MELURUSKAN PERAN KOMUNITAS


Penyair Acep Zamzam Noor menekankan pentingnya peran komunitas dalam perkembangan kesenian di Indonesia. Di sela-sela kesibukannya mengurus komunitas satra di kampung halamannya, Tasikmalay, ia meluangkan waktu bagi Jurnal Nasional untuk bicara soal komunitas, politik sastra, dan makna kesenimanan itu sendiri.

Di Indonesia ada banyak sekali komunitas kesenian yang tersebar di berbagai daerah, bagaimana Anda memandang hal ini?

Keberadaan komunitas terutama di daerah amatlah penting. Karena biasanya tidak ada lembaga yang mengajari secara khusus untuk sastra misalnya. Nah, komunitas menjadi sebuah alternatif bagi orang-orang yang berminat terhadap sastra. Di situ ada berbagi pengalaman, ada pergesekan kreativitas, lalu ada kegiatan-kegiatan sehingga atmosfir sastra di suatu daerah itu biasanya menjadi hidup karena ada komunitas, bukan karena ada fakultas sastra.

Bagaimana menurut Anda, ketika sebuah komunitas menjadi sedemikian kuatnya, dan mencoba melakukan klaim-klaim yang berhubungan dengan legitimasi politik sastra.

Yah memang ketika sebuah komunitas menjadi kuat, selalu ada kecenderungan seperti itu. Kecenderungan menghegemoni misalnya. Tapi tidak semua komunitas seperti itu. Kalau misalnya TUK yah, itu adalah hal-hal positif dari TUK, misalnya dengan dia membikin kegiatan-kegiatan yang menurut saya juga cukup baik. Cuma memang sedikit ada kesan bahwa ada sikap mendominasi atau juga mungkin ada sebuah tren yang kemudian bisa saja diikuti para penyair lain.

Tapi komunitas menurut saya tetap diperlukan terutama untuk di daerah-daerah, karena komunitas di daerah sebenarnya lebih pada proses kreatif. Nah mungkin kalau TUK saya pikir itu bukan proses kreatif. Tapi pada even-even kegiatan. Jadi dia tidak mengadakan pendidikan tentang menulis puisi secara langsung seperti yang dilakukan banyak sanggar. Sementara yang di daerah lebih mirip sanggar. Jadi mungkin agak berbeda ya. Kalau TUK itu mungkin lebih mirip LSM. Yang kemudian mengadakaan kegiatan-kegiatan yang ada hubungannya dengan sastra. Sementara yang di daerah benar-benar seperti sanggar.

Bagaimana dengan komunitas daerah yang berafiliasi dengan komunitas yang lebih besar?

Begini, kalau kerja LSM kan selalu begitu. Bukan hanya TUK, tapi ada juga kerja-kerja LSM misalnya LSM gender atau tentang kebudayaan, itu selalu punya mitra di daerah-daerah. Nah selama itu hanya untuk menyalurkan kegiatan dari pusat menurut saya itu tidak bermasalah. Tapi, ketika terjadi fanatisme, dia menjadi sentral. Itu mungkin yang agak masalah.

Apakah Anda melihat fanatisme seperti ini?

Mm, tidak di banyak daerah. Misalnya saja komunitas saya mengadakan kerjasama dengan beberapa lembaga di Tasikmalaya. Tetapi tetap saja kami memiliki tujuan sendiri dan tidak bisa dipengaruhi secara total, kerjasama hanya sebatas kegiatan. Dan ini tak masalah, karena terus terang saja, daerah butuh kegiatan ini. Semua tergantung sikap teman-teman di daerah, apakah dengan kerjasama itu ia tetap menjaga jarak bahwa komunitas di daerah punya watak sendiri, mempunyai situasi sendiri, yang tentu juga berbeda dengan yang lain.

Kalau sebuah komunitas daerah berinteraksi cukup kerap dengan komunitas di pusat, apakah mungkin untuk mejaga jarak ?

Nah, kalau itu saya tidak tahu. Apakah itu menjaga jarak atau tidak saya kurang tahu ya. Cuma yang setahu saya di komunitas-komunitas yang lain itu misalnya di daerah saya di Tasikmalaya, kita membuka diri untuk bekerja sama dengan siapa pun. Tapi tetap juga ada jarak karena memang situasi di daerah itu berbeda dengan Jakarta misalnya, sehingga kita tidak akan terlibat dalam politiknya, kalau memang itu ada politik.

Bisakah Anda bercerita sedikit tentang kumpulan puisi Anda Menjadi Penyair Lagi yang baru saja memenangkan kategori puisi terbaik dalam Khatulistiwa Literary Award?

Puisi-puisi dalam buku itu adalah puisi-puisi baru dan juga puisi-puisi lama yang saya tulis pada tahun 1980-an. Ada benang merah dari segi pengungkapannya, maka kemudian saya gabungkan menjadi satu buku.

