KOMUNITAS SASTRA, KAYU BAKAR, DAN BUKU


Iwan Gunadi

Pemerhati Komunitas Sastra

“Asa adalah api dan teman-teman di komunitasnya adalah kayu bakar.” Kalimat tersebut meluncur dari bibir seorang penyair muda asal Yogyakarta pada suatu seminar tentang komunitas sastra di Jakarta. Asa–dan mungkin teman-temannya–juga berasal dari Yogyakarta dan sama-sama penyair muda. Tapi, bukan asal daerah dan profesi Asa yang mula-mula ingin didiskusikan di sini. Asa sebagai api dan para temannya sebagai kayu bakar, inilah yang lebih menarik untuk diperbincangkan.

Mungkin, yang dimaksud penyair muda yang berbicara dengan nada sinis itu, Asa bukanlah api, melainkan hasil dari sesuatu yang dibakar api. Apa yang dihasilkan Asa selama ini adalah hasil jerih payah teman-temannya. Asa menjadi seperti sekarang ini lantaran keberadaan teman-temannya. Tanpa mereka, Asa tak akan “sebesar dan seberhasil” seperti sekarang ini.

Boleh jadi, ada seseorang yang merasa belum menjadi sastrawan menjadikan komunitas sastra sebagai “kendaraan” yang akan menyulapnya sebagai sastrawan.  Atau, seseorang yang sudah merasa menjadi sastrawan menjadikannya sebagai “kendaraan” yang akan menguatkannya sebagai sastrawan besar. Besar di sini dapat bermakna sastrawan yang menghasilkan karya-karya bermutu tinggi, yang berpotensi memopulerkan namanya. Atau, besar juga dapat berarti nama besar yang dihasilkan dari politik sastra yang ditempuhnya, bukan lantaran karya-karyanya. Bahkan, boleh jadi, karya-karyanya tak seberapa atau bahkan bermutu rendah. Tapi, karena aktivitas politik sastranya lebih heboh, namanya menjadi besar dan terkenal.

Fenomena semacam itu mengemuka lantaran banyak komunitas sastra dibentuk dengan relasi yang tidak imbang antaranggotanya. Dalam bahasa politik, ia dikenal sebagai kekuasaan. Relasi yang tidak imbang tersebut mungkin lahir lantaran komunitas sastra itu sejak awal memang berfungsi sebagai sanggar atau wadah pembibitan. Dalam kondisi demikian, potensi konflik antarkepentingan mungkin lebih kecil untuk terjadi atau bahkan tak ada celah. Sebab, komunitas semacam itu memang dibangun dengan kesadaran bahwa relasi antaranggotanya memang timpang alias tidak imbang. Tak heran bila pihak yang terdominasi atau terhegemoni kekuasaan itu tak merasa dirugikan. Kekuasaan dengan citra positif sebagaimana dipahami Michel Foucault tampaknya cocok untuk kondisi seperti itu.

Sementara bila relasi yang tidak imbang itu lahir bukan karena konsekuensi bentuk komunitas sastra, ketimpangan itu muncul biasanya lantaran pihak pendominasi atau penghegemoni memiliki kemampuan menjalin hubungan antarpersonal dan jaringan yang  lebih luas. Ada juga memang sejumlah komunitas dengan hubungan antaranggota yang timpang karena pihak pendominasi atau penghegemoni memang memiliki pengetahuan sastra dan kemampuan menghasilkan karya sastra yang lebih baik. Tapi yang terakhir ini tampaknya jauh lebih sedikit dari yang pertama. Komunitas sastra model pertama itu sendiri biasanya dibentuk lebih karena inisiatif pihak pendominasi atau penghegemoni. Dalam kondisi seperti itu, konflik antarkepentingan lebih berpeluang terjadi. Kalau hal ini mencuat, komunitas sastra tersebut terancam bubar.

Bubar biasanya tak berarti mati selama para mantan anggota masih ada dan berkiprah di dunia sastra. Mereka, terutama pihak pendominasi atau penghegemoni, cenderung tidak suka dengan kata mati tersebut. “Komunitas kami tak mati, tapi vakum untuk sementara,” kilahan mereka biasanya  begitu. Padahal, yang dimaksud “vakum” di situ seringkali bermakna tak akan ada kegiatan lagi lantaran para anggota telah membentuk komunitas baru atau terlibat dengan komunitas lain.

