BUKU DAN KOMUNITAS


Bagus Takwin

Pengalaman menunjukkan kepada saya, buku dan interaksi sosial antar orang punya hubungan saling mempengaruhi. Buku bisa jadi ikatan yang menyatukan orang-orang, memberi dinamika dan mengembangkan interaksi di dalamnya. Di sisi lain, interaksi orang dengan kesamaan minat, tujuan, kepedulian dan ikatan-ikatan lainnya tak jarang membawa mereka kepada keterlibatan yang intens dengan buku. Interaksi antara orang-orang, adanya satu atau lebih ikatan yang sama, dan sebuah area konteks merupakan unsur-unsur utama dari komunitas dalam arti luas (Hillary, 1955). Dengan pengertian ini, dapat saya katakan bahwa hubungan antara buku dan komunitas sangat erat.

Mencermati pengalaman sendiri, juga pengalaman orang lain, saya mendapat banyak contoh tentang hubungan buku dan komunitas dalam arti luas. Sejak mulai secara aktif membaca hingga saat ini, saya selalu mendapatkan banyak masukan tentang buku-buku apa saja yang baik dan enak dibaca dari teman-teman. Interaksi saya dan mereka dalam berbagai komunitas memberi banyak tambahan wawasan tentang beragam buku yang baik. Saya juga menjalani banyak pengalaman bertemu orang-orang baru dari berbagai komunitas melalui buku. Minat dan kegemaran membaca buku tertentu membawa saya bertemu dengan orang-orang yang juga menyenangi buku yang sama.

Ijinkan saya bernostalgia ke masa kecil dan pamer sedikit pengalaman saya bersahabat dengan buku.

Kisah-kisah dari Masa Kecil

Keintiman saya dengan buku di masa kecil, tepatnya di kelas 2 sekolah dasar, berangkat dari interaksi saya dengan teman-teman di sekolah. Saya ingat waktu itu di SD saya setiap minggu ada kegiatan membaca buku di perpustakaan (tepatnya lemari buku yang ada di sekolah; lemari berukuran 150 X 100 cm itulah perpustakaan sekolah kami). Murid-murid dibebaskan untuk memilih buku apa saja yang mau dibaca, biasanya satu orang satu buku. Di perpustakaan mini itu hanya ada satu buku bergambar hitam putih, isinya dongeng tentang kancil dan buaya. Sesuai dengan tahap perkembangan kognitif kami yang masih berorientasi kepada stimulus kongkret, buku itulah yang paling digemari dan selalu menjadi rebutan. Sebagai anak yang tidak terbiasa berebut, saya selalu saja tidak berhasil meminjam buku itu. Teman-teman yang lebih cepat dan tangkas sudah lebih dahulu mendapatkan buku itu. Biasanya, empat sampai lima orang bersama-sama membaca dan menikmati gambar-gambar buku itu. Saya yang selalu terlambat untuk ikut serta mendapat hak membaca buku itu hanya bisa mengintip isi buku itu. Dibandingkan dengan buku cerita lain yang hanya berisi tulisan, buku kancil dan buaya itu jauh lebih menarik bagi kami.

Tanggapan teman-teman saya terhadap buku itu serta cerita mereka tentang betapa asyiknya membaca buku itu menerbitkan keinginan besar pada diri saya untuk membacanya. Cukup lama saya memendam keinginan menikmati sendiri sepuas-pusanya buku bergambar itu tetapi selalu saja kalah gesit oleh teman-teman. Pernah sekali-dua kali saya ceritakan keinginan itu kepada ibu. Beliau menanggapi dengan pernyataan, “Nanti kalau ke Bandung dan sempat ke toko buku, kita beli ya.” Saya pun berharap besar ibu saya pergi ke Bandung dan membelikan saya buku cerita bergambar. Kami tinggal di Dayeuhkolot waktu itu, salah satu daerah utama Kabupaten Bandung yang berjarak kurang dari 10 km dari kota Bandung.

