KEMESRAAN DAN PERCEKCOKAN KESUSASTRAAN


Binhad Nurrohmat

Penyair

SEKURANGNYA, pada masa Balai Pustaka (1920-an) sastra modern kita mulai menggeliat. Berdirinya Balai Pustaka merupakan pengaruh perubahan politik di negeri Belanda yang menghembuskan Politik Etis ke negeri jajahannya.
Melalui Balai Pustaka, sastra modern kita menguak gerbang sejarahnya dengan sejumlah karya dan pengarang yang kini dianggap klasik dalam sastra modern kita. Penerbit ini didirikan di Jakarta dan menerbitkan bacaan resmi karya pengarang pribumi berdasarkan ukuran kesusastraan yang berbau agenda pemerintah kolonial.
Pada masa itu, bacaan yang menyimpang dari ukuran Balai Pustaka dinista sebagai bacaan liar, misalnya bacaan berbahasa Melayu rendah serta bacaan yang bersifat anti-Belanda, berpandangan liberal, dan berideologi kiri. Pemerintah Belanda juga berupaya memonopoli pasar buku agar rakyat inlander terhindar dari pengaruh bacaan liar.
Pada 1933 di Jakarta terbit majalah kebudayaan dan kesusastraan Pujangga Baru yang mengembangkan sastra Indonesia modern bergaya Barat, romantik, dan berwatak nasionalisme kooperatif. Di majalah ini terjadi polemik kebudayaan tentang Timur dan Barat, menjadi media kaum intelektual nasionalis untuk menjelaskan Indonesia sebagai kesatuan budaya dan politik, dan melahirkan gaya ekspresi yang khas dalam puisi, roman, dan esai polemik.
Tapi, majalah ini tak diterima sepenuhnya oleh kaum pergerakan dan melalui Harian Bintang Timur, mereka mencibir westernisme Pujangga Baru serta hubungannya dengan Balai Pustaka dan perusahaan percetakaan Kolff. Majalah ini tak beredar lagi sejak kedatangan Jepang pada 1942.
Jepang mencoba menghapus warna Belanda dari kehidupan kebudayaan kita dan ini tanda berakhirnya generasi Pujangga Baru, tapi belum memupus pengaruhnya. Tanda ini mulai menguat sejak beredarnya puisi Chairil Anwar yang menyingkiri norma Pujangga Baru dan menjadi tonggak generasi Angkatan 45.
Watak revolusioner puisi Chairil Anwar melahirkan individualisme dan pengucapan yang khas yang bertumbuh bersamaan dengan deru revolusi nasional dan menjadi puisi garda depan yang berpengaruh mendalam bagi perpuisian Indonesia modern. Generasi ini menerbitkan majalah Gema Suasana dan melahirkan gagasan yang menampik ide Timur dan Barat menuju humanisme universal yang membuat generasi ini konon menjadi warga sastra dunia seperti yang dicetuskan generasi ini melalui Surat Kepercayaan Gelanggang (Jakarta, 18 Februari 1950).
Dalam perkembangannya, Angkatan 45 direaksi dan dituding oleh sejumlah kalangan seniman sebagai pemuja individualisme. Humanisme universal dinilai menjauhkan seniman dari masyarakatnya dan menempatkannya di menara gading. Mereka yang berbeda pandangan dengan humanisme universal itu membentuk organisasi Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) pada 17 Agustus 1950.
Bagi Lekra, peran seniman tak lepas dari masyarakatnya dan rakyatlah yang menciptakan kebudayaan. Pandangan-pandangan Lekra termaktub dalam Mukaddimah Lembaga Kebudayaan Rakyat (Solo, 22-28 Januari 1950). Di rubrik Lentera koran Bintang Timur, yang diasuh oleh Pramoedya Ananta Toer tersiarlah tulisan fiksi dan non-fiksi yang cenderung beraliran Realisme Sosialis, misalnya tulisan yang menuduh cerpen B Sularto di majalah Sastra yang diasuh HB Jassin sebagai reaksioner, sebuah tuduhan berbahaya saat itu.
