Indonesia adalah pada pola menikmati sastra secara kolektif yang tetap saja sangat digemari hingga kini meskipun buku sudah dapat diperoleh di masyarakat tanpa dengan banyak kesulitan. Hal ini menunjukkan eratnya budaya berkelompok dalam kegiatan sastra di nusantara.

Di Indonesia, komunitas sastra berupa sekelompok atau sejumlah orang yang bertujuan untuk melakukan kegiatan sastra (menerbitkan, membaca, mendengar dan membahas teks sastra atau melakukan hal-hal berkaitan dengan sastra). Sebetulnya, kelompok sejenis ini telah eksis di nusantara setidaknya sejak zaman kolonial, supaya orang bisa mendapatkan akses untuk membaca dan membahas buku bersama-sama, ketika kebanyakan orang mengalami kesulitan mempunyai buku. Sejak itu, kelompok seperti ini sering disebut sebagai “sanggar” atau “studi klub”. Kelompok tersebut seringkali memiliki sebuah tempat untuk berkumpul, di mana para anggotanya bisa saling belajar sambil berdiskusi untuk berkarya lebih baik. Istilah “komunitas” untuk menggambarkan kelompok seperti ini mulai digunakan pada tahun akhir 1980an[1] dan berbagai aktivitas komunitas mulai terlihat dalam masyarakat sejak awal tahun 1990an[2].

Setelah Orde Baru runtuh, jumlah komunitas sastra mulai bertambah drastis lagi dengan jenis kegiatan yang lebih bervariatif. Pertumbuhan komunitas sastra ini sebagian didukung oleh perkembangan ekonomi dan perbaikan standar pendidikan warganegaranya selama satu dekade terakhir, serta sebagai akibat perkembangan sosial yang memungkinkan bertambahnya populasi yang mampu membeli buku atau sudah terbiasa membaca dan menulis. Di samping itu, hilangnya sensor negara terhadap karya sastra dan izin percetakan untuk media cetak ikut mendorong industri penerbitan berkembang pesat. Lebih jauh lagi, keikutsertaan komunitas sastra menjadi populer di antara kalangan muda, dan sebagai akibatnya banyak workshop penulisan untuk siswa sekolah menengah dan perguruan tinggi, yang dilaksanakan oleh berbagai lembaga[3]. Semua hal ini meningkatkan keaktifan kegiatan komunitas sastra.

Keadaan seperti ini menunjukkan bahwa maraknya komunitas sastra Indonesia pada zaman ini terpengaruh perubahan lingkungan sosial sejak menjelang pasca-Orde Baru. Perubahan sosial yang dimaksudkan di sini memiliki empat unsur berikut:

1.  Komersialisasi industri penerbitan

2.  Penyebaran teknologi informasi (internet, telpon genggam dll)

3.  Kebebasan pembahasan sastra dari pengawasan negara

4. Peningkatan kesadaran masyarakat tentang peranan buku sebagai alat pemberdayaan

Komersialisasi industri penerbitan dan kegiatan bersastra adalah unsur yang paling kuat dan berpengaruh untuk menentukan keberadaan sastra pada pasca-Orde Baru[4]. Dengan fenomena ini, sarana penerbitan yang paling umum mulai bergeser dari koran atau majalah ke buku. Di samping itu, sarana sastra elektronik juga muncul karena peningkatan sebaran teknologi informasi seperti internet dan telpon genggam. Sejak itu, para penulis bisa menerbitkan karya melalui blog, milis atau SMS, tanpa perlu harus melalui seleksi redaktur ataupun tanpa keterbatasan format sebagaimana ditentukan dalam media cetak. Lebih jauh, komunikasi dalam sarana elektronik mewujudkan solidaritas baru, karena para pelaku bisa berkomunikasi terlepas dari alamat tinggal, pendudukan sosial ataupun tingkat pendidikan pelakunya.

Kemudian, pertumbuhan sarana alternatif dan kebebasan berwacana tersebut juga ikut mempengaruhi kebangkitan rasa perduli masyarakat terhadap minoritas sosial seperti kaum miskin, penduduk di daerah terpencil, supaya mereka bisa mendapatkan lebih banyak akses ke buku maupun sastra.

