KOMUNITAS SASTRA: KESEIMBANGAN, KESINAMBUNGAN, KEBERAGAMAN


Raudal Tanjung Banua

Penulis, Tinggal di Yogyakarta

Dari dulu hingga sekarang komunitas sastra yang terbentuk di lingkup pergaulan kreator, pengamat, peminat dan ‘penggembira‘ sastra tetap ajeg berkiprah. Yakni, komunitas yang dibentuk tidak secara top-down, melainkan keinginan bersama, bahkan juga dari semacam improvisasi sehingga keberadaannya boleh dikatakan di luar mainstream, baik secara lembaga/institusi (dewan kesenian, dinas kebudayaan), maupun dari sumber dana (funding, proyek), memiliki kecenderungan proses kreatif dan estetik serta model ‘kepengurusannya‘ sendiri (jauh dari AD/ART baku suatu organisasi).

Justru karena itu pula komunitas sastra semacam ini menjanjikan keseimbangan (setidaknya mengimbangi lembaga formal); kesinambungan (sebagai misal, ketaktergantungan pada funding membuat tahan banting); dan keberagaman (semisal tradisi sparring partner yang menjanjikan pelbagai kecenderungan estetik)‘”meski pada saat sama tak punya bargainning, tak punya sumber dana tetap, interaksi/jaringan kurang terkelola, rekruitmen/regenerasi tak pasti, dan karenanya roda ‘organisasi‘ berjalan “dalam rangka” atau bahkan “sekali berarti sudah itu mati”. Tak jarang, situasi ini merembes ke proses kreatif interen sehingga komunitas jadi vakum, hanya ada sebutan nama minus program/karya dan lambat-laun para penghuninya lenyap, atau mati suri. Fenomena “kota hantu”‘”istilah Indra Tranggono untuk teater‘”juga sahih sebagai potret komunitas sastra manakala kita masuk ke suatu kota/daerah; banyak nama komunitas, tapi tak mewujud.

Di tengah paradoks dan ironi semacam ini, pertumbuhan komunitas sastra toh tetap marak, tak hanya di kota besar tapi sampai kota kecil, tak hanya di lingkungan akademik (seperti unit studi sastra); juga di lingkungan “kampung”. Pasca-gerakan Revitalisasi Sastra Pedalaman (RSP) 1990-an, yang ujung tombaknya jaringan komunitas, mungkin orang menganggap komunitas sastra redup kiprahnya. Terlebih RSP tampak sebagai “kudeta” gagal dan yang “menang” kemudian “rezim sastra” (istilah Afrizal Malna) di “pusat politik sastra” (menurut Saut Situmorang) yang dari dulu hendak diluruhkan.

Akibat insiden ini‘”tapi juga karena meningkatnya profesionalisme komunitas di kalangan sejumlah sastrawan atau peminat sastra‘”paradigma komunitas tampak berubah: pusat orientasinya bergeser ke kota besar atau ke komunitas lain yang lebih kuat; cara pengelolaan, cara menempatkan diri, sampai citra yang dibangun. Dua komunitas “utama” sastra kita hari ini, Komunitas Utan Kayu dan Horison (betapapun Horison tidak menyebut diri komunitas) misalnya, gagah di ibukota, dan dengan kemampuan organisatorisnya membuat program di daerah, lewat festival, membina kantong budaya, dan program lainnya‘”dengan segala plus-minusnya.

Potret Komunitas Sastra Dulu

Secara umum, komunitas sastra dulu muncul underground, atasnama daerah/kota tempatnya tumbuh, akrab disebut “kantong budaya”. Kita bisa mengambil patokan mulai dari puncak maraknya kantong budaya tahun 90-an itu, saat RSP cukup fenomenal dan kecenderungan membangun basis berkesenian di “kampung-halaman” kian menajam, sampai yang bertahan sekarang atau yang barusan bubar.

Keberadaan mereka dapat didedah: Sanggar Minum Kopi Bali, Kelompok Seni Rupa Bermain Surabaya, Yayasan Taraju Padang, Komunitas Sastra Indonesia Tangerang, Kilang Sastra Batu Karaha Banjarbaru, Komunitas Sastra Banyumas, Forum Sastra Bandung, Keluarga Penulis Kudus, HP3N Batu, Bengkel Seni Purworejo, Yayasan Dewi Saraswati Mataram, Yayasan Gunungan Magelang, Cagar Seni Menoreh Kedu, Lembaga Penulis Aceh, Sanggar Seni Rell Kayu Tanam, Studio Seni Indonesia Medan, Forum Penyair Mojokerto, Sanggar Candi Margarana, Komunitas Pekerja Sastra Pulau Bangka, Akademi Sastra Palembang, Forum Masyarakat Sastra Indramayu, Sanggar Sastra Tasik, dan banyak sekali yang lain. Saya merasakan, selama puluhan tahun komunitas sastra semacam inilah yang berperan besar memasyarakatkan sastra, baik memperluas jaringan pembaca/peminat di lingkup umum, maupun dalam regenerasi kreator/aktivis sastra‘”khususnya di daerah/kota bersangkutan. Kita bahkan bisa melihat lebih jauh peranan Persada Studi Klub Umbu Landu cs dan Sanggar Bambu (Yogya), Bumi Teater (Padang), Listibiya (Bali, yang agak formal), dan seterusnya.

