MANGKUK MAJEMUK NARASI KRITIK PEREMPUAN


(Tanggapan atas tiga bagian tulisan Katrin Bandel di Harian Republika, (1) “Saman dalam `Kebohongan’ Politik Sastra” pada 23 Maret; (2) “Membongkar Kasus ‘Politik Sastra Gombal'”, 30 Maret; dan (3) “Representasi Menyesatkan tentang Peran KUK”, 06 April 2008).

Dewi Candraningrum

Pada bagian pertama, Katrin mengulas informasi tentang Penerbit Horlemann yang menerbitkan terjemahan bahasa Jerman atas novel Saman pada 2007 lalu, karya Ayu Utami. Tarjamah Jerman ini ditulis oleh Peter Sternagel, yang pernah bekerja pada pertukaran budaya dan bahasa, sebagai Direktur Goethe Institut Bandung. Sampul Saman diwajahkan oleh potret Ayu Utami. Potret ini untuk memberi ilustrasi “wajah perempuan Indonesia berkarakter”, demikian tutur Michael Adrian, Direktur Penerbit Horlemann (Tempo, Sketsa, 25.02.2008). Horlemann-Verlag, yang berkantor di Unkel am Rhein dekat kota Bonn ini, dicitrakan sebagai “kecil dan kurang bergengsi” oleh Katrin Bandel di tulisan Bagian 1 Harian Republika. Informasi ekstra-literer ini cukup menarik untuk digali lebih lanjut. Pada 1990 Horlemann-Verlag didirikan oleh seorang politikus sekaligus penulis, Juergen Horlemann (1941-1995), yang mendedikasikan diri pada produksi penerjemahan serta penerbitan buku-buku tentang perkembangan sosiopolitik dan sosiobudaya negara-negara berkembang. Dengan didorong oleh kecintaan pada suara minoritas dan suara jauh, Horlemann memberdayakan karya-karya di luar arus utama sastra Eropa. Seorang penggiat LSM Eine Welt Forum Aachen, Sri Ningsih, memberikan informasi penting tentang jasa penerbit Horlemann yang telah setia menerbitkan karya-karya sastrawan Indonesia, dalam Artikel Perempuan, Jurnal Perempuan Online, Penerbit Horlemann dan Kesusasteraan Indonesia di Jerman” (11 April 2008).

Saling Tarjamah sebagai Komunikasi antar Peradaban

Di antara produksi kesusasteraan Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman oleh Horlemann-Verlag adalah dari Mochtar Loebis, Tiger! Tiger! (1992); Leila S. Chudori, Die letzte Nacht (1993); Armijn Pane, In Fesseln (1993); Y.B. Mangunwijaya, Die Webervoegel (1993); Ahmad Tohari, Die Tanzerin von Dukuh Paruk (1996) & Komet in der Dämmerung (1997); Oka Rusmini, Erdetanz (2007). Pula, sampai lima karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer telah diterjemahkan dan diterbitkan, yaitu Mensch für Mensch (1993); Die Familie der Partisanen (1997); Spur der Schritte (1999); Stilles Lied eines Stummen, Aufzeichnungen aus Buru (2000); Die Braut des Bendoro (2001). Khusus untuk karya Toer, ada dua penerbit lain di Jerman yang juga menerbitkan. Oleh Penerbit Rowohlt, yaitu Garten der Menschheit (1987). Pula, oleh Penerbit Unionsverlag, yaitu Kind aller Völker (1994); dan Spur der Schritte (2002). Penerbit Horlemann yang “kecil” tersebut ternyata memiliki jasa penting bagi pemberdayaan karya Indonesia di Jerman. Horlemann membantu proses definisi, representasi dan proliferasi karya sastra Indonesia dalam lokus kesusasteraan Jerman. Latar sosiobudaya ini meruang dalam dialektika peradaban antara Indonesia dan Jerman, dimana