Wowok Hesti Prabowo BURUH, GUDEG, DAN PUISI


Kini rekan-rekannya menjulukinya sebagai juragan gudeg. Warung gudegnya sering dijadikan tempat berkumpul untuk berkesenian. Lantai atas warungnya itu biasa dijadikan tempat pameran, diskusi sastra, dan pementasan seni. Penyuka burung dan jenggot ini bilang, ”Sastra jalan kalau ada duit.”

Dulu, ia adalah manajer personalia di sebuah perusahaan swasta. Tapi, sikap kesehariannya kerap tidak seiring dengan pemilik perusahaan. Ia dinilai lebih cenderung membela kepentingan pekerja dibanding perusahaan. Apa boleh buat, sikap itu berbuntut dikeluarkannya surat pemutusan hubungan kerja (PHK).

Peristiwa di akhir 1990-an tersebut membawa jalan hidup Wowok Hesti Prabowo, manajer personalia itu, berbalik. Pria kelahiran Purwodadi-Grobogan, 16 April 1963, ini kembali ke habibatnya: Menjadi seniman. Dari pesangon yang diterimanya, ia menerbitkan antologi puisi, memuat karya-karya sastrawan se-Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi). ”Itu nazar saya,” ucapnya.

Bekerja sebagai buruh pabrik dan terus menulis adalah dua hal yang selalu menyatu dalam diri Wowok selama tak kurang dari 15 tahun masa kerjanya di berbagai perusahaan. Setamat dari STMA (Kimia) Yogyakarta, 1983, ia memang langsung bekerja sebagai buruh pabrik. Tapi, kegemarannya menulis puisi dan artikel semasa masih bersekolah tak serta-merta terhenti.

Ia, agaknya, tak ingin berjalan sendiri. Wowok mengenalkan dunia kesenian kepada sesama buruh. Para pekerja itu dituntun menulis puisi, mengungkapkan perasaan dan pikiran mereka melalui tulisan. Melalui serikat pekerja, ia membentuk komunitas dan mengajari para buruh menulis sastra. Sastra buruh kemudian menggelinding, menjadi pembicaraan kalangan pemerhati sastra.

Maka, sastra buruh kerap diidentikkan dengan pergerakan. Bagi buruh, tulis Wowok dalam pengantar sebuah bukunya, puisi adalah mulut. ”Ketika hak-hak buruh ditebas, kebebasan buruh dibelenggu, kehidupannya ditindas dengan berbagai intimidasi dan kesewenangan, maka untuk menggerakkan isi hatinya buruh butuh mulut. Dan, mulut itu adalah puisi. Jadi, puisi bagi buruh adalah media untuk berjuang.”

Wowok tidak sekadar berpuisi dan mengenalkan seni dan sastra kepada para buruh. Ia ikut turun ke jalan, memperjuangkan nasib buruh. Bertepatan 50 tahun Indonesia Merdeka, 1995, mantan ketua unit kerja Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) PT Berlina, Tangerang, ini melakukan aksi protes terhadap kesewenangan yang menimpa kaum buruh. ”Saya mogok bicara selama 50 hari,” ujar pendiri Komunitas Budaya Buruh Tangerang (Bubutan) itu.

Jual sambal
Berhenti dari pekerjaan sebagai buruh pabrik, tidak berarti berhenti berkarya. Justru sebaliknya, produktivitasnya meningkat, aktivitas kian tinggi. Kumpulan puisinya terbit dalam sejumlah buku. Sebutlah, misalnya, Buruh Gugat (1999), Presiden dari Negeri Pabrik (1999), dan Lahirnya Revolusi (2000). Puisi-puisinya juga tersebar dalam sejumlah antalogi, seperti Hijrah, Bangkit, Rumah Petak, Trotoar, Cisadane, Mimbar Penyair Abad 21, dan Renonansi Indonesia yang diterbitkan dalam dua bahasa: Indonesia dan Mandarin.

Lulusan Fakultas Teknik Kimia Tekstil UNIS Tangerang, 1996, ini juga pernah mengetuai Yayasan Komunitas Sastra Indonesia (KSI), penggelinding komunitas Roda-roda Budaya, dan penggagas Institut Puisi Tangerang (IPT). Roda-roda Budaya adalah komunitas gabungan buruh dan sastrawan. Sedangkan IPT adalah lembaga untuk mengantarkan buruh agar tidak minder di tengah pergaulan sastra. ”Kalau dulu sastra itu elite, kini sastra milik siapa saja,” ujar ayah tiga anak ini.

Wowok, memang tidak semata berkesenian. Saat di-PHK, sebagian pesangonnya ia gunakan mendirikan rumah makan. Pernah mensuplai makanan rantang ke 13 perusahaan, Wowok merasakan penghasilannya jauh melampaui gaji sebagai buruh. Gaji setahun bisa setara dengan penghasilan sebulan dari hasil usaha. ”Itu saya rasakan. Saya menyesal 15 tahun bekerja di pabrik, tapi mungkin Allah menunjukkan jalan ke sana,” ucap anak keempat dari enam bersaudara ini.

Wowok suka menyebut usahanya itu sebagai jualan sambal. Menempati ruko dua lantai, dua rumah makan Galery Gudeg Yogya miliknya di bilangan Tangerang itu sering disambangi para seniman untuk melakukan kegiatan seni.

Belakangan ini, bersama rekan-rekannya, Wowok mencetuskan pamflet sastra Bumi Putra, sekaligus menjadi pemimpin redaksinya. Bersama rekan-rekannya, baik melalui pamflet sastra itu maupun lewat aksi nyata, ia menggugat bentuk dominasi komunitas sastra yang satu atas komunitas sastra yang lain.

Lewat Sastrawan Ode Kampung, ia menjadi penandatangan pertama penolakan terhadap bentuk dominasi komunitas sastra yang satu atas komunitas sastra yang lain itu. Sastrawan Ode Kampung juga menolak eksploitasi seks dalam karya sastra. Ia juga menggugat dominasi kapital asing atas kegiatan sastra di Tanah Air, ”yang memperalat keindonesiaan kita”.

Dunia seni, bagi Wowok, menjadi bagian yang sulit dipisahkan dalam kehidupannya. Tanpa itu, dia merasakan hidup yang hambar. Wowok mengaku menemukan kepuasaan batin bergelut dengan dunia seni. Dengan berkesenian, menurut Wowok, dia bisa merasakan nikmatnya gudeg, eh hidup. (bur)

Tulisan ini dikutip dari Harian Republika (Jakarta), 26 Agustus 2007.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s