Dengan merespons lingkungan sosial baru di atas, komunitas di Indonesia menciptakan berbagai moralitas atau ideologi dalam kegiatan mereka. Dalam artian, bukannya ideologi yang selalu menciptakan dan mendikte orientasi komunitas, melainkan pelaku komunitas juga memanfaatkan ideologi, karena komunitas terbentuk oleh para individu yang menyesuaikan diri dengan perubahan sosial yang tersebut di atas. Bila demikian kenyataannya, ideologi di dalam sebuah komunitas pun belum tentu disepakati secara konkrit, namun bisa jadi pihak individu yang menentukan dimensi ideologi seperti apa yang dia manfaatkan dalam ikutsertaan komunitasnya. Kemudian, suatu ideologi yang dijunjung oleh sebuah komunitas pun bisa mempunyai beberapa dimensi yang berbeda. Oleh karena itu, makalah ini tidak menggunakan konsep ideologi dalam Marxisme klasik yang berkerangka teori ekonomi-politik secara kaku, melainkan menggunakan pendekatan konsep ideologi Foucaultian dan post-Marxis, yang menerima keanekaragaman dimensi dalam sebuah ideologi dan yang lebih menfokuskan diri kepada ambiguitasnya ideologi sebagai akibat keberkaitannya dengan aspek kehidupan individu sehari-hari.

Berdasarkan uraian di atas, maka makalah ini akan meninjau kembali dua tanggapan umum yakni komunitas selalu membagi misi dan visi (ideologi) yang sama di antara anggota dan bahwa komunitas adalah kelompok nirlaba.

Memang, kebanyakan komunitas tidak bertujuan untuk mencari laba. Namun pada zaman sekarang yang kegiatan komunitas sastra menjadi sangat bervariasi di luar sekadar membaca dan membahas karya bersama di tempat gratisan, komunitas pun tidak bisa lepas dari peninjauan finansial untuk menutupi biaya operasionalnya. Kemudian, komersialisasi sastra yang terutama terlihat dalam perkembangan industri penerbitan yang menolong komunitas sastra untuk menyiasati pendapatan dan pemutaran dana untuk berkegiatan.

Sedangkan di sisi lain keadaan ini mencerminkan pergeseran karakter komunitas yang lebih kepada bagaimana individu yang meskipun belum tentu berbagi ideologi yang sama berkumpul secara temporer dengan tujuan masing-masing. Untuk itu makalah ini berusaha untuk membuktikan bahwa ideologi yang beragam muncul dalam komunitas sastra secara bervariatif. Ideologi dalam komunitas menjelma sebagai sebuah berlian dengan beragam keindahan refleksi cahaya ke berbagai arah. Lebih jauh, keanekaragaman dimensi ideologis yang muncul dapat berperan dalam memperluas kesempatan dialog antar komunitas dimana variabilitas perbedaan akan dapat memunculkan berbagai titik temuan baru yang akan memperluas cakrawala pembahasan komunitas sastra. Sehingga dapat dinyatakan bahwa komunitas sastra bukan saja melahirkan ideologi dan membawa pada pertentangan ideologi yang saling berlawanan, melainkan berfungsi untuk memperkaya wacana sastra dalam bentuknya tersendiri.

Untuk memberikan gambaran yang menyeluruh tentang ambiguitas ideologi dan komunitas, makalah ini juga akan memberikan gambaran pertumbuhan jenis-jenis komunitas di Indonesia serta bagaimana ideologi dan komunitas tersebut beranjak dari keadaan sosial.Pada akhirnya, makalah ini akan menggambarkan bagaimana sejumlah jenis komunitas merangkul keanekaragaman ideologi yang terbentuk di dalam komunitas yang dapat atau menjadi lebih pluralis dengan implikasi yang saling mendukung maupun berlawanan.