resepsi, apresiasi, dan kritik sastra Indonesia di Jurusan Asia Tenggara universitas-universitas di Jerman tumbuh dan berkembang, seperti di Universität Hamburg, Koeln, dan Bonn. Berthold Damshäuser, seorang pengajar sastra Indonesia di Universität Bonn merupakan salah satu penggerak penting dalam proses saling tarjamah ini. Bersama majalah sastra Horison, Pak Trum, demikian dia akrab disapa, bersama Agus R. Sarjono (dari Horison), menerjemahkan beberapa susastra Jerman ke dalam Bahasa Indonesia. Seperti Seri Puisi Jerman 001 Rainer Maria Rilke, Padamkan Mataku (2003); 002 Bertholt Brecht, Zaman Buruk Bagi Puisi (2004); 003 Paul Celan, Candu dan Ingatan (2005); 004 Johann Wolfgang von Goethe, Satu dan Segalanya (2007). Saling menterjemahkan karya sastra baik dari Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Jerman, dan sebaliknya, merupakan komunikasi interpenetrasi dan komunikasi kohabitasi dalam menembus batas perbedaan bahasa dan budaya. Dengan plurivokalitas ragam representasi beberapa penulis Indonesia di Jerman telah meniscayakan keragaman komunikasi yang tidak hanya direpresentasikan secara tunggal oleh Saman. Ayu Utami bukanlah satu-satunya penulis perempuan Indonesia bagi publik Jerman. Leila S. Chudori dan Oka Rusmini telah pula diterbitkan dalam Penerbitan Horlemann. Bahkan, di tahun ini Horlemann Verlag menerbitkan kumpulan karya penulis perempuan kritis Indonesia dalam Duft aus Asche, yang ditarjamah oleh Monika Arnez, pengajar Universität Passau, bersama Edwin P. Wieringa, seorang Profesor Universität Koeln.
Pun, Berthold Damshäuser bersama Wolfgang Kubin yang menjadi editor Orientierungen, sebuah majalah Kebudayaan Asia di Universität Bonn, bersama para tim penerjemah dalam “Arbeitskreis Moderne Indonesische Literatur”, telah menerjemahkan beberapa karya perempuan seperti Dorothea Rosa Herliany, Das Land des Anderseins (1/2002) dan Wellen von Wut und Schmerz (1/2002). Lalu karya Djenar Maesa Ayu, Asmoro (1/2006). Pak Trum telah pula menerjemahkan puisi dari penyair Agus R. Sarjono, Hamid Jabbar, Jamal D. Rahman, Nenden Lilis, dll. Selain, juga menerjemahkan kumpulan puisi karya Agus R. Sarjono Frische Knochen aus Banyuwangi, Ausgewählte Gedichte (2002), yang diterbitkan oleh Garlev Verlag. Terakhir, penulis mengirimkan cerpen “Jaring-Jaring Merah” karya Helvy Tiana Rosa untuk diterjemahkan oleh Orientierungen, Das Rote Netz (2/2007). Multivokalitas representasi penulis perempuan tersebut merupakan catatan kaki bagi tulisan Katrin Bandel Bagian 3. Dus, KUK dan Ayu Utami bukan representasi monolitik bagi publik Jerman. Tetapi dia merupakan bagian dari plurivokalitas representasi yang dimainkan oleh politik komunikasi media dan kerja akademik. Kerja keras inisiatif dan pengelolaan proses-proses ini merupakan sumbangsih bagi dialektika kesusasteraan, dan ‘tidak kecil’ peran dan fungsinya dalam komunikasi antar peradaban. Kerja menerjemahkan merupakan jantung dialog antar peradaban, yang membongkar dan memaknai ulang sistem tanda dan makna asing ke dalam sistem tanda dan makna lokal, melalui proses kreatif dan domestikasi tanda.
