KOMUNITAS SASTRA SUMATRA, APA KABAR?


Idris Pasaribu

Sastrawan dan Wartawan

Berserikat dan berkumpul adalah sebuah kebebasan berekspresi, tetap dilindungi oleh UUD 1945. Karena, kebebasan untuk berkumpul dalam sebuah komunitas apa saja di republik ini adalah sebuah hak bagi rakyat Indonesia. Demikian halnya dengan komunitas sastra yang ada di Indonesia, adalah sebuah serikat dan perkumpulan masyarakat pencinta sastra Indonesia.

Kehadiaran berbagai komunitas sastra di berbagai daerah di Indonesia adalah dinamika masyarakat sastra, sebagai sebuah tanggung jawab yang besar terhadap perkembangan sastra Indonesia dan sastra daerah itu sendiri. Apakah dia sastra tutur/lisan atau sastra lainnya. Kehadiran berbagai komunitas sastra di Indonesia, khususnya di Sumatra, lebih khusus lagi di Sumatra Utara, adalah pertanda bahwa sastra di Indonesia belum mati, sebaliknya justru tumbuh dengan subur dengan dinamika dan warna masing-masing yang harus dihargai.

Bukan sebaliknya, hanya ada sebuah komunitas, di mana kalau seseorang itu belum dipanggil atau diundang tampil pada komunitas tersebut, belum diakui sebagai seorang sastrawan di Indonesia. Jika belum baca puisi di komunitas tersebut, maka seseorang itu belum tersebut sebagai seorang penyair. Jika belum diundang membacakan cerpen-cerpennya di komunitas tersebut, maka belum tersebut sebagai seorang cerpenis Indonesia dan belum menjadi pekerja teater yang andal atau penari yang diakui dan sebagainya. Komunitas yang demikian adalah komunitas penjajah yang harus dilawan keberadaannya.

Bukankah pembukaan UUD 1945 mengatakan, kemerdekaan itu adalah segala bangsa. Bukankah kemederkaan itu juga hak para sastrawan untuk berkumpul dalam sebuah komunitas dan berekspresi? Pentingkah sebuah komunitas sastra ada di Indonesia? Sebagai sebuah kelompok yang bebas berkumpul dan berserikat, maka kehadiran berbagai komunitas sastra di Indonesia adalah penting. Walau di berbagai daerah, khususnya Sumatra, lebih khusus lagi di Sumatra Utara, komunitas sastra selalu hadir/lahir kemudian mati suri. Ada komunitas yang mati suri, kemudian bangkit kembali dan mati suri lagi, bangkit-mati suri dan mati tak hidup lagi. Ada juga komunitas sastra yang mati suri, kemudian mati seterusnya. Tentu, berbagai kendala yang dihadapi daerah.

Jika sebuah komunias sastra mampu bertahan hidup dan punya aktivitas selama lima tahun nonstop di Sumatra, tersebutlah komunitas itu sebuah komunitas sastra yang andal dan punya kegiatan. Beberapa komunitas sastra yang dapat penulis paparkan di sini dan bertahan selama lima tahun lebih dengan segala aktivitasnya yang rutin patut diacungi jempol.

Di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), menurut catatan penulis, ada beberapa komunitas yang aktif. Misalnya, Aliansi Sastrawan Aceh (ASA), Sekolah Menulis Dokarim (komunitas untuk siswa), Komunitas Tikar Pandan, La Pena Banda Aceh, Rumah Bambu, Lho’ Seumawe-Sara Kata Bener Meriah, Himpunan Sastrawan Gayo (HSG), Komunitas Seniman Aceh Tengah (Kosma), Himpunan Sastrawan Muda Gayo (HSMG), dan Asosiasi Seniman Gayo (ASG). Rata-rata kegiatan mereka adalah pembacaan puisi dan bedah buku. Mereka mendapat bantuan dana dari pemerintah daerah masing-masing. Asosiasi Sastrawan Aceh (ASA), sebuah komunitas yang paling banyak menerbitkan buku. Apakah buku biografi seniman Aceh, puisi, cerpen, esai, dan berbagai buku lainnya. ASA telah menerbitkan 16 buku yang mendapat bantuan dana dari BRR Sumut-NAD. Sebelum mendapatkan dana dari BBR, ASA juga mengadakan berbagai kegiatan berupa pembacaan puisi dan berbagai diskusi sastra lain. Selaia ASA, La Pena juga telah menerbitkan beberapa buah buku karya sastra dari sastrawan Aceh.

