DUSTA


Saut Situmorang

Penyair dan Esais, Tinggal di Yogyakarta
Sinisme historis dalam melihat kondisi “sastra Indonesia” kontemporer
sudah memenuhi kepala saya selama bertahun-tahun waktu saya membaca
artikel berjudul aforistis “Karya Bagus, Argumentasi Lemah” oleh
Chavchay Syaifullah di Media Indonesia, Minggu 8 Oktober 2006 lalu
tentang “kegagapan forum” orang-orang Teater Utan Kayu di arena
sastra “internasional” berbahasa Inggris seperti Ubud Writers and
Readers Festival. Waktu itu saya berada dalam kereta api pagi yang
membawa saya pulang ke Jogja setelah diundang Dewan Kesenian Jakarta
baca-puisi pada acara Tadarus Puisi di Taman Ismail Marzuki (TIM).
Saya ngakak penuh tekstasi setelah selesai membaca
artikel “subversif” tersebut sampai cewek manis di samping saya
melirik dengan matanya yang bersiluet jilbab merah mudanya. Akhirnya
ada juga wartawan budaya yang benar-benar percaya dan
menjalankan “kebebasan pers” yang selama ini cuma jadi retorika omong
kosong wartawan omong kosong di Republik Animal Farm ini, sorak saya
dalam hati. Saya jadi teringat pada apa yang pernah dikatakan
wartawan-cum-novelis kelas wahid dari Inggris, George Orwell: “During
times of universal deceit, telling the truth becomes a revolutionary
act”! Siapa bilang revolusi itu sudah tak ada lagi!!!

Begitu saya sampai di negeri gempa Jogja saya mendengar kabar burung
bahwa Media Indonesia mendapat serangan SMS dari kelompok “sastrawan”
yang namanya disebut-sebut dalam artikel-reportase Chavchay tersebut,
yaitu komunitas Teater Utan Kayu (TUK) dan salah satu SMS tsb bahkan
menyatakan dengan arogan dan sangat patronising bahwa ruang budaya
Media Indonesia dipimpin oleh 2 orang super-bego dan bahwa kedua
orang “super-bego” ini menyebarkan kebodohan di koran nasional
bertiras besar! Betapa arogannya! Betapa reaksionernya! So much for
freedom of the press.

Tapi saya setuju dengan pendapat Chavchay Syaifullah dalam artikelnya
itu. Justru apa yang dia tuliskan itulah merupakan kondisi
memprihatinkan dari apa yang dulu disebut sebagai “sastra Indonesia”
itu, yang membuat saya jadi teridap sinisme sejarah itu.
Politik “sastra” yang dilakukan TUK terlalu kasat mata, terlalu
vulgar, untuk tidak mungkin terlihat oleh orang-orang di luarnya,
seperti saya misalnya. Dan saya sendiri pernah bersinggungan langsung
dengan salah satu dari aktivitas mereka ini sampai berefek skandal di
kota Solo beberapa waktu lalu.

Saya sengaja datang sendiri naik motor bebek Legenda saya dari Jogja
untuk melihat apa yang TUK klaim sebagai sebuah “Temu Sastra
Internasional” yang akan mereka adakan selama 2 malam di Taman Budaya
Surakarta (TBS) Solo, setelah selesai di Denpasar. Saya ingin
membuktikan sendiri benar-tidaknya “internasionalisme” event yang
menurut saya cuma semacam program menebus dosa sejarah kolonialisme
Belanda yang ironisnya justru dilakukan oleh salah satu negeri bekas
jajahannya sendiri itu. Di Solo saya mendapat informasi bahwa
ternyata tidak ada satupun sastrawan Solo yang ikut sebagai peserta
dalam peristiwa sastra antar-bangsa yang justru diadakan di Taman
Budaya kota itu sendiri, kecuali sebagai pembawa acara! Padahal di 2
kota lain di mana acara yang sama juga diarisankan, Denpasar dan
Jakarta, para sastrawan lokalnya terlibat aktif termasuk membacakan
karya masing-masing. Saya dan beberapa kawan seniman asal Solo lalu
merespons arogansi TUK yang seolah-olah menganggap tak ada sastrawan
Solo yang pantas ikut acara mereka yang hebat itu dengan membuat
surat pernyataan dengan tanda tangan para seniman dan non-seniman
dari berbagai latar belakang profesi dan asal-kota dalam bahasa
Indonesia dan Inggris, yang kemudian kami bagi-bagikan pada malam
kedua, termasuk kepada peserta dari luar Indonesia. Respons dari TUK
yang kami terima sudah gampang diduga, mirip dengan respons yang
diterima Chavchay Syaifullah. Kami dituduh macam-macam. Saya sendiri,
misalnya, dalam sebuah artikel-reportase yang ditulis dalam majalah
berita Tempo beberapa hari setelah Skandal Solo itu berlalu dikatakan
sebagai cemburu atau iri hati karena tidak diundang! Disuruh untuk
mengelus dada sendiri! Padahal penulisnya (terkutuklah dia itu!!!)
tidak pernah mewawancarai saya, bahkan hadir pun tidak di Solo! Pada
malam kedua acara “Temu Sastra Internasional” yang kami ganggu dengan
sengaja itu, saya dan kawan-kawan perancang surat pernyataan tersebut
sebenarnya menunggu diajak konfrontasi argumentasi oleh panitia. Kami
menunggu sambil ngebir di warung kopi tepat di depan pintu masuk
gedung TBS itu karena konon seseorang bernama Goenawan Mohamad sangat
tersinggung dengan surat kami itu dan mengklaim kami anti-diskusi.
Sampai kami pindah tempat minum ke sebuah café tengah kota, tak ada
ajakan yang kami tunggu-tunggu itu datang. Malah, kata seorang kawan
yang sengaja ikut malam itu dengan panitia acara, mereka minum-minum
“wine” setelah acara usai di rumah salah seorang seniman tari lokal!
So much for a democratic literary discussion.