Representasi Multivokal Karya Perempuan

Katrin Bandel membongkar kardus “politik sastra” Komunitas Utan Kayu, yang icitrakan sebagai “kebohongan dan kegombalan”. Pencitraan dan representasi Katrin Bandel atas Saman dibangun dari sumber ekstra-literer. Dengan menggali tentang jati diri Horlemann-Verlag yang “kecil dan kurang bergengsi”, tentang peran KUK, peran Goenawan Mohamad, pernyataan Katrin Figge tentang sosok Ayu Utami, dll dan dll. Namun, di sana-sini terdapat inkonsistensi dalam mengumpulkan fakta ekstra-literer tersebut. Aspek-aspek ekstra-literer penting yang menjadi sandaran piranti baca dan analisis kritik meniscayakan peran penting (1) kesejarahan kelahiran karya sastra; (2) bilik sosial, ekonomi, budaya, politik, dan agama yang melatarinya; (3) oto/biografi pengarang; (4) dan surat-surat serta korespondensi seputar karya tersebut. Keempat faktor tersebut dapat dicapai dengan hasil yang bertanggung jawab apabila dilakukan investigasi dan wawancara pada pihak-pihak terkait di seputar karya tersebut. Salah satu inkonsistensi kurang bertanggung jawab adalah representasi Horlemann-Verlag. Pengecilan karya kemanusiaan yang dijepret dari segi kuantitas, yaitu jumlah produksi dan kapital, tidak menjamin apakah pengabdian pada asasi kemanusiaan Horlemann- Verlag besar atau kecil. Komodifikasi dan kapitalisasi karya seni dalam banyak hal membantu proliferasi `kuantitas’ karya ke seluruh penjuru dunia, tetapi dia tidak menjamin citra diri atas ukuran `kualitas’ sebuah karya. Mempolitisasi ukuran kapital Penerbit Horlemann untuk mengkritisi sebuah karya meniscayakan pengabaian atas dedikasinya pada penulis-penulis dari negara-negara berkembang. Penerbit ini telah membuat yang tidak terlihat, menjadi terlihat; yang tidak dapat bersuara, menjadi dapat bersuara. Tidak aneh, bila penerbit ini setia dengan penulis-penulis dari Vietnam, Kamboja, India, Malaysia, juga dari beberapa negara Amerika Latin dan Afrika. Bukankah Penerbit Horlemann telah menyambit jejaring representasi penulis Eropa yang dominan, dengan menampilkannya secara sejajar dengan penulis Asia, Afrika, dan Amerika Latin? Dia telah merekayasa kerja keras untuk menciptakan sebuah ruang representasi dimana penulis-penulis di luar arus-utama mendapatkan rumahnya dalam representasi sastra Eropa yang majemuk. Wajah-wajah perempuan penulis Indonesia yang tertekuk dalam cetakan Horlemann dan Orientierungen merupakan tambahan pelangi warna-warni indah dalam bingkai representasi kesusasteraan Asia di Eropa yang multivokal dan plural.
Pencitraan Narasi Perempuan

Selain aspek representasi yang telah diperjuangkan oleh Penerbit Horlemann untuk khasanah kesusasteraan Indonesia di Jerman, penulis melihat bahwa pencitraan Katrin Bandel atas Katrin Figge (staf pada Goethe-Institut Jakarta) telah melampaui ruang obyektifitas. Imajinasi inkorporeal telah dibekukan dalam mangkuk banalitas korporeal. Memenjara pernyataan Katrin Figge (Porträt aus: “Literatur-Nachrichten” Nr. 94 Herbst 2007, Wilde Ehe, Bier und Pornographie) dalam ruang banal subyektifitas resepsi dan citra diri Katrin Bandel. Dalam artikel Bagian 2 pada 30 Maret di Harian Republika, “Membongkar Kasus ‘Politik Sastra Gombal'”, Katrin Bandel melakukan kerja pencitraan sekaligus politik representasi atas Figge sebagai “orang asing” yang membuat pernyataan “luar biasa rasis”. Tentu saja ini adalah politik pencitraan Katrin Bandel yang berangkat dari bilik subyektifitas, yang diniscayakan memiliki kekuatan sebagai fakta korporeal. Yang senyatanya, Katrin Figge menolak dengan keras. Dalam diari mayanya Katrin Figge menyebut dirinya “half Indonesian myself”. Dan, menyampaikan keberatan dengan menulis, “Me, half Indonesian myself, is said to be racist against my own people? The people of this country I love? Please!”