Saat tidak ingat persis berapa saya mendambakan buku cerita bergambar sebelum sampai saatnya Bapak dan Ibu saya suatu hari pulang ke rumah membawa tiga buku cerita. Bukan hanya bergambar, buku-buku itu berwarna. Gambarnya jauh lebih hidup dibandingkan dengan buku dongeng kancil dan buaya di sekolah. Bukan main suka-citanya saya mendapat harta yang buat saya waktu itu amat berharga. Saya bawa ketiganya ke sekolah untuk diperlihatkan kepada teman-teman, tentu setelah saya puas menikmatinya sendiri di rumah. Tiba-tiba saya jadi anak yang paling banyak didekati oleh teman-teman sekelas, jadi murid populer. Bahkan murid-murid dari kelas lain pun datang berkunjung ke kelas kami untuk ikut menikmati buku-buku cerita bergambar milik saya. Teman-teman memperlakukan saya seperti seorang juragan, ‘juragan buku’. Betapa bangganya saya waktu itu. Setelah itu saya membina pertemanan dengan beberapa teman penggemar buku. Beberapa teman lain yang tadinya tak begitu tertarik dengan buku pun bergabung dengan kami karena menurutnya kelompok kami punya keasyikan tersendiri. Saya pun makin menggemari buku. Dari sanalah, saya punya penghargaan yang tinggi terhadap buku. Saya goreskan dalam kenangan saya: buku adalah alat ampuh untuk menarik perhatian orang lain; buku adalah alat survival yang membawa kita kepada keunggulan.

Saya andaikan, jika saja teman-teman saya waktu itu tidak tertarik dengan buku yang saya bawa, apakah saya tetap menghargai buku? Jika saja sekolah tidak menyediakan porsi waktu bagi murid-muridnya untuk membaca buku, apakah saya akan punya ketertarikan besar terhadap buku? Yang pasti, kejadian semasa saya di kelas 2 SD itu menjadi pendorong besar bagi saya untuk menggemari buku, selain juga dukungan dari Bapak dan Ibu. Lingkungan sosial saya waktu itu punya peranan besar menjadikan saya orang yang terus tergila-gila pada buku. Biarpun saya tidak khusus membentuk komunitas waktu itu, interaksi saya dengan orang-orang di sekitar yang membawa saya akrab dengan buku.

***

Tahun 1978, keluarga saya pindah ke Palu, ibu kota Sulawesi Tengah. Pengalaman hidup di kota yang dilintasi garis Katulistiwa itu pun menunjukkan kepada saya betapa peran komunitas berperan bagi perkembangan perilaku membaca buku yang ada pada saya. Kebetulan orang-orang yang pertama saya kenal di sana adalah para pembaca buku. Dari mereka saya menambah pengetahuan tentang beragam buku. Hingga tahun keempat saya tinggal di Palu, kami punya kelompok pembaca komik. Bermacam komik kami lahap waktu itu: Serial Mandala si Siluman Sungai Ular, Jaka Sembung, Panji Tengkorak, Si Buta dari Gua Hantu, Panji Gumirang, Sinar Perak Bango Samparan, komik-komik karya Teguh Santosa dan Henky & Co, juga cerita silat Ko Ping Ho. Kami juga membaca berbagai majalah anak-anak dan remaja seperti Bobo, Ananda, Tom Tom, dan Hai. Kami masing-masing mengidentifikasi tokoh-tokoh dalam komik. Ada yang merasa dirinya mirip Si Buta dari Gua Hantu, ada yang mengidentifikasi dirinya sebagai Mandala si Siluman Sungai Ular, ada juga yang merasa lebih cocok jadi Nirmala atau Oki, dua peri baik hati dari Negeri Dongeng. Isi bacaan kami meresap ke dalam keseharian kami, ikut memberi bentuk bagi kerangka berpikir dan bertindak kami waktu itu.