Apa yang diamati Chavchay sebagai “kegagapan forum” orang-orang TUK
di arena sastra “internasional” berbahasa Inggris seperti Ubud
Writers and Readers Festival itu cuma membuktikan
kadar “internasionalisme” dan “kosmopolitanisme” komunitas yang
selalu berpretensi paling radikal selera artistiknya ini.
Ketidakmampuan mereka berbahasa Inggris juga dibuktikan oleh jeleknya
terjemahan Hasif Amini atas cerpen-cerpen Jorge Luis Borges yang
ironisnya malah dipuji-puji oleh kawannya seperti Nirwan Dewanto!
Juga coba baca kembali apa-apa yang pernah ditulis oleh Nirwan
Dewanto dalam media yang ada relasinya dengan TUK tentang sastra
Indonesia kontemporer. Klaim-klaim yang dibuat Nirwan Dewanto tentang
puisi Indonesia saja, misalnya, sangat mengada-ada, tidak dapat
dipertanggungjawabkannya dalam konteks “kritik sastra” makanya bisa
disebut “fitnah” , dan sangat arogan sehingga kalau dibandingkan
dengan apa yang dituliskan Chavchay tentang realitas gagap forum
internasional TUK justru sangat pantas untuk disebut “super-bego”.
Dan media cetak yang memuat tulisan-tulisan super-bego dan fitnah itu
sangat pantas juga untuk disebut sebagai “menyebarkan kebodohan di
(media) nasional bertiras besar”! Sementara untuk memuji-muji karya
sesama anggota TUK seperti yang dilakukannya atas Ayu Utami, Nirwan
Dewanto tidak merasa ada persoalan sama sekali untuk menyatakan
(dengan maksud melambungkan reputasi komunitasnya, tentu saja) bahwa
Ayu Utami tidak terlahir dari sejarah sastra Indonesia, misalnya,
walau tetap saja dia impoten untuk mengelaborasi apa yang
dimaksudkannya dengan klaim pseudo-kritik sastranya itu.

Narsisisme TUK ini akan lebih jelas lagi terlihat dari kutipan di
bawah ini yang saya ambil dari sebuah artikel berjudul “The Search
for a Silver Lining in Indonesia” di edisi bahasa Inggris majalah
Jerman Der Spiegel 23 Desember 2005. Dalam artikel yang juga menyebut-
nyebut nama Ayu Utami itu, perhatikanlah kata-kata yang saya beri
tanda-kutip di bawah:

“The Utan Kayu cultural center in Jakarta provides a perfect example
of progress, Indonesian style. It was ‘here’ that ‘the foundation of
modern Indonesia’ was ‘laid’ not too long ago. In the summer of 1994,
when then dictator Suharto ordered three news magazines shut down,
journalists and writers bought a group of run-down buildings at Utan
Kayu 68 H and opened a publishing house — in direct defiance of the
dictator’s edict. A ‘left-leaning political movement’ soon developed
and, in 1998, Utan Kayu became ‘the starting point’ for the mass
demonstrations that led to Suharto’s ouster.”