Serangan Lekra terhadap tulisan para sastrawan di Majalah Sastra berlangsung sangat keras dan Lekra gigih menggelorakan jargon “Politik sebagai Panglima” dalam seni dan budaya. Bagi Lekra, generasi Angkatan 45 adalah biang penyebar humanisme Barat (humanisme universal) dan berlawanan dengan humanis proletariat yang dianut Lekra, yaitu humanisme yang mengabdi kepada rakyat pekerja, buruh, dan tani.
Bagi seniman di sekitar majalah Sastra dan non-partisan, “Politik sebagai Panglima” itu mencemari kebebasan kreatif. Maka, untuk menyikapi itu, mereka merumuskan dan menandatangani pernyataan Manifes Kebudayaan (Jakarta, 17 Agustus 1963) yang diejek oleh Lekra dengan akronim “Manikebu”. Lantaran kuatnya pengaruh Lekra dalam kekuasaan politik, pengikut Manikebu dijadikan bulan-bulanan dan Manikebu dilarang oleh Soekarno.
Inilah era terbingar kehidupan seni dan budaya kita dan menciptakan sejarah yang tragis lantaran pergolakan ideologis. Setelah Manikebu dilarang, para pengikutnya “tiarap”, dicopot dari jabatannya, menulis memakai nama samaran agar tak ditolak media massa, dan dilarang mengikuti rapat-rapat.
Tapi, setelah Gestapu (Orde Baru menyebutnya G30S/PKI) terjadi pembatatan total terhadap PKI dan Lekra serta para pengikutnya, baik karya maupun pengarangnya (pemenjaraan dan pembuangan Pram di Pulau Buru, misalnya). Setelah masa ini kehidupan seni dan budaya menjadi a-politis. Kesenian menjadi “steril” dari upaya menyikapi kehidupan secara kritis dan terjadi birokratisasi seni dan budaya melalui Taman Ismail Marzuki dan sejumlah Gelanggang Remaja di Jakarta maupun dewan kesenian dan taman budaya di daerah-daerah.
Pada Juli 1966, para seniman Manifes Kebudayaan menerbitkan majalah sastra Horison. Majalah ini hadir seiring dengan merekahnya Orde Baru. Di masa ini trauma politik tahun-tahun sebelumnya masih membekas. Kecenderungan a-politis seni dan budaya di masa ini sejalan dengan depolitisasi Orde Baru demi kemapanan kekuasaannya.
Menurut Emha Ainun Najib, di masa tersebut muncul konvensi “bisu” dalam seni dan budaya yang merupakan perpanjangan tangan kaum mapan. Suara kritis dianggap subversif. Puisi dan drama Rendra dicekal dan menyebabkan Rendra dijebloskan ke penjara. Puisi Wiji Thukul yang menyuarakan ketertindasan kaum buruh dicekal dan penyairnya “raib”.
Pada masa itu juga terjadi polemik, kasus, fenomena, maupun kecenderungan dalam sastra, antara lain Langit Makin Mendung, Puisi Mbeling, Pengadilan Puisi, Sastra Kontekstual, Warna Lokal, Mazhab Fakta-Fiksi, Revitalisasi Sastra Pedalaman, Komunitas Sastra, Puisi Gelap, Sastra Transendental, dan Sastra Koran.
Orde Baru runtuh pada 1998 dan masyarakat memasuki masa Reformasi. Pada masa ini, segala bau Orde Baru ingin dilenyapkan. Suasana kebebasan menyeruak dan angin perubahan bertiup kencang. Tabu Orde Baru sudah jadi masa lalu dan terjadilah perluasan serta pertumbuhan media dan kepengarangan. Masa transisi seolah membuat pemerintah kehilangan agenda terhadap seni dan budaya.
Pada masa itu ada fenomena dan polemik sastra, misalnya Sastra Saiber, Penerbit Rumahan, Sastra Islami, Fiksi Teenlit, Sastra Seks, maupun Gerakan Syahwat Merdeka. Di masa itu industri fiksi teenlit dan sastra Islami memarakkan fenomena pasar serta memunculkan sejumlah ikon pengarang, sejumlah penerbit buku sastra/fiksi mereguk laba besar, muncul hadiah-hadiah sastra untuk sastrawan, dan terselenggaranya jaringan dan mengucurnya donasi asing (internasional) untuk dunia seni dan budaya kita.
Kisah-kisah kesusastraan itu menciptakan hubungan yang mesra, misalnya “bacaan resmi” dengan Balai Pustaka dan hubungan yang penuh percekcokan, misalnya seniman Lekra dengan seniman Manifes Kebudayaan.

