WAWANCARA DENGAN SITOK SRENGENGE


Rizka Maulana

Mas Sitok, saya mau wawancara tertulis lewat e-mail dengan Anda. 
Soalnya bulan Ramadhan ini jalanan macet dan saya tinggal di Bogor. 
Kalau Mas Sitok setuju, inilah pertanyaannya:

RM: Dalam polemik yang bersliweran tentang TUK (atau KUK) Mas Sitok 
tidak memberikan keterangan atau komentar selama ini. 
Mengapa? Menganggap sepi serangan itu?

SS:  Hello, Rizka. Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaanmu, 
izinkan saya bertanya dulu. Dapatkah Anda memberi sedikit lebih 
keterangan tentang diri Anda? Misalnya, Anda kerja di mana, 
wawancana ini untuk media apa? Maaf, ya, soalnya kita kan belum kenal. 
Saya membaca nama Anda beberapa waktu lalu ketika saya dikirimi email 
seorang teman. Tapi, semua itu boleh Anda katakan belakangan, atau tidak sama sekali.

Begini. Saya kurang pasti, mana yang Anda anggap "polemik tentang KUK" itu? 
Ada selebaran yang sampai ke tangan saya. Di sana tak saya temukan lontaran 
ide atau konsep yang jelas, yang disampaikan dengan argumentasi dan didukung 
fakta atau data. Yang dominan justru gosip, makian,  dan bahkan fitnah.  
Itu bukan polemik namanya.

Bukannya saya menganggap sepi. Saya dengar, serangan itu paling gencar 
terjadi di milis. Kebetulan, saya bukan orang yang gemar menjadi 
anggota milis. Saya takut tiap hari inbox saya kebanjiran email. 
Selain itu, saya sekarang ini sibuk sekali. Novel trilogi saya, 
Kutil, yang dulu dimuat bersambung di harian Suara Merdeka, 
sedang saya tulis ulang.  Saya juga sedang menyiapkan buku kumpulan puisi baru. 
Mudah-mudahan tahun depan bisa terbit. Belum lagi urusan pekerjaan di KUK, 
di KataKita, dan sejumlah  pekerjaan lain yang membuat saya harus mondar-mandir Jakarta-Jogja.

RM:  Ada yang mengutip kata-kata Mas Sitok, bahwa penyair yang tidak diundang 
ke KUK bukan penyair. Kenapa mas Sitok mengatakan demikian? Itu kan namanya arogan?

SS: Saya setuju. Itu arogan namanya, kalau saya—atau siapa pun—berkata seperti itu. 
Saya diberi tahu banyak teman bahwa tuduhan itu dikatakan, bahkan ditulis dalam makalah, 
oleh Saudara Wowok Hesti Prabowo.  Memangnya saya begitu naif dan tidak tahu bahwa 
ucapan seperti itu tidak layak, keliru, dan bisa menyinggung perasaan orang
lain? Maka tolong tunjukkan kapan, di mana, dalam forum apa saya mengatakan itu?
Kalau kalimat itu saya nyatakan secara tertulis, tulisan itu dimuat di media apa, 
kapan tanggal pemuatannya? Nah, sebaliknya, siapa pun yang menuduh tanpa bisa 
menunjukkan bukti, itu memfitnah.

Wowok konon bertujuan untuk menganggap KUK tidak penting. Itu bagus. Tapi 
mengapa dia begitu peduli dengan KUK? Harusnya KUK dia abaikan saja. Bikin
kegiatan lain yang lebih bagus. Kembangkan jaringan yang lebih luas.

RM:  Dalam posting Tita Ruby dalam Art & Culture dibandingkan menyelenggaraan
Biennale Senirupa dengan Biennale Sastra Utan Kayu, yang Mas Sitok ketuai tahun
ini.  Tita Rubi mengatakan dalam Biennale Seni Rupa ada pertanggungjawaban
kurator, tapi dalam Biennale Sastra tidak. Mengapa ini?

