GOENAWAN MOAHAMAD: “ITU HANYA CORAT-CORET DI TEMBOK KAKUS!”


Goenawan Mohamad adalah orang Barat yang lahir di Batang, demikian julukan yang pernah diberikan kepadanya oleh Hamid Basyaib. Bagaimana pemikirannya tentang dinamika kesusasteraan Indonesia saat ini: tentang serangan sekelompok sastrawan pada dirinya dan Komunitas Utan Kayu yan ia dirikan? Bagaimana pula ia memaknai perdebatan sastra yang pernah terjadi dulu dan sekarang?

Pendiri majalah TEMPO itu menuturkan pemikiran dan pengalamannya pada Jurnal Nasional di sela-sela kesibukannya di Komunitas Utan Kayu dua pekan lalu.

Tanya:

Mas Goen, kini jagat sastra Indonesia diramaikan dengan adanya polemik antara Sastrawan Ode Kampung yang menyerang Komunitas Utan Kayu (KUK) sebagai salah satu pegiat aktivitas kesenian di Jakarta. Apa tanggapan Anda?

Jawab:

Polemik itu kalau ada tukar menukar pendapat. Jadi kalau tidak ada tukar menukar pendapat saya kira ya bukan polemik. Kalau dulu seingat saya ada, semisal Ajip Rosidi menyerang Angkatan ’45 karena dianggap kosmopolitan, dianggap tidak berakar pada daerah. Terus Lekra (Lembaga Kesenian Rakyat, Red) menyerang yang disebutnya humanisme-universil, lantas Manifes (Manifes Kebudayaan, Red) menyerang apa yang disebut realisme-sosialis, prinsip-prinsip yang menurut saya penting, perdebatannya sangat penting. Apakah polemik berakhir dengan baik apa tidak itu soal lain. Kemudian tentang sastra kontekstual pada era 1980-an, itu tak terjadi polemik. Namun paling tidak diskusi itu melahirkan gagasan baru.

Tanya:

Nah, yang sekarang bagaimana? Apakah ada ide-ide baru?

Jawab:

Kalau saya begini, saya tidak melihat adanya ide yang baru dalam soal ini. Itu yang saya dengar ya, karena saya belum baca semua. Saya tak ada waktu. Kalau tidak ada yang gagasan baru berarti bukan polemik. Kalau ada tuduhan dominasi yang dilakukan oleh satu komunitas, misal mereka tuduh Utan Kayu, lantas apa buktinya? Apakah mereka bisa buktikan?

Tanya:

Dalam sejarah kesusasteraan kita selalu saja terjadi polemik. Lantas Anda memaknai peristiwa yang terjadi sekarang sebagai apa?

Jawab:

Apa dulu? Kalau polemik memang sering terjadi, kalau maki-maki belum pernah terjadi. Dan itu tak pernah terjadi dalam sejarah kita. Terlebih bila sifatnya memaki-maki, menyerang pribadi. Jadi biarkan saja, karena menurut saya itu tak memunculkan ide baru. Jadi biarkan saja. Dulu, polemik kebudayaan membikin sejarah, manikebu membikin sejarah, terus sedikit-sedikit Ajip Rosidi yang menyerang Angkatan 45 membikin sejarah. Sastra kontekstual tidak membikin sejarah, tapi paling tidak mengajak orang untuk kembali meninjau teori sastra. Kalau yang terjadi sekarang saya belum melihatnya. Apakah itu layak didiskusikan? Jangan- jangan malah nanti dalam lima tahun ke depan sudah tidak lagi yang membahas persoalan ini.

Tanya:

Salah satu poin yang disebutkan dalam pernyataan Sastrawan Ode Kampung adalah melawan eksploitasi seksual dalam karya sastra. Dan itu, diarahkan kepada KUK?

Jawab:

Ini ada beberapa hal ya. Semisal apa yang dilakukan oleh Taufik Ismail sendiri, Chavchay Syaifulah dengan Media Indonesia sendiri dan apa yang dilakukan oleh apa itu… Boemipoetra (buletin yang dikelola oleh Wowok Hesti Prabowo, salah seorang penandatangan pernyataan Sastrawan Ode Kampung, Red) sendiri. Menurut saya berbeda-beda. Nah, Taufik itu lebih serius. Dalam artian dia layak ditanggapi. Terutama menyoal pornografi. Di sana ia mengkritik tentang peran erotisisme atau seksualitas dalam sastra. Dan itu adalah persoalan yang sah diperdebatkan dalam sastra. Dalam sejarah sastra itu sering terjadi. Bahwa di dalamnya juga terkandung caci-maki, boleh.

