ESTETIKA KOMUNITAS SASTRA


Budi Darma

Kritikus Sastra


Komunitas Tanpa Label

Jangan dikira bahwa komunitas sastra hanya ada di Indonesia, sebab, komunitas sastra ada di mana-mana, di seluruh dunia. Juga, jangan dikira bahwa komunitas sastra di Indonesia baru ada mulai tahun 1980-an, sebab, jauh sesudah itu sebetulnya sudah ada komunitas sastra. Ingat, komunitas hanyalah sebuah label, sementara, ada label atau tidak, selama substansi komunitas ada, maka komunitas sastra pun ada.

Kalau ingin tahu komunitas sastra tanpa label “komunitas,” cobalah berkunjung ke makam Sutan Takdir Alisyahbana di Tugu, Bogor. Makam Sutan Takdir Alisyahbana di sana berdampingan dengan makam isteri terakhir Sutan Takdir Alisyahbana sendiri, tidak jauh dari sebuah lereng sungai. Makam ini terletak di pekarangan sebuah rumah besar milik Sutan Takdir Alisyahbana. Dalam sejarah sastra Indonesia, rumah ini mungkin tidak tercatat, namun, sebetulnya, rumah ini mempunyai andil terhadap perkembangan sastra. Dulu, ketika Sutan Takdir Alisyahbana masih muda, sekali-sekali dia mengundang sastrawan-sastrawan yang umurnya lebih muda daripada dia, antara lain Mochtar Lubis. Rumah itu dijadikan tempat mengobrol, bersilaturahmi, dan juga berdiskusi.

Sastrawan-sastrawan yang berkumpul di sana pada hakikatnya tergabung dalam sebuah komunitas sastra, meskipun mereka tidak secara khusus mempunyai minat untuk membentuk komunitas sastra. Lepas dari tidak adanya minat untuk membentuk sebuah komunitas sastra, pada hakikatnya mereka sudah berada dalam sebuah komunitas sastra, tentu saja tanpa label “komunitas.”

Kita tahu bahwa Sutan Takdir Alisyahbana dikenal pula sebagai tokoh sentral Angkatan Pujangga Baru, sebuah angkatan dalam sastra tahun 1930-an. Pada waktu itu, Sutan Takdir Alisyahbana sering berdiskusi dengan teman-teman sebayanya, antara lain Armyn Pane. Bahkan, dengan para pemikir sebayanya, dia menjadi tokoh penting dalam Polemik Kebudayaan tahun 1930-an, sebuah polemik mengenai landasan kebudayaan Indonesia masa depan. Gema polemik ini tampak pula dalam sastra waktu itu, yaitu, di satu pihak, kita harus menengok ke Barat sebagaimana yang tercermin dalam novel Sutan Takdir Alisyahbana Layar Terkembang, dan di pihak lain, kita harus menengok ke Timur, sebagaimana yang tersirat dalam karya sastra Sanusi Pane. Angkatan Pujangga Baru tidak pernah diberi label “komunitas,” meskipun, substansinya, angkatan ini tidak lain adalah sebuah komunitas pula.

Jangan dikira bahwa Angkatan 45 pada hakikatnya bukan komunitas. Tengok sedikit perihal kehidupan mereka. Ada sepasang tokoh sentral, HB Jassin sebagai penemu bakat dan Chairil Anwar sebagai pembaharu. Dua orang ini dan teman-temannya sering berkumpul-kumpul, berdiskusi, dan, langsung atau tidak, diskusi mereka masuk ke dalam karya mereka. Tengoklah, misalnya, surat Idrus kepada H.B. Jassin dan jawaban H.B. Jassin kepada Idrus. Dalam surat-menyurat ini tampak, Idrus menulis sebuah cerpen, entah apa judulnya, untuk mengritik  H.B. Jassin, dan HB Jassin, setelah membaca cerpen itu, sama sekali tidak merasa kena kritik Idrus.

Sekarang, bayangkanlah seandainya sastrawan Angkatan 45 ini hidup sendiri-sendiri di kota yang berbeda-beda pula. Apakah Angkatan 45 akan lahir sebagaimana yang kita kenal sekarang? Pasti tidak akan sama. Angkatan 45 menjadi Angkatan 45 tidak lain karena hubungan antarsastrawan waktu itu adalah hubungan antar-anggota komunitas, meskipun mereka sama sekali tidak pernah dianggap sebagai komunitas. H.B. Jassin menemukan bakat Chairil Anwar sebagai penyair, antara lain, karena pergaulan mereka sehari-hari dan Chairil Anwar mengembangkan bakatnya sedemikian rupa, antara lain, karena dia sempat berdiskusi dengan intens dengan H.B. Jassin, Asrul Sani, dan teman-teman lain.

