TANGGAPAN IQBAL AJI DARYONO


Saya orang awam sastra. Pembaca pemula. Namun, sekali waktu, para pelaku polemik, baik Mbak Katrin maupun Jeng Gadis (aih, apa benar ini malah jd polemik keduanya? Gak selevel, sepertinya, kalo saya lihat kekuatan argumen keduanya. Tp KUK emang memilih tenggelam di dunia teks tanpa peduli konteks kan? buktinya diam aja hehe) dan semua stake holdernya ada baiknya menyadari bahwa para pembaca seperti saya (yang semestinya merdeka dan tdk segampang Prince Claus Award utk dipengaruhi) juga mendapat tempat untuk didengarkan. Ehm.

Baru beberapa hari yang lalu saya ikuti perdebatan ini, termasuk membaca tulisan2 lain yang terkait (tulisan2 Saut suami Katrin juga, yg kadang bernas dan bermuatan lmiah tapi lebih sering terlalu najis hingga menghilangkan selera membaca dan berpikir, sekaligus, mohon maaf, terkesan kurang beradab–terlalu normatif moraliskah? diganyang bang saut nanti .

Jujur saja, meski menangkap kesan “kesumat” yang pekat dalam tulisan Katrin (tentu tidak menafikan kakuatan analisisnya), apalagi Saut, saya sebagai pembaca juga tiba2 jadi merasa begitu gundah. Lama saya menerawang, melihat2 rak buku saya, mengidentifikasi semua buku saya, dan… masyaallah…. saya terkesiap. Ternyata, koleksi buku sastra saya memang didominasi oleh buku2 dari para penulis lingkar KUK (kalo boleh saya menyebut begitu, demi simplifikasi Lalu, apa benar saya juga salah satu dari ribuan pembaca indonesia yang menjadi korban yang rapuh dari sebuah proyek kanonisasi? Kalo ya, waduh, kepada siapa saya harus mengadu? (terlalu “tumbak cucukan” kalo harus langsung mengadu sama tuhan). Maksud hati merayakan kemerdekaan dari pemasungan kebebasan membaca pasca orba, ternyata kemerdekaan diri (barangkali) terenggut oleh kuasa kebenaran yang lambat laun tercipta dan menampakkan dirinya. aih aih.. Rezim baru yang memunculkan kekuatannya lebih karena mampu membangun akses kuat ke para penerbit berkapital besar yang mau menjalankan “proyek rugi penerbitan sastra” (wabil khusus sastra koran)…

Mustahilkah itu? Makanya, saya geleng2 kepala membaca reply Jeng Doktor Gadis Arivia yang sepertinya ngotot meminta Mbak Katrin untuk melihat kualitas Saman dari teksnya sendiri (meski ini lebih sebagai cermin kecerobohan seorang doktor feminis yang kasih komentar tanpa lihat kiri kanan, karena toh Katrin sdh pernah mengulas Saman dengan detil di tahun 2005). Saya langsung membayangkan Jeng Gadis sebagai gadis (dengan g kecil) mahasiswi sastra semester dua yang masih keasyikan dengan srukturalime ortodox, dan belum masuk ke silabus lanjut mata kuliah intertekstualitas ataupun estetika resepsi dll.

Lebih jauh, Gadis seolah lupa (atau memang lupa?), bahwa pengetahuan adalah praktik politik kekuasaan sebagai produk modernisme lanjut, yang akhirnya meniscayakan obyektivisme sebagai bias, dan kebenaran sebagai versi. (maka, saya sih setuju saja sama komentar di atas yg bilang bahwa terlalu naif bila Gadis menyebut Saman bermutu karena diberi penghargaan hahaha. Lalu apa artinya Nobel Sastra tak pernah jatuh ke pangkuan Pram? Dengan cara apa dia melihat nyaris tak adanya kamerad dari kubu pro blok timur yg dapat door prize sastra yang konon paling prestisius itu?)

Gadis–yang saya salut karena tetap ngomong dengan santun gak kayak beberapa feminis yang saya kenal–juga mengenyahkan fakta bahwa sastra juga merupakan produk industri, sementara di industri, citra adalah sang penentu. Ujungnya bukan cuma cara kita menilai sebuah karya, greng ato tidaknya, tapi bahkan juga cara kita membaca. Ya to?

So?

Iqbal Aji Daryono

– tengkulak buku nan licik dan culas, yang sering menjadi tersangka dalam proyek manipulasi citra kecil2an: menyulap naskah mawut menjadi tambang uang, hanya dengan memoleskan gincu di sana-sini.

– belum berpihak pada salah satu pelaku di polemik ini.

Tulisan ini dikutip dari milis Jurnal Perempuan, 6 April  2008.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s