Tanya:

KUK dituduh sebagai komunitas sastra yang mengusung sastra kelamin? Orang menyebut salah satunya terdapat dalam karya Ayu Utami “Saman” yang mengandung unsur seksualitas?

Jawab:

Saman karya pertama Ayu Utami, pertama, itu bisa diperdebatkan tersendiri apakah itu suatu ekspresi seksualitas saja apakah ada sesuatu yang lebih dalam di sana. Ayu Utami bukan berarti KUK dan KUK bukan berarti Ayu Utami. Sitok (Sitok Srengenge, Red), Nirwan

(Nirwan Dewanto, Red) atau saya mungkin, apa begitu juga. Satu hal, seksualitas itu bagian dari kehidupan. Di dalam Mahabarata sampai dengan Saman itu selalu timbul. Di barat di timur, di China, Arab, Amerika Latin. Bahwa ada orang yang mengatakan itu bagian dari kehidupan ya lumrah, ada yang bilang tidak ya tidak apa-apa. Tapi kalau ada yang bilang KUK itu penganut mazhab kelamin itu tidak benar. Kalau soal eksploitasi seksual saya juga menolak. Saya belum mengerti apa yang mereka maksudkan dengan eksploitasi seks dan belum tanya mereka, tapi kalau saya ada di sana saya juga menolak hal itu. Tapi bukan berarti seks tidak boleh dibicarakan. Lihat saja Mahabarata, Injil pun membicarakan seks, baca saja Kidung Sulaiman, sangat erotis.

Tanya:

Maman S. Mahayana dalam satu tulisannya mengatakan bahwa seksualitas dalam karya sastra seibarat sekrup kecil dalam mesin kapitalisme. Bagaimana menurut pendapat Anda?

Jawab:

Itu sebetulnya lebih baik pakai contoh. Ini problem dalam dunia sastra kita sekarang ini, jarang ada kritik sastra yang serius yang dilengkapi dengan argumentasi dan contoh. Misalnya kritik Taufik Ismail pada Ayu Utami yang dikatakannya memelopori FAK atau Fiksi

Alat Kelamin. Itu harus dibuktikan mana yang dimaksudkan. Harus dibuktikan, sehingga kita bisa berbicara. Kalau selama ini hanya generalisir seperti pernyataan Maman S. Mahayana itu bisa dikatakan ya bisa juga tidak. Pernyataan itu sama artinya dengan pernyataan bahwa kemiskinan disebabkan oleh kapitalisme. Bisa ya bisa juga tidak. Jadi harus ada contohnya.

Tanya:

Selain soal seksualitas dalam karya sastra, KUK juga dituduh menerima bantuan dana asing dalam kegiatan-kegiatannya. Bagaimana Anda menanggapi kabar ini?

Jawab:

Itu problematis. Pertama dana asing itu datangnya kepada sastra atau prasarana sastra. Kedua dana asing itu belum tentu memengaruhi suatu produk. Misalnya, kalau pelukis Indonesia dibeli hak ciptanya oleh kolektor asing apakah itu namanya dipengaruhi oleh dan dana pembelian itu? Kalau kita berpikir analitis dan lepas dari kebencian, dari praduga-praduga, tidak seperti apa yang dibayangkan oleh kaum Demagog. Semisalnya, Universitas Indonesia dibiayai oleh dana asing, apakah hasil-hasilnya harus mengabdi pada asing juga? Kan juga tidak. Kalau anjuran saya sekarang ini yang penting, sudahlah, menulis saja yang bagus, menulis sastra yang bagus, menulis kritik (sastra) yang bagus. Jangan sampai waktu habis untuk mencaci maki.

Tanya:

Bukankah caci-maki juga termasuk ke dalam kebebasan berekspresi yang selama ini Anda perjuangkan?

Jawab:

Oh ya, betul. Bukan berarti saya melarang itu. Tapi saya hanya menganjurkan daripada buang waktu, lebih baik menulis sajalah yang bagus.

Tanya:

Anda dikenal sebagai pelaku sejarah, khususnya dalam sejarah pers Indonesia. Juga salah seorang penganjur kebebasan pers. Bagaimana Anda memandang diri Anda sendiri?