. Ketika Katrin Figge menyebut diri sebagai “setengah Indonesia”, dia telah menisbatkan pilihan diksi universal, serupa dengan Katrin Bandel menisbat diri sebagai “kritikus sastra asal Jerman” atau Katrin Bandel memberi tera diri Katrin Figge sebagai “orang asing”. Pilihan diksi dalam mencitrakan ras diri adalah pilihan alamiah dan universal. Lompatan diksi menuju rasisme, perlu meninjau konteks ucap `narasi ras’ tersebut. Dalam berita sastranya, Figge bisa jadi menggunakan klise dan stereotipi dalam potret tulisan atas Ayu Utami, tetapi lompatan diksi Bandel atas “luar biasa rasis” ini berlebihan dan tidak adil. Karena, Figge meletakkan ajektif atas Ayu Utami itu dalam konteks yang spesifik. Pernyataan klise dan stereotipi atas konteks tertentu yang spesifik, perlu dihikmati dalam konteksnya sendiri yang spesifik pula; dan, tidak bisa serta merta dihakimi sebagai “luar biasa rasis”. Dekonstruksi pencitraan kurang adil oleh Figge sendiri ini penting dan perlu disuarakan, karena Katrin Bandel enggan melakukan kerja konfirmasi, wawancara, pun “cross-interview” untuk mendapatkan pencitraan yang adil dan bertanggung jawab atas citra inkorporeal pernyataan seorang Katrin Figge.
Politik pencitraan dan lompatan diksi yang kurang adil ini telah pula dinarasikan atas Ayu Utami dalam tulisan Katrin Bandel di Berita Seni (16/04/2008). Syahdan, pula, dituliskan oleh Katrin Bandel, tentang sebuah pesan pendek dari kawan di Hamburg, yang memberi komentar atas sampul novel Saman, yang menerakan foto Ayu Utami. Lompatan diksi berikutnya adalah “eksotisme istri impor” atas karakter foto Ayu Utami. Memilih, menyortir, dan menarasikan pesan pendek ini, pun, adalah pilihan politis. Narasi “istri impor” ini dipilih untuk mendukung citra yang kurang apresiatif dan kurang bertanggung-jawab. Lompatan diksi atas “luar biasa rasis” dan “istri impor” ini adalah juga kerja politis. Imaji inkorporeal Katrin Figge dan Ayu Utami tidak perlu dibela, tetapi, manipulasi politik representasi dan citra diri narasi atas Katrin Figge dan Ayu Utami oleh Katrin Bandel ini merupakan maneuver politik dan lompatan diksi yang dapat melahirkan banalitas gosip dan polemik yang kurang sehat. Polemik kurang sehat ini membuka peluang ruang-ruang gosip yang mengalir di samping bantaran sungai psikososial para pekerja seni dan pembacanya. Di satu sisi melahirkan perpecahan, pengelompokan dan sentimen diri yang over-dosis; tetapi di sisi lain, dapat pula menumbuhkan ruang-ruang kedewasaan dan kritisisme dalam melakukan pembacaan atas polemik ini. Kedua efek tersebut di atas dapat memacu kreativitas dan kompetisi sehat, tetapi, sekaligus, politik kebencian, rasisme, dan narsisme pribadi dan kelompok. Lanskap dialektika polemik ini dapat disehatkan kembali dengan melakukan kerja-kerja konfirmasi dan re-konfirmasi, penulisan dan penulisan-kembali, pengisian ruang-ruang kosong atas pembingkaian informasi tertentu secara lebih apresiatif dan bertanggung jawab. Dinamika ini merupakan kekayaan dari kedewasaan berkesusasteraan di Indonesia. Terpenting, bingkai pencitraan atas narasi Liyan dengan pilihan diksi secara apresiatif, adil, dan bertanggung jawab. Bingkai citra ini berkekasih dekat dengan dimensi etik. Dimensi etik meniscayakan didalamnya narasi pencitraan Liyan yang, sekali lagi, apresiatif, adil dan bertanggung jawab.
