NYASTRA DALAM KOMUNITAS, MUNGKINKAH?


Pandapotan MT Siallagan

Sastrawan, Tinggal di Pematangsiantar

SAYA tak tahu bagaimana serpihan lembaran koran Bali Post bisa ‘terlantar’ di beram salah satu jalan di Kota Pematangsiantar. Tentu saja lembaran koran itu  saya pungut dan  saya baca. Kebetulan sekali, di lembaran koran edisi Ahad 5 Juni 2005 yang tak lagi utuh itu, ada tulisan berjudul “Nyastra, Merunut Kembali Arti Kata Sastra”, ditulis Sugilanus G Hartha.
Dalam tulisan itu disebut, kata nyastra, dalam bahasa Bali sungguh menarik. Kata nyaluk, misalnya, berasal dari kata saluk (pakai). Nyaluk baju, artinya memakai baju. Nyampat berasal dari kata sampat (sapu); nyampat artinya menyapu. Nyastra asal katanya sastra. Nyastra berarti menekuni sastra, yang cenderung punya makna tersirat ‘mengimani’ sastra.

Awalnya saya tak yakin tulisan itu penting. Tapi ketika saya baca tulisan M Badri berjudul “Komunitas Sastra: Antara Mobilisasi Karya dan Mobilisasi Massa”, yang dimuat di Riau Pos tanggal  2 September 2007, di pikiran saya langsung muncul frasa: nyastra dalam komunitas, mungkinkah?

Sebelum sampai pada apa yang dimaksud nyastra dalam konteks bahasa dan kebudayaan Bali itu, marilah hayati dulu apa yang ditulis M Badri. Dia menulis, komunitas sastra merupakan sekumpulan orang yang tahu (atau ingin tahu) tentang sastra dengan melibatkan diri pada berbagai aktivitas sastra. Banyak aktivitas yang bisa dilakukan oleh pegiat komunitas sastra, dari diskusi ringan sampai perdebatan sengit tentang kesusastraan. Kadang hanya sekadar menggosip tentang individu-individu sastrawan atau menjadi ajang “pengujian” karya sebelum dikirimkan ke media massa, untuk mendapat pengakuan publik melalui perantara redaktur budaya.

Fenomena pertumbuhan komunitas sastra memang menarik, bukan sekedar melihat perkembangan minat masya­rakat terhadap sastra, tapi juga penting menjawab seperti apa tren dan hendak dikemanakan sastra kita kontemporer. Tapi M Badri tampaknya terjebak sekedar mempersoalkan keberadaan komunitas sastra antara ajang pengumpulan orang sebanyak-banyaknya dan esensi berkomunitas: apakah ingin berproses kreatif, sekadar meramaikan, atau menebar kepentingan (tertentu). Taruhlah esensi berkomunitas itu dijalankan. Lantas bisakah itu menjamin lahirnya sebuah produk dan periode sastra yang betul-betul mampu mencapai keluhuran sebagaimana dia mestinya dilahirkan?

Tentu tidak, sebagaimana juga diyakini M Badri. Berkomunitas hanya salah satu cara memperluas khasanah wawasan. Berkomunitas adalah bentuk interaksi yang dilakukan sekelompok orang yang kebetulan berminat dan mungkin berkeinginan jadi penulis (belum tentu sastrawan). Lebih jauh meneruskan keterjebakannya, M Badri mempersoalkan bila sebuah komunitas sastra tak mampu menunjukkan karyanya, komunitas tersebut tak lebih dari mobilisasi massa. Apa pentingnya karya komunitas dan apa buruknya mobilisasi massa?

Bukankah komunitas pada awal kelahirannya memang bertujuan mengenalkan sastra yang konon introvert kepada publik atau massa, selain juga meningkatkan martabat dan kualitas sastra? Lalu kenapa kita mencereweti apakah komunitas sastra produktif atau tidak? Kenapa kita gerah ketika komunitas sastra hanya berhasil memobilisasi massa? Kenapa kita kurang syur ketika komunitas sastra hadir untuk menebar kepentingan tertentu. Bukankah itu gambaran ketiadaan pemahaman apa esensi sastra?