SS: Saya juga dapat print-out tulisan Titarubi itu. Saya suka sikap Tita. 
Di awal tulisannya ia minta maaf jika tulisannya tidak baik atau terjadi 
salah penggunaan titik-koma. Padahal, Anda baca kan? Tulisannya bagus, pikirannya juga jernih.

Bandingan yang dilakukan Tita, antara KUK dengan Cemeti, 
juga Utan Kayu International Literary Biennale (UKILB) dengan CP Biennale, 
bagi saya menarik.Saya memang melihat sejumlah faktor yang mirip di sana.

Tapi, yang sungguh tidak sebanding, dan tentu tidak setara, 
adalah menempatkan serangan Saudara Saut Situmorang dan Wowok 
sebagai "kritik". Sejauh yang saya pahami, tindakan mereka  
hanya marah-marah, atau berpura-pura marah.

Tapi, baiklah, mari kembali ke tanggapan Tita. Jika sebuah tim kurator sudah
melakukan tugasnya secara baik, menurut saya itu sudah bertanggung jawab. Kalau
pertanggungjawaban yang dimaksud adalah "penjelasan" mengapa memilih Si A dan
bukan Si B -- mengapa harus? Karena itu acara publik?  Sebuah festival sastra 
mirip sebuah pertunjukan, dan kuratornya seperti produser atau sutradara.  Kita tahu
sutradara film dan teater tidak harus menjelaskan mengapa memilih aktor-aktornya, 
bukan aktor-aktor yang lain. Pengelola media massa juga tidak harus menjelaskan 
kenapa memuat tulisan/berita tertentu dan bukan yang lain. 

Artinya, banyak hal yang berhubungan dengan publik, namun tak semuanya 
harus dipaparkan kenapa begini, mengapa begitu. Publik dapat menilai sendiri 
mutu sebuah festival atau apa pun yang bersentuhan dengan mereka.

Sebenarnya penjelasan tentang UKILB, meski barangkali kurang memuaskan, sudah
diberikan oleh direktur festival. Di sana dijelaskan tentang pemilihan tema, tujuan, 
juga keterbatasan festival. Beberapa wartawan juga menanyakan perihal pemilihan penulis-peserta. 
Kepada mereka telah kami jelaskan. Tidak berarti kita tidak mau dan tidak akan mencoba 
mengikuti model biennale seni rupa. Tapi, selain itu tak bisa kita jadikan ukuran, 
ada banyak festival sastra di dunia yang tidak memberikan pertanggungjawaban sebagaimana 
dimaksud. Di Indonesia, setidaknya ada dua festival sastra internasional 
(Festival Sastra Internasional, yang dulu diselenggarakan oleh Saudara Agus Sarjono 
dan Rendra, dan Ubud Writers and Readers Festival) di samping yang diselenggarakan KUK.
Mereka pun tidak menggunakan "pertanggungjawaban" model biennale seni rupa.

Lagipula, saya ragu, benarkah dengan adanya "pertanggungjawaban" lantas 
tidak akan ada kontroversi. Kontroversi sebenarnya bagus, kalau disertai 
argumen dan data. Saya memahami pandangan Tita yang bijak, bahwa serangan Saut itu 
merupakan bentuk kepedulian dan rasa memiliki. Bagus jika hal itu benar. 
Yang saya sayangkan, kenapa mereka menempuh cara-cara kasar seperti itu. 
Secara pribadi kami tak punya masalah dengan mereka. Kami saling kenal. 
Dengan mudah mereka bisa bertanya atau berdialog
langsung jika ada hal-hal yang perlu dikomunikasikan. 
Tapi, soalnya lain jika mereka cuma bisa membuat selebaran 
yang isinya mau ganas, tapi  hanya menjemukan.

Tulisan ini dikutip dari artculture-indonesia.blogspot.com, 2 Oktober 2007.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s