TANGGAPAN SITA UNTUK ULIL ABSHAR-ABDALLA DAN MANNEKE BUDIMAN


Dear Ulil dan Manneke,

Cobalah berdebat langsung dengan Si Katrin Saya bertemu dengan Katrin (dari Jerman, tapi gayanya tinggal di Yogyakarta) pada bulan desember tahun lalu di seminar ‘dinamika kemaritiman dalam perspektif sastra dan sejarah’ (tanggal 15, Undip Semarang). Waktu itu dia membawa makalah ‘Perempuan pesisir dalam novel gadis pantai karya Pramoedya Ananta toer dan Jamangilak tak pernah menangis karya Martin Alaida’. Waktu saya membaca makalahnya saya merasa analisis substansi dua novel itu sangat “sophisticated” dan saya bisa menambah sekarang sama sekali tidak ada unsur merendahkan dua karya sastra tersebut ataupun pengarangnya.

Saya tidak sempat membaca tulisannya mengenai karya Ayu Utami sehingga tidak bisa menilai apakah mengandung unsur merendahkan tersebut. Tapi dia menyebut karya Ayu Utami dalam alinea terakhir makalahnya. Saya kutip:

“Apakah itu berarti bahwa Gadis Pantai dan Jamangilak Tak Pernah Menangis tidak relevan dibaca dalam konteks studi gender dan feminisme? Menurut pandangan saya kedua novel justru sangat menarik dibaca dalam konteks itu karena dapat membuat kita menyadari betapa beragamnya persoalan yang dihadapi perempuan Indonesia. Khususnya representasi perempuan dalam kedua novel itu menarik dibandingkan dengan imaji perempuan yang dipopulerkan lewat karya-karya pengarang perempuan yang sering disebut “sastrawangi”, misalnya Ayu Utami atau Djenar Maesa Ayu. Unsur yang sangat ditekankan dalam karya-karya “sastrawangi” adalah seksualitas, sampai-sampai tidak jarang timbul kesan bahwa yang paling penting demi “kemajuan” perempuan adalah kebebasan seksual. Sayangnya, tidak banyak pengarang perempuan mengangkat persoalan-persoalan lain yang dihadapi perempuan, seperti persoalan kerusakan lingkungan dalam Jamangilak Tak Pernah Menangis dan feodalisme dalam Gadis Pantai.”

Pasti ada karya sastra hasil pengarang perempuan yang mengupas aspek kehidupan perempuan lain. Contoh karya-karya Oka Rusmini tentang kehidupan perempuan Bali. Dan juga seperti Ayat-ayat Cinta. Buku itu sedang dibaca anak saya yang 16 tahun. Dia tidak dapat berhenti baca sampai ‘tamat’! Seru, katanya. Anak saya (dari keluarga Hindu) menyadari bahwa buku ini ‘islamiah’, tapi rupanya itu tidak membuat dia menolak karya sastra ini. Ternyata gaya tulis buku ini dan alur ceria begitu menarik sampai bisa mengikat perhatian anak saya.

Sebenarnya nilai sastra sebuah karya sastra baru akan nampak kalau buku itu tetap diapresiasi di lain zaman. Contoh, Max Havelaar. Karyanya sampai sekarang masih diminati, gayanya bukan saja karena melawan sistem pemerintahan kolonial dan feodalisme pamong praja, tapi juga karena a) gaya tulis begitu memukau, dan b) menyentuh perasaan tentang keadilan dan kemanusiaan yang rupanya cukup universal. Padahal, kalau kebenaran faktual dari apa yang ditulis diuji berdasarkan sumber sejarah tentang kasus tersebut, boleh dikatakan gambaran tentang perannya sendiri  (Multatuli=Max Havelaar) dan orang yang disajikan dapat dikritik.

Maksud saya, kita dapat mengagumkan karya sastra berdasarkan berbagai indikator. Bisa saja gaya tulis bagus, alur cerita mempesona.

Penilaian terhadap substansi sangat ditentukan apa yang sedang ‘hot’, seperti seksualitas perempuan di Indonesia, (di negara Barat sudah biasa-biasa saja) atau pegangan normatif bagi kalangan perempuan Islam. Kita juga bisa menilai suatu karya – yang mungkin bagus atau ngetop dari segi indikator2 di atas dan lainnya – dari sudut pandang mendukung atau tidak kesetaraan gender atau mengukuhkan pembelengguan perempuan yang sudah ada atau menciptakan bentuk penindasan baru.

Ma’af saya bukan ahli sastra, hanya pelaku studi gender…

Sita

Tulisan ini dikutip dari milis apresiasi-sastra dan milis Jurnal Perempuan, 2 April  2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s