TANGGAPAN KATRIN BANDEL UNTUK GADIS ARIVIA


Saya langsung akan menjawab kedua pertanyaan Anda:

1. Mengapa soal “personal politics” tentang GM dan KUK menjadi penting dalam pembahasan karya Saman, Ayu Utami.

Tidak begitu jelas bagi saya apa yang Anda maksudkan dengan “personal politics”. Yang saya bahas dalam esei saya di Republika adalah pencitraan KUK, khususnya Ayu Utami, di Eropa. Dalam kasus Ayu Utami, saya mengamati bahwa baik menyangkut isi novel “Saman” maupun biografi penulisnya, banyak keterangan tendensius dalam teks-teks tentang Ayu Utami dan “Saman” di Jerman dan Austria. Ayu Utami digambarkan sebagai perempuan yang luar biasa berani dan yang tulisannya sangat subversif.

Ketika mulai menulis esei itu, saya sebetulnya tidak berniat membahas GM sama sekali. Tapi karena memang tulisan GM-lah yang disebut Amanshauser, dan karena klaim yang kita temukan dalam tulisan GM diulang-ulang di beberapa sumber berbahasa Jerman (yang sudah saya sebutkan dalam esei saya), saya anggap pengaruh GM perlu dan relevan dibicarakan. Dan karena tulisan GM itu dibuat dalam rangka pemberian Prince Claus Award pada Ayu Utami, dan award itu pula yang sering disebut-sebut baik di Indonesia maupun di luar negeri sebagai “bukti” bahwa Ayu Utami memang penulis hebat, persoalan penghargaan itu pun menjadi penting dibahas.

Kalau kita membicarakan politik sastra tentu kita tidak mungkin hanya berbicara tentang teks karya sastra. Politik sastra dilakukan orang/komunitas tertentu, dengan kepentingan tertentu. Saya tidak tahu bagaimana dan mengapa saya mesti membahas politik tanpa menyebut orang/komunitas yang terlibat, kalau itu yang Anda maksudkan dengan “personal politics”.

Lalu mengapa itu penting dalam pembahasan karya “Saman”? Karena penilaian “Saman”, seperti penilaian setiap karya sastra, tidak lepas dari persoalan politik sastra. Karena teks “Saman” bukan hadir begitu saja di ruang kosong lalu secara kebetulan saja muncul di depan mata pembaca. Tapi novel itu hadir dalam bentuk buku oleh penerbit tertentu, dibeli orang karena ada nama “Ayu Utami” di covernya, penulis yang banyak dihebohkan itu, yang sering dibahas di media itu, yang menang lomba DKJ itu, yang dapat Prince Claus Award itu, yang diterjemahkan ke beberapa bahasa asing itu. Atau dibeli karena komentar-komentar para “pakar” yang memujinya di cover belakang, termasuk komentar Pram yang diselewengkan itu!

2. Kadang pembahasan “personal politics” menjadi gosip bila tidak bisa dibuktikan. Apakah Katrin telah mewawancara baik GM secara pribadi dan KUK sebagai lembaga agar asumsi Katrin bisa diuji?

Saya tidak mengerti atas dasar apa beberapa orang di milis ini menganggap bahwa apa yang saya lakukan dalam esei saya di Republika hanya gosip belaka. Yang saya analisis dalam esei saya semuanya teks yang memang ada (tulisan Katrin Figge, iklan “Saman” di website Horlemann, website amnesty, tulisan Amanshauser dsb), sumbernya juga saya sebutkan, bisa dicek setiap orang yang punya akses internet. Jadi saya ingin tanya pada Anda, di manakah saya sekedar menyebarkan gosip atau melakukan asumsi yang tidak dibuktikan?

Mengapa saya mesti mewawancarai GM atau KUK? Saya sama sekali tidak punya kepentingan untuk melakukan hal itu. Saya menulis tentang citra KUK di Eropa, dan untuk itu sumbernya adalah teks-teks yang dipublikasikan di Eropa sendiri. Dalam membaca teks-teks tersebut, saya menemukan bahwa Ayu Utami dan KUK secara umum direpresentasikan dengan cara yang berlebihan dan tidak realistis. Representasi itu jelas menguntungkan bagi KUK. Namun sejauh mana semua itu disengaja oleh KUK atau tidak, tidak bisa saya jawab. Yang jelas, sejauh saya tahu sampai saat ini tidak ada protes atau ralat dari KUK. Tak masuk akallah kalau saya disarankan mewawancarai orang KUK sendiri mengenai hal itu. Memangnya saya mesti mendatangi GM, lalu bertanya: “Mas Goen, apakah Anda sengaja menyebarkan informasi yang salah tentang Ayu Utami dan KUK agar komunitas Anda beken dan funding tetap lancar?” Lalu saya mengharapkan keterangan yang jujur dan mencerdaskan, begitu?

Salam,
Katrin Bandel

Tulisan ini dikutip dari milis Jurnal Perempuan, 3 April  2008.

Iklan

One response to “TANGGAPAN KATRIN BANDEL UNTUK GADIS ARIVIA

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s