Bakat Alam dan Intelektualisme

Marilah kita tengok esai Soebagio Sastrowardoyo “Bakat Alam dan Intelektualisme” mengenai dua generasi dalam sastra, yaitu Generasi Kisah dan Generasi Horison. Generasi Kisah adalah generasi para pengarang cerpen yang menerbitkan cerpen-cerpen mereka di majalah sastra Kisah pada tahun 1950-an dan Generasi Horison adalah generasi para sastrawan yang menerbitkan karya-karya mereka melalui majalah Horison sesudah tergulingnya kekuasaan Presiden Soekarno. Menurut Soebagio Sastrowardoyo, Generasi Kisah dapat dianggap mewakili sastrawan yang mengandalkan diri pada bakat alam mereka, sedangkan Generasi Horison adalah mereka yang kecuali memiliki bakat alam, pada hakikatnya mereka adalah juga kaum intelektual.

Generasi Kisah mempunyai tokoh sentral, yaitu H.B. Jassin. Hampir setiap hari, beberapa pengarang cerpen bergaul dengan H.B. Jassin, mengobrol, berdiskusi, dan bermain-main di kawasan Senen, Jakarta, kawasan yang pada waktu itu sering dikunjungi oleh para seniman, dan dari hasil pergaulan itu, lahirlah cerpen-cerpen para pengarang cerpen pada waktu itu, antara lain cerpen-cerpen Soekanto S.A. dan S.M. Ardan. Andaikata mereka tidak berkumpul-kumpul, mungkin mereka tidak akan begitu terpicu untuk menulis, dan andaikata pun menulis, mungkin karya mereka akan berbeda. Kendati Generasi Kisah tidak mengenal label “komunitas,” pada hakikatnya, mereka berada dalam sebuah komunitas sastra.

Generasi Horison, menurut Soebagio Sastrowardoyo, berbeda. Mereka hidup sendiri-sendiri, berpikir sendiri-sendiri, dan berkarya sendiri-sendiri. Bahwa sekali tempo mereka bertemu, tentu saja benar, tapi, mereka tidak lahir karena pertemuan-pertemuan tatap muka itu. Kita mafhum bahwa majalah Horison pernah merajai standar sastra sampai dengan akhir tahun 1970-an, dan, para pengarang yang muncul di situ muncul karena “diri mereka sendiri”.

Romantisisme

Sekali lagi, jangan dikira bahwa komunitas sastra harus punya label resmi “komunitas”, dan sekali lagi, jangan dikira komunitas sastra hanya ada di Indonesia. Sekarang, tengoklah perkembangan sastra dunia, khususnya aliran atau mazhab-mazhab dalam sastra. Puncak perkembangan sastra dunia dapat kita lihat dalam Romantisisme, akhir abad ke-18 sampai dengan menjelang pertengahan abad ke-19, kemudian masuk ke Belanda pada awal abad ke-20, dan mempengaruhi penyair-penyair Pujangga Baru pada tahun 1930-an. Tidak ada aliran atau mazhab lain yang rentang waktunya lebih panjang daripada Romantisisme, kecuali, tentu saja, Rennaisance yang pada hakikatnya bukan aliran dan bukan pula mazhab. Rennaisance adalah Zaman Kelahiran Baru atau Kebangkitan Baru yang melanda seluruh Eropa sebagai kalanjutan dari stagnasi peradaban pada Abad Pertengahan atau Zaman Kegelapan. Rentang waktu Rennaisance lebih dari satu abad dan di dalam Rennaisance sendiri terdapat berbagai aliran dan mazhab.

Bukan karena soal rentang waktu saja Romantisisme menjadi amat penting, tapi juga karena sambutan masyarakat terhadap para penyair waktu itu. Ketika salah seorang penyair Romantisisme, Shelley, menyatakan bahwa “penyair adalah pembuat undang-undang dunia” dan “penyair adalah nabi”, pada hakikatnya, penyair ini menyuarakan aspirasi masyarakat waktu itu akan pentingnya kedudukan penyair dalam peradaban umat manusia. Dengan penuh semangat, masyarakat menyambut ungkapan ini sebagai sebuah kebenaran. Penyair harus dihormati dan puisi mereka harus disimak dengan rasa penuh hormat pula.

