TANGGAPAN ULIL ABSHAR-ABDALLA UNTUK MANNEKE BUDIMAN


Bung Manneke,
Kalau mau nakal, kita bisa juga memakai perspektifnya Edward Said untuk “mengusili” Si Katrin yang “bandel” ini. Saya bisa saja mengatakan, orang “bule” macam Katrin ini memandang “rendah” orang-orang kulit coklat macam Ayu Utami. Orang kulit coklat, apalagi dari Indonesia, mustahil mencapai reputasi besar di mata orang Eropa dalam bidang sastra, kecuali dengan “tipuan”, dan sedikit “make up”. Jadi, Katrin ini diam-diam melaksanakan “orientalisme” dalam bentuknya yang sangat buruk. Itu kalau kita mau “suuzzann” atau berburuk sangka.

Tapi, ya ngapain. Yang jelas, saya menikmati Saman sebagai karya yang baik, dengan kualitas berbahasa yang menurut saya, sebagai orang awam dalam bidang sastra, sangat baik.

Saya harus jujur, tulisan Katrin itu disampaikan dengan bahasa Indonesia yang sangat baik, dengan artikulasi yang baik pula. Saya begitu terkesan dengan kemampuan berbahasa si “bule” ini.

Lagi-lagi, kalau saya mau bersikap “usil”, saya bisa bertanya: apakah ini artikel tulisan Katrin sendiri, atau “buatan” Si “SS” yang terkenal itu? Atau kolaborasi antara Katrin dan “SS”?

Saya tak mau usil. Jadi pertanyaan itu hanya “penghandaian” saja. Saya menghargai kritiknya Katrin, walaupun kritiknya ini dilaksanakan bukan dengan cara menelisik teks Saman, sebaliknya bermain-main dengan aspek politik dari karya itu. Dan tidak apa-apa toh kritik sastra hanya mengudak-udak aspek politik sebuah karya?

Salam,
Ulil Abshar-Abdalla

Tulisan ini dikutip dari milis apresiasi-sastra dan milis Jurnal Perempuan, 2 April  2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s