BOEMIPOETRA VERSUS GOENAWAN MOHAMAD DAN TUK (BAGIAN 1)


Asep Sambodja

Pada bagian pertama tulisan ini, saya akan membaca rubrik Titik Toedjoe jurnal Boemipoetra. Rubrik ini selalu ada setiap penerbitan. Mulai edisi pertama yang terbit pada pertengahan 2007 hingga edisi ke sebelas pada Februari 2009, rubrik ini selalu muncul dan selalu ditempatkan di cover depan. Tulisan singkat padat ini tampil semacam editorial yang menyatakan sikap redaksi terhadap sesuatu. Topik apapun yang dibicarakan biasanya selalu dilihat dari perspektif redaksinya. Karena itu, ada baiknya pada bagian awal tulisan ini saya khusus membaca Titik Toedjoe Boemipoetra.
Penulis Titik Toedjoe biasanya menggunakan nama samaran, seperti Goendik Renjah Meriah, Negarawan Sastra, dan yang paling sering dipakai adalah Babat Hutan Kayu. Sementara nama Wowok Hesti Prabowo muncul dua kali, dan dua kali tidak ada nama penulisnya alias anonim. Namun, kalau kita teliti secara saksama, misalnya dengan melihat pesan yang disampaikan dan diksi yang dipergunakan, maka saya berasumsi bahwa sebagian besar (bukan semuanya) Titik Toedjoe Boemipoetra ditulis oleh Wowok Hesti Prabowo. Ada atau tidak ada nama penulis bukanlah persoalan utama, apalagi menggunakan nama samaran, tidaklah menjadi persoalan penting. Karena, biasanya editorial ditulis tanpa menyertakan nama penulisnya. Isi tulisan itu merupakan sikap umum redaksi media yang bersangkutan dan menjadi tanggung jawab Pemimpin Redaksi. Dalam hal Boemipoetra, tulisan yang berada di rubrik Titik Toedjoe itu menjadi tanggung jawab Wowok Hesti Prabowo; apakah ia menggunakan nama asli, nama samaran, atau tidak menggunakan nama sama sekali.

Sastrawan Indonesia yang menjadi sasaran tembak Boemipoetra adalah Goenawan Mohamad (GM), sedangkan komunitas sastra yang diserang Boemipoetra adalah Teater Utan Kayu (TUK) dan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Ada tiga edisi yang editorialnya khusus menyerang pribadi Goenawan Mohamad, yakni “GM Antek Amerika” yang ditulis Negarawan Sastra pada edisi kedua 8/07, “GM Itu Sampah!” yang ditulis Wowok Hesti Prabowo pada edisi November-Desember 2007, dan “Goendoel Monyet” yang ditulis Babat Hutan Kayu pada edisi November-Desember 2008.

Kenapa Goenawan Mohamad diserang? Boemipoetra menyebut GM yang selama ini dianggap sebagai budayawan ternyata seorang pecundang bangsa, penipu rakyat, dan pelacur budaya. GM dan kawan-kawannya di TUK, yang oleh Boemipoetra disebut sebagai cecunguk-cecunguk GM, dinilai sebagai agen imperialis dan menjadi pintu gerbang bagi penjajahan budaya Indonesia. Sebuah tuduhan yang sebenarnya sangat serius, namun Boemipoetra tidak atau belum memberi hak jawab pada GM.

Ada empat bukti yang disodorkan Boemipoetra terkait dengan GM (saya tulis selengkapnya sebagaimana yang tertera pada edisi kedua). Pertama, GM selama ini mencitrakan dirinya sebagai seorang yang prodemokrasi. Ia jago bicara soal demokrasi. Tapi kenyataannya perilakunya sangat antidemokrasi! Contoh konkretnya adalah kasus DKJ. Nyaris hampir semua pengurus DKJ adalah orang-orang Komunitas Utan Kayu (KUK) yang dipilih dengan cara yang amat tidak demokratis.

Kedua, GM selama ini seolah-olah mencitrakan dirinya seorang yang prorakyat, benarkah? Ternyata itu bohong. Buktinya ia dan antek-anteknya secara nyata mengiklankan dirinya mendukung kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak) melalui iklan sehalaman penuh di berbagai koran nasional. Mereka dibiayai Freedom Institute milik keluarga Bakrie yang kini menenggelamkan Sidoarjo dengan Lumpur Lapindo. Buntut kenaikan BBM itu membuat rakyat menjerit menderita hingga kini, itulah bukti GM mencekik leher rakyat sambil berdansa! Ah…

Ketiga, selama ini GM seolah-olah menghargai keberagaman, nyatanya sebaliknya! Ia dan antek-anteknya memaksakan keseragaman pikiran dan nilai-nilai barat yang diimpornya ke dalam kebudayaan Indonesia. Termasuk upayanya menyeragamkan kesusastraan Indonesia dengan sastra kelaminnya.