Di Sumatra Utara, ada beberapa komunitas sastra yang muncul, tak lama kemudian mati suri, lalu mati seterusnya. Ada yang lahir, kemudian melahirkan lima buah kumpulan puisi bersama beberapa penyair, kemudian mati. Komunitas itu bernama Arisan Sastra (ARSAS).  Kehadiran Sastra Sumatra Merdeka (SSM) pada dasarnya ingin menghimpun para sasrawatan di Sumatra, seperti Aceh, Sumut, Sumbar, Jambi, Riau, Bengkulu, Sumsel, dan Lampung (ketika itu belum ada Provinsi Kepri dan Babel). Sayang, komunitas ini tidak berlanjut karena susahnya komunikasi antarprovinsi, kecuali melalui SMS dan e-mail. Labaratorium Sastra (Labsas) sudah menerbitkan dua buah antologi. Satu antologi bersama dan satu lagi antologi penyair Amin Setiamin. Selain penerbitan, Labsas juga pada Mei lalu mengadakan kegiatan pertemuan penyair internasional di Medan.

Persaudaraan Penulis Kreatif (Perspektif), sebuah komunitas sastra untuk para remaja/siswa SMU). Mereka khususnya para penulis di berbagai ruang remaja dan pelajar di berbagai koran di Medan. Setelah terbentuknya Komunitas Sastra Indonesia-Medan (KSI-Mdn), Perspektif bergabung di dalam KSI-Mdn sebagai kelas pemula KSI. Bila 5 (lima) tulisan mereka sudah dapat diterima/dimuat pada tiga ruang budaya koran berbeda di Medan atau di daerah lain, mereka dapat diterima menjadi anggota muda KSI-Mdn. Bila tulisan mereka sudah dimuat pada 7 (tujuh) ruang budaya di koran Medan dan daerah lain, mereka dapat diterima serbagai angota biasa KSI-Mdn.

Komunitas Sastra Indonesia-Medan (KSI-Mdn) berdiri sejak Mei 2005 setelah bertemu dengan pengurus KSI di Tangerang saat itu. KSI Medan setiap Sabtu melakukan pertemuan rutin di sekretariatnya di Jalan Perintis Kemerdekaan No. 33 d.a. Taman Budaya Sumatra Utara (Pohon Asam). Sebuah sudut di TBSU ada pohon asam jawa dengan halaman rumput seluas 10 x 7 meter. Di bawah pohon asam jawa itulah sekretariat KSI-Mdn. Aktivitasnya, membahas karya-karya anggota sebelum dikirimkan ke media. Membahas dan mendiskusikan karya-karya orang lain atau karya anggota yang dimuat di berbagai media. KSI-Mdn punya cabang yang disebut pos. KSI-Pos Samosir Kabupaten Samosir dan KSI-Pos Labuhan Batu.

Riau punya kegiatan sastra cukup tinggi, seperti adanya sebuah majalah budaya Sagang, tapi tidak memiliki komunitas sastra yang bertahan lebih dari satu tahun. Sedangkan, di Jambi juga komunitas sastranya, tapi tak pernah terdengar. Kalaupun pernah ada yang terdengar, hanya beberapa bulan. Demikian juga dengan Bengkulu. Sebelum berpisah dengan provinsi induk, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) sudah memiliki sebuah komunitas yang bernama Rumah Hitam. Walau Rumah Hitam memiliki kegiatan lima cabang seni, seperti teater, tari, musik, sastra, dan seni rupa, kegiatan Rumah Hitam yang paling menonjol adalah teater dan sastra. Sampai kini, sejak tahun 2002, Rumah Hitam eksis mengembangkan sastra. Kini, mereka mendalami sastra tutur pada sastra Melayu.

Lampung memiliki beberapa komunitas sastra yang masih aktif selama lima tahun atau lebih. Komunitas itu bernama Yakin, Bincang Mata Sastra. Sumatra Selatan memiliki komunitas sastra bernama Asap (Akademi Sastra Psalembang), Forum Teh Kopi, dan Dapur Sastra Palembang.