Hemat saya, esensi sastra tidak penting dikait-hubungkan dengan diskusi ringan sampai perdebatan sengit tentang kesusastraan, gosip tentang individu-individu sastrawan atau menguji karya sebelum dikirim ke media massa. Sastra kurang pas dihubungkan dengan mobilisasi karya atau mobilisasi massa, apalagi komunitas dengan tetek-bengek pengurus dan donaturnya. Sastra juga tidak perlu dibebani dengan hadirnya orang-orang yang berkepentingan, komunitas sastra yang mengormas, pengkotak-kotakan, klaim moralis dan liberalis. Dan yang pasti, sastra tak berurusan dengan munculnya pertentangan yang mengarah pada permusuhan, pengakuan legalitas organisasi, perbedaan komunitas penulis dengan ormas, virus epigon dan lain-lain. Urusan-urusan pragmatis di atas sungguh naïf jika dibingkai menjadi persoalan sastra kita.

Sangat disayangkan memang kenapa diskursus sastra melebar menjadi tidak karuan bagitu, padahal tujuan kita sudah jelas: bagaimana memasyarakatkan sastra, melahirkan karya sastra sekaligus sastrawan bermutu. Pernahkah komunitas benar-benar digagas sebagai sebuah wadah kontemplasi dan bagi para ‘calon sastrawan’?

Hal-hal yang dikemukakan M Badri di atas adalah wacana yang diproduksi media massa yang memaksa tren sastra kita menjadi latah pada kultur pop, sehingga sastra mulai dipaksa berurusan dengan popularitas. Alangkah sedih, sastra kita diukur dengan sering atau tidaknya hadir di media massa, muncul atau tidaknya karya-karya para sastrawan komunitas, juga menang atau tidaknya seseorang pada sayembara.

Maka benar-benar beruntung saya menemukan serpihan koran Bali Post itu terlebih di Kota Pematangsiantar yang sama sekali tak punya roh kesusasteraan. Simaklah Sugilanus G Hartha. Katanya, seseorang yang nyastra adalah orang yang melakukan kegiatan brata (puasa) Siwa Latri berdasarkan pada panduan karya sastra Siwa Latri Kalpa. Berbagai purana, yang juga salah satu bentuk sastra, juga menjadi pedoman keimanan banyak orang.

Demikian juga itihasa (epos) Ramayana dan Mahabharata, nilai-nilainya menjadi pedoman hidup yang diurai ke dalam bentuk cerita.  Karya-karya sastra yang lahir dari seorang yang nyastra, dari sisi makna kata ‘asli’ lebih banyak bermuatan pencarian religius-filosofis yang mengarah pada pencarian manusia yang merindukan perjumpaannya dengan penciptanya. Atau lebih mengarah pada pembabaran sila (etika spiritual) yang membimbing manusia, pembaca dan pe­nulisnya, makin mendekatkan diri pada persoalan religiuisitas. Tapi kini “nyastraisme” sudah memudar, seiring dengan arti kata sastra yang kian meluas, menulis karya sastra sudah tidak relevan lagi disebut sebagai kegiatan ‘mencari Tuhan’. Barangkali sastra sekarang ini, lebih tepat  dilihat sebagai karya-karya yang memperjuangkan ideologi pengarangnya, ambisi pengarangnya, pengekspresian diri dan kegelisahan yang bebas, dibanding melihatnya sebagai jejak-jejak pencarian manusia dalam mencari Tuhan. Bukan lagi mengandung teks-teks suci, tetapi kadang sebaliknya, mempertanyakan atau bahkan melawan kesucian. Nah…!

Tulisan ini dikutip dari Harian Riau Pos (Pekanbaru), 16 September 2007.

2 responses to “NYASTRA DALAM KOMUNITAS, MUNGKINKAH?

  1. Apa ada email sdr Pandapotan MT Siallagan? Kebetulan tulisan terlantar di beram itu saya yang menulis. Terimakasih. Salam, SL

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s