Relasi yang timpang itu tak jarang bukan hanya “merugikan” pihak terdominasi atau terhegemoni secara kognitif seperti itu, melainkan juga secara ekonomis. Sebab, biaya pelbagai kegiatan sastra yang diselenggarakan suatu komunitas sastra ditanggung bersama. Tapi “keuntungan” lebih banyak diperoleh oleh pihak pendominasi atau penghegemoni.

Contohnya saat suatu komunitas menerbitkan buku sastra.  “Kerugian” mungkin kurang atau jarang dirasakan pihak terdominasi atau terhegemoni saat penerbitan buku antologi karya sastra bersama.  Tapi hal itu mungkin saja terjadi bila jatah karya sastra yang dimuat timpang antara pihak pendominasi atau penghegemoni dan pihak terdominasi atau terhegemoni. Atau, karya sastra pihak pendominasi atau penghegemoni tidak disertakan, tapi ia berperan dalam posisi yang lebih “tinggi”, penyunting atau pemberi kata pengantar.

“Kerugian” makin membesar di pihak terdominasi atau terhegemoni bila buku antologi karya sastra yang pertama diterbitkan suatu komunitas adalah karya tunggal pihak  pendominasi atau penghegemoni. Apalagi, bila setelah itu, komunitas sastra itu “vakum” akibat muncul konflik antarkepentingan. Pengalaman semacam ini pernah menghinggapi sejumlah komunitas sastra.

Menerbitkan buku sastra memang menjadi obsesi setiap komunitas sastra. Bahkan, bagi komunitas sastra yang punya dana lebih dari cukup, boleh jadi, hal itu merupakan suatu “kegemaran”. Pada sedikit komunitas sastra, obsesi dan “kegemaran” tersebut dibarengi dengan selektivitas yang ketat, sehingga mampu menghadirkan karya sastra yang mutunya terjaga. Pada banyak komunitas sastra yang lain terjadi hal yang sebaliknya. Maklum, banyak sastrawan dalam komunitas sastra  menerbitkan buku sastra hanya bermodalkan keberanian dan kenekadan. Mereka tidak menguasai kata. Padahal, kata jugalah yang mereka tekuni setiap hari. Sedikit dari mereka memang berbakat dan atau memiliki intelektualitas yang cukup. Selebihnya adalah tanpa bakat dan intelektualitas.

Contoh konkretnya begini. Ketidakmampuan membangun logika yang benar, imaji yang kuat, terperangkap dalam pilihan kata (diksi) yang wah tapi tak bernas, dan hal-hal teknis adalah penyakit yang banyak menghinggapi mereka. Misalnya, kita masih dengan mudah mendapatkan frase semacam “buhul-buhul kehidupan”, “padang kehidupan”, dan “pohon keadilan” dalam buku-buku kumpulan puisi mereka. Kedua kata yang membentuk ketiga frase tersebut mungkin masih melahirkan irama yang cukup sebati. Tapi pola kata konkret-kata abstrak tersebut tak menciptakan imaji yang kuat di kepala pembaca, tapi malah saling menghancurkan.

Belum lagi kita masih suka diganggu oleh frase yang secara harfiah saja sudah salah, seperti “bernuansa duka”. Atau, kelompok kata  yang bertele-tele dan dituliskan dengan ejaan yang salah seperti “menghembuskan kesaksian”.

Seorang yang sinis tentu akan bertanya, “Apa yang dapat kita harapkan dari penyair seperti itu?” sambil dalam hati menjawab, “Tidak ada!” Seorang penyair yang tak punya iman kuat mungkin akan segera bunuh diri sebagai penyair. Komunitasnya pun menjadi “vakum”, tapi tetap tak rela disebut mati. Sebab, suatu saat imannya sebagai penyair hidup lagi dan ia tak perlu membangun lagi komunitas sastra yang baru. Menulis puisi—atau karya sastra lain—baginya memang hanya pekerjaan angin-anginan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s