Ambiguitas batas komunitas, fleksibilitas kesepakatan ideologis

“Komunitas sastra” adalah hal yang umum dilihat dan dibicarakan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari pada tahun-tahun terakhir. Namun, tampak teramat sulit jika kita membuat definisi komunitas sastra yang standard secara konkret. Ambiguitas definisi komunitas sastra berasal dari keberadaan komunitas secara umum yang bisa terbagi dua bagian: anggota inti yang mempunyai solidaritas tinggi dan anggota lepas sebagai “audiens”, yang bergabung ke komunitas tersebut secara temporer, ketika ada acara atau ada informasi maupun komunikasi yang dibutuhkan. Kehadiran “audiens” ini bisa jadi cukup penting bagi komunitas, karena mereka yang bisa menciptakan suasana seru ketika komunitas mengadakan acara, serta mereka yang seringkali bisa membawa ide dan inspirasi yang segar bagi komunitas di luar aliran komunitas yang disepakati. Di samping itu, baik anggota inti maupun audiens sering berhubungan dengan beberapa komunitas yang berbeda secara bersamaan, dengan intensitas partisipasi yang beragam dengan satu komunitas dan yang lain. Keadaan seperti ini mengakibatkan bahwa terkadang sulit menentukan siapa yang anggota dan siapa yang audiens dalam sebuah komunitas, karena seorang anggota inti di komunitas A kadang bergabung ke komunitas B sebagai anggota inti atau audiens, atau sebaliknya. Ini mengaburkan batas keanggotaan komunitas sastra, namun juga mempermudah banyak hal: contohnya, komunikasi di antara komunitas menjadi lancar karena adanya banyak orang yang mengikuti kegiatan lintas komunitas. Kehadiran manusia seperti ini juga memperlancar proses menyebarkan informasi di sebuah komunitas kepada para kelompok yang lain. Di lain sisi, ini juga mengaburkan kesepakatan ideologis dalam komunitas, sebab semakin banyak mencampur-adukkan ide dan pemikirannya di luar anggota inti berarti bahwa kesepakatan ideologis itu sulit dipertahankan. Jenis ideologi dalam komunitas sastra juga bervariasi, berdasarkan pemikiran politik, etika, agama atau estetik kesusastraan. Meskipun anggota inti dalam sebuah komunitas berbagi ideologi yang jelas, audiensnya belum tentu mendukung ideologi tersebut dengan intensitas yang sama, tetapi bisa saja mereka hanya ikut komunikasi dengan minat yang sesaat atau motivasi yang lain. Dengan demikian, ketidakjelasan batas komunitas ini memberi banyak peluang bagi pelaku komunitas untuk menyiasati keikutsertaan mereka untuk tujuan masing-masing, dan ini membuat kesepakatan ideologis semakin melemah di wilayah pinggir dalam keanggotaan komunitas. Hal ini menunjukkan problematisnya tangkapan umum tentang komunitas sastra yang mengasumsikan keanggotaan yang jelas dan kesepakatan ideologis di dalamnya. Mungkin bisa digugat bahwa keanggotaan dan implikasi ideologi yang rapi dan jelas adalah mitos, atau ideologi tersendiri. Namun, mitos ini bisa membuka wacana baru untuk meninjau ulang bagaimana ambiguitas tersebut bisa memberi ruang komunikasi dan interaksi yang kaya bagi kegiatan komunitas sastra.

6 Jenis komunitas sastra

Pada umumnya, jenis komunitas sastra bisa terbagi sebagai berikut:

1.  komunitas berbasis kampus

2.  komunitas berbasis nonkampus

3.  komunitas berbasis koran/majalah

4.  komunitas berbasis milis

5.  komunitas berbasis penerbit

6.  komunitas berbasis gerakan literasi

Komunitas yang berbasis kampus terlihat umum di seluruh wilayah Indonesia. Komunitas ini bisa saja tidak terdaftar dalam struktur kelembagaan kampus, namun sangat terikat pada solidaritas mahasiswa yang satu kampus, seperti terlihat dalam komunitas Sanggar SK dan Sanggar Nun di UIN Sunan Kalijaga atau Sarkem di UNY di Yogyakarta. Sedangkan komunitas yang berbasis non-kampus bisa dicontohkan dengan Komunitas Sastra Indonesia, Forum Lingkar Pena ataupun Komunitas Utan Kayu.

Sementara itu, salah satu contoh dari komunitas informal adalah sarana kegiatan sastra yang muncul di balik majalah seperti Horison atau Kalam, koran nasional seperti Kompas ataupun koran lokal seperti Kedaulatan Rakyat atau Bali Pos. Komunitas informal eksis dengan redaktur media dan para pemasuk naskahnya sebagai anggota inti, dan dengan para pembaca sebagai audiens. Komunitas informal berbasis media cetak ini muncul berdasarkan nilai estetika serta interaksi mereka yang dibagi di antara para pelaku di atas untuk meningkatkan mutu karya yang dibuat di media tersebut.