Kelompok kami juga mengoleksi buku, pribadi dan kelompok. Bahkan kami sempat membuat tempat penyewaan buku, juga tempat membaca gratis di rumah seorang teman. Rumah saya pun tak jarang jadi tempat kami berkumpul. Pernah juga saya buka taman bacaan dan tempat penyewaan buku di rumah saya. Untuk melengkapi taman bacaan kami, saya dan teman saya pernah sampai mencuri buku di perpustakaan propinsi dengan alasan buku-buku itu jarang ada yang baca dan kurang terawat di sana; lebih baik kamu yang merawatnya dan mencarikan orang yang ingin membacanya. Bapak dan Ibu mendukung saya mengoleksi buku. Mereka menyediakan anggaran untuk membelikan saya dan adik buku serta majalah. Mereka senang anak-anaknya gemar membaca. Tentu saja saya tidak pernah cerita kepada keduanya bahwa kami pernah mencuri buku. Bisa berabe kalau Bapak dan Ibu tahu tentang itu. Buku-buku curian yang ditandai stempel perpustakaan propinsi Sulawesi Tengah saya sembunyikan agar tidak ketahuan Bapak dan Ibu. Tetapi buku curian hanya sedikit jumlahnya, kurang dari 10. Kami cukup takut kepergok penjaga perpustakaan dan mencuri bukanlah pekerjaan mudah bagi kami.

Tidak puas dengan penjual buku yang ada di dekat rumah, kami memburu buku ke kecamatan lain, jalan kaki berkilo-kilo, masuk ke pelosok-pelosok pasar menapaki jalan becek dan bau, melintasi ladang-ladang sampah, menguras uang saku kami untuk buku, terutama komik. Lalu, uang yang disediakan orang tua untuk membeli buku jadi tak cukup lagi. Kami harus mencari siasat untuk bisa membeli dan meminjam buku lebih banyak lagi. Saya mengajukan proposal kepada Ibu untuk melakukan pembelian sendiri setiap kebutuhan sekolah saya, mulai dari buku tulisan dan teks, sepatu, tas, dan sebagainya. Tujuannya, agar saya bisa membeli barang-barang yang lebih murah sehingga ada sisa uang yang dapat saya belikan buku cerita. Dengan perdebatan yang cukup alot, akhirnya ia setuju dengan proposal saya. Bertambahlah koleksi saya dengan pesat. Teman-teman pun mengikuti cara saya, maka bertambahlah buku kami.

Di masa itu, kecintaan saya terhadap buku sudah mengental, meski sebatas komik dan bacaan remaja seperti serial Lima Sekawan dan Sapta Siaga. Komunitas pembaca buku yang ada di sekitar rumah dan sekolah saya makin membawa saya masuk lebih dalam ke belantara buku.

***

Di tahun 1985, setelah naik kelas 3 SMP, saya pindah ke Jakarta setelah setahun sempat tinggal di Bandung. Selama di Bandung, saya lebih banyak terlibat dengan komunitas musik tetapi kegemaran membaca jalan terus. Komik masih menjadi bacaan favorit saya selain novel-novel pop Indonesia dan terjemahan dari Bahasa Inggris. Pengalaman dengan kelompok membaca sedikit sekali saya dapatkan di Bandung. Berbeda dari itu, di Jakarta saya kembali tergerak untuk mencari teman-teman yang gemar membaca. Kebetulan banyak sepupu saya yang gemar membaca. Di rumah Bude (kakak dari Bapak) yang saya tumpangi ada banyak buku milik anak-anaknya yang kurang lebih sepantaran dengan saya. Kegemaran membaca yang meluap dalam diri saya mendapatkan penyalurannya. Saya lahap buku-buku yang ada di sana, komik, novel, cerita silat, beragam majalah saya baca habis. Perilaku saya membeli buku pun meningkat; hampir setiap hari saya membeli buku. Keinginan untuk berbagi pengalaman membaca pun menguat disertai dengan keinginan untuk mendapat informasi tentang buku-buku yang menarik dan perlu dibaca. Saya secara aktif mencari teman yang suka membaca buku. Setiap berkenalan dengan orang baru, saya tanya apakah ia suka membaca buku. Jika iya, maka saya ajak ia ngobrol tentang buku.