Dua di antara penyair Romantisisme,yaitu Shelley dan Byron, disambut di seluruh Eropa dengan penuh semangat, seolah mereka benar-benar “pembuat undang-undang dunia” dan “nabi”. Sambutan yang luar biasa hebat tampak, antara lain, ketika Byron menerbitkan puisi The Corsair. Dalam waktu satu hari, bayangkan, pada awal abad ke-19, ketika jumlah penduduk masih sangat sedikit, puisi ini habis dibeli sejumlah 10.000 (sepuluh ribu copy) (Literature: The English Tradition. Eds. Elleen Thompson, et.al., 1991. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall. Hlm. 688). Byron adalah orang Inggris, tetapi ketika dia meninggal di Yunani pada tahun 1824, penduduk mengibarkan bendera setengah tiang selama tiga hari.

Sekarang, marilah kita tengok Romantisisme sebagai sebuah komunitas sastra, meskipun label “komunitas” sama sekali tidak pernah diberikan kepada Romantisisme. Kalau kita melihat hubungan antara filsafat dan sastra, akan tahulah kita bahwa cikal-bakal pemikiran para penyair Romantisisme awalnya bersumber dari pemikiran filsuf Rousseau. Makin tua peradaban, makin kejam peradaban itu; makin maju industri, makin tercemar dan makin sengsaralah manusia; makin rasional manusia, makin irrasionallah manusia, dan karena itu, manusia harus kembali ke alam sebagai sumber kehidupan yang murni dan suci, dan karena itu pula, sumber kebajikan manusia sebetulnya tidak terletak pada orang tua, tapi pada anak-anak yang masih inosen, inilah antara lain pemikiran Rousseau yang kemudian diserap oleh para penyair Romantik.

Gagasan Rousseau juga menjadi salah satu embrio sebab-musabab meledaknya Revolusi Prancis: dari segi rasionalitas raja dan para bangsawan dengan kehidupan mereka yang makmur, kekuasaan mereka yang tanpa batas, serdadu-serdadu mereka yang kenyang, bersenjata lengkap, terlatih dengan baik untuk bertempur pasti akan menang, dan rakyat pasti akan kalah. Tapi, karena rakyat memiliki semangat tinggi, akhirnya, rakyat menang. Pada waktu Revolusi Prancis masih berlangsung, seorang pemuda Inggris, William Wordsworth namanya, sangat tertarik pada revolusi itu, dan, karena itulah, dia pergi ke Prancis. Di Prancis, dia berusaha untuk hidup sebagai orang Prancis, berpikir dalam bahasa Prancis, berbicara dalam bahasa Prancis, berperilaku sebagai orang Prancis dan juga makan makanan Prancis.

Pemuda William Wordsworth inilah yang kemudian, setelah kembali ke Inggris, terkenal sebagai penyair Romantik Generasi Pertama. Sebagian besar puisinya, tidak lain, adalah pencerminan gagasan filsuf Rousseau. Dia bergaul rapat dengan beberapa pemuda, antara lain Coleridge dan Southey. Karena keyakinan mereka bahwa untuk memurnikan kehidupan, mereka harus kembali ke alam, maka mereka pun tinggal jauh dari keramaian kota, di sebuah tempat tidak jauh dari danau yang indah. Mereka inilah yang kemudian dalam sejarah Romantisisme dinamakan sebagai Lake District Poets (Para Penyair Distrik Danau).

Memang, sesuai dengan perkembangan waktu dan juga perkembangan gagasan mereka masing-masing, akhirnya, mereka berpisah. Southey mengembara ke Amerika, Coleridge mengembara di Jerman, dan Wordworth sendiri mengembara ke berbagai kawasan di Inggris. Namun, apa pun yang kemudian terjadi, kemunculan mereka pertama tidak lain dipicu oleh kedekatan hubungan mereka. Melalui berbagai pertemuan antarsahabat, diskusi, dan saling menyemangati, lahirlah Romantisisme.