Bila diperhatikan, ciri komunitas mendapat rujukan dari berbagai istilah, mulai yang menyebut diri komunitas, keluarga, forum, lembaga atau yayasan (yang memang baru diperketat pasca dipersoalkannya yayasan-yayasan Cendana). Itu bukan sekadar sebutan, tapi jadi semangat kebersamaan. Hal menarik lain, konsistensi mengibarkan nama kota/daerah, yang sekilas menyimpan spirit otonomi (yang trend belakangan ini, meski nasib komunitas sastra tak berubah); dan disaat yang sama kebutuhan berinteraksi antarkomunitas sangat tinggi (sepertinya kebalikan dari komunitas sekarang, justru disaat fasilitas komunikasi tersedia dan terbuka, dialog terasa renggang). Jadi, potret lama itu jelas menampilkan ‘roh‘ lain keseimbangan.

Keseimbangan organik ala komunitas sastra “keluarga” ini juga tercipta secara kompetitif berkat kegiatan yang cakupannya kota/daerah bersangkutan, maupun nasional. Mereka mengadakan lomba cipta puisi, tanpa hadiah uang (seperti sekarang) dan pemenangnya diundang sekadar diberi tropi, piagam; akomodasi cukup di sekretariat sanggar atau rumah anggotanya. Tapi biasanya lomba selalu ramai peminat; pemenang pun senang bukan kepalang. Maklum, kredibilitas para jurinya dapat diandalkan. Apalagi ketika puisi pemenang terbit dalam antologi sederhana, dan tak jarang ditindaklanjuti dengan lomba baca puisi. Ini pun tanpa hadiah material yang berarti. Tapi, peminatnya membludak, panitia dan juri (yang juga tanpa honor) sama-sama enjoy. Ini merujuk salah satu komunitas paling aktif dan solid, yakni Sanggar Minum Kopi Bali‘”dan aktivitas semacam ini juga berlangsung di berbagai komunitas.

Mereka menerbitkan pula buletin/jurnal bersahaja, namun beberapa di antaranya, secara isi dan visi sangat menarik, seperti Jurnal CAK (yang puisi-puisi dan esei terjemahannya cukup terpilih), Menyimak dan Kolong (yang intens mengangkat isu lokal-global), atau Buletin HP3N Batu yang penyebarannya antarkomunitas sangat luas. Ada terbersit niat mengemban visi referensial litle-magazine yang konon memberi kontribusi sastra di Amerika Latin. Hal menonjol lain adalah penerbitan antologi komunal/personal secara sederhana. Produk budaya ini beredar antarkomunitas lewat tradisi saling tukar produk. Komunitas yang melibatkan diri dalam proses ini sebenarnya juga lembaga resmi, seperti Dewan Kesenian Surabaya, Dewan Kesenian Riau, Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film (UNPAD), Sanggar Purbacaraka (UNUD) atau Taman Budaya Surakarta, tapi dana juga tak besar. Indikasinya, kegiatan mereka, dengan mengundang peserta luar kota/daerah, hanya “bermodal” surat rekomendasi, kecuali mungkin DKJ yang punya budget besar untuk itu.

Menariknya, sejumlah komunitas punya “soliloqui” yang memberi warna, denyut hidup, bahkan orientasi komunitas. Sebutlah Kelompok Seni Rupa Bermain Surabaya (yang punya divisi sastra), memegang konsep “kami bermain-main, bukan main-main!” Betapapun sederhana, ini bernilai sugestif dan kreatif. Atau Sanggar Minum Kopi Bali yang kentara tradisi sparring-partner-nya, membuat Acep Zamzam Noor yang periode itu kerap ke Bali, mengadopsinya untuk Tasikmalaya.

