KOMUNITAS SASTRA YANG MENCARI DAN MENEMUKAN


Cecep Syamsul Hari

Penyair dan Esais

Dalam tulisan-tulisan yang membahas tradisi sastra, telah saya ungkapkan bahwa kecenderungan fenomenal kehidupan sastra Indonesia pada tahun 1990-an atau dekade terakhir abad ke-20 adalah munculnya “kegairahan berpuisi” yang dalam spektrum lebih luas dapat pula dipandang sebagai “kegairahan bersastra”. Ini dapat ditandai antara lain dnegan derasnya penciptaan puisi seperti tampak pada banyaknya buku puisi yang diterbitkan dan bermunculannya komunitas-komunitas sastra nonakademik di berbagai-bagai daerah.[1]

Dalam tulisan-tulisan itu itu juga saya kemukakan bahwa diskursus intelektual atau pemikiran yang terjadi di lingkungan-lingkungan komunitas sastra akademik dan nonakademik adalah satu dari tiga unsur yang saling menopang satu sama lain dalam membangun tradisi sastra Indonesia yang kuat. Dua unsur lainnya adalah tradisi kritik dan tradisi karya.

Tulisan ini lebih jauh akan membahas karakteristik, peran, dan fungsi komunitas sastra, khususnya komunitas sastra nonakademik (komunitas sastra yang berada di luar lingkungan fakultas-fakultas sastra di perguruan tinggi) dalam ikut menumbuhkan tradisi sastra Indonesia yang kuat.

**

Secara sosiologis, komunitas (community), berarti “masyarakat setempat”, yaitu anggota atau warga sebuah desa, kota, suku atau bangsa. Kriteria utama suatu komunitas adalah terdapatnya hubungan atau interaksi sosial yang lebih besar di antara sesama anggotanya dibandingkan dengan interaksi mereka dengan anggota-anggota komunitas lain yang bukan bagian dari komunitasnya. Robert M. Mac Iver dan Charles H. Page (1961:251) mendefinisikan komunitas sebagai wilayah kehidupan sosial dengan derajat hubungan sosial tertentu. Derajat hubungan sosial itu biasanya ditandai dengan interaksi yang intens di dalam suatu dinamika internal dalam jangka waktu tertentu. Menurut  mereka berdua, dasar-dasar suatu komunitas adalah lokalitas dan perasaan sekomunitas.

Dalam komunitas sastra, interaksi sosial itu dibentuk melalui kepentingan yang dapat bersumber dari tujuan-tujuan yang sama yang hendak dicapai anggota-anggota komunitas yang bersangkutan dalam kehidupan kesusastraan. Lokalitas dan perasaan sekomunitas menjadi daya lekat komunitas itu dalam mencapai tujuan bersama mereka.

Tujuan yang hendak dicapai suatu komunitas sastra bergantung pada kesepakatan bersama anggota-anggotanya, baik dirumuskan secara formal (dalam bentuk anggaran dasar, misalnya) maupun kesepakatan yang diputuskan secara informal.

Di dalam lingkungan komunitas-komunitas sastra non akademik  yang bersifat institusional, misalnya dewan-dewan kesenian atau lembaga-lembaga kebudayaan, tujuan bersama itu dirumuskan dan ditentukan sebelumnya melalui kesepakatan organisasional yang bersifat formal. Sebaliknya komunitas-komunitas sastra nonakademik yang bersifat noninstitusional merumuskan tujuan bersama itu secara informal di antara anggota-anggotanya.

Tinggi atau rendahnya peran komunitas sastra dalam menumbuhkan tradisi sastra yang kuat tidak terletak pada bentuk formal atau informalnya melainkan pada intensitas diskursus pemikiran yang berlangsung di dalamnya. Lokalitas dan perasaan sekomunitas menggerakkan aktivitas dan dinamika internal komunitas sastra dalam berbagai-bagai bentuk, seperti pemublikasian buku, buletin, majalah, jurnal kebudayaan, dan sebagainya. Diskursus yang berlangsung di dalam suatu  komunitas sastra pada gilirannya akan membawa komunitas yang bersangkutan pada upaya “mencari dan menemukan”.  Upaya itu, seperti banyak terjadi pada komunitas-komunitas sastra di negara-negara Eropa, sangat mungkin memunculkan dialektika kultural dalam bentuk gerakan-gerakan pemikiran kesusastraan yang dari sudut pandang sejarah sastra terbukti telah ikut membangun tradisi sastra di negara masing-masing.

**

Pada permulaan abad ke-20, antara tahun 1906-1907, di Perancis terdapat komunitas yang menyebut dirinya kelompok Abbaye. Nama komunitas itu diambil dari nama sebuah rumah di daerah pinggiran kota Paris, L’Abbaye, tempat sejumlah penulis dan seniman Perancis biasa berkumpul, berdiskusi, dan menerbitkan karya-karya baru mereka. Para penulis seperti Charles Vildrac dan Georges Duhamel menjadikan rumah itu sebagai pusat aktivitas kesenian.

