KOMUNITAS SASTRA KAMPUS DAN MEREKA YANG MELAWAN


Anton Kurnia

Cerpenis dan Esais

Perkembangan sastra kita tidak bisa dilepaskan dari peran berbagai komunitas sastra dan kantung-kantung budaya yang bertebaran di berbagai kota, terutama yang berbasis di kampus-kampus perguruan tinggi. Sebagian dari para pegiat komunitas sastra kampus ini muncul dan menonjol menjadi sosok yang diperhitungkan dalam sejarah sastra kita dengan karya-karyanya, melepaskan diri dari kolektivitas komunitasnya. Sebagian yang lain terserap oleh kerumunan komunitasnya dan akhirnya menghilang dari peredaran karena berbagai sebab.

Di Bandung, misalnya, tercatat sejumlah kampus memiliki komunitas sastra yang cukup aktif berproses dan bergiat. Di ITB, di masa lalu, GAS (Gabungan Apresiasi Sastra) yang melahirkan nama-nama seperti Juniarso Ridwan, Kurnia Effendi atau Nirwan Dewanto. GAS kini telah bubar dan sebagai gantinya muncul Lingkar Sastra ITB yang usianya masih seumur jagung. Di UPI (dulu IKIP Bandung) terdapat ASAS (Arena Studi dan Apresiasi Sastra) yang terus aktif hingga kini dan pernah melahirkan sejumlah nama cukup terkemuka dalam peta sastra kita, antara lain Beni R. Budiman dan Nenden Lilis Aisyah. Di Unpad ada GSSTF (Gabungan Seni, Sastra, Teater dan Film) yang hingga kini terus eksis. Begitu pula di sejumlah kampus lainnya.

Tentu saja, ada pula sejumlah individu yang kemudian muncul dalam peta sastra kita berproses secara soliter, tidak tumbuh dalam komunitas-komunitas sastra kampus tersebut. Belakangan ini, beberapa nama penulis muda yang menonjol dengan karya-karyanya justru bukan berasal dari komunitas sastra kampus. Sebut misalnya Dewi Sartika (UPI, penulis novel Dadaisme) yang memenangi sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta 2003 atau Nukila Amal (STP, penulis novel Cala Ibi), Dinar Rahayu (ITB, penulis novel Ode untuk Leopold von Sacher-Masoch) dan Dewi Lestari (Unpar, penulis novel Supernova).

Fenomena ini tentu saja memicu sejumlah pertanyaan menarik. Sejauh manakah peran komunitas sastra kampus dalam persemaian bakat dan proses kreatif para penulis muda kita? Apakah pengaruh komunitas sastra kampus dalam karya para alumninya?

Yang Menindas, Yang Melawan

Sejarah mencatat sering kali karya sastra—sajak, cerpen, novel—dan para penciptanya berhadapan dengan kepentingan penguasa. Sastrawan yang baik adalah saksi zaman dan masyarakatnya. Ketika kebenaran orang banyak ditindas oleh penguasa, tampillah ia sebagai “penyambung lidah” rakyat lewat karya-karyanya. Di berbagai belahan bumi tercatat sekian banyak peristiwa di mana para sastrawan yang menyuarakan hati nuraninya mesti berhadapan vis a vis dengan penguasa.

Di Mesir, pengarang dan aktivis gerakan feminis Nawal el Saadawi yang beberapa novelnya telah diterjemahkan di sini—antara lain Perempuan di Titik Nol, Catatan dari Penjara Perempuan dan Matinya Seorang Mantan Menteri—dipenjarakan oleh rezim Anwar Sadat pada 1981 atas tuduhan melakukan “kejahatan politik”. Toh, itu tak membuat langkahnya surut. Penjara tak mencegahnya untuk terus berkarya dan menyuarakan keyakinannya.

Sementara itu, di berbagai penjuru dunia lainnya begitu banyak para penulis yang harus menghadapi tekanan penguasa (entah itu mereka yang memiliki kekuasaan politik, agama ataupun moral) karena tulisan-tulisannya. Sebut misalnya Taslima Nasrin, perempuan asal Banglades penulis novel kontroversial berjudul Lajja yang menelanjangi penindasan kolektif kaum Muslim terhadap minoritas Hindu di negerinya, atau Salman Rushdie, Naguib Mahfouz dan Milan Kundera. Mereka hidup dalam ancaman bahaya, buku-buku mereka diberangus dan kerja-kerja kreatif mereka dihambat.