Keempat, GM secara nyata-nyata dan penuh kesengajaan merusak kebudayaan Indonesia dengan dalih liberalisme, padahal liberalisme hanya akan melahirkan kolonialisme. Dan GM telah membangun pintu gerbang bagi penjajah! GM antek Amerika tulen! Bagi orang Indonesia yang menjadi antek penjajah berarti pecundang dan pengkhianat bangsa.
Siapa Negarawan Sastra yang memberi bukti-bukti yang menguatkan tuduhan-tuduhan Boemipoetra atas Goenawan Mohamad? Bahkan bukti-bukti itu terasa cukup menohok GM. Namun, bukti-bukti itu tak merangsang GM memberikan tanggapan, hingga Wowok Hesti Prabowo menurunkan tulisan yang terbaca sangat emosional, “GM Itu Sampah!” dan “Goendoel Monyet”.

Dalam wawancara Rizka Maulana dengan Goenawan Mohamad yang diposting oleh Rumah Dunia, Goenawan Mohamad mengaku belum membaca bulletin Boemipoetra. Ketika ditanya, kenapa tidak peduli? Goenawan menjawab, “Saya sedang tak punya banyak waktu. Di samping menulis Catatan Pinggir tiap minggu untuk majalah Tempo, saya sedang menuliskan kembali ceramah saya tentang Estetika Jeda dan satu telaah tentang Pramoedya Ananta Toer. Saya juga sedang menyelesaikan serangkaian sajak dengan mengambil dasar novel Miguel de Cervantes, Don Quixote. Sebentar lagi saya harus menuliskan satu libretto Tan Malaka.”

Dari jawaban Goenawan Mohamad tersebut, tampak bahwa Goenawan Mohamad sangat sibuk dengan berbagai pekerjaan yang berkaitan dengan sastra dan kesenian pada umumnya. Tampaknya Goenawan Mohamad tak sempat untuk berpolemik. Lagi pula, dalam wawancara dengan Rizka Maulana itu, Goenawan juga mengatakan, “Dalam pengalaman di Indonesia ini, sejak Polemik Kebudayaan sangat sedikit polemik yang bermutu.”

Karena kesibukan itu pulalah Goenawan tidak bisa atau tidak sempat menanggapi tuduhan-tuduhan Wowok Hesti Prabowo dan kawan-kawan yang disampaikan melalui Boemipoetra. Ketika Rizka mengkonfirmasi bahwa dalam bulletin itu Goenawan Mohamad disebut sebagai pelacur budaya, Goenawan dengan tenang menjawab, “Mungkin penulisnya anak-anak remaja. Gejala itu seperti corat-coret di tembok kakus. Bagi saya, tak perlu dianggap serius. Saya kira kalau nanti mereka lebih dewasa, akan berubah cara menulisnya.”

Selain Goenawan Mohamad, yang menjadi sasaran kritik Boemipoetra adalah TUK dan DKJ. Setidaknya ada dua edisi yang khusus menulis dua lembaga ini, yakni edisi triwulan pertama 07 yang menurunkan laporan bertajuk “DKJ Cabangnya TUK” yang ditulis Goendik Renjah Meriah dan edisi Januari-Februari 2009 yang menurunkan tulisan dengan judul “DKJ Mandul!” tanpa disebutkan nama penulisnya.

Dalam edisi pertama dan ke sebelas ini, Boemipoetra menilai bahwa DKJ hanyalah cabangnya TUK, yang diplesetkan menjadi Tempat Umbar Kelamin (TUK). Goendik Renjah Meriah (GRM) menyebut TUK sebagai agen imperialis, pintu gerbang penjajahan di bidang budaya Indonesia. GRM juga menuduh GM menggunakan cara licik dan tipu muslihat sehingga memperalat Akademi Jakarta (AJ), “mengapusi” seniman dan Pemerintah Daerah (Pemda) Jakarta dengan membuka cabang di Taman Ismail Marzuki (TIM). Dengan demikian, lanjut Boemipoetra, GM dan TUK bisa mengembangkan ideologinya yang merusak budaya bangsa dengan biaya pemerintah. Ideologi TUK dinilai tidak bermoral, lebih menjunjung perkelaminan, dan tidak nasionalis.

Keluarnya Radhar Panca Dahana dan Ahmadun Yosi Herfanda dari DKJ dikaitkan Boemipoetra dengan kondisi DKJ yang digambarkan seperti itu. GRM yang menulis Titik Toedjoe edisi perdana ini melihat banyaknya dana yang dikucurkan Pemda Jakarta ke DKJ. Setiap tahun dana miliaran rupiah dialirkan Pemda Jakarta ke DKJ. Angka tepatnya tidak disebutkan. Terkait dengan hal itu, Boemipoetra mengusulkan agar pengurus DKJ dan AJ diganti dengan cara yang lebih demokratis dan akomodatif. Selain itu, menganjurkan kepada pembaca agar menyelamatkan DKJ dari agen imperialis perusak moral dan budaya bangsa.