Pandangan Dunia dan Hermeneutika

Ketiga lanskap sosiobudaya kesusasteraan tersebut di atas—baik (1) saling penerjemahan karya dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Jerman dan dari Bahasa Jerman ke Bahasa Indonesia; (2) representasi karya minoritas; dan (3) pencitraan narasi Liyan yang berkeadilan—diwarnai oleh kerja penetrasi dan kohabitasi bilik sosiopolitik dan sosioekonomi dalam menyusun fondasi epistemik ekstra-literer karya sastra. Pendekatan ekstra-literer ini melengkapi pendekatan literer, yaitu ekstra-tekstual, inter-tekstual, dan intra-tekstual atas pembacaan sebuah karya sastra. Piranti mendekati karya kesusasteraan ini memiliki validitas masing-masing, yang dapat saling mengisi, mengkonfirmasi, atau bahkan saling bertolak belakang dan bermusuhan. Mesin peradaban ini melahirkan iklim kebaruan dalam berkarya dan berapresiasi. Asupan oli dan bensin bagi megamachine ini adalah terwujudnya semangat Etik, dimana karya-karya kemanusiaan didekati dengan sila ilmu humaniora, Geisteswissenschaften. Kata ini dilahirkan di Jerman pada tahun 1849 oleh Dilthey (1833-1911). Filsuf, Psikolog, dan Pendidik ini membabarkannya dalam Einleitung in die Geisteswissenschaften (1883), untuk memisahkannya dengan Naturwissenschaften—yang mengeksplorasi kebenaran dengan nalar erklären (menjelaskan)—melalui metode verstehen (memahami), dalam panci Hermeneutika. Dilthey mendefinisikan sebagai pengetahuan pengalaman dan spirit. Spirit ini merupakan Geist yang diambil dari terma Hegel (1770-1831) atas spirit kehidupan manusia, masyarakat, dan budaya. Dalam bahasa Inggris, dia menemukan analoginya Humanities, Arts dan Human Studies. Dilthey meniscayakan pemahaman kebenaran dapat dilacak dari `pandangan dunia’ sebuah individu, pun masyarakat. Weltanschauung ini mengumpulkan keping-keping pengetahuan, representasi, narasi diri, dan produksi makna atas dunia dan tugas dirinya bagi peradaban. Pengetahuan ini kemudian dihadapkan pada sebuah cermin, dengan kerja refleksi, kemudian kerja sistemasi dengan menjalin satu pandangan dunia dengan yang lainnya. Kerja membedah dan membongkar pandangan dunia ini membutuhkan sila-sila Etik. Etik, sebagai jantung dari kebijaksanaan, mendedahkan suatu kehidupan yang beradab. Etik melampaui konsepsi benar dan salah. Inti dari Etik adalah peradaban yang laik, yang dilakoni bukan dengan moralitas kaku a la Manichean, hitam putih. Tetapi dedahan bijaksana yang maujud dalam hikmat adab yang adil dan bertanggung jawab. Dimana dihindari: politik komunikasi yang melahirkan manipulasi; politik representasi Liyan yang mendakwakan pengecilan atas kelompok minoritas; politik pencitraan yang menjuruskan interpretasi tidak adil atas Liyan. Tanggung jawab Etik dalam Humaniora, yang menyerbuki putik-putik dialektika dalam sumur ekstra-literer kesusasteraan, meniscayakan politik komunikasi yang membuahkan saling apresiasi antar peradaban; politik representasi yang melahirkan pemberdayaan atas karya-karya minoritas; dan politik pencitraan Liyan yang adil dan bertanggung jawab. Basis Etik adalah nurani. Nurani adalah mulut sekaligus kuping peradaban. Deklarasi nurani ini merupakan tebing terjal bagi harkat kemanusiaan.
