TANGGAPAN GADIS ARIVIA UNTUK KATRIN BANDEL


Tulisan di Republika mengenai Ayu Utami oleh Katrin Bandel berjudul Membongkar Kasus “Politik Sastra Gombal” dimuat 20 Maret 2008, menurut saya sangat mendeskreditkan suatu karya yang seharusnya diapresiasi dan dibanggakan sebagai novel yang telah banyak meraih penghargaan.

Tulisan tersebut tidak membahas kekuatan ataupun kelemahan novel Ayu Utami, “Saman”, melainkan menyajikan opini soal-soal yang tidak berkaitan dengan sebuah karya. Saya tidak mengerti argumen yang ditulis oleh Katrin Bandel karena argumen-argumen tersebut tidak ada hubungannya dengan karya besar yang telah dilahirkan oleh Ayu Utami. Suatu karya besar Ayu Utami telah lahir dan berhasil baik di dunia intelektual Indonesia maupun di pasar nasional maupun Internasional, memberikan inspirasi dan kontribusi besar pada pemikiran Indonesia. Alasan-alasan tersebut sudah cukup untuk sebuah penghargaan.

Argumen soal Gunawan Muhammad menuliskan pidato Ayu Utami pada penerimaan penghargaan Prince Claus Award atau tidak dan soal apakah Ayu Utami sebelumnya menulis atau tidak, bukan fokus dari penilaian suatu karya sastra. Sangat disayangkan bahwa “gosip-gosip” lebih dianggap penting oleh koran Republika ketimbang membahas si karya.

Soal bahwa Amnesty Internasional menganggap Ayu Utami perlu dibela atau tidak itu sepenuhnya hak organisasi tersebut dan segala keluhan atau protes sebaiknya ditujukan kepada organisasi tersebut tapi bukan mendeskreditkan suatu karya karena tindakan sebuah organisasi.

Saya pun tidak melihat apa keterkaitan KUK (Komunitas Utan Kayu) dalam semua ini. KUK sebagai organisasi komunitas yang mendorong kreatifitas sastra menurut saya perlu diperhitungkan kontribusi besar mereka pada sastra Indonesia. Bahkan saya berpendapat KUK lebih besar kontribusinya dalam kegiatan sastra dan budaya dari pada Universitas Indonesia khususnya FIB, UI, yang seharusnya lebih kredibel di bidang ini tapi miskin penelitian dan produktifitas.

Tentu banyak karya dan penulis lain yang juga cukup baik. Mari kita tumbuhkan dan diskusikan kekuatan dan kelemahan karya-karya tersebut. Namun, jangan membunuh karakter satu penulis demi memunculkan penulis lainnya. Cara-cara seperti ini tidak fair dan tidak etis. Karya hanya dapat dinilai dari karya dan bukan di luar itu. Jadi, marilah kita mendiskusikan isi karya dan bukan “gosip-gosip” di luar karya.

Salam,
Gadis Arivia

Tulisan ini dikutip dari beritaseni.wordpress.com, 2 April  2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s