Dalam edisi terkini, Januari-Februari 2009, Boemipoetra menyebut DKJ sebagai komunitas yang mandul, karena keberadaan Marco Kusumawijaya sebagai Ketua DKJ kurang diakui oleh sebagian besar seniman Jakarta. Selain itu pengurusnya juga “terasing” dengan komunitasnya sendiri. Dalam hal pembagian dana, Boemipoetra mencatat bahwa acara Pekan Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri yang diselenggarakan di TIM tidak mendapatkan bantuan dana sepeser pun. Sementara Utan Kayu International Literary Biennale mendapat bantuan dana Rp 40 juta. Tahun 2009 ini adalah tahun terakhir kepengurusan Marco dan kawan-kawan. Boemipoetra meminta agar KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) mengaudit DKJ. Dan, pemilihan pengurus DKJ 2009-2001 tidak dilakukan secara basa-basi.

Bagaimana komentar TUK yang diwakili Sitok Srengenge? Dalam wawancara dengan Rizka Maulana mengenai hal ini, lagi-lagi terbaca kesibukan orang-orang TUK. Sitok, misalnya, mengatakan, “Saya sekarang ini sibuk sekali. Novel trilogi saya, Kutil, yang dulu dimuat bersambung di harian Suara Merdeka sedang saya tulis ulang. Saya juga sedang menyiapkan buku kumpulan puisi yang baru, mudah-mudahan tahun depan bisa terbit. Belum lagi urusan pekerjaan di KUK, Penerbit KataKita, dan sejumlah pekerjaan lain yang membuat saya harus mondar-mandir Jakarta-Yogyakarta.”

Tampaknya, orang-orang TUK/KUK memang sibuk-sibuk, sehingga polemik yang diharapkan terjadi tak bisa bersemi. Namun, terkait dengan polemik itu, Sitok mengatakan, “Ada selebaran yang sampai ke tangan saya. Di sana tak saya temukan lontaran ide atau konsep yang jelas, yang disampaikan dengan argumentasi dan didukung fakta dan data. Yang dominan justru gossip, makian, dan bahkan fitnah. Itu bukan polemik namanya.”

Sitok mencontohkan, pernyataannya yang dikutip Boemipoetra yang berbunyi “Penyair yang tidak diundang ke KUK bukan penyair” dan disebut sebagai sikap yang arogan itu sama sekali tidak berdasar. “Tolong tunjukkan kapan, di mana, dalam forum apa saya mengatakan itu? Kalau kalimat itu saya nyatakan secara tertulis, tulisan itu dimuat di media apa, kapan tanggal pemuatannya? Nah, sebaliknya, siapapun yang menuduh tanpa bisa menunjukkan bukti, itu memfitnah,” katanya.

Dalam wawancara Sitok Srengenge dengan Rizka Maulana yang cukup panjang itu, Sitok juga menyatakan bahwa Wowok konon bertujuan untuk menganggap KUK tidak penting. “Itu bagus. Tapi mengapa dia begitu peduli dengan KUK? Harusnya KUK dia abaikan saja. Bikin kegiatan lain yang lebih bagus. Kembangkan jaringan yang lebih luas,” ujar Sitok.

Lebih lanjut, dikatakan bahwa serangan Wowok Hesti Prabowo dan Saut Situmorang tak bisa dikatakan sebagai kritik. “Sejauh yang saya pahami, tindakan mereka hanya marah-marah atau berpura-pura marah,” tegas Sitok. “Yang saya sayangkan, kenapa mereka menempuh cara-cara kasar seperti itu. Secara pribadi kami tak punya masalah dengan mereka. Kami saling kenal. Dengan mudah mereka bisa bertanya atau berdialog langsung jika ada hal-hal yang perlu dikomunikasikan. Tapi, soalnya, lain jika mereka cuma bisa membuat selebaran yang isinya mau ganas, tapi hanya menjemukan.”

Benarkah isi Boemipoetra menjemukan sebagaimana kata Sitok Srengenge? Benarkah hanya orang-orang TUK/KUK saja yang sibuk? Bagaimana karya-karya sastra yang dimuat di Boemipoetra—mengingat mereka mengklaim “karya-karya ‘gerombolan TUK’ jauh lebih jelek dibandingkan sastrawan-sastrawan daerah yang bertebaran di berbagai pulau di Indonesia”? Apakah benar dalam djoernal Boemipoetra tidak ada ide atau konsep yang jelas sebagaimana dikatakan Sitok Srengenge?

Tulisan ini dikutip dari jurnallangkah.wordpress.com, 7 Maret 2009. Sayangnya, bagian kedua tulisan ini belum berhasil kami temukan. Kalau ditemukan, kami tentu akan melengkapinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s