SIMPANG JALAN SASTRAWAN INDONESIA


(Bagian Terakhir dari Tiga Tulisan)

Sunaryono Basuki Ks

Sastrawan dan Dosen Undiksha

Pernah ada ulasan buku berjudul Kala Perempuan Bicara Seks di sebuah koran besar di Jakarta. Yang diperbincangkan adalah sebuah buku (novel) baru berjudul 69 Berlubang Liang karangan Henny Purnama Sari, yang namanya mungkin baru sekali ini Anda dengar. Judulnya menarik, 69 bukan menandai tahun bersejarah, sebagaimana 45, 65, atau 98, namun justru posisi hubungan seksual yang abnormal, dan negara tetangga kita justru melarang oral seks.
Menurut pembahas buku itu, “tubuh perempuan selalu menarik untuk dibicarakan, pada segala ruang dan waktu. Maka tubuh perempuan akhirnya menjadi simbol dari berbagai dimensi, mulai dari pemberontakan sosial, kebijakan politik, ukuran moralitas hingga asketisme, dan tentu saja perdebatan ideologi.” Memang benar demikian adanya, dan yang sekarang kita lakukan adalah perdebatan tentang ideologi tersebut.
Apakah buku itu memang layak dibaca dan perlu? Ulasan yang dimuat juga melaporkan mengenai perbedaan dua pemikiran tentang novel yang judulnya saja mengagetkan itu. Dua orang pembicara dikutip, Mariana Aminudin yang feminis dan Hudan Hidayat yang sastrawan.
Mariana menganggap, “penulis novel itu sudah membuat langkah baru karena telah membongkar tabu seksualitas perempuan. Penulisnya telah mengangkat serta menceritakan dengan lugas dan terbuka persoalan seksualitas perempuan. Tubuh adalah tubuh sosial, tidak hanya tubuh material. Karenanya ketika bicara soal tubuh artinya perempuan juga bicara tentang persoalan sosial.”
Itulah logika seorang feminis yang mengesahkan permbiraan mengenai tubuh perempuan yang tubuh sosial secara terbuka, bak menelanjangi seorang perempuan yang merupakan makhluk sosial dan punya persoalan-persoalan sosial masa kini. Jadi, pembicaraan mengenai tubuh perempuan secara terbuka tak tabu lagi, bak pemaparan mata kuliah anatomi manusia di fakultas kedokteran yang juga tak tabu.
Alasan seperti itu sudah sering muncul saat para penulis dan pembuat film bersikeras untuk mempertahankan pelukisan yang terus terang tentang seksualitas perempuan dalam buku maupun film yang dibikin: tuntutan cerita!
Yang mengejutkan justru pendapat Hudan Hidayat, yang kalau dikutip secara benar: “pengarang ini memuji gaya bercerita Henny. Baginya Henny memiliki teknik bercerita yang sangat orisinal, tidak meniru gaya penceritaan novel seperti umumnya yang biasanya diukur dari standar sastra di luar negeri. Katanya, Henny mampu keluar dari pakem umum.
Perlu dipertanyaan pernyataan tersebut yang tentu memerlukan kejelasan dengan contoh-contoh nyata dari karya sastra luar negeri atau dalam negeri. Juga “pakem umum” yang bagaimana?
Yang membuat kita lega, adalah pendapat Hudan yang melihat bahwa “apa yang diangkat Henny hanya mengerucut pada tubuh itu sendiri. Bagi Hudan, penceritaan yang hanya berpusat pada tubuh akan meringkus novel ini pada kekeringan makna.”
Jadi, makna penting, menurut Hudan, sebagaimana pendapat Richard Hoggart saat mengantar novel DH Lawrence, Lady Chatterley’s Lover. Persoalan-persoalan ide, makna hidup yang termuat dalam tubuh perempuan jauh lebih penting dari gambaran lukisan tubuh perempuan itu sendiri bagaimanapun indahnya, karena pelukisan semata dapat menjerumuskan kisah pada kisah porno.
Kalau diperpanjang lagi, bisa saja kita akan berdebat tentang apa yang porno dan yang tak porno. Ukiran di candi atau di dinding pura yang menggambarkan kelamin lelaki dikerubuti oleh sejumlah perempuna atau adegan sanggama, porno atau tidak? Apakah lokasi gambar yang membuatnya tak porno, atau konteks pemaknaannya?
Kebanyakan kita kini sedang kebingungan ke mana arah yang kita tempuh. Kalau kita bersikeras untuk meniti jalur sastra yang “serius” (serius itu apa, terbuka juga untuk polemik panjang), maka kehidupan ekonomi pribadi kita akan merana, sebab buku sastra sedang tak laku.
Atau kita mau meniru gaya bebas para pengarang muda yang justru tak pernah terdengar sebelumnya berkiprah di dunia sastra atau fiksi pada umumnya dengan keberaniannya melukiskan wilayah sekitar selangkangan dengan berbagai hiruk pikuknya, dibungkus dengan berbagai macam alasan untuk mensahkannya sebagai karya yang bagus dan layak pula untuk mendapat royalti puluhan juta.
Mungkin saja ada skenario besar dari pemilik pasar besar untuk menarik para sastrawan terkemuka untuk mengomentari buku-buku karya pengarang-pengarang yang mengedepankan seksualitas itu. Kemudian komentarnya dikutip secara tak lengkap dan diterbitkan bersama bukunya untuk memacu penjualannya. Bisa saja saya dituduh mengira sembarangan, namun perlu juga direnungkan, bahwa keadaan itu tak mustahil. Sang sastrawan terkemuka dengan tak sadar diperalat oleh pasar besar untuk mengomentari karya yang akan dijual.
Soal skenario pasar sudah jelas dapat ditelusuri melalui penerjemahan buku bahkan komik-komik luar negeri, yang menurut sinyalemen Taufiq Ismail isinya bisa menceritakan tentang perselingkuhan guru perempuan dengan murid lelaki. Ini bisa menjadi “pelajaran ” murah bagi murid-murid SMU untuk berbuat yang sama, dengan menyamakan guru mereka yang muda dengan tokoh dalam komik itu.
Novel-novel terjemahan dari luar negeri apa memang kita perlukan? Kenapa justru novel-novel pemenang Novel Sastra jarang muncul terjemahananya, namun novel-novel yang dalam pemasarannya memang laku keras diterjemahkan?
Seratus Tahun Kesunyian yang diterjemahkan oleh Max Arifin dicetak ulang dan baru saja diluncurkan. Dapat dipastikan tirasnya jauh di bawah novel pop terjemahan. Apakah generasi kita memang memerlukan terjemahan serial Harry Potter, agar tak ketinggalan zaman? Padahal di negerinya sendiri karya itu kontroversial.
Perlu dipikirkan lebih masak, tetapi siapa yang mau? Penerbit karya terjemahan mau untung sebesar-besarnya, dan mencari untung adalah hak setiap insan. Pelarangan pasti dituduh sebagai pelanggaran HAM. Kalau kita hanya mengedepankan HAM, kenapa kita tak pernah memikirkan mengenai KAM, yakni Kewajiban Azasi Manusia.
Kita punya kewajiban untuk bukan saja mensejahterakan bangsa secara ekonomi, tetapi juga secara moral. Kapan kita mulai? Bukan dengan pengrusakan tentunya, tetapi dengan persuasi. Belum cukupkah kita menumpuk harta?
Tulisan ini dikutip dari Harian Republika (Jakarta), 19 Agustus 2007.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s