Setiap provinsi di Sumatra rata-rata telah berdiri Forum Lingkar Pena (FLP). Sayangnya, tidak di setiap provinsi FLP aktif. Di Sumatra, FLP yang aktif hanya ada di Provinsi NAD, Sumut, Riau, Sumbar, Jambi, dan Bangka-Belitung. Di Bangka-Belitung, selain FLP, hanya ada komunitas sastra siswa yang diasuh oleh majalah sastra Horison.

Dewan Kesenian

Hampir setiap provinsi memiliki dewan kesenian. Bahkan, di Sumatra Utara dan NAD, dewan kesenian ada di kabupaten/kota. Setiap dewan kesenian memiliki komite sastra.  Lagi-lagi sangat disayangkan. Karena, dewan kesenian adalah perpanjangan tangan pemerintah daerah setempat baik di provinsi maupun di kabupaten/kota, kegiatan sastra boleh dikatakan melempem. Kalaupun ada kegiatan sastra yang dilaksanakan oleh dewan kesenian, hanya dihadiri beberapa oknum manusia. Sudah dapat dipastikan, mereka adalah para seniman yang memiliki pelat merah. Seperti 28-30 Desember lalu, temu sastrawan Sumatra yang dilaksanakan Dewan Kesenian Sumatra Utara hanya dihadiri 36 orang, termasuk undangan para sastrawan yang datang dari Aceh, Bangka-Belitung, Kepri dan Padang, serta Hamsad Rangkuti dari Jakarta.

Rata-rata berdirinya komunitas sastra di Sumatra Utara, khususnya di Medan, karena dewan kesenian sebagai perpanjangan tangan pemerintah daerah masing-masing hanya mengutamakan kepentingan mereka sendiri dengan kroni-kroninya para sastrawan pelat merah. Selain rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap perkembangan sastra di Indonesia, komunitas sastra hadir juga akibat tidak terakomodasinya tulisan-tulisan mereka di berbagai koran yang terbit di Jakarta. Selain itu, para sastrawan Jakarta khususnya dan Jawa (bukan etnis tapi kediaman) menganggap para sastrawan di daerah (luar Jawa, khususnya luar Jakarta) adalah para “mualaf” sastra. Sudah barang tentu para mualaf ini dianggap belum tahu banyak tentang sastra. Secara halus, para mualaf ini “diwajibkan” untuk mengekor.  Padahal, kalaupun ada para mualaf, banyak di antara para mualaf, sebelum memasuki sebuah “ikhwal” yang dia yakini, justru jauh lebih bagus kajiannya dibandingkan para “onta-onta” yang lahir dan dibesarkan dan bergelut banyak tentang sastra di “tanah suci sastra Jakarta”.

Salah satu contoh, sebuah komunitas yang mengatakan, jika belum menampilkan karya sastranya di sebuah komunitas tertentu, mereka belum diangap seorang sastrawan. Artinya, walaupun sudah bergelut di ranah sastra, mereka masih dianggap mualaf. Para onta di komunitas tersebut yang harus dipertanyakan. Jangan-jangan tanah suci sastra Jakarta justru sudah tak suci lagi.

Diharapkan, KSI mampu mendirikan sebuah penerbitan karya-karya sastra berupa cerpen, puisi, esai, dan sebagainya. Saatnya KSI mengadakan lomba menulis novel, cerpen, puisi, serta esai tingkat nasional. Karya-karya yang diterbitkan KSI akan membuka mata para onta yang memualafkan komunitas sastra yang lain.

Timbul-tenggelamnya para komunitas sastra di daerah-daerah, khususnya di Sumatra, lebih khusus lagi di Sumatra Utara, selalu menjadi masalah klasik. Deraan hidup dan kehidupan semakin sulit, sementara honor tulisan tidak memadai untuk hidup, terlebih di daerah. Diharapkan, pertemuan ini bisa merekomendasikan kepada pengurus baru KSI untuk sesegera mungkin membangun sebuah penerbitan buku.

Tulisan ini dikutip dari Kongres Komunitas Sastra Indonesia di Kudus, Jawa Tengah, 19-21 Januari 2008.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s