Jawab:

Aaahh… saya ini tidak pernah mendeskripsikan diri saya sendiri (tertawa, Red). Karena saya tidak pernah tahu diri saya sendiri. Karena itu ada kata-kata yang penting dari Oracle di Delphi, ketahuilah diri Anda sendiri dan itu adalah proses yang tidak pernah selesai. Dan jangan-jangan tidak perlu juga diketahui.

Tanya:

Sebagai seorang sastrawan dan penulis yang telah berpengalaman dan cukup senior, bagaimana pendapat Anda terhadap generasi sastrawan muda zaman sekarang?

Jawab:

Saya kira mereka jauh lebih bagus dari generasi saya dan sebelumnya. Bacaan mereka lebih luas dan terbiasa dengan kerumitan pemikiran yang terjadi dalam dua- tigapuluh tahun terakhir, khususnya dalam pemikiran filsafat. Kalau dulu kalau saya bandingkan misalnya, tahun 1950-an, banyak orang yang bicara tentang eksistensialime tapi sebetulnya tidak banyak tahu. Yang mengerti banyak tentang itu hanya Arif Budiman, karena dia belajar filsafat. Juga sama halnya dengan realisme-sosialis di tahun 1960-an, menurut pendapat saya yang betul-betul mengerti itu cuma Pramoedya Ananta Toer. Sedangkan yang lain itu cuma ikut-ikut saja, dan mungkin tidak peduli juga.

Tanya:

Berkaitan dengan pemikiran Pramoedya Ananta Toer, dia pernah bilang bahwa sastra itu bertugas, punya fungsi yang praktis?

Jawab:

Saya setuju. Cuma tugasnya jangan diberi oleh orang lain. Jadi harus dari panggilan nurani sendiri. Dulu pertengkaran Lekra-Manikebu itu kan berkisar pada perdebatan sastra revolusioner yang sebetulnya ditentukan garisnya oleh partai (Partai Komunis Indonesia, Red). Dan itu yang terjadi di Uni Soviet dan China, jadi lebih banyak menyebabkan pembungkaman. Tapi karena dulu partai lebih banyak berkuasa ke dalam, jadi tidak banyak begitu dimengerti mengenai persoalan ini. Itu pengalaman di Uni Soviet ya, kontrol partai terhadap sastra itu begitu kuatnya. Jadi pada dasarnya memang Manikebu sepakat dengan pendapat sastra itu bertugas.

Dalam Manifes Kebudayaan kami menyatakan bahwa kami menerima humanisme universal. Jadi Manifes Kebudayaan tidak sepenuhnya pro humanisme-universal , sebagaimana kami tidak anti pada realisme-sosialis. Ada macam-macam realisme sosialis, kan orang tidak baca itu. Artinya kami menerima. Ada macam-macam realisme sosialis itu. Orang tidak baca itu. Nah, bukan berarti seperti film cowboy, ada penjahat harus dibunuh. Dan dalam Manifes Kebudayaan itu terkandung pemikiran-pemikiran sosialis yang lebih dalam daripada yang dikatakan orang.

Tanya:

Tapi kenyataan sejarah menunjukkan bahwa polemik Manikebu versus Lekra seperti film cowboy yang Anda sebutkan tadi.

Jawab:

Itu karena sejarah tidak ditulis dengan benar. Kalau mau bicara polemik, harus dipelajari juga polemik yang berlangsung pada tahun 1920-an. Pendapat Pram, itu sama dengan pendapat Takdir (St Takdir Alisjahbana, STA) melawan pendapat Sanusi Pane soal sastra itu bekerja atau tidak. Nah, kemudian ada masalah seni untuk seni atau seni untuk masyarakat. Soal itu sudah selesai pada tahun 1950-an. Di tahun 1930-an itu antara Sanusi Pane dan STA, dan kemudian persis dilakukan oleh Pram.

Tanya:

Tapi kenapa Pram “menghabisi” STA di dalam tulisan-tulisannya yang dimuat oleh Bintang Timoer?

Jawab:

Nah, begini. Itu karena STA orangnya partai sosialis (Partai Sosialis Indonesia, PSI). Dan tentu saja cara-cara Pram dulu itu juga salah. Tapi nanti kalau saya bilang Pram salah Anda jadi marah, lagi… (tertawa)

Tanya:

Anda masih muda ketika turut menandatangani Manifes Kebudayaan. Sama halnya dengan beberapa sastrawan yang juga menandatangani pernyataan Sastrawan Ode Kampung. Kira-kira semangat apa yang mendorong Anda turut dalam manifes?

