TANGGAPAN KATRIN BANDEL UNTUK GADIS ARIVIA


Gadis Arivia,

Saya sangat menghormati usaha Anda untuk tetap melanjutkan diskusi ini dengan rasional dan fair, berbeda dengan Manneke yang tidak melakukan apa-apa lagi kecuali menggerutu tanpa argumentasi sama sekali.

Dari posting Anda saya mendapat kesan bahwa meskipun Anda mengakui pengaruh faktor ekstratekstual alias pengaruh politik sastra, Anda cenderung melihat dunia akademis (atau dunia kritik sastra secara umum) seakan-akan berada di luar pengaruh tersebut – seakan-akan baik dalam interaksi dengan mahasiswa di kelas, maupun dalam kegiatan menulis, kita dapat dengan netral menganalisis teks karya sastra tanpa terpengaruh oleh politik sastra yang terjadi “di luar sana”.

Saya tidak bisa menyetujui pendapat yang demikian. Esei saya di Republika, diskusi kita di milis ini, tulisan-tulisan kita di jurnal, buku atau media massa, omongan kita di kelas, partisispasi kita dalam seminar atau acara sastra, semua itu adalah bagian dari politik sastra. Dalam memilih karya sastra yang ingin kita bahas, kita tidak mungkin melepaskan diri dari pemilihan yang sudah dilakukan orang lain sebelum kita: penerbit, redaktur atau editor yang memilih naskah. Kita juga tidak mungkin tidak terpengaruh oleh penghargaan yang diberikan pada pengarang/karya tertentu, misalnya berupa hadiah sastra, dan oleh resensi, kata pengantar dsb. Kita pun ikut mempengaruhi pembaca karya sastra, termasuk rekan-rekan kita, dengan menulis kata pengantar, komentar di sampul belakang, resensi, esei kritis dst.

Kalau di kelas Anda mengajak mahasiswa Anda membicarakan “Saman”, dan Anda memperkenalkan “Saman” sebagai karya yang “feminis” atau “sadar gender” (ini tentu hanya spekulasi, saya tidak mungkin tahu apa yang Anda bicarakan di kelas), bukankah sangat wajar kalau mahasiswa yang masih muda dan baru belajar sastra dan studi gender itu cenderung menerima dan mengadopsi pandangan Anda? Apalagi kalau referensi lain (selain keterangan dan tulisan Anda sendiri) berupa tulisan rekan-rekan Anda juga hampir semuanya mengatakan hal yang sama? (Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa semua mahasiswa dengan pasif menerima apa saja yang dikatakan dosennya tanpa mempertanyakannya. Tapi semakin seragamnya pandangan yang diungkapkan para akademisi/”kritikus ” tentang karya tertentu, semakin kecillah kemungkinan bahwa mahasiswa bisa sampai pada pembacaan yang menyimpang dari pandangan dominan tersebut.)

Dengan membicarakan ekses-ekses politik sastra seperti yang saya lakukan dalam esei saya di Republika, saya bukan ingin mengusulkan agar kita “membebaskan diri” dari politik sastra sehingga bisa sepenuhnya “netral” dalam menilai teks. Netralitas itu tidak mungkin. Sekadar demi argumentasi, mari kita membayangkan sebuah dunia di mana pengaruh faktor-faktor ekstrateksual dihapus sebisa mungkin. Di dunia imajiner tersebut, tidak ada penerbit atau redaktur lagi. Yang ada hanyalah sebuah arsip raksasa, mungkin dalam bentuk elektronik, di mana semua teks dimaskukkan tanpa seleksi dan tanpa label apapun yang dapat mempengaruhi pembaca: tidak ada nama pengarang, tidak ada genre, tidak ada tahun penerbitan, tidak ada komentar atau penilaian orang lain tentang teks itu. Saya rasa, dunia imajiner yang tentu bukan sebuah utopia yang indah. Sebaliknya: Pembaca akan tersesat dalam rimba teks yang menjemukan sebab tanpa tanda yang membimbingnya, dia tidak akan tahu teks apa yang relevan, bermutu dan menarik dibaca.

Dengan kata lain, kita membutuhkan seleksi karya oleh penerbit, redaktur dan editor, penghargaan- penghargaan, nama besar, resensi buku dsb untuk membantu kita memilih apa yang perlu dan ingin kita baca, dan dalam pembacaan kita membutuhkan informasi ekstratektual tentang pengarang, tentang konteks lokal dan konteks historis penulisan dan setting karya tersebut, dsb.

Artinya, kita sangat tergantung pada faktor-faktor ektratekstual, atau pada politik sastra. Tapi pada saat yang bersamaan kita mesti sadar bahwa politik sastra merupakan ajang adu kepentingan antara pelaku-pelaku sastra.
Seleksi karya untuk diterbitkan, pemberian hadiah sastra, penilaian lewat resensi, pengantar atau tulisan lain, semua itu tentu tidak dengan sendirinya adil dan bisa kita terima begitu saja. Menurut pandangan saya, tugas kita yang bekerja di bidang kritik sastra adalah untuk sebisa mungkin mempertahankan posisi yang relatif independen dan sikap kritis sebagai pelaku dalam pertarungan politik sastra. Yang saya maksudkan sebagai sikap kritis adalah bahwa kita jangan menerima begitu saja seleksi dan penilaian yang dilakukan lewat penerbitan, pemberian hadiah dsb.

Kita perlu terus-menerus mempertanyakan dan mencurigai seleksi dan penilaian tersebut. Bersikap kritis juga berarti bahwa kita mesti selalu bersedia mempertanyakan kembali asumsi-asumsi kita sendiri dan posisi diri kita dalam pertarungan politik sastra yang sedang berlangsung.

Kalau kita menjalani tugas yang menurut pandangan saya sudah menjadi tanggung jawab kita itu, bisa diharapkan bahwa semakin lama penerbit, redaktur, editor, penulis resensi, rekan-rekan kita, pemberi hadiah sastra dan pelaku-pelaku sastra yang lain akan semakin berhati-hati dalam melakukan pekerjaan mereka, sebab kalau mereka memilih/memuji karya tertentu tanpa kriteria dan argumentasi yang jelas, mereka akan kena semprot oleh kita-kita yang terus-menerus mengawasi langkah-langkah mereka dengan mata tajam. Dan bukankah itu sudah jelas akan menguntungkan bagi dunia sastra?

Kalau Anda tetap ingin membicarakan karya Ayu Utami sebagai karya yang “sadar gender” di kelas Anda, itu adalah pilihan politis Anda. Apakah Anda akan menyuruh mahasiswa Anda membaca esei Manneke Budiman atau esei Katrin Bandel sebagai referensi, juga merupakan pilihan politis Anda. Tapi kalau Anda berpendapat bahwa semua itu tidak ada sangkut pautnya dengan politik sastra, menurut hemat saya Anda bersikap kelewat lugu dan tidak bertanggung jawab!

Katrin Bandel

http://www.katrinbandel.com
4 April 2008

Tulisan ini dikutip dari greatliteraryworks.blogspot.com, 19 Mei 2008.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s