Itulah yang terjadi pada para penyair Romantisisme Generasi Pertama. Setelah generasi ini, muncullah kemudian para penyair Romantisisme Generasi Kedua dengan para penyair terkemukanya, yaitu Shelley, Byron, dan Keats. Karena kesehatannya sangat buruk, Keats hampir selamanya tinggal di tempat tidur, dan karena itu, tidak mungkin mengembara dengan bebas. Shelley dan Byron, sebaliknya, mempunyai kesempatan yang amat luas untuk mengembara ke berbagai kawasan di Eropa. Persahabatan mereka inilah yang kemudian memberi warna khas pada puisi mereka. Mereka sering bertukar pikiran, saling menyemangati, dan “saling berlomba” menulis puisi. Karena itulah, ketika Shelley meninggal setelah mengalami kecelakaan di arung jeram tidak jauh dari Byron berada, Byron merasa sangat terpukul. Dalam keadaan putus asa, apalagi anak perempuannya juga baru saja meninggal, Byron memutuskan untuk menggabungkan diri dengan pasukan Yunani melawan pasukan pendudukan Turki.

Persahabatan mereka juga telah meninggalkan jejak monumetal dalam sastra, yaitu lahirnya novel Goethic Frankenstein. Waktu itu, Shelley, isterinya (Mary Shelley), Byron, dan teman-teman mereka sedang mengembara ke pegunungan Alpen. Pada suatu malam, di bawah sinar bulan, mereka mengobrol mengenai berbagai hal, antara lain sastra, filsafat, musik, seni lukis, dan lain-lain. Ketika percakapan mencapai titik-titik hangat, Mary Shelley minta izin untuk masuk ke kamar terlebih dahulu. Setelah berada di kamar, mulailah dia menulis Frankenstein.

Puisi Romantisisme pada hakikatnya lahir karena adanya komunitas, demikian pula novel Frankenstein. Tanpa komunitas, mungkin, puisi Romantisisme tidak akan sehebat seperti yang pernah kita saksikan, dan tanpa komunitas pula, mungkin, Frankenstein tidak akan ada, dan andaikata ada pun, mungkin akan berbeda dengan Frankenstein sebagaimana yang kita kenal. Meskipun tanpa pernah diberi label “komunitas”, Romantisisme pada hakikatnya lahir dari komunitas sastra.

Paguyuban

Sebelum istilah “komunitas” populer, sebetulnya sudah ada istilah lain pinjaman dari bahasa Jawa, yaitu “paguyuban,” seperti “Paguyuban Orang-Orang Blora” di Jakarta, “Paguyuban Pencinta Mojopat” di Surabaya, dan berbagai paguyuban di tempat-tempat lain. Sekelompok orang ini mempunyai “paguyuban” karena hubungan antar-anggota paguyuban benar-benar “guyub” alias rapat, bagaikan hubungan antar-anggota sebuah keluarga besar.

Sampai sekarang, sebetulnya, beberapa “paguyuban” tetap menamakan diri mereka sebagai “paguyuban” tanpa mengubahnya menjadi “komunitas”. Namun, sekali lagi, pada hakikatnya, dua istilah itu mengacu pada substansi sama. “Komunitas” (community) mengacu pada sekelompok orang yang karena kepentingan bersama menginginkan komunikasi (communication) di antara sesama mereka. Kepentingan bersama bisa mempunyai banyak makna, antara lain berupa kesamaan hobi. Berbagai komunitas yang sekarang banyak bertebaran di kota-kota besar, seperti komunitas tari perut, komunitas musik gambus, komunitas pembaca buku, muncul karena kesamaan hobi pula.

Karena perkembangan zaman menyebabkan komunikasi tatap muka tidak semudah dahulu lagi, maka berbagai komunitas di kota-kota besar pada umumnya lebih subur pertumbuhannya dibandingkan dengan di kota-kota kecil. Di kota-kota besar boleh dikatakan semua orang sibuk, sementara jarak dari satu tempat ke tempat lain sangat jauh. Karena itulah, mereka memerlukan waktu khusus berdasarkan kesepakatan bersama untuk saling bertemu, melepas rindu, membicarakan hobi bersama, dan sebagainya.

Komunitas sekarang pada umumnya lebih terprogram daripada dahulu. Lihatlah komunitas-komunitas dahulu, meskipun dahulu mereka tidak memakai label “komunitas”. Di Yogya dahulu ada sekelompok sastrawan muda yang hampir tiap malam berkumpul di Jalan Malioboro dengan tokoh sentral Umbu Landu Parangi. Mereka dapat bertemu dengan mudah tanpa perlu mengatur jadwal pertemuan dan materi pertemuan. Keadaan serupa juga dialami oleh Wilson Nadeak dan teman-temannya para sastrawan di Medan dahulu. Contoh lain masih banyak, antara lain Generasi Kisah dengan tokoh sentral H.B. Jassin, kelompok seniman kawasan Senen di Jakarta, dan lain-lain.