Jawab:

Semangat saya ingin menulis, menulis yang bagus dan tidak mau didikte oleh kekuasaan. Titik.

Tanya:

Sekuat apa sih tekanan kekuasaan pada saat itu?

Jawab:

Setelah Manifes dilarang berat, sangat berat. Saya pada waktu itu mau ikut rapat saja takut. Dan menulis pun harus pakai nama samaran. Pernah beberapa waktu lalu dalam email dikatakan oleh Tossi (Aboeprijadi Santoso, wartawan radio di Belanda, Red) bahwa Manikebu kan masih bisa melawan, itu tidak benar. Bahwa Lekra setelah itu(pasca pergolakan politik 1965-1970, Red) lebih menderita, bukan berarti Manikebu itu tak mengalami tekanan. Waktu itu (Orde Lama, Red) kan belum ada konsolidasi kekuasaan yang bisa menindas, hampir.

Waktu Orde Baru kan ada penindasan. Penindasan terhadap Lekra memang lebih dahsyat lagi. Tapi bibit-bibit pengekangan kebebasan berekspresi itu memang sudah terjadi sejak zaman demokrasi terpimpin. Jadi kalau Lekra atau Pramoedya tidak merasa bersalah itu saya sayangkan. Karena akhirnya suasana represif pada masa Orde Baru terus berlanjut. Beda Orde Lama dengan Orde Baru kan tidak banyak, kecuali yang satu sosialisme dan yang satu kapitalisme. Tapi demokrasinya tidak ada. Mochtar Loebis dipenjara sembilan tahun.

Kalau menurut saya kita harus mengakui bahwa kita semua salah dan generasi muda tak perlu melakukan itu lagi. Kalau tidak demikian, anak-anak muda memuja-muja kita, maka akan terjadi pengulangan. Karena intinya adalah intoleransi. Jadi sebetulnya yang diperjuangkan itu bukan kebebasan, tapi golongan saya tidak ditindas, dan golongan lain bisa ditindas. Nah kira-kira itu juga yang dikatakan oleh Pram, lawan revolusi harus ditindas.

Tahun 1970-an setelah banyak korban, saya termasuk orang yang menyadari bahwa perbedaan tidak harus diakhiri dengan memenjara orang. Apapun perbedaan itu. Pernah dulu saya menghadiri diskusi di rumahnya JCT Simorangkir, pemimpin umum Sinar Harapan, antara Nugroho Notosusanto dengan Wiratmo Soekito. Jangan lupa, waktu itu Nugroho Notosusanto menentang Manikebu. Ini yang tidak pernah ditulis oleh sejarah. Waktu itu Wiratmo menulis tentang kebebasan berekspresi.

Kepada Wiratmo, Nugroho mengatakan kalau begitu Anda akan mengijinkan puisinya Agam

Wispi terbit. Wiratmo menjawab iya. Wiratmo mengutip Voltaire, “saya tidak setuju dengan pendapat kamu, tapi saya hormati hak kamu berpendapat”. Saya menyadari bahwa kita tidak boleh mengulangi lagi kesalahan.

Tanya:

Semangat menghargai perbedaan pendapat itu pula yang membuat Anda membiarkan pernyataan Sastrawan Ode Kampung?

Jawab:

Iya, betul. Saya diserang juga tidak apa-apa. Cuma jangan memfitnah.

Tanya:

Fitnah bagaimana maksud Anda?

Jawab:

Seperti yang ditulis oleh Chavchay itu di Media Indonesia mengenai pembukaan Bienale di KUK. Orang tidak ada yang mabok-mabok kok ditulis mabok-mabokan. Itu secara jurnalisme salah. Padahal disiplin jurnalisme itu adalah verifikasi.

Tanya:

Jadi Anda takkan melayani semua hal itu?

Jawab:

Tidak, itu saya anggap coretan tembok di kakus. Dalam beberapa wawancara juga saya katakan itu tidak penting untuk ditanggapi. Nah menurut saya sekarang mulailah melakukan studi yang serius. Misalnya disebutkan bahwa ada sastra imperialis, silakan, tapi buktikan dengan karya, tunjukkan karya sastra imperialis itu apa. Jadi persoalan ini tidak penting dan memang bukan suatu hal yang patut dicatat dalam sejarah. Masa sih perlu menanggapi corat-coret di tembok kakus.

Tanya:

Apakah Anda sudah membaca pernyataan Sastrawan Ode Kampung berikut dengan buletin-buletin Boemipoetra?

