TANGGAPAN KATRIN BANDEL UNTUK GADIS ARIVIA, MANNEKE BUDIMAN, DAN ULIL ABSHAR-ABDALLA


Terima kasih kepada moderator yang mengundang saya ikut nimbrung di milis yang rupanya sedang “mendiskusikan” tulisan saya ini.

kepada Gadis Arivia:

Hanya satu yang ingin saya tanyakan: Memangnya kenapa kalau dalam esei saya di Republika itu saya tidak membahas teks novel Ayu Utami, tapi teks-teks lain yang menjadi bagian dari wacana seputarnya? Kata siapa bahwa itu tidak sah atau tidak relevan? (Kalau ingin tahu pandangan saya tentang teks Saman dan Larung, silakan baca esei saya tentang heteronormatifitas dan falosentrisme dalam karya Ayu Utami.

kepada Manneke:

Seperti yang bisa dibaca dalam esei saya, saya mengatakan bahwa Martin “Amanshauser mengutip sebuah teks yang dijadikannya rujukan untuk “membuktikan” kehebatan Ayu Utami, yaitu pidato yang disampaikan pada saat Ayu Utami menerima penghargaan Prince Claus Award di Belanda pada tahun 2000″, ditulis oleh Goenawan Mohamad. Amanshauser yang menerangkan bahwa teks itu adalah pidato yang ditulis oleh GM – berarti kalau keterangan itu mau dianggap fitnah, yang melakukan fitnah bukan saya, tapi Amanshauser.

Apakah teks yang dikutip Amanshauser memang benar dibacakan sebagai pidato pada acara pemberian hadiah Prince Claus, tidak saya ketahui. Mungkin saja Amanshauser keliru. Belakangan (setelah esei saya itu sudah saya kirim ke Republika) saya menemukan kutipan yang sama, dikutip dari tulisan Goenawan Moehamad berjudul “Ayu Utami, The Body Is Heard” yang dimuat di Prince Claus Awards Book tahun 2000 (tidak bisa didownload lewat internet). Bagi saya tidak begitu penting apakah benar tulisan GM itu dibacakan sebagai pidato atau tidak.

Tapi saya rasa menarik dicatat bahwa 1. GM menjadi juri Prince Claus, meskipun bukan pada tahun Ayu Utami menang, dan 2. GM menulis tentang Ayu Utami di buku Prince Claus (dengan nada menuji tentunya). Artinya, GM bukan tidak terlibat dalam pemberian hadiah tersebut. Tepatnya apa wujud keterlibatan itu tidak saya ketahui.

Tapi meskipun begitu bukankah wajar dan relevan kalau saya sekadar BERTANYA-TANYA tentang keterlibatan GM tersebut?

kepada Ulil:

Terima kasih untuk komentar Anda yang rasis, seksis dan orientalis itu. Jadi menurut Anda sebagai bule yang baik dan benar saya seharusnya sibuk memuja-muji Ayu Utami dalam bahasa Indonesia yang patah-patah, begitu? Hah?

Salam,
Katrin Bandel

[2008/4/1]

Tulisan ini dikutip dari milis Jurnal Perempuan, 3 April  2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s