Di samping itu, komunitas berbasis media elektronik seperti komunitas milis Apresiasi Sastra atau milis Bungamatahari juga termasuk kategori ini, karena isi komunikasi dan keanggotaannya terbuka dan sangat beragam. Keunikan komunitas berbasis media elektronik adalah kebebasan di mana para peserta bisa mengikuti tanpa dibatasi waktu, alamat tinggal dan orientasi dalam estetik sastra dan filosofi yang lain, maka siapa pun bisa berekspresi dengan tulisan apa saja. Namun, hal ini juga mengakibatkan sulitnya mempertahankan integritas mutu, selera estetik maupun ideologi yang lain di dalamnya.

Lebih jauh, akhir-akhir ini muncul komunitas berdasarkan penerbit. Sejak industri penerbitan berkembang, para penulis mendapat lebih banyak kesempatan untuk menerbitkan karyanya dalam bentuk buku, tanpa melewati proses pemasukkan naskah ke majalah atau koran. Maka, penulis pemula pun cukup berurusan dengan redaksi penerbit secara langsung dengan mengirimkan naskahnya melalui email, untuk mencoba menerbitkan buku sendiri. Juga, perlengkapan fasilitas warnet serta telpon genggam membuat mereka bisa konsultasi langsung dengan pihak penerbit. Keadaan seperti ini melahirkan komunitas informal di sekitar persahaan penerbitan buku[5].

Di samping itu, komunitas yang beranggotakan para staff pemasaran dan redaksi di penerbit juga mulai aktif. Milis Pasar Buku merupakan komunitas untuk membahas berbagai persoalan di sekitar pemasaran, distribusi dan retail buku. Sedangkan, Komunitas Pekerja Buku Indonesia dan Jogmart adalah ikatan pekerja di penerbit yang membuat berbagai kegiatan berkaitan sastra seperti pasar buku dan seminar. Komunitas seperti ini memberikan kontribusi untuk memberi solusi mengenai persoalan tentang buku dari sisi marketing dan distribusi.

Lebih jauh lagi, ada jenis komunitas berbasis gerakan literasi[6], seperti Rumah Dunia, 1001 buku dan Indonesia Membaca. Komunitas sejenis ini dimotori individu yang punya kepedulian tentang kekurangan akses buku bagi kalangan tertentu. Maka, mereka membangun rumah bacaan di masyarakat lokal, atau mencari donasi buku dari masyarakat untuk menyalurkannya kepada rumah bacaan di berbagai daerah.

Komunitas pemasaran penerbit dan komunitas gerakan literasi ini tidak berkaitan dengan sastra secara harafiah, namun makalah ini memasukkan komunitas tersebut dalam pembahasan, untuk memperluas dimensi wacana komunitas sastra.

Ideologi komunitas sastra dan keadaan sosial mutakhir

Berlandaskan pada 6 jenis komunitas sastra yang dijelaskan sebelumnya, bagian ini mengobservasi bagaimana ideologi tentang sastra muncul dari keadaan sosial pada pasca-Orde Baru, untuk menggambarkan keanekaragaman ideologi yang berpengaruh ke komunitas sastra.

Pertama, sejak penerbitan menjadi industri yang cukup menguntungkan, banyak pribadi dan komunitas merasa penerbitan buku adalah hal yang tidak terlalu sulit dibandingkan masa sebelumnya. Sebagai dampak, banyak komunitas mulai menerbitkan buku atas biaya sendiri ataupun terkadang terlihat beberapa komunitas sastra yang mampu memutar dana dari hasil penjualan buku penerbitannya sendiri untuk penerbitan buku berikutnya, atau untuk membiayai kegiatan yang lain[7]. Dalam keadaan seperti ini, munculah kepentingan bagi komunitas sastra untuk (1) menerbitkan buku yang laku, dan ini melahirkan ideologi yang memprioritaskan laba di luar mutu dan estetika dalam sastra. Dalam situasi seperti ini, munculah popularitas SMSlit, teenlit dan chiclit yang laku keras di pasar kalangan muda, meskipun buku tersebut belum tentu berbobot. Ini menciptakan ideologi bahwa (2) sastra adalah komoditas untuk hiburan atau untuk mengekspresikan gaya hidup. Kedua ideologi ini mendukung makna buku sebagai benda, dan mempopulerkan kegiatan orang membeli, membawa, membaca, menerbit buku serta menyertai komunitas sastra sebagai gaya hidup. Lagi pula, perhatian terhadap laba dalam penerbitan mendorong orang untuk berpikir tentang bagaimana memperbaiki efisiensi sistem distribusi dan retail yang hingga kini banyak yang bermasalah dalam industri tersebut.