Potret Komunitas Sastra Kini

Apa yang dikemukakan ini, boleh jadi nostalgis-romantis, apalagi keguyuban dihadapkan dengan kecenderungan komunitas sekarang yang pertumbuhannya kadang tak terlepas dari “trend” pembesaran citra profesionalitas. Dari segi istilah misalnya, komunitas sastra kini tak merasa perlu menyebut nama daerah/kota, seiring lenyapnya istilah guyub “kantong budaya”. Yang muncul istilah “komunitas alternatif”, diikuti cara pengelolaan, fasilitas dan basis komunitas.
Semakin merasuknya sastra sebagai “gaya hidup” (dengan segala plus-minus), terbukanya kran demokratisasi (dengan segala akses dan aplikasi), berkembangnya fasilitas interaksi (dengan segala kelebihan dan kekurangan), membuat komunitas alternatif terasa (atau merasa?) lebih gaul dan cool. Mereka menjadi oase masyarakat urban-metropolis yang meminati sastra, sebagai ruang rendevouz atau copy darat (yang selama ini hanya jumpa di dunia cyber) di kafe, atau di satu tempat tetap seperti toko buku alternatif‘”ah, bukankah ini keseimbangan juga?!

Dalam hal sosialisasi, komunitas ini cukup aktif dan kreatif. Mereka misalnya, membentuk klub baca, pustaka, komunitas baca baru, situs/blog, menyemarakkan ruang cyber, membuat even publik seperti launching buku, workshop, dan diskusi reguler. Berkat profesionalisme organisasi, sejumlah komunitas berkembang lebih dari yang pernah dicapai komunitas terdahulu, semisal infrastruktur, pendanaan dan produk komunitas‘”meski pada saat yang sama posisi mereka rapuh, sebab begitu satu simpul menarik diri (katakanlah funding), bangunan pun goyah atau runtuh. Belum lagi kalau kita lihat lebih dari yang teknis, seperti urusan estetis.

Tapi tentu saja fenomena ini juga penyeimbang kreativitas/aktivitas sastra tanah air dengan segala trendnya. Meski berbeda pola dengan komunitas terdahulu, tapi sebenarnya tetap berkesinambungan. Tidak saja lantaran pengelola komunitas sastra alternatif ini ada juga yang berasal dari pola “kantong budaya”, tapi juga bagian dinamika sastra keseluruhan, salah satunya beragamnya media/basis sosialisasi. Kreator tak terpatok media yang lazim semisal majalah/jurnal, tapi melirik media alternatif seperti sastra-cyber; sebagian langsung ke surat kabar nasional dan menerbitkan buku. Dengan begitu, proses regenerasi tak tergantung media/basis tertentu, lantaran media publikasi meluruh‘”sesuatu yang tak terelakkan dari dinamika sastra. Akibatnya, kreator muncul tanpa harus melewati media yang dianggap ikon atau representasi suatu daerah.

Dengan kata lain, pada saat bendera daerah disimpan, bendera komunitas justru dikibarkan. Ketika kekuatan personal diandalkan, watak kolektivitas justru menyempit dan mengeras. Seseorang bisa muncul atau dimunculkan, berkat legitimasi dan akses kelompok, sehingga ia “melompat” sendirian, tanpa perlu membawa nama daerah. Memang. Tapi toh “komunitas” telah lebih masif ketimbang daerah atau kota!

Penutup

Pada zaman terbuka dan ‘mengglobal‘ ini, keberadaan komunitas ‘konvensional‘ sebenarnya tetap tumbuh dengan watak terdahulu, di kampus-kampus dan di “kantong budaya”. Justru, kehadiran mereka menurut saya terasa lebih progresif, dan alternatif, lantaran mereka keras kepala beraktivitas/berkreativitas di tengah trend menjinakkan ‘perangkat keras‘ dan ‘perangkat lunak‘. Komunitas organik ini tetap enjoy (“sibuk”?) dengan idealismenya: tak punya funding (belum?), bahkan di lingkungan kota/daerahnya pun tak tersentuh ‘subsidi‘ lembaga kebudayaan/kesenian‘”ah, peduli apa otonomi?

Dari dua model komunitas yang dipaparkan secara longgar di atas, ada dua persoalan yang menyatukan mereka atau kita, yakni, pertama, bagaimana menjadikan komunitas basis atau oasis publik sastra, di tengah asumsi/kecenderungan komunitas hanya sebagai basis kreator? Kedua, bagaimanakah urusan penciptaan dan capaian estetik suatu komunitas, di tengah dominannya urusan ‘rumah tangga‘ komunitas, serta masih kuatnya sosok/patron kreatif di komunitas bersangkutan? Keduanya berhubungan dengan hal ini: keseimbangan, kesinambungan dan keberagaman‘”dengan berbagai persfektif dan penjabaran.

Tulisan ini dikutip dari Harian Jurnal Nasional (Jakarta), 25 November 2007.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s