TANGGAPAN GAYATRI UNTUK GADIS ARIVIA, ABSHAR-ABDALLA, MANNEKE BUDIMAN, DAN SITA


Untuk Gadis, Ulil dan Manneke

Juga untuk Sita dengan klarifikasi yang jernih

Soal Katrin Bandel selalu mengungkit-ungkit Ayu atau Djenar, saya pribadi merasa agak aneh. Termasuk selalu mengkaitkan dengan istilah “sastra wangi” Jika, istilah “sastra wangi” dilekatkan kepada Ayu dan Djenar, tentu tidak tepat. Terutama jika kita mengacu pada definisi sastra wangi itu sendiri. Saya kira, siapapun yang melekatkan istilah “sastra wangi” kepada Ayu dan Djenar, kiranya agak salah kaprah menggunakan istilah tersebut.

Saya curiga sesungguhnya, dengan pelabelan istilah tersebut kepada 2 orang sastrawan kita yang kebetulan berjenis kelamin perempuan tersebut. (Sesungguhnya label “Sastra Wangi” juga dilekatkan kepada 2 orang penulis novel yang lainnya) apakah ini bagian dari mysoginist dunia sastra Indonesia, yang selama bertahun-tahun terhegemoni oleh patriarkh-patriarkh yang berjenis kelamin laki-laki tersebut?

Dalam pendekatan feminisme, kita mengenal istilah “Sex-Positive Feminism”. Dan jika pada karya kedua orang tersebut Ayu dan Djenar, sex-positive dikemukakan, apa salahnya?

Jika cap atau label yang digunakan kemudian, oleh kelompok tersebut ini –aduuh.. saya udah bosen lah dengan kelompok ini, apakah si Saut, apakah si Katrin, apakah Taufik Ismail—Cap atau Label yang diberikan “Sastra Selangkangan”

Menurut saya, ini sedang terjadi “the other victorian regime” dalam dunia sastra kita yang diwakili oleh kelompok yang..aduuh nyebelin. Menyebalkan karena, pada beberapa tulisannya, memang Katrin cukup bernas dan konsisten secara ilmiah. Seperti yang ditunjukkan oleh Sita di bawah ini.

Namun apa yang digunakan dalam tulisan di Republika, menurut saya, hanya sekedar mau “obok-obok” sesuatu yang sudah mulai tenang kembali. Saya tahu, betapa terganggu nya Gunawan Mohammad, dengan “obok-obok” ini. Juga beberapa kawan lain, seperti Titarubi (perupa) yang sempat juga menanggapi beberapa bulan lalu. Manneke kan juga tahu, hal ini sempat dibicarakan waktu pertemuan sastra Indonesia Internasional. Para indonesianist pengkaji sastra Indonesia juga sudah punya penilaian tersendiri kok, dengan kelompok yang … aduuh males deh ngomonginnya.

Tapi, lepas dari saya males ngomonginnya, memang ada kecurigaan bahwa permasalahan ini sengaja di obok-obok. Udah tenang juga di obok-obok lagi, biar naik lagi. Karena persoalan banyak yang mau jadi “the other victorian” itu, karena mau menaikkan bahwa sastra pun perlu “dikontrol”. Kecurigaan saya ini, bisa sampai pada bentuk lain dari backlash. Lebih baik ditanggapi secara kritis, pada forum-forum ilmiah.

Saya tahu, mungkin Mannekke sudah males juga tanggapi. Tapi tulisan M. Bodden di RIMA tentang Djenar bagus juga. Saya kira, tulisan-tulisan macam itu yang perlu terus diupayakan untuk mengatasi obok-obok nggak mutu tersebut.

Salam dalam Solidaritas

Gayatri

Tulisan ini dikutip dari milis apresiasi-sastra IV dan milis Jurnal Perempuan, 2 April  2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s