Pengalaman dan Tatapan Perempuan

Cetak biru Dilthey atas `pandangan dunia’ ini penting. Yang merupakan salah satu peletak dasar atas Hermeneutika yang telah didedahkan oleh beberapa filsuf Jerman lainnya, seperti Schleiermacher, Gadamer dan Habermas. Schleiermacher (1768-1834) mendedah pentingnya kesejarahan konteks ucap dari grammatika sekaligus motif psikologis sang penulis dalam mesin `memahami’, yaitu hermeneutika. Sedang Gadamer (1900-2002) membabar bahwa pembacaan dan pemahaman atas teks merupakan kerja yang tiada henti, karsa abadi, yang diperluas dengan pergerakan horizon. Gadamer melanjutkan bahwa “memahami” adalah sebuah proses perpindahan dari satu horison ke horison lainnya, digambarkan seperti menembus dari satu bilik menuju bilik lainnya. Ini kemudian dilengkapi oleh Habermas (1929-) atas tempelan ideologi pada sang pengelana ruang-ruang itu. Dus, perjumpaan antar horison itu ditemani sahabat dekat, bernama ideologi. Namun demikian, Dilthey dikritik oleh beberapa feminis, seperti Katherine Goodman, Biddy Martin, dan Sara Lennox. Pada buah pemikiran Dilthey tentang “Erlebnis”. Menurut Dilthey, dalam memahami “pandangan dunia” manusia atau kebudayaan tertentu, dapat disingkap tabir rahasianya dari dua pengalaman, yaitu, (1) Erlebnis-pengalaman yang hidup; dan (2) Erfahrung-pengalaman ilmiah. Menurut kawan feminis, Erlebnis ini elitis, yang tidak memperhatikan pengalaman yang hidup kawan-kawan `kelas pekerja’ dan pengalaman `perempuan’. Ini merupakan terobosan baru atas dekonstruksi pengalaman yang hidup, yang sebelumnya dilihat dan dipahami secara elitis. Perspektif ini, pula, disokong oleh Annete Drostehulshoff, Christa Wolf, dan  Ingeborg Bachman. Pun, sekarang, kawan-kawan minoritas seksual telah menggunakan diskursus Politik Queer, untuk mencoba menyodorkan pengalaman, tidak hanya kelas pekerja dan perempuan, tetapi pula pengalaman `kawan-kawan minoritas seksual’. Saling koreksi dan saling mengisi ruang-ruang pemahaman dalam melihat fenomena atas kebenaran ini merupakan pergerakan dialektika yang kekal sekaligus multivokal. Yang ditiliki dan dihikmati dari beragam perspektif. Saling menghiasi dan saling mengkoreksi satu sama lain. Pergerakan abadi inilah yang memberikan inspirasi pada kawan-kawan feminis untuk memajang Saman dengan perspektif perempuan. Tatapan perempuan atas Saman ini merupakan bagian dialektika peradaban yang akan selalu plurivokal. Dengan suara yang beragam dalam kontinuum pelangi kesusasteraan Indonesia.
