PENGANTAR


Dodi Ahmad Fauji

Manusia sebagai homonilupus sekaligus homo socius, yang menurut Injil dan Quran, suka saling memerangi sesamanya, pada akhirnya sukar keluar dari pekubuan dan saling serang. Alasannya, bisa hanya karena rebutan jatah makan demi ketahanan hidup. Bagi yang sudah establish dalam soal survival, yang jadi rebutan bergser ke soal eksistensi, pengaruh, atau kekuasaan.
Perlombaan eksistensi telah ikut memajukan peradaban jika dilakukan dengan semangat kompetitif. Semua orang berkompetisi untuk menjadi yang terbaik. Quran sendiri menganjurkan berkompetisi dalam ebrbuat kebaikan. Kompetisi inilah yang kelak melahirkan kanon-kanon dalam peradaban. Namun seringlah kita tergelincir saat berlompentisi, hingga membenarkan perbuatan lancung lagi licik.
Perkubuan dan saling serang kembali mengheboh dalam dunia sastra kita. Perhebohan sastra Indonesia terkini, seperti yang diturunkan dalam rubrik Gelanggang di Jurnal Nasional edisi 7 Oktober 2007, adalah politik perkubuan.
Menyangkut perkubuan, Komunitas Utan Kayu (KUK) yang didirkan di penghujung kekausaan Orde Baru, mendapatkan apresiasi dari banyak pihak dengan harapan bakal malahirkan ‘ para pembangkang‘ terhadap penguasa. Belakangan, mendapatkan serangan dari perorangan ataupun komunitas lain. Di milis bumimanusia@yahoogroups.com, atau pantau-komunitas@yahoo.gropus.com misalnya, beredar pernyataan yang melihat KUK telah melakukan praktik-praktik kurang etis dalam membangun kanon sastra Indonesia. Malah disebut-sebut bertindak arogan dan mencoba membangun hegemoni dalam kesusastraan Indonesia. Di milis-milis itu, sedang marak saling serang-tangkis mengenai perkubuan ini.
Goenawan Mohammad (GM) di harian ini pada edisi yang sama, menyatakan kepada para penyerang KUK, adalah hak bagi perorangan maupun komunitas untuk berekspresi. Mereka yang mengelurkan pernyataan larangan terhadap aktivitas KUK, menurut GM sama dengan sedang melakukan coret-coret di tembok kakus.
Kami melibatkan diri dalam perdebatan dengan maksud menjadi fasilitator yang berimbang. Pula dengan harapan, bahwa perdebatan itu akan saling asah argumentasi, menguak fakta dan bukan menyembunyikannya, dan kita semua terus-menerus belajar menjunjung tinggi kejujuran.
Rubrik Gelanggang kali ini, menurunkan tulisan Saut Situmorang sebagai komponen dalam debat perkubuan itu. Juga diturunkan wawancara dengan Afrizal Malna yang mamandang perkubuan itu dalam posisinya yang netral. Selamat menyimak.

Tulisan ini dikutip dari Rubrik “Gelanggang”, Harian Jurnal Nasional (Jakarta), 28 Oktober 2007.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s