Lama-lama teman dekat saya kebanyakan adalah orang yang suka baca buku. Setelah lulus SMP, saya mendapat tambahan beberapa teman yang gemar baca buku. Saya kenalkan mereka ke teman-teman lama saya. Mereka pun cepat akrab karena punya minat yang sama. Lalu kami sepakat membentuk kelompok pencinta buku. Kegiatannya, saling-meminjamkan buku, diskusi dan membuat puisi untuk dibaca bersama-sama. Saya kenal Agatha Christie, Iwan Simatupang, Kahlil Gibran, W.S. Rendra, Goenawan Mohamad, Marga T., Arswendo, Lupus, Budi Darma, juga Fuad Hassan dan Sapardi Djoko Damono dari interaksi dalam kelompok itu. Minat saya kepada karya sastra makin membesar.

Saya juga mulai berkenalan dengan para pemikir filsafat seperti Plato, Rene Descartes, bahkan Nietzsche dalam kelompok itu. Majalah yang saya baca pun beralih dari majalah remaja ke majalah dewasa, seperti Tempo, Matra, Horison, juga majalah Zaman yang sudah tidak terbit lagi waktu itu. Kami juga rajin mengunjungi pameran buku, menonton teater dan pembacaan puisi, juga diskusi buku dan jumpa pengarang, serta mengutip syair-syair cinta dari beberapa pengarang untuk dikirimkan kepada pacar atau orang yang sedang ditaksir.

Beberapa alumni SMA kami yang kuliah di ITB dan UI beberapa kali datang ke sekolah. Mereka banyak cerita tentang berbagai kelompok diskusi yang berkembang di kampus. Beberapa kali kami berkunjung ke sana untuk menimba pengalaman. Banyak informasi tentang buku baru kami dapat di sana. Kami juga banyak berkunjung beberapa klub atau kelompok yang punya kegiatan membaca dan diskusi buku, ikut lomba pembacaan dan musikalisasi puisi yang mereka selenggarakan. Beberapa kali kami menang dan mendapat hadiah buku. Bukan main senangnya. Saya ingat waktu mendapat penghargaan penampil musikalisasi terbaik di Depdikbud tahun 1987, kami mendapat hadiah parcel buku dari Mendiknas Fuad Hassan. Isinya kebanyakan buku dari penulis Indonesia yang baru kami kenal. Ada karya Subagio Sastrowardoyo, H.B. Jassin, Umar Junus, Sutardji Calzoum Bachri, Taufik Ismail, Putu Wijaya, dan Satyagraha Hoerip. Pertemanan saya dengan sastra Indonesia makin erat sejak saat itu. Pertemuan dan bincang-bincang dengan beberapa penyair seperti W.S. Rendra dan Sapardi Djoko Damono juga memperbesar semangat dan kebanggaan tambahan bagi kami sebagai penikmat sastra. Semua itu saya alami bersama komunitas teater dan sastra di sekolah.

Buku memenuhi dan mewarnai masa SMA saya. Identitas diri saya sebagai pencinta buku terbentuk jelas di masa itu. Saya pun mulai menulis puisi dan coba-coba membuat cerpen. Lalu diam-diam saya mulai bercita-cita jadi penulis, cita-cita yang terus menggebu hingga kini.

Pengalaman di Kampus

Tahun 1990, saya masuk ke Fakultas Psikologi UI (Fpsi-UI). Berbekal pengalaman menyenangkan bergaul dengan buku dan keinginan untuk jadi penulis, saya mencari teman-teman yang suka membaca buku. Tidak sulit, ternyata. Cukup banyak teman seangkatan saya yang ‘gila’ buku. Bersama mereka, petualangan saya dalam kesustraan dan filsafat dunia berlangsung. Selain dengan teman-teman seangkatan, saya juga berhubungan dengan senior yang menggemari buku. Lebih luas lagi, saya ikut kelompok diskusi buku di fakultas lain, seperti Fakultas Sastra (FS-UI) dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP-UI).