Tentu saja, dalam setiap komunitas akhirnya hukum alam akan berlaku juga. Komunitas adalah sebuah ajang untuk saling bekerja sama, menumbuhkan kemampuan semua anggota komunitas secara bersama, namun akhirnya, ada anggota yang “jadi” dan ada pula yang “tidak jadi”. Sebagai contoh, tengoklah Bengkel Teater Rendra di Yogya. Semua anggota saling belajar dengan tokoh sentral Rendra. Dalam perjalanan komunitas tanpa label “komunitas” ini kemudian tampak bahwa Putu Wijaya dan Arifin C. Noor mempunyai kelebihan dibanding dengan anggota-anggota lain. Dua tokoh ini “melepaskan diri” dari Bengkel Teater dan jadilah mereka tokoh-tokoh teater yang andal dengan komunitas masing-masing.

Generasi yang Hilang

Di mana-mana, hukum alam semacam ini pasti berlaku. Ambillah, misalnya, The Lost Generation di Paris antara Perang Dunia I dan Perang Dunia II dengan tokoh sentral Gertrude Stein. Karena tertarik oleh kharisma Gertrude Stein, yang dalam sastra Indonesia dapat dicari padanannya pada sosok H.B. Jassin tahun 1950-1960-an awal, banyak sastrawan muda asing di Paris sering berkumpul bersama dengan Gertrude Stein. Pada umumnya mereka adalah anak-anak muda yang makmur setelah mendapat uang banyak dari Perang Dunia I, namun kosong spiritual.

Pada suatu hari, ketika mereka kesulitan untuk memperbaiki sebuah mobil mogok, berkatalah Gertrude Stein dengan nada berseloroh: “Oh, you are the lost generation.” Anak-anak muda itu, bagi Gertrude Stein, makmur hidupnya, namun bego otaknya dan kosong jiwanya. Dari gurauan ini, kemudian lahirlah sebuah istilah dalam sastra, “The Lost Generation”. Sebetulnya, banyak sekali anak muda yang waktu itu bergabung dengan Gertrude Stein, namun, akhirnya, yang benar-benar muncul hanya satu orang, yaitu Ernest Hemingway.

Seandainya Ernest Heminway tidak pernah bergabung dengan kelompok Gertrude Stein, mungkin, bobot dia sebagai pengarang akan berbeda. Ingat, hampir semua bahan dalam novel-novel Hemingway adalah kisah-kisah pribadi dia, yang diramu dengan berbagai hasil diskusi santai dengan teman-teman dia pada waktu itu. Komunitas sastra, tanpa atau dengan label “komunitas,” ternyata dalam banyak hal telah memberi sumbangan besar bagi perkembangan banyak sastrawan.

Perlawanan terhadap Standar

Kalau tidak salah, komunitas sastra mulai populer di Indonesia pada akhir tahun 1980-an. Ada komunitas berdasarkan daerah geografis, seperti Jabotabek, ada juga komunitas berdasarkan daerah geografis dengan ciri khas daerah tertentu, seperti Negeri Poci berdasarkan ciri khas kota Tegal dengan teh pocinya, ada pula yang didasarkan pada statusya, seperti Sastra Pedalaman dan Sastra Pesisiran,  yang kecuali mengacu pada kawasan geografis, juga mengacu pada konotasi kemarginalan. Kalau tidak salah pula, sebagian komunitas itu mempunyai tujuan yang jelas, yaitu melawan dominasi sastra Jakarta.

Pandangan umum memang menyiratkan, sastra yang tidak diterbitkan di Jakarta bukanlah sastra dalam arti yang sebenarnya. Jakarta pun dibatasi Jakarta yang mana dan Jakarta yang mana ini tidak lain adalah media masa atau penerbit yang mempunyai kharisma dalam percaturan sastra. Motivasi komunitas untuk melawan hegemoni standar tertentu bukan hanya terjadi di Indonesia saja, tapi si seluruh dunia.

Perlawanan terhadap hegemoni standar tertentu tidak lain juga merupakan salah satu ciri khas posmo. Semua standar adalah standar dan semua kekuatan adalah kekuatan, karena itu, standar atau kekuatan tidak perlu mengacu pada pusat tertentu. Selama semangat dan aspirasi posmo masih ada, komunitas sastra tetap ada dan mempunyai makna penting bagi para anggotanya.