Hubungan sastra dengan masyarakatnya memang rumit dan potensial menyembulkan perbedaan pendapat. Sastra bisa dinilai lantaran ada perangkat-perangkat aturan, konvensi, atau kode; dan antara perangkat yang satu dengan perangkat yang lain tak sama.

Selain itu, sastra juga punya sejumlah kemungkinan hubungan dengan struktur sosial masyarakat yang memunculkannya, ekspresi pandangan dunia atau ideologinya (Lucien Goldmann, 1977), dan juga konvensi estetikanya maupun mediasi kondisi produksinya (baik kondisi teknologis, kelembagaan, dan kondisi sosial dalam produksi seni) untuk bisa memahami dan menjelaskan fenomena sastra (Janet Wolff, 1982).

Ada anggapan bahwa sastra sebagaimana lembaga sosial yang sah dan punya konvensi yang menuntut kepatuhan terhadap sejumlah urusan demi tegaknya kesahan dan konvensinya. Pelanggaran terhadap konvensi sebuah lembaga sastra merupakan ancaman sebagaimana pelanggaran terhadap konvensi dalam sebuah lembaga masyarakat.

Ada hubungan kelembagaan antara konvensi sastra dan masyarakatnya, misalnya puisi kita pada dekade awal 1900-an yang cenderung meninggalkan pola puisi lama atau tradisional demi menyesuaikan diri dengan masyarakat yang baru. Kecenderungan ini terucapkan dalam puisi Rustam Effendi, “Sarat saraf saya mungkiri, untai rangkaian seloka lama, beta buang beta singkiri, sebab laguku menurut sukma”.

Sastra juga dipandang sebagai sebuah model yang terbatas dari semesta yang tak terbatas. Sastra merupakan model dunia imajiner yang membonceng bahasa, baik dunia sosial, personal, individual, maupun hubungan antarindividu dan kemungkinan-kemungkinan hubungan yang lain. Contohnya, kasus cerpen Langit Makin Mendung karya Ki Panji Kusmin pada 1968.

Cerpen ini dianggap melukai kepercayaan Muslim karena penggambaran unsur-unsur yang berkaitan dengan agama Islam di dalam cerpen itu. Akibatnya, HB Jassin, pemimpun majalah yang memuat cerpen itu, diadili dan dihukum meski HB Jassin menyatakan gambaran dalam cerpen itu merupakan model dunia imajinasi. Tapi masyarakat seakan menganggap penggambaran dalam cerpen itu adalah dunia kenyataan itu sendiri.

Sastra pun mengembangkan rancangan khusus berupa bangunan penafsiran yang menuntut diperlakukan sebagaimana rancangan khususnya itu. Dengan kata lain, hubungan karya sastra dengan struktur sosial tidak muncul sebagaimana adanya dalam karya sastra, misalnya, novel Siti Nurbaya yang memuat masalah politik melalui tokoh Syamsul Bahri yang berperang untuk mencari kematiannya agar berjumpa dengan kekasihnya. Novel ini diterbitkan oleh Balai Pustaka karena motif Syamsul Bahri itu romantik dan bukan karena urusan yang politis.

Selain itu, sastra kerap dirundung pembatasan atau konvensi “bisu” dalam urusan mengungkap peristiwa-peristiwa atau gagasan-gagasan tertentu. Apa yang membuat sebuah teks dianggap sebagai karya sastra karena kecocokannya dengan ukuran tertentu yang bersifat ideologis, misalnya tak melanggar “stabilitas” politik kekuasaan dan “kesopanan” umum. Kasus pamflet Rendra dan puisi Widji Thukul merupakan contoh hubungan sastra dengan standardisasi sastra versi kekuasaan.

Selain hubungan-hubungan itu, untuk memahami kondisi sastra juga perlu memerhatikan urusan yang berkaitan dengan produksi seni, yaitu teknologi dan lembaga sosial.