Di FPsi-UI, kebersamaan dengan teman-teman sesama pencinta buku membawa kami kepada diskusi-diskusi buku. Berbagai buku dan penulis dunia mulai saya kenal: James Joyce, Virginia Woolf, Aldous Huxley, George Orwell, Graham Greene, Martin Amis dan Nick Hornby dari Inggris, Ernest Hemingway dari Amerika Serikat, Knut Hamsum dari Norwegia, Italio Calvino dari Italia dan Camilo José Cela dari Spanyol; juga buku-buku dari khazanah pra-modern Beowulf, fiksi dalam bentuk puisi yang ditulis pada abad 8 M dan dikenal sebagai karya fiksi Inggris pertama dari masa Anglo-Saxon, Apollonius of Tyre sebuah prosa Inggris pertama yang dianggap sebagai awal dari genre roman dalam Sastra Inggris, terbit abad 11 M, dan The Canterbury Tales (yang banyak dijual di bursa buku murah), ditulis sekitar tahun 1387-1400 M serta Gawain and the Green Knight, ditulis sekitar tahun 1400 M. Karya-karya filsafat kami kenali seiring dengan jalannya beberapa mata kuliah filsafat. Dengan susah payah kami baca Plato, Aristoteles, Jean Jacquest Rousseau, John Locke, Thomas Hobbes, Nicollo Macheavelli, F.W. Nietzsche, dan sebagainya.

Bertemu dengan teman-teman dari jurusan Sejarah FS-UI, saya mendapat banyak masukan tentang buku-buku sejarah Indonesia. Saya berkenalan dengan karya-karya Sukarno, Sjahrir, Hatta, Tan Malaka, dan lain-lain. Dari sana saya banyak belajar tentang kelompok-kelompok pemikir yang banyak mendapatkan ide-ide pembaruannya dari diskusi-diskusi dalam komunitas kecil. Saya juga mendapat pemahaman tentang asal-muasal pemikiran yang menggerakkan Revolusi Perancis. Para intelektual Perancis abad ke-18 yang dikenal dengan sebutan pilosophes sering berkumpul di kafe-kafe untuk membahas berbagai persoalan sosial, budaya, sejarah, politik, dan sastra. Mereka dianggap penggagas dan pemberi inspirasi bagi perubahan yang mendorong terjadinya revolusi dari negara monarki ke republik di Perancis.

Jauh sebelum Revolusi Perancis, di Abad Pertengahan sudah berkembangan lingkungan belajar di Paris yang dikenal dengan nama universitas magistrorum et scholarium. Lingkungan belajar ini mendapat hak otonomi yang dikukuhkan berdasarkan dekrit pimpinan tertinggi gereja (Paus). Dengan otonomi yang dimiliki, cikal-bakal perguruan tinggi ini memiliki keleluasaan untuk menyelenggarakan pelajaran dan pengembangan pemikiran meskipun publikasinya masih terbatas dalam lingkungan sendiri. Kemudian nama universitas magistrorum et scholarium berubah menjadi universitas literarum yang secara harafiah berarti perguruan tinggi kesusastraan. Namun yang dipelajari di dalamnya meliputi juga filsafat dan berbagai persoalan manusia di luar kesusastraan. Dengan munculnya universitas magistrorum et scholarium yang kemudian berubah menjadi universitas literarum, maka Paris dikenal sebagai kota universitas pertama. Kemudian kita tahu, dari kalangan universitaslah perubahan dan kemajuan peradaban manusia banyak diserukan dan digerakkan. Media penyebaran pikiran yang terutama digunakan adalah buku. Dari sejarah ini, saya melihat bahwa peran komunitas penting dalam perubahan zaman dan buku menjadi salah satu kunci perubahan itu.