Benarkah TUK merupakan tempat di mana fondasi dari Indonesia modern
diletakkan? Benarkah TUK merupakan sebuah gerakan politik kiri dan
yang menjadi awal-mula dari gerakan reformasi yang menjatuhkan
diktator Suharto?

Kalau kita mengatakan bahwa ini terjadi karena kesuperbegoan wartawan
Der Spiegel yang buta akan sejarah jatuhnya Suharto, lantas dari mana
dia mendapatkan informasinya tersebut? Juga, bukankah sebego-begonya
seorang wartawan dari sebuah media internasional sekaliber Der
Spiegel, dia tetap akan mendasarkan reportasenya itu pada wawancara
dengan pihak yang bersangkutan, nara sumber (seperti yang juga
tersirat dalam artikelnya itu) dan tidak berdasarkan khayalan semata-
mata?

Persoalan “kebenaran jurnalistis” ini sangat relevan saat ini
terutama dengan apa yang terjadi atas satu lagi laporan Chavchay
Syaifullah di koran Media Indonesia baru-baru ini. Laporan pandangan
mata langsung Chavchay atas acara Utan Kayu International Literary
Biennale 2007 di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, 23 Agustus 2007,
berjudul “Geger Menangis, Pesta Bir Berlanjut” (Media Indonesia,
Minggu 26 Agustus 2007) ternyata benar-benar menimbulkan geger.
Chavchay dituduh sebagai membuat “berita yang mengandung fitnah
berat” terhadap Utan Kayu International Literary Biennale 2007 tsb
dan “sedikitnya empat kebohongan” (baca “Bantahan Panitia
Penyelenggara Utan Kayu International Literary Biennale 2007,
Komunitas Utan Kayu, Jakarta” yang berjudul “Empat Dusta” di Media
Indonesia, Minggu 2/9/2007), menurut orang-orang TUK. Dalam
bantahan “Empat Dusta” tsb, Sitok Srengenge sebagai “Direktur Utan
Kayu International Literary Biennale” bahkan menyatakan
bahwa “Chavchay Syaifullah ‘seolah-olah’ melakukan reportase acara
pembukaan Utan Kayu International Literary Biennale 2007” tsb [tanda-
kutip saya]. Laporan pandangan mata Chavchay itu dianggap “fitnah
berat”, “berita bohong”, “seolah-olah. . .reportase” cuma karena
Chavchay tidak melakukan apa yang dianggap orang TUK sebagai hukum
utama jurnalisme, yaitu asas “cover both sides”! Walau Chavchay bisa
menunjukkan bukti rekaman atas apa yang dinyatakan penyair Geger
Prahara (bahwa dia “diusir satpam” acara Utan Kayu International
Literary Biennale 2007), misalnya, tapi bukti rekaman tsb tetap tidak
dianggap valid sebagai bukti jurnalistik oleh orang TUK! (Dalam
sebuah SMS kepada saya Saut Situmorang, Geger juga menyatakan: “Kbr
baik! Apa kbr jg? Kasus dgn Satpam 100% fakta! Yg fiktif adalah soal
menangis. Salam Geger”.)

Disamping Kasus Geger ini, satu isu lain yang dianggap
sebagai “fitnah” itu adalah soal “pesta bir” yang dituliskan
Chavchay, sementara perihal “kerjasama yang biasa aja” (dalam bahasa
Zen Hae, Ketua Komite Sastra, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), di SMS-
nya kepada saya) yang dilakukan DKJ dalam mendukung acara yang bukan
program resminya itu dengan sengaja diabaikan sama sekali. (Ada
sebuah ironi di sini. DKJ mengeluarkan uangnya sampai puluhan juta
untuk “kerjasama yang biasa aja” ini, tapi mengaku tidak punya uang
waktu sastrawan Jakarta bernama Sihar Simatupang datang minta bantuan
tiket sekali-jalan ke Medan yang mengundangnya sebagai pembicara
dalam event sastra “internasional” Puisi Dunia!)