Teknologi cetak dan teknologi komunikasi memengaruhi kesusastraan, misalnya maraknya penerbitan buku, internet (situs dan blogt) dan koran di Tanah Air setelah jatuhnya rezim Orde Baru yang berefek pada produksi dan penyebaran karya sastra. Banyak pengarang yang tak lagi berhubungan dengan penerbit resmi karena teknologi cetak yang murah (komputer/fotokopi) dan teknologi komunikasi (internet). Hambatan penyaluran karya sastra makin menyingkir dengan adanya situs di internet, kantong sastra, dan toko buku di luar jaringan toko buku besar.

Selain teknologi, lembaga sosial di dalam kesenian pun punya peran penentu dalam urusan produksi sastra. Dewan kesenian, gedung kesenian, taman budaya, media sastra, kritikus, maupun komunitas sastra merupakan wujud lembaga sastra yang punya otoritas penilaian atau legitimasi. Dulu TIM dan majalah sastra Horison dianggap sebagai pusat legitimasi kesenian di negeri ini. Setiap seniman yang diundang tampil di TIM atau karyanya dimuat Horison dianggap sebagai seniman papan atas.

Lembaga sosial dalam kesenian punya selera estetik tertentu dan perannya bisa menjadi politis dalam penarikan anggotanya (rekruitmen). Zaman dulu, penguasa di Barat menyediakan pusat latihan seni (gilda) bagi seniman yang direkrut untuk memuja dirinya.

Di zaman modern, rekruitmen seniman terselenggara lebih longgar melalui sistem sekolah maupun pelatihan yang didanai oleh sponsor, misalnya Ubud Writers dan Readers Festival dan Program Penulisan Majelis Asia Tenggara (Mastera). Secara sosiologis, dalam rekruitmen seniman ada faktor kekuatan sosial yang mendorong seseorang untuk bersekutu dengan kelompok tertentu untuk mengembangkan kerja atau karier kesenimanan.

Selain rekruitmen, lembaga sosial dalam kesenian juga menjalankan patronase, yaitu suatu hubungan di mana sang patron (pelindung) memberikan sesuatu ke pihak lain, misalnya sokongan material atau perlindungan ke seniman yang memungkinkan karya sang seniman diproduksi dan didistribusikan dalam lingkungan yang serba tak pasti dan bahkan penuh perseteruan, sedangkan sang seniman memberikan kesetiaannya kepada sang patron sebagai imbalannya, misalnya dengan penyesuaian selera ideologi atau estetikanya. Memang tak ada campur tangan langsung sang patron terhadap karya seni sang seniman, tapi ada seleksi tertentu dalam pemberian dana dapat mengindikasikan ideologi sang patron.

Menurut Edwar B Henning (1970), pengaruh patronase terjadi dalam tiga cara. Pertama, menarik seniman untuk bergabung melalui performa intelektual atau moral yang simpatik serta dukungan material. Kedua, stipulasi (persyaratan suatu kesepakatan yang harus dilaksanakan sang seniman). Ketiga, seleksi terhadap karya seni dilakukan oleh patron yang biasanya berasal dari kelompok ekonomi yang kuat dan dapat memengaruhi gaya seni sang seniman.

Patronase kesusastraan berperan penting dalam sejarah sastra Barat, misalnya patronase raja dan gereja abad XIV dan XV, patronase bangsawan pada abad XVI, dan patronase politik pada abad XVII. Mulai abad XVIII sistem patronase lenyap dan sastrawan menghadapi situasi baru yang menawarkan kebebasan lebih besar, tapi membuat sastrawan menerima tekanan hubungan pasar dan kerawanan ekonomik.

Pada abad XX hingga kini muncul patronase baru yang menggantikan hubungan patronase tradisional, misalnya pengarang menulis untuk koran, fotografer dipekerjakan oleh majalah, dan juga pengarang yang memperoleh dana dari lembaga pemerintah atau swasta dalam negeri maupun asing.

Tulisan ini dikutip dari Harian Republika (Jakarta), 26 Agustus 2007 dan 2 September 2007.

Iklan

One response to “KEMESRAAN DAN PERCEKCOKAN KESUSASTRAAN

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s