***

Lulus dari Fpsi-UI, saya tetap beraktivitas di kampus UI, ikut menjadi pengajar di sana. Pertemuan saya dengan semakin banyak teman dari fakultas lain memberi wawasan lebih komprehensif tentang pentingnya komunitas khusus yang dirancang sedemikian rupa untuk menyebarluaskan pemikiran-pemikiran positif dan progresif. Di tahun 1997-1998, salah satu tempat kami berkumpul adalah hutan karet di sebrang Fpsi-UI. Di sana ada teman yang berjualan buku dan melakukan diskusi-diskusi kecil tentang berbagai hal. Pertemuan yang cukup rutin di hutan karet membentuk pola interaksi tertentu kepada kami, juga memberikan kesamaan ikatan berupa kepedulian terhadap buku dan kebudayaan. Waktu itu, sebagian dari teman yang terlibat di sana sudah mulai merintis sebuah komunitas, namanya Komunitas Bambu. Lewat berbagai percakapan serius yang tetap diselingi humor, kami bersepakat untuk mengembangkan Komunitas Bambu. Lalu kami menyewa sebuah tempat, semacam galeri yang bisa dipakai untuk menjalankan rangkaian diskusi dan pertunjukan seni kecil-kecilan. Kami juga menerbitkan beberapa buku puisi, tulisan-tulisan Tan Malaka, serta beberapa hasil penelitian sejarah, filsafat dan psikologi. Setahun kami jalani aktivitas bersama Komunitas Bambu, sebelum kami harus pindah ke tempat yang jauh lebih sempit sebab pemilik tempat menuntut uang sewa dua kali lipat yang tidak mampu kami bayar. Aktivitas diskusi dan pertunjukkan pun terhenti. Namun dari setahun kami menjalani rangkaian aktivitas, banyak sekali yang kami dapatkan. Beberapa pengunjung diskusi berasal dari komunitas-komunitas lain. Pertemuan kami membawa kami kepada perjalanan mengunjungi dan bergaul dengan bermacam komunitas. Dari perjalanan itu, saya dan teman-teman mendapat lagi tambahan referensi buku-buku bermutu. Lagi-lagi, komunitas memberi saya pengayaan bacaan.

Di luar konteks Komunitas Bambu, beberapa teman dekat mendirikan Komunitas Film Independen (Konfiden). Dua orang aktivisnya tinggal serumah dengan saya. Kami dulunya sekampus di FPsi-UI. Interaksi saya dengan mereka menumbuhkan minat saya terhadap buku-buku film. Saya jadi banyak membaca buku tentang film, terlibat diskusi tentang film, meresensi film dan buku-buku film serta sempat bercita-cita menjadi pembuat film atau setidaknya membuat skenario untuk film. Seorang teman yang berniat menulis buku tentang produksi film banyak berdiskusi dengan saya. Ia lalu tinggal serumah dengan kami dan menjalankan proyek penulisan bukunya hingga selesai di rumah kami. Buku itu diterbitkan oleh Konfiden bekerjasama dengan Penerbit Panduan dengan judul Mari Mebuat Film, penulisnya bernama Heru Effendi.

Pengalaman saya bersosialisasi di kampus tidak bisa saya lepaskan dari komunitas dan buku. Keduanya selalu saling bertaut. Mungkin karena saya memang mencintai buku sehingga cenderung mencari teman dan komunitas yang juga mencintai buku, atau mungkin juga karena buku pada dasarnya punya watak mempertemukan orang dalam berbagai komunitas, atau komunitas selalu membutuhkan buku dalma upaya pelaksanaan programnya dan pencapaian-pencapaian tujuannya. Yang jelas, pengalaman saya menunjukkan keduanya saling mempengaruhi, keduanya seperti dua sisi dari satu mata uang.

Menengok Komunitas di Dunia dan Indonesia

Waktu hendak mulai menulis artikel ini, saya mencari bahan dari internet. Lewat mesin pencari Yahoo dan Google saya klik entri ‘books comunity’, ‘community and books’, dan ‘books, community’. Hasilnya, saya temukan jutaan situs-web milik berbagai komunitas buku dan jutaan komunitas yang menyarankan para pengunjung situs untuk membaca buku-buku dengan topik yang sama dengan yang digumuli oleh komunitas-komunitas itu. Jutaan komunitas real dan virtual ada di dunia ini dan kebanyakan dari mereka terlibat erat dan intens dengan buku.

Sekedar menyebut sedikit saja dari sekian banyak komunitas, ada Boxcar Books, The Free _Expression Network, Bloomington Playrights Project, Center for Sustainable Living, Indiana Forest Alliance, Creative New Zealand, BookCrossing, Campaign For Reader Privacy, Comic Art Community, Bloomington Organic Gardeners, Community Bicycle Project, Composting Project, Natural Building Group, Green Dove Peace Network, Community College Fact Book Library, Internationalist Books & Community Center-Chapel Hill, The Memorial Book for the Jewish Community of Yurburg, Lithuania, dan The Kepler’s Books and Magazines.

