TANGGAPAN GADIS ARIVIA UNTUK KATRIN BANDEL


Dear Katrin,
Ya saya sependapat sepenuhnya dengan uraian Katrin soal faktor ekstratekstual atau pengaruh politik sastra. Apa yang Katrin uraikan seperti yang telah saya singgung di email lalu telah kita alami dalam perjalanan sastra Indonesia. Misalnya polemik Sultan Takdir Alisjahbana, Pramoedya Ananta Toer, Gunawan Muhammad (yang kebanyakan laki-laki), dibahas keseluruhan faktor ekstratekstual. Perdebatan-perdebat an ekstratekstual di zaman mereka menurut saya menarik dan lebih fokus pada perdebatan zaman Moderen yang bersifat universal, soal-soal besar menyangkut rasionalisme, individualisme dan ideologi-ideologi besar lainnya yang semuanya berupaya untuk mendefinisikan manusia dan masyarkat Indonesia ketika itu.

Pijakan universal versus partikularisme pernah saya tulis dalam membandingkan karya Calon Arang antara Pramoedya dan Toeti Heraty. Di dalam perbandingan tersebut saya menemukan bahwa pendekatan “netralitas” saya temukan dalam karya Pramoedya sedangkan dalam karya Toeti, pijakan politik feminisnya sangat terasa (demikian pula dalam karya Ayu Utami).

Mengapa karya Toeti dan Pram demikian? Lalu saya merunut dan membongkar faktor-faktor ekstratekstual. Tapi seluruh upaya saya itu untuk memahami lebih dalam karya-karya Pram dan Toeti. Demikian pula ketika saya berusaha memahami tulisan-tulisan pra-Indonesia yang dibuat oleh pengarang Belanda seperti Onno Zweier Van Haren (1713-1779) dengan karyanya Sultan Ageng Dari Banten. Cerita ini ia tulis untuk menumbuhkan semangat patriotisme, bukan patriotisme pribumi tapi melainkan Belanda, jadi, kepentingan ekspansi Belanda. Misalnya ia menulis di bagian babak pertama begini (melukiskan perasaan Sultan Ageng):

“Orang Eropa itu, walaupun sudah meninggalkan negerinya, tetap berwatak dan berkepala dingin di daerah khatulistiwa. Berbeda dengan kita jiwanya tidak berpengaruh oleh nafsu hangat, ia tetap memperhatikan yang hakekat. Kejayaannya berdasarkan terpecahnya kawasan kita oleh karena hawa nafsu kita tetap berkuasa”.

Jadi jelas Van Haren memiliki kepentingan, ia sebenarnya tidak hendak menyerang sistim kolonial meskipun di dalam karyanya banyak berempati dengan bangsa-bangsa yang ditaklukkan oleh Kompeni.

Oh ya, karena saya senang memperhatikan tokoh perempuan di dalam sebuah karya yang menarik bagi saya adalah ungkapan Kamuni sahabat karib Fatima (puteri mahkota Makasar yang sungguh perempuan tangguh):

“Semoga aku bersama dengan engkau menyaksikan bagaimana pantai Sulawesi dilanda balas dendam dan siksaan bagi bangsa Belanda yang tidak berperikemanusiaan seperti terjadi ketika armada dengan bajak-bajak buas datang dan baja berdentuman, menenggut ibu kakanda. Kehormatan maupun kehinaan tidak mencegah kaum pembunuh itu mencemarkan panji-panjinya dengan darah ratu suri!”

Politik sastra karya Van Haren memang tidak hendak menunjukkan patriotisme dan keberanian Fatima tapi hanya fokus pada Sultan Ageng dan kedua puteranya Abdul dan Hassan. Jadi, ekstratekstual di sini bagi saya menarik, sekali lagi untuk mendalami karya Van Haren.

Sikap Katrin dalam melihat kepentingan ekstratekstual Saman mungkin lebih dekat dengan sikap Sartre ketika ia menolak hadiah Nobel atas karya-karya tulisnya atara lain novelnya yang berjudul La Nausee (1938). Ia menolak hadiah prestigius itu karena menganggap komite hadiah nobel adalah pejabat-pejabat yang mempunyai kepentingan nilai-nilai borjuis. Ia menulis panjang lebar tentang keberatannya atas komite hadiah nobel yang memberikan hadiah ke Albert Camus karena ia menganggap pengarang lain ada yang lebih pantas seperti Andre Malraux yang lebih politis dalam karya-karyanya.

Sartre sangat berpegang teguh pada prinsip bahwa sastra harus memiliki komitmen sosial.

Nah, bila saya membahas ekstratekstual karya Sartre seperti Nausee, saya akan mengungkapkan persoalan komite hadiah nobel yang punya banyak kepentingan- kepentingan pribadi (seperti yang diutuduhkan Sartre) tapi tetap dalam konteks pendalaman karya Sartre terutama saya fokuskan pada prinsip Sartre yang melihat sastra harus memiliki komitmen sosial dan komite nobel yang lebih mengejar prestise, seremonial dan popularitas lembaga. Dan Sartre tidak mau dibeli oleh semua itu, maka ia menolak hadiah nobel.

Argumen saya pada “insight” Katrin soal pendekatan ekstratekstual Saman sekali lagi saya katakan berguna. Bahwa Katrin ingin mengatakan ada kepentingan- kepentingan dari semua lembaga seperti Prince Claus Award, KUK, TUK dan Amnesty, dan juga ada kepentingan individu seperti Gunawan Muhammad. Saya tidak mengingkari kepentingan- kepentingan tersebut, pasti semua memiliki kepentingan, seperti Katrin ungkapkan tidak ada yang “netral”. Argumen Sartre juga sama mempertanyakan mengapa Camus yang
terpilih. Tapi hemat saya Sartre berkontribusi dalam polemik ini, yakni ia melontarkan poin pentingnya yaitu komitmen sosial pada sastra. Dalam soal Saman, apa yang Katrin ingin kontribusikan? Bahwa ada kepentingan, tentu ya, ada. Tapi apa isu besarnya? Karena kalau tidak menemukan poin argumentatif yang substansial, tulisan ekstratekstual Katrin tentang Saman hanya mengungkapkan:

1. Keirian pada terpilihnya Saman oleh panitia Prince Claus.
2. Gunawan Muhammad memberikan pengaruh pada terpilihnya Saman (but so what?)
3. Bahwa ada mesin Kuk dan Amnesty yang menggembar gemborkan Saman (sekali lagi so what?)
4. Bahwa karya Saman menjadi besar hanya karena Ayu bicara soal seks? (bukankah ini penting?)
4. Bahwa ada yang tidak beres pada pribadi Ayu Utami (??)

Maaf mungkin saya salah. Namun, meskipun penting poin-poin tersebut di atas tapi saya belum menemukan problem sesungguhnya yang dapat membuat kita memiliki tambahan pengetahuan yang kritis soal Saman.

Tapi, akan saya pelajari lagi tulisan Katrin di Republika, dan bagian ke-3 belum saya baca karena belum keluar. Saya akan senang kalau Katrin posting di milis ini. Saya juga masih perlu banyak belajar dan input Katrin sangat berguna bagi saya.

Salam,
Gadis Arivia.
6 Apr 2008

Tulisan ini dikutip dari beritaseni.wordpress.com.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s