Jawab:

Saya tidak baca, saya hanya diberitahu oleh kawan-kawan. Saya nggak ada waktu. Baca filsafat saja belum selesai-selesai (tertawa). Tapi bukan berarti saya melarang dan tidak menghargai pendapat mereka lho ya. Sekali lagi saya katakan saya tidak punya waktu untuk membaca apa yang mereka tulis, toh isinya cuma ngata-ngatai saya Gundul Monyet (tertawa), buat apa saya tanggapi. Tapi lucu juga itu. Kan cuma coret-coret di tembok kakus, sah-sah saja orang menulis di kakus.

Tanya:

Dalam sejarah hidup Anda, ada dua peristiwa yang “memukul” Anda. Pertama tuduhan bahwa Anda didukung oleh militer ketika menandatangani Manifes Kebudayaan, lantas kedua sekarang Anda kembali diserang oleh pernyataan para Sastrawan Ode Kampung. Bagaimana Anda menyikapi ini?

Jawab:

Yang sekarang itu bukan apa-apa bagi saya. Kalau dulu saya angap serius karena ada kekuatan politik. Kalau sekarang yang diarah oleh kawan-kawan itu apa sih? KUK ditutup atau saya dipenjara (tertawa), atau apa? Atau saya gak boleh nulis? Atau tidak ada dominasi? Nah ini soal dominasi, itu masalah, soal KUK itu jangan dianggap penting dong. Begini, Nobel itu memberikan standard penilaian, tapi bukan berarti segala-galanya. Jean Paul Sartre itu mengembalikan Nobel, dan banyak yang bagus tidak mendapat hadiah Nobel tapi tetap dihargai. Dan KUK itu tidak pernah memberikan hadiah sastra. Kalau KUK mengundang sastrawan untuk ikut festival sastra internasional, itu soal giliran saja. Kan tidak mungkin mengundang semua sastrawan. Dua puluh orang diatur saja sudah susah. Ini kan juga soal mutu. Kalau kata teman-teman kurator tidak dianggap bermutu, yang tidak diajak. Dan kalau tidak oleh KUK tidak apa-apa, bukan berarti mereka tidak jadi sastrawan. Jangan-jangan mereka lebih bermutu daripada yang diundang. Jangan dianggap begitu. Itu malah mereka membuat KUK menjadi penting. Hegemoni, dominasi di mana? Itu yang saya tidak mengerti. Bahwa karya-karya mereka tidak dimuat di Kalam bisa saja. Nah sekarang masalah festival sastra, saya nggak pernah diundang. Ayu Utami diundang karena sekarang sudah tidak di KUK lagi. Orang KUK sendiri tidak pernah muncul ke festival itu. Karya Tony Prabowo yang orang KUK juga tak pernah dimainkan di sini. Menurut saya tidak ada dominasi. Itu perasaan orang minder saja.

Tanya:

Ya mindernya karena apa?

Jawab:

Saya tidak tahu.

Tanya:

Apakah ini sebagai akibat dari tidak pernah dijalinnya komunikasi antara KUK dengan teman-teman di daerah? Sehingga meninggalkan kesan sombong?

Jawab:

Lho, KUK itu terbuka bagi siapa saja. Siapa yang melarang orang datang ke sini? Kalau mau datang ya datang. Undangan kita sebar. Saya gak mengerti, apa sih yang spesial bagi KUK. Kan ada juga yang lain, ada Bentara Budaya. Kenapa tidak diserang? Galeri Kompas di Yogya juga ada, kenapa gak diserang. Saya tidak mengerti apa yang disebut dominasi? Kalau KUK dianggap penting, yang menganggap penting siapa? Kalau ada satu orang dari KUK yang menonjol yang seharusnya disaingi dengan karya juga. Saya kira biasa saja. Alasan yang biasa. Di dalam sastra, seperti di dalam olahraga, kalau ada kesebelasan bagus yang dikalahkan melalui pertandingan. Kalau olahraga kan jelas ada wasitnya, kalau dalam sastra yah seharusnya bisa bersaing terus dengan karya. Kami juga jadi geli (tertawa) kalau KUK dilihat seperti itu. Nirwan bilang (Nirwan Dewanto), saya saja gak pernah mikirin KUK, mereka 24 jam mikirin KUK. Itu kan hanya membesar-besarkan KUK saja jadinya.

Bonnie Triyana

Tulisan ini dikutip dari Harian Jurnal Nasional (Jakarta), 7 Oktober 2007.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s