Di Indonesia, setiap minggu harian Kompas juga meliput berbagai komunitas yang berkembang di Indonesia. Beberapa komunitas yang saya kenal juga punya keterlibatan yang erat dengan buku. Ketika saya ke Banda Aceh, saya juga menemukan banyak komunitas budaya yang menyelenggarakan diskusi buku, bahkan menerbitkan buku. Saya sempat berbincang-bincang dengan orang-orang dari Komunitas Tikar Pandan yang menerbitkan jurnal bulanan dengan isi seputar persoalan sastra Inonesia. Dari gejala munculnya komunitas yang merebak di Indonesia dewasa ini, jelas saya menangkap peran mereka dalam mengembangkan minat baca dan menambah wawasan tentang buku kepada para anggotanya.

Ada beragam aktivitas komunitas yang berkait dengan buku, di antaranya diskusi buku, pembacaan puisi dan cerpen, menulis dan menerbitkan buku, menjual dan tukar-menukar buku, membuka perpustakaan di daerah-daerah yang kekurangan dan perpustakaan keliling, menjadi agen copyright buku-buku luar negeri, serta menyelenggarakan lomba-lomba menulis dan membaca buku. Beberapa komunitas bahkan menjadi semacam barometer dari tren buku serta dianggap memiliki standar kualitas yang memadai sehingga jadi rujukan komunitas lain. Belakangan saya juga mengenal komunitas yang berangkat dari toko buku seperti Tobucil dan Toko Buku Ultimus. Kedua toko buku itu menjadi tempat berlangsungnya rangkaian aktivitas yang berhubungan dengan buku. Lewat aktivitas-aktivitas yang mereka selenggarakan, mereka sekaligus membuka peluang pasar buku di luar distribusi mainstream. Komunitas-komunitas seperti itu menambah keragaman jalur distribusi dan pasar alternatif.

Beberapa komunitas juga mempengaruhi pendekatan dan orientasi membaca buku, terutama karya sastra. Di Indonesia komunitas seperti Teater Utan Kayu cukup menampilkan pengaruh itu dan mengundang pro-kontra dari komunitas lain. Di Eropa, pengaruh komunitas terhadap pembacaan buku sudah lama berlangsung. Virginia Woolf dan suaminya mengembangkan komunitas sastra yang aktivitasnya berlangsung di rumah mereka. Dari komunitas itu lahirlah karya-karya sastra avant garde, juga pendekatan kritik sastra yang berbeda dari pendekatan sebelumnya.

Di Eropa dan Amerika, banyak komunitas dan jaringannya yang punya peran sebagai agen-agen kebudayaan. Mereka menjadi penggagas dan pelopor gerakan kebudayaan tertentu. Campaign For Reader Privacy yang berpusat di New York dan Washington D.C., contohnya, merupakan komunitas yang menggalang solidaritas dan aksi untuk menjunjung tinggi hak-hak pembaca, memperjuangkan The Freedom to Read Protection Act. Berkembangnya komunitas di Indonesia pun mulai menunjukkan peran mereka sebagai agen perubahan budaya.

***

Seperti yang dikemukakan sebelumnya, pengalaman yang langsung saya jalani dan pemahaman dari menyaksikan pengalaman orang lain, membawa saya kepada kesimpulan bahwa komunitas dan buku punya keterkaitan besar. Sejarah mencatat, hubungan keduanya erat sekali. Para pencinta buku, juga pengusaha dan penjual buku di Indonesia perlu belajar banyak dari sejarah hubungan itu. Pelajaran dari sana saya kira bisa jadi sumbangan besar bagi upaya kita menciptakan dan mengembangkan masyarakat pencinta buku dan industri buku yang sehat di Indonesia.

(Disampaikan dalam MP Afternoon Tea, 29 April 2006)

Tulisan ini dikutp dari http://h12021987.multiply.com, 12 Juni 2007.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s