Kedua, inovasi teknologi informasi memperluas dan memperbanyak sarana sastra. Sekarang banyak orang bisa mampir di warnet, untuk menerbitkan karya atau berkomunikasi dengan yang lain dalam milis atau blog sastra. Penyebaran SMS juga mempererat intensitas korespondensi antara pelaku sastra yang tinggal di wilayah berjauhan, untuk saling berbagi karya atau komentar melalui SMS. Sebagai akibat, keadaan ini melemahkan kekuasan redaksi atau kritik sastra sebagai “paus sastra” yang hingga kini dianggap mutlak untuk menilai sastra. Keadaan ini mendorong ideologi (3) egalitarianisme dan anti-elitisme dalam sastra.

Namun, ideologi ini yang menjunjung kebebasan ekspresi juga melahirkan rasa waspada terhadap kebebasan itu sendiri. Sekarang, sudah tidak ada kekuasaan yang harus kita takuti, entah itu paus sastra atau lembaga sensor negara. Padahal, masyarakat kemudian menciptakan batas kebebasan dengan sendiri, dengan menggunakan ideologi seperti (4) antiliberalisme, antineo-imperialisme atau anti-eksploitasi seksualitas dalam sastra.

Keempat, kemunculan banyak aktivitas untuk memberdayakan masyarakat melalui buku dilatarbelakangi oleh ideologi (5) buku adalah alat untuk mewujudkan keadilan sosial. Ideologi ini menunjukkan bahwa aktivisme sastra bisa menghadapi masalah nyata di masyarakat, di luar pembahasan sastra konvensional tentang keadilan sosial yang abstrak. Demikian, ideologi ini mengaitkan persoalan buku dengan keperdulian masyakat terhadap kalangan yang tidak mampu. Dalam hal ini, ideologi ini telah memperluas makna buku dan komunitas sastra di luar sisi filosofis-estetik.

Relasi ideologi yang plural dan ambigu

Dari pembahasan sebelumnya, telah terbukti bahwa ideologi komunitas sastra mempunyai berbagai implikasi dari kondisi sosial di masyarakat. Juga, ideologi dan kondisi sosial saling mempengaruhi satu sama lain, dengan relasi yang terkadang berdampingan atau bertentangan. Ini berarti bahwa satu realita sosial bisa melahirkan beberapa ideologi yang berbeda, mencerminkan sudut pandang yang berbeda di dalamnya. Contohnya, komersialisasi penerbitan dan inovasi teknologi informasi bisa saling mendukung untuk mendorong supaya lebih banyak orang menganggap sastra sebagai kegiatan yang mudah dan senang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran seperti ini mempengaruh kemunculan sejumlah ideologi yang beragam di atas. Beranjak dari situ, peningkatan pembahasan dan jenis aktivitas komunitas sastra juga memperkaya wacana ideologi sastra, dengan membawa ideologi sosial seperti anti-imperialisme ataupun pro-dan kontra-eksplorasi seksualitas dalam bidang sastra. Bahkan, ideologi yang mempertanyakan kebebasan tanpa batas ini bisa dilihat sebagai salah satu variasi dari ekspresi wacana sastra yang telah bertambah variasinya, namun juga ini adalah salah satu antitesis dari kebebasan ekspresi itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa ideologi ini muncul dari implikasi realita sosial yang berbeda dan saling bertentangan.