Idiom-idiom dalam puisi Anda itu sedikit nakal, apakah karena itu Anda tidak langsung menerbitkannya di tahun 1980-an, masa di mana Anda digelari penyair Sufi?

Saya menulis puisi-puisi itu jauh sebelum orang menggelari saya Penyair Sufi. Puisi itu dibuat di awal-awal saya mencoba menulis puisi liris, mungkin sebagai sebuah proses berlatih. Saat ada kesempatan untuk menerbitkan puisi, saya lebih memilih puisi-puisi yang bertema religius.

Jadi puisi-puisi itu memang sempat tersimpan agak lama. Belakangan saya banyak lagi menulis puisi-puisi yang sederhana. Secara kebetulan saya menemukan lagi puisi-puisi lama itu, dan akhirnya saya memutuskan untuk menggabungkannya. Temanya kebetulan sama, bicara tentang alam, tentang cinta. Tema-tema ABG sebenarnya.

Menurut Anda, karya sastra yang baik itu seperti apa sih?

Itu amat sulit. Karena karya sastra yang baik itu biasanya ditentukan oleh temanya atau oleh bentuknya, tapi untuk penyair nilainya terletak pada mencapai sesuatu pada pengucapan. Yah mungkin sebenarnya itu yang dianggap baik gitu. Ketika seorang penyair mencapai pengucapan tertentu.

Pengucapan ini tak mesti harus pembaruan. Dalam puisi khan juga ada mainstream, misalnya puisi liris. Itu banyak sekali variannya. Atau bila seorang penyair bisa melakukan penyegaran-penyegaran dari puisi yang sudah ada, tanpa harus menjadi pembaharu; tentunya itu juga sebuah pekerjaan yang sangat berat.

Karena menurut saya tidak ada yang baru di dunia ini. Nah itu tugas seorang penyair dengan kreativitasnya, bagaimana menafsirkan hal-hal yang lama itu dengan pengucapan yang segar.

Anda pernah kuliah di Italia, bagaimana pengalaman itu memengaruhi proses kreatif Anda sebagai seorang seniman?

Itu sangat berpengaruh, dan merupakan waktu yang penting bagi perkembangan puisi saya. Itu puisi-puisi saya yang religius selalu berkaitan dengan alam dan dengan lingkungan. Nah ketika saya tinggal di sana saya juga mendapat penyegaran yang lumayan. Mungkin karena situasi alam yang berbeda, situasi kota yang berbeda, itu juga sangat berpengaruh sebagai atmosfir.

Lebih dari segi idiom yah. Mungkin di atmosfirnya di suasananya yang sangat berpengaruh. Karena mungkin tema dasarnya yang tidak terlalu berbeda yah. Masih tentang sebuah pencarian diri yang merupakan kelanjutan dari puisi-puisi religius tadi. Tapi kemudian saya bertemu dengan idiom-idiom, dengan benda-benda dan dengan tempat-tempat yang akhirnya membuat saya menyadari bahwa religiusitas adalah sesuatu yang universal. Bukan hanya Islam, bisa apa saja, karena religiusitas itu tidak dibatasi oleh agama.

Saat ini Anda juga aktif mengurus komunitas sastra pesantren di Tasik, bagaimana perkembangannya saat ini?

Sebenarnya itu bukan komunitas sastra pesantren. Secara umum komunitas ini terbuka untuk umum. Tapi kebetulan saja banyak sekali orang pesantren yang ternyata punya minat besar pada puisi. Terbuka sebenarnya. Jadi itu ada kegiatannya.

Yang rutin setiap hari Jumat, selalu ada pertemuan, lalu malam Sabtunya kita punya dua jam siaran di suatu radio. Radio pemerintah tapi dia memberikan kebebasan, itu yang rutin. Biasanya dalam siaran radio itu ada pembacaan puisi dan pembahasan sastra. Selain itu secara berkala kita sering mengadakan diskusi kebudayaan. Atau talkshow kebudayaan.

Kadang-kadang dengan narasumber yang sedang ada kegiatan di sana atau sedang main ke Tasik. Di luar itu kita juga mengadakan diskusi-diskusi itu, selain itu juga lomba baca puisi yang rutin diadakan tiap tahun, khusus untuk daerah-daerah di jawa barat.

Bagaimana dengan kerjasama pihak luar?

Sebatas kegiatan saja, terakhir dengan sebuah LSM dari Jakarta yang ingin mengadakan diskusi soal film tentang Aceh, ya kita bantu.

Apakah kegiatannya sebatas kesenian?