Narasi Tabu

Kawan Feminis melihat Saman dengan tatapan perempuan. Menempatkannya pada pencarian suara feminin atas sumbangannya pada roda peradaban. Tokoh utama dalam novel Saman, adalah Saman sendiri. Nama merujuk jender maskulin ini merupakan mangkuk pusat atas transformasi sosiopolitik dan sosiobudaya Indonesia di bawah represi ideologi patriarki Orde Baru. Meskipun berjender maskulin, Saman diserbuki jiwa feminin, jiwa sang Ibu. Martina Heinschke, Soe Tjen Marching, Gadis Arivia, Mariana Amiruddin dan beberapa kritikus lain telah secara berbeda menuju simpul serupa atas penolakan tabu yang direbus dalam panci-panci tradisi budaya agama dan budaya politik otoriter. Yang telah digambarkan pula oleh Katrin Figge dalam berita sastranya. Soe Tjen Marching, pengajar pada SOAS London, dalam “Description of Female Sexuality in Ayu Utami’s Saman” (Journal of Southeast Asian Studies, 2007, 38: 133-146 Cambridge Univ Press) memberi eksplorasi tentang aksi dekonstruksi Saman, yang memungkinkan pembicaraan terbuka atas tema `seksualitas’ yang dipandang sebagai `tabu’, sebuah penala yang menyedot hiruk pikuk kontroversi dalam kesusasteraan Indonesia. Soe Tjen membabar bahwa pusaran debat tersebut telah gagal melihat kompleksitas ruang-ruang poskolonial yang menjadi latar novel itu. Sementara, Martine Heinschke—pengajar pada Universität Hamburg, dalam “Eigenes Terrain, eigene Wege? Indonesisches Frauenromane seit den 1970er Jahren und Ayu Utami Debutwerk: Saman (1998) und Larung (2001)” (hal. 145-198) dalam buku suntingan Dorothee Schaab-Hanke dan Judit Árokay, Auf Anderen Wegen? Bermerkenswerte Frauen in Ost und Sudostasien (Hamburger Sinologische Schriften 10, 2007)—mendedahkan bahwa letak kekuatan Saman tidak hanya pada persoalan seksualitas, akan tetapi pada `tema sosial’. Yaitu, bagaimana Saman mengalami persekusi represif Orde Baru. Tema sosial bagaimana tokoh Saman ini diciduk dan dipenjara merupakan aksis penting dalam pergerakan plot novel ini. Dari bumi akademik Indonesia, pendiri Yayasan Jurnal Perempuan, dan salah satu filsuf feminis penting, Gadis Arivia, menemukan kekuatan Saman pada `politik feminis’ yang memiliki komitmen sosial. Lontaran tersebut diwajahkan dalam diskusi virtual mailing list Jurnal Perempuan. Direktur Jurnal Perempuan, Mariana Amiruddin, yang juga seorang perempuan penulis dan feminis, menyatakan bahwa Saman adalah upaya melawan `stigma’ atas perbincangan seksualitas itu sendiri. Seksualitas dapat dibicarakan secara terbuka dan bukan barang tabu. Mariana memapar lebih jauh bahwa seksualitas bukanlah produk Barat per se, tetapi merupakan bagian dari lanskap tradisi Indonesia yang tercermin, salah satunya, dalam candi, seperti relik Lingga dan Yoni. Dari segelintir eksplorasi kritikus perempuan atas Saman tersebut, menggambarkan bahwa Saman telah dicitrakan sebagai novel `pemberontakan’. Meskipun Katrin Bandel “mempertanyakan” citra pemberontakan dalam tulisan lalu, fakta bahwa Saman diapresiasi oleh para kritikus sebagai salah satu ekspresi pemberontakan, adalah legitim. “Pertanyaan” Katrin Bandel atas citra ini, juga, adalah legitim. Tatapan kawan-kawan perempuan kritikus sastra ini menambahi lajur kekayaan khasanah kesusasteraan Indonesia. Saman sebagai sebuah karya akan hidup dengan dirinya sendiri, berdialektika secara kekal dan indah, baik dengan para kritikus dan pembacanya. Dia maujud dalam ruang ideologi yang beragam. Dirasai serta dijejapi secara beragam, pula. Dia telah menggelindingkan roda dialektika, dimana ruang-ruang apresiasi dan kritik disemai dan disirami dalam bantaran sungai kearifan hermeneutika. Pula, telah membukakan pintu tabu bagi `visibilitas suara perempuan’ yang rapat terkunci oleh hasrat ideologi patriarki Orde Baru. Tabu telah dibongkar, dibicarakan, didiskusikan, diperdebatkan, diperebutkan dan dinarasikan secara majemuk dalam piring kreativitas `kemanusiaan-perempuan’ yang terus-menerus, tiada henti, sepanjang jaman.

Tulisan ini dikutip dari greatliteraryworks.blogspot.com pada 19 Mei 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s