Sementara itu, ideologi aktivisme sastra untuk pemberdayaan juga muncul sebagai satu varian dari perkembangan wacana sastra mutakhir. Ideologi ini didukung oleh kebebasan dari inovasi teknologi informasi, sebab komunitas ini tidak bisa beroperasi tanpa memanfaatkan fasilitas alat komunikasi elektronik untuk menyalurkan buku ke berbagai wilayah. Di samping itu, ideologi ini juga membagi sikap dengan ideologi anti-liberalisme dalam pendekatan yang mengaitkan sastra dengan keadilan sosial. Lebih jauh lagi, ideologi ini bisa mempunyai potensi bekerjasama dengan ideologi komersialisasi industri buku, sebab keduanya ingin mengatasi kekurangan jaringan distribusi buku di daerah terpencil. Gambaran seperti ini memperlihatkan pluralitas ideologi komunitas sastra dan relasi di antara mereka yang kadang saling melengkapi dan bekerjasama, atau bersebelahan. Keberadaan ideologi komunitas sastra di Indonesia seperti ini persis seperti pembahasan Foucault yang menganggap ideologi seperti “sarang laba-laba”, tersebar ke seluruh masyarakat dengan jaringan yang kadang ke satu arah, kadang ke berarahan. Juga, keberadaan ideologi di atas tampak cukup dekat dengan konsep post-Marxis, yang mementingkan keberadaan manusia sehari-hari yang memerlukan ideologi untuk menemukan sosok diri (Self) atau yang lain (the Other) dalam pandangan dunianya. Fungsi ideologi ini bisa menjadi pandangan alternatif dibandingkan dengan konsep ideologi Marxis klasik yang membatasi pemahaman ideologi dalam relasi dialektik seperti konflik antara kelas penguasa dan kelas buruh, ataupun antara kapitalisme dan komunisme.

Jika kita menggunakan konsep ideologi post-Marxis ini, anggapan komunitas sebagai landasan ideologi yang jelas dan kaku menjadi semakin berkurang relevansinya, sementara perilaku manusia yang memanfaatkan ideologi untuk hiburan atau tujuan lain dari masing-masing dengan “bergabung” ke komunitas sastra secara temporer bisa dipahami sebagai hal yang wajar. Kemudian, komunitas tampak sebagai suatu ruang fleksibel yang dapat memjadi sumber ideologi yang plural bagi pelaku sastra. Bila demikian kenyataannya, akan lebih berguna jika kita berpikir bagaimana ideologi yang beragam ini bisa ditemukan dalam dialog, daripada kita terjebak pada mitos bahwa ideologi komunitas adalah kaku dan harus dipilih satu di antara yang lain. Dengan demikian, kita bisa menerima perbedaan ideologi di dalam/antara komunitas sebagai sumber kekayaan wacana sastra.

Kesimpulan

Makalah ini telah mengulas bagaimana berbagai macam ideologi di komunitas sastra pada Pasca-Orde Baru dilahirkan dengan berinteraksi dengan kondisi sosialnya, dan masing-masing ideologi mempunyai aspek yang terbuka untuk interpretasi yang berbeda-beda. Pembahasan ini juga telah menyelidiki bahwa kini komunitas sastra mempunyai kesadaran semakin tinggi terhadap unsur biaya dan laba dalam kegiatannya.

Di samping itu, telah diobservasi bahwa keanekaragaman ideologi ini didukung oleh karakter komunitas sastra yang terbuka lantas merangkul ambiguitas dalam batas ideologi maupun keanggotaannya. Kolektivitas yang terbuka ini bisa menciptakan sarana komunitas sebagai peluang bagi pelaku untuk menyiasati berbagai ideologi dan sudut di dalamnya untuk tujuan yang berbeda. Di sini, kolektivitas komunitas memberikan peluang untuk berpolitik bagi pelakunya dalam tingkat personal, dalam artian setiap pelakunya selalu mengidentifikasikan diri melalui relasi dengan komunitas lain atau pelaku lain dalam satu komunitas. Di situ, dimensi ideologi yang plural dan keberadaan komunitas dengan ambiguitas menjadi alat untuk menyiasati berbagai identitas yang sesuai dengan keinginan pelaku. Fokus kepada sifat politis bertingkat personal ini masih belum dieksplorasi banyak dalam pembahasan ideologi komunitas sastra, karena politik ideologi yang kaku di antara kelompok yang bermusuhan yang biasanya dirujuk dalam pembahasan ideologi komunitas sastra, seperti terlihat dalam konflik di antara kelompok Lekra dan non-Lekra pada zaman Orde-Lama. Tentu, ini juga suatu pola berpolitik komunitas sastra melalui ideologi, namun zaman telah berubah dan paradigma pembahasan ideologi pun mulai bergeser, sehingga sifat berpolitik kaku ini bukan satu-satunya sumber penggunaan ideologi, melainkan peluang untuk pembahasan politik komunitas sastra juga memiliki potensi untuk membuka wacana yang berbeda.