Komunitas ini tak hanya bergiat di sastra tetapi juga kritis terhadap kebijakan pemerintah, kebijakan DPR. Kita juga kadang turun demonstrasi bersama mahasiswa, atau juga langsung dan juga ya pada pemilu tahun berapa ya. Kita selalu mengadakan karnaval golput. Pas minggu tenang. Golput sebenarnya tidak berusaha menjadi subversi atau kita menolak pemerintah. Tapi lebih kepada pendidikan politik. Bahwa memilih itu harus bertanggung jawab, ketika tidak ada calon yang kita percayai, kita boleh saja golput. Karena memilih itu bukan kewajiban, tapi hak.

Ada berapa banyak komunitas yang Anda kelola?

Ada tiga komunitas yang semuanya bergerak di bidang kesenian. Pertama Sanggar Sastra Kasih, berdiri tahun 96. itu adalah laboratorium proses kreatif teman-teman. Kemudian Komunitas Azan, itu tempatnya di rumah saya. Lebih berpusat pada memberikan pencerahan kepada orang-orang kampung dengan memberikan kesenian-kesenian. Jadi orang-orang Tasikmalaya yang ingin tampil di mana, sebelumnya ditampilkan dulu di tempat saya. Gratis untuk orang-orang kampung.

Lalu Partai Nurul Sembako. Sebenarnya tadinya ini adalah sebuah kelompok Qasidah. Saya kan ada puisi puisi pendek yang menyindirlah. Tentang situasi sekarang kemudian sama teman-teman dibikin lagu. Misalnya tentang sembako. Makanya kemudian namanya Nurul Sembako. Itu untuk menyindir partai-partai ketika partai dulu muncul banyak sekali. Kami kerap menyanyikan lagu-lagu yang bernuansa menyindir.

Partai Nurul Sembako melakukan kegiatan-kegiatan yang mirip dengan iklan layanan masyarakat. Juga untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah. Saat issu penerapan syariat Islam sedang marak-maraknya, Partai Nurul Sembako memasang poster-poster bertuliskan Dengan Visi Religius Islami kita Masyarakatkan Poligami. Dan ini mengena sekali karena di luar poligami, hal-hal lain tidak ada yang Islami sama sekali, korupsi jalan terus. Sejak saat itu wacana penerapan syariat Islam mereda.

Bagaimana anda memandang kesenimanan?

Sebenarnya agak sulit dijelaskan, ketika dia memandang persoalan, kita akan beda dengan cara pandang orang kebanyakan, mereka lebih banyak menggunakan intuisi. Tidak formal dan lain sebagainya. Kalau seorang seniman sampai mau diajak ke politik, maka menurut saya itu mentalnya mental pegawai negeri. Lain lagi masalahnya kalau seniman tersebut kemudian bisa memengaruhi para politisi. Kalau seniman hanya menjadi alat dari politisi, menjadi mainan politis, itu sebenarnya bukan seniman. Seniman, kalau menurut saya, harus sama dengan kyai, dia harus tetap mempunyai jarak dengan kekuasaan, dan tidak punya majikan, ketika punya majikan itu repot.

Komunitas juga tidak boleh jadi majikan?

Itu juga harus seperti itu. Karena kemudian kita lebih pada pergesekan, makanya komunitas itu bukan organisasi. Sehingga tidak ada keanggotaan formal tapi lebih pada ikatan batin. Dan dalam proses penulisan dengan teman-teman itu juga tidak diharuskan seperti apa, tapi kita harus mencari sendiri.

Saya tak pernah membatasi anggota komunitas saya untuk berkarya seperti saya. Jika kecenderungannya adalah berkegiatan sosial misalnya, maka saya membiarkannya berkembang sendiri. Dalam komunitas tetap harus ada ruang bagi pertumbuhan dan perkembangan seorang individu. Seperti kata saya tadi, komunitas itu bukan organisasi. Yang tergabung bukan hanya seniman, atau anggota resminya, tapi juga publik.

Jadi menurut anda sebuah komunitas tidak seharusnya mengklaim mana yang baik, mana yang indah, mana yang bagus atau jelek?

Bukan tidak boleh. Cuma mungkin masalah pilihan-pilihan ya. Nggak tahu apa ada komunitas seperti itu ya. Kalau yang untuk mengindari penyeragaman mungkin harus ada kebebasan seperti itu.

Karena ketika orang bergabung dengan komunitas atau ingin berinteraksi itu mempunyai modal yang berbeda, latar belakang yang berbeda, ini juga memiliki keunikan-keunikan sendiri. Bagaimana keunikan-keunikan itu muncul sebagai dirinya sendiri.

Itu yang paling penting dalam karya seni itu. Harus ada yang unik dari dirinya sendiri. Bukan karyanya yang harus menarik tapi pribadinya juga harus unik. Kalau pribadinya umum biasanya juga karyanya umum.

Tulisan ini dikutip dari Harian Jurnal Nasional (Jakarta), 24 Februari 2008.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s