TANGGAPAN SOE TJEN UNTUK KATRIN BANDEL


Katrin, saya pernah meng-e-mail dan meminta artikel-artikel Anda, dan saya senang sekali membacanya. Memang lebih bagus kalau perolokan dihentikan dan saya sendiri minta maaf bila saya telah menulis hal-hal yang salah baik yang ditujukan untuk Katrin, Saut atau anggota milis lainnya.

Secara pribadi, saya kagum dengan Saman dan bangga Indonesia punya novel seperti itu. Namun, saya tidak setuju kalau kualitas karya hanya diukur dari fenomenalitas karya tersebut. Sekali lagi, saya akan menyebut van Gogh, yang tidak laku. Tapi, sesudah mati, baru karyanya dipuji-puji. Terkadang kematian menjadi puncak karir
beberapa seniman.

Ada lagi banyak contoh selain van Gogh. Beberapa nama komponis perempuan bahkan tenggelam tanpa dikenal (sorri, ngomong komponis lagi, karena saya juga komponis). Kakak W.A. Mozart adalah musisi yang andal juga, namun karena jenis kelaminnya, dia menghilang begitu saja. Begitu juga saudari Felix Mendelssohn, dia sempat
menggubah beberapa lagu namun namanya tidak disebut-sebut.

Tentang GM memberi komentar Ayu. . . Tentu saja yang lebih bisa dianggap obyektif bila komentar Ayu datang dari anggota di luar komunitas. Namun, komentar ini kan bukan penjurian? Kalau penjurian, tentu saja ini jadi tidak etis dan lain tujuannya. Kalau komentar yang tujuannya untuk mendukung penjurian tersebut, mengapa
tidak dari seseorang yang mengenal secara pribadi? Justru ini cukup sesuai dengan tujuan.

Soe Tjen

Tulisan ini dikutip dari milis Jurnal Perempuan, 8 April 2008.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s