Dengan demikian, kolektivitas komunitas selalu memberikan sisi politis pada sarana komunitas sastra, namun skope penyelidikian tentang sifat politis itu seharusnya mulai bergeser dari sisi makro- ke mikro-sosial, dengan memperhatikan proses dan konteks pelaku sastra mendapatkan identitas melalui ideologi yang terdapat secara relasional dengan berbagai pihak yang lain.

Sayangnya, hingga kini masih pembahasan ideologi komunitas sastra tampak terpengaruh pada kerangka lama yang mencontohkan relasi berlawanan berdasarkan kepercayaan politik, dan belum terlihat banyak peninjauan yang bisa menggeserkan paradigma ini kepada yang lebih memperhatikan sisi politik secara lebih mikro, bagaimana kekuatan individu atau kelompok diciptakan melalui ideologi dalam relasi diantaranya yang penuh pluralitas dan ambivalensi. Di situlah mungkin pembahasan perlu dilakukan secara lebih rinci dan lebih dalam. Dengan demikian, pengamatan komunitas sastra pun bisa mengikuti perkembangan pemikiran yang terakhir, dengan melepaskan prasangka ideologi sebagai hal yang abstrak serta membawa dimensi ideologi yang lebih nyata dan dekat dengan kehidupan manusia sehari-hari.

Acuan Pustaka

Ahmadun, Y., H., 2006, “Pergeseran Peran Komunitas Sastra”, an unpublished presentation paper in Temu Sastra II Mitra Praja Utama, at Dinas Kebudayaan Propinsi Bali, 12-15 December, Denpasar.

Butler, J., Laclau, E., and Zizek, S., 2000, Contingency, Hegemony, Universality: Contemporary dialogues on the left, Verso, London.

Cavallo, G., and Chartier, R., (eds), 1999, A History of Reading in the West, University of Massachusetts Press, Amherst.

Foucault M., 1970, The Order of Things: An Archaeology of the Human Sciences, Vintage, New York.

Gunadi, I., and Budianta, M., (eds), 1998, Pemetaan Komunitas Sastra di Jakarta, Bogor, tangerang, dan Bekasi, Komunitas Sastra Indonesia, Jakarta.

Maeda. A., 1989, Kindai Dokusha no Seiritsu (Kemunculan Pembaca Modern), Chikuma Shobo, Tokyo.

Sawai, S., 2007, “Menghidupi dan Dihidupi Sastra pada Zaman Komersialisasi? Komunitas Penerbitan Lokal di Yogyakarta”, an unpublished presentation paper at Konferensi Internasional XVIII HISKI, Universitas Indonesia, 8 Augustus 2007.

Zizek, S., 1989, The Sublime Object of Ideology, Verso, London.


[1] pada zaman itu, kata ”komunitas” mulai tampil dalam koran lokal dan media lain di Yogyakarta.

[2] Ahmadun, 2006.

[3] Dari komunikasi personal dengan Ahmadun Yosi Herfanda, pada 27 Oktober 2007 di Banjarmasin.

[4] Contohnya, jumlah penerbit sekitar 300 dan jumlah produksi buku dalam setahun 3000 judul pada tahun 80an melonpat ke 700 dan 12,000 judul pada tahun 2005 (Sawai, 2007).

[5] Komunitas KPBI dan Yogmart termasuk komunitas formal, sedangkan komunitas di antara redaksi dan penulis termasuk komunitas informal.

[6] Istilah “gerakan literasi” digunakan dalam Festival Literasi Indonesia 2007 yang dilaksanakan di Yogyakarta pada 7-9 Desember 2007, untuk menandai gerakan dari berbagai kelompok untuk memberdayakan masyarakat dengan meningkat akses ke buku dan membuat kegiatan sastra lebih akrab bagi masyarakat.

[7] Misalnya, komunitas Akar di Yogyakarta sekarang sanggup membiayai ongkos penerbitan dari keuntungan oleh kegiatan penerbitan buku sebelumnya.

Tulisan ini pernah disampaikan pada Kongres Komunitas Sastra Indonesia yang diselenggarakan KSI di Kudus, Jawa Tengah, 19-21 Januari 2008.

Iklan

One response to “KOMUNITAS SEBAGAI SEBUAH IDEOLOGI: Komunitas Sastra sebagai Basis (Komunikasi) Ideologi Kesusastraan

  1. Ping-balik: Komunitas Sastra sebagai Basis (Komunikasi) Ideologi Kesusastraan « Kreasi Tamaddun·

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s