Pembelaan Sitok Srengenge menarik soal “pesta bir” tsb. Dia bilang
bahwa “Penyediaan bir adalah suatu kelaziman dalam jamuan
internasional. Hal itu juga bukan pertama kalinya terjadi di Taman
Ismail Marzuki.” Saya adalah seorang yang sangat mencintai bir,
terutama bir pilsener yang dingin. Saya yakin tak ada makhluk hidup
di TUK yang mampu minum bir dingin sebanyak saya, hehehe… Saya juga
tahu bahwa image peminum bir memang tidak positif di negeri ini, beda
dengan di Barat di mana minum bir tidak ada bedanya dengan minum
kopi, sebuah properti sosialisasi. Inilah romantisme para pencinta
bir di negeri ini. Jadi kalau dalam sebuah peristiwa sastra besar,
yang “internasional” lagi, di negeri ini dan yang dihadiri banyak
orang-orang negeri ini, disediakan bir untuk diminum bebas, kan wajar
kalau ada yang risih! Sastra kan sudah dianggap budaya adiluhung di
negeri ini, sementara bir merupakan kebalikannya. Masak budayawan
Indonesia tidak paham dengan realitas masyarakatnya sendiri ini! Soal
mabuk karena ngebir, itu kan juga relatif. Apa memang banyak orang
Jakarta yang benar-benar sanggup minum sebanyak penyair Saut
Situmorang dan tidak teler! “Mabuk” kan beragam definisinya. Minum
empat botol besar bir dingin bagi saya itu belum “mabuk”, tapi minum
satu gelas bir mungkin saja akan membuat orang Indonesia
lain “mabuk”. Jadi ini kan soal bahasa, masak penyair besar Indonesia
tidak paham dengan bahasa nasionalnya sendiri! Juga, kalau memang
benar “Penyediaan bir adalah suatu kelaziman dalam jamuan
internasional”, kenapa waktu “jamuan internasional” yang diadakan TUK
di TBS Solo beberapa tahun lalu itu tidak disediakan bir? Saya dan
kawan saya terpaksa harus menyediakan sendiri bir kami di malam-malam
Solo yang panas itu. Apa karena Temu Sastra di Solo itu memang kurang
atau malah tidak “internasional”!

Kalau Chavchay dibilang membuat “fitnah” dan “dusta” dalam reportase
jurnalistiknya yang jujur dan berani itu sampai dia harus
dipindahtugaskan pimpinannya karena desakan otoriter seorang mogul
media massa yang cuma mengingatkan saya pada film “Citizen Kane”
karya Orson Welles, sebagai resiko seorang wartawan kecil tapi berani
di negeri yang tak menghormati kebebasan berpendapat ini, bagaimana
dengan reportase wartawan Der Spiegel di atas? Apakah dia sudah
melakukan asas “cover both sides” yang dijadikan senjata pembungkam
Chavchay itu? “Both sides” mana yang sudah di-cover-nya? (Skandal
Chavchay itu sendiri, menurut kabar terakhir, belum “dianggap
selesai” oleh TUK. Alasannya: “Catatan Redaksi” yang ditulis Edy A
Effendi untuk menemani bantahan “Empat Dusta” Sitok Srengenge
membuat “persoalan jadi terbuka lagi”!)

Sebagai penutup, baiklah saya paparkan beberapa “dusta” saya ini
sebagai suplemen “dusta” Chavchay Syaifullah:

* novel “Saman” Ayu Utami memanipulasi komentar Pramoedya Ananta Toer
dalam “blurb” di sampul belakang novel tsb dengan cara mengutip
secara tidak benar apa yang dinyatakan Pramoedya Ananta Toer.

* Ayu Utami menang Prince Claus Award dari Negeri Belanda sebelum
terjemahan Belanda novelnya itu selesai. Pertanyaan sederhananya:
Bagaimana para juri Prince Claus Award bisa mengetahui kehebatan Ayu
Utami?

* tulisan-tulisan akhir tahun Nirwan Dewanto tentang sastra Indonesia
di majalah Tempo adalah fitnah dan penghinaan besar terhadap sastra
dan sastrawan Indonesia kontemporer.

* posisi Hasif Amini sebagai redaktur Sajak-sajak Kompas Minggu cuma
menguntungkan kawan-kawannya belaka, terutama Nirwan Dewanto yang
sajak-sajaknya selalu muncul satu halaman penuh sementara para
penyair lain dimuat beramai-ramai.

* gosip beredar tentang pernyataan Sitok Srengenge bahwa “Sastrawan
Indonesia” hanyalah “mereka yang diundang ke acara sastra TUK” saja.

* makanya menjadi “Sastrawan Indonesia”lah orang-orang semacam Laksmi
Pamuntjak dan Avi Basuki.

Tulisan ini dikutip dari http://artculture-indonesia.blogspot.com, 3 September 2007.

Iklan

One response to “DUSTA

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s