Di negeri kita, kasus-kasus semacam itu juga terjadi. Hingga saat ini, pelarangan warisan Orde Baru terhadap karya-karya sastrawan pembangkang Pramoedya Ananta Toer belum juga dicabut. Ia sendiri pernah dipenjarakan selama empat belas tahun tanpa pengadilan dan diasingkan ke sebuah pulau terpencil oleh penguasa. Utuy Tatang Sontani, sastrawan terkemuka kita di masa lalu, terpaksa harus mati kesepian di Rusia. Ia tak bisa pulang ke Tanah Air akibat dicekal oleh rezim Orde Baru dan maut keburu menjemputnya sebelum zaman berubah.

Melawan dengan Pena, Melawan dengan Imajinasi

Aroma perlawanan terhadap kekuasaan yang menindas juga tercium kental dalam novel Asep Pram (nama pena Asep Subari)—seorang pegiat komunitas sastra kampus dari UPI—berjudul Yang Melawan (2004, 688 halaman). Melalui perjalanan hidup tokoh protagonis Ramadhan Revolusi alias Ahmad Rambo yang berliku, novel ini gencar menelanjangi segala borok penguasa negeri ini: kekerasan negara terhadap rakyat, pembantaian massal yang coba dihapus dari ingatan, struktural, kejahatan politik, militerisme, korupsi, dan berbagai pelanggaran hak asasi manusia sepanjang sejarah negeri ini.

Kendati terkadang terasa terlalu verbal dan kurang licin, novel ini justru menarik karena kelugasannya dalam menceritakan realitas empirik. Kita bisa membandingkan novel ini dengan novel-novel Pramoedya Ananta Toer yang tampaknya dalam banyak hal mengilhami Asep, terbukti dari nama pena yang dipilihnya. Seperti Pram, Asep tampaknya juga sadar akan makna referensi dan sejarah. Dalam novel ini bertebaran berbagai data peristiwa, kronik dan judul sejumlah buku dan nama tokoh yang dicupliknya sebagai pendukung cerita.

“Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa,” tulis Milan Kundera, penulis eksil Ceko, dalam sebuah novelnya. Novel ini pun mencoba melawan pelupaan sejumlah peristiwa kelam dalam sejarah negeri ini, di antaranya pembantaian massal oleh tentara dan warga sipil terhadap ratusan ribu orang yang dicurigai komunis di berbagai daerah di Indonesia pada 1965-1966 menyusul apa yang disebut-sebut sebagai peristiwa G30S/PKI.

Sekadar catatan, tak banyak karya sastra kita yang menyinggung soal ini secara terbuka, padahal peristiwa itu merupakan salah satu pembantaian sistematis terbesar sepanjang sejarah selain pembunuhan orang-orang Yahudi oleh Nazi pada Perang Dunia Kedua. Ratusan ribu korban yang tewas selama beberapa bulan dalam peristiwa itu jauh lebih banyak dari korban pembantaian serupa di Argentina selama tujuh tahun. Saat junta militer berkuasa di Argentina pada 1976-1983, terjadi serangkaian penculikan, penyiksaan dan pembunuhan terhadap para aktivis pro-demokrasi di negeri itu dengan dalih melakukan aksi antiteror. Menurut laporan Comisión Nacional para la Desaparicion de Personas—Komisi Nasional untuk Orang Hilang (1983-1984) pimpinan novelis Ernesto Sábato, sekitar 30.000 orang hilang tak jelas nasibnya. Pada 1995, dua orang tentara bersaksi atas pembunuhan sistematis yang pernah mereka lakukan di masa lalu. Hingga kini, atas nama rekonsiliasi, banyak di antara para pelaku kejahatan kemanusiaan itu masih bebas berkeliaran.

Demikianlah, seperti judulnya, pada dasarnya Yang Melawan merupakan sebuah manifesto perlawanan terhadap segala bentuk penindasan, dengan pekik pernyataan Ramadahan Revolusi dan para kameradnya dalam kisah ini, “Kita adalah orang-orang yang melawan. lengan kirimu, lalu angkat setinggi-tingginya hingga langit yang pongah itu rubuh!” (halaman 345).

Seperti halnya protagonis dalam Yang Melawan, melalui novel perdananya ini Asep meneguhkan pilihannya untuk melawan dengan pena, dengan menggunakan imajinasinya. Mungkin ini berkaitan dengan latar belakangnya sebagai seorang penulis yang berproses dalam komunitas sastra kampus. Para mahasiswa bagaimanapun tetap memiliki fungsi sebagai agent of social change. Dalam sejarah negeri kita hal itu tak bisa dimungkiri, di mana sejumlah pergantian kekuasaan tiran ditandai dengan peran gerakan mahasiswa.

Tulisan ini dikutip dari Harian Sinar Harapan (Jakarta), 2003.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s