Namun, tentu saja, tidak semua komunitas ingin “melawan” hegemoni standar tertentu. Komunitas muncul karena adanya hasrat untuk memberi sumbangan kepada keberagaman. Tengoklah, misalnya, Lingkar Pena, sebuah komunitas tanpa label “komunitas” yang telah berhasil menyuburkan bakat para sastrawan muda sebagai sarana untuk menjadi sastrawan dalam arti yang sebenarnya.

Komunitas sastra Buruh Migran Hongkong, yang juga erat kaitannya dengan Lingkar Pena, telah berjasa pula untuk menyumbangkan suara bahwa para pekerja migran di Hong Kong pun, kalau diberi kesempatan dan diberi wadah, sanggup pula memberi sumbangan kepada sastra. Tanpa atau dengan label “komunitas,” setiap komunitas pada hakikatnya merupakan wadah komukasi bersama dan dari komunikasi bersama inilah, estetika tertentu akan muncul.

Tentu saja, komunitas sastra banyak corak dan ragamnya. Ada komuntas yang seolah anggota-anggotanya berjalan sendiri-sendiri dengan diam-diam, ada pula yang tidak. Contoh komunitas dengan anggota-anggotanya yang “bersahut-sahutan” tampak, misalnya, pada kumpulan cerpen Kurnia Effendi, Burung Kolibri Merah Dadu. Semua cerpen ditulis untuk sahabatnya dan masing-masing cerpen juga lahir karena persahabatan dengan sesama pengarang.

Tokoh-Tokoh Kuat

Awalnya, komunitas hanyalah sekelompok orang yang saling berkomunikasi karena kepentingan atau hobi sama. Komunitas tidak mempunyai program yang jelas, hubungan antar-anggota hanyalah semacam persahabatan atau persaudaraan, dan siapa pun bisa masuk dan bisa pula keluar tanpa ikatan apa-apa. Untuk mendirikan komunitas tidak diperlukan surat-surat resmi karena komunitas pada awalnya bukan lembaga resmi. Majalah Pujangga Baru sebagai corong pemikiran para sastrawan Pujangga Baru memang merupakan badan resmi dan harus memiliki surat-surat resmi, namun, Pujangga Baru sendiri sebetulnya hanyalah sebuah komunitas tanpa ikatan terhadap siapa pun. Majalah Siasat dengan lembar kebudayaannya sebagai salah satu sarana ekspresi gagasan-gagasan para sastrawan Angkatan 45 juga merupakan badan resmi, namun Angkatan 45 sendiri sebagai komunitas bukanlah suatu badan resmi.

Komunitas-komunitas tanpa ikatan akan tetap ada karena hakikat “komunitas” memang tidak menuntut adanya ikatan-ikatan yang betul-betul mengikat. Namun, perkembangan zaman membawa perubahan pula. Sebuah komunitas bisa berkembang menjadi besar, menjadi badan hukum serta mempunyai jaringan luas, mengelola banyak bisnis, termasuk bisnis media massa, dan mempunyai pengaruh kuat di masyarakat. Komunitas semacam ini bisa muncul sebagai penentu standar estetika baru sastra arus besar.

Apakah sebuah komunitas akan menentukan perkembangan sastra atau tidak bergantung pada banyak hal, terutama bergantung pada kualitas tokoh sentralnya. Angkatan Pujangga Baru sebagai komunitas menjadi kuat tidak lain karena tokoh-tokoh sentralnya, antara lain Sutan Takdir Alisyahbana dan Armyn Pane, adalah pribadi-pribadi yang kuat. Angkatan 45 idem dengan tokoh sentralnya Chairil Anwar dan H.B. Jassin.

Akhirnya, apa pun yang akan terjadi, hukum alam pasti berlaku. Salah satu hukum alam ini terekam dalam sebuah ungkapan “birds of the same feather flock together”, yaitu burung-burung yang sama bulunya pasti akan hinggap bersama pula. Orang-orang kuat, kalau ingin terlibat dalam komunitas, pasti bergabung dengan orang-orang kuat pula, dan karena itu, komunitasnya akan menjadi komunitas yang kuat pula.*

Tulisan ini dikutip dari buku Komunitas Sastra Indonesia: Catatan Perjalanan, editor Ahmadun Yosi Herfanda dkk., Tangerang: KSI, 2008, hlm. 51-57.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s