Penulis dan seniman lainnya, seperti Jules Romain, bergabung dengan komunitas Abbaye meskipun bukan penghuni rumah itu. Para seniman Abbaye menghidupi diri mereka dan aktivitas kesenian mereka dengan menjual buku-buku yang dicetak dengan mesin cetak milik mereka sendiri. Komunitas itu diabadikan Georges Duhamel dalam novelnya, Le Désert de Bièvres (1937).

Salah satu karya berpengaruh yang dipublikasikan komunitas Abbaye adalah La Vie unanime (1908), kumpulan puisi karya Romains. Karya itu mencerminkan seluruh pandangan filsafat Romains dan di kemudian hari menjadi akar sebuah gerakan kesusastraan di Perancis, unanimisme, dan menempatkan dirinya sebagai pelopor gerakan itu.

Unanimisme adalah gerakan kesusastraan yang mendasarkan pandangan-pandangannya di atas konsep-konsep psikologi tentang kesadaran kelompok dan emosi kolektif yang diperlukan penyair untuk menggabungkan kesadaran transendensinya. Selain dalam karya Romains yang disebut terdahulu, pengaruh gerakan ini antara lain terlihat dalam karya Romains dan Georges Chennevière, Petit Traite dé versifications (1923) dan karya Georges Duhamel dan Charles Vildrac, Notes sur la technique poétique (1910). Karya yang disebut terakhir menguraikan secara garis besar teroi-teori ilmu persajakan (prosody), yang seperti halnya Walt Whitman, menganjurkan penggunaan irama (rhytm) dengan aksen yang kuat dan mengganti simbol-simbol dan alegori dengan diksi yang sederhana dan tanpa hiasan (simple and unadorned diction).

Pada waktu yang bersamaan di Inggris terdapat komunitas serupa yang disebut Bloomsbury. Nama itu diberikan kepada sekelompok penulis, seniman dan filosof Inggris yang secara tetap bertemu dan berdiskusi antara tahun 1907-1930, antara lain di rumah Clive dan Venessa Bell, dan di rumah Virginia Setephen, yang di kemudian hari dikenal sebagai Virginia Woolf, di distrik Bloomsbury, London.

Secara intens mereka mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan estetis dan filosofis dengan semangat agnotisisme dan dipengaruhi dengan cukup kuat oleh karya     G.E. Moore (Principia Ethica) dan karya bersama A. N. Whitehead dan Bertrand Russel (Principia Mathematica). Dalam cahaya pemikiran tiga filosof itu mereka mencari dan menemukan definisi-defisini kebaikan (the good), kebenaran (the true), dan keindahan (the beautiful), dan mempertanyakan segala bentuk pemikiran yang diterima dengan suatu “comprehensive irreverence” berikut semua bentuk kepura-puraannya.

Ke dalam komunitas Bloomsbury bergabung novelis E.M. Forster, penulis biografi Lyton Strachey, kritikus seni Clive Bell, pelukis Venessa Bell dan Duncan Grant, ahli ekonomi John Maynard Keynes, penulis Leonard Woolf, dan kritikus serta novelis Virginia Woolf.  Kekhasan komunitas ini adalah keragaman latar belakang anggotanya yang tidak semata-mata berasal dari lingkungan kesusastraan. Namun, peran komunitas ini dalam ikut memperkuat tradisi sastra Inggris, setidaknya dengan mempertimbangkan karakter dan pencapaian estetik karya-karya Virginia Woolf, tak dapat dipungkiri.

Dari perspektif sejarah sastra, komunitas Abbaye di Perancis dan Bloomsbury di Inggris dapat dipandang sebagai contoh monumental bagaimana suatu komunitas sastra dapat memperkuat tradisi sastra negerinya masing-masing. Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah di dalam kedua komunitas itu terdapat diskursus yang intens, meskipun usia komunitas yang disebut pertama jauh lebih pendek dibandingkan dengan usia komunitas yang disebut terakhir.

**

Hingga tulisan ini dibuat validitas data komunitas-komunitas sastra di Indonesia yang saya miliki, khususnya yang banyak sekali muncul pada taun 1990-an, belum memadai untuk membantu saya  menyimpulkan pola-pola umum diskursus pemikiran yang terjadi di dalam komunitas-komunitas yang bersangkutan dan untuk memperkirakan hingga sejauh mana peran dan sumbangan mereka pada tradisi sastra Indonesia.

Dari sejumlah surat pribadi, buletin sederhana, hingga jurnal kebudayaan yang dikirimkan kepada saya oleh sejumlah komunitas sastra di beberapa daerah di Indonesia, sebenarnya saya melihat terdapatnya gerak dinamis di dalam komunitas-komunitas sastra tertentu, setidaknya di Bali dan beberapa kota di Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Kita dapat berharap dari komunitas-komunitas sastra ini suatu ketika muncul komunitas seperti Abbaye dan Bloombury dan ikut memperkuat tradisi sastra Indonesia lewat publikasi karya dan diskurus pemikiran mereka. *

[1] Tak begitu banyak penelitian dilakukan terhadap komunitas-komuntas sastra yang bermunculan di berbagai tempat di Indonesia sepanjang tahun 1990-an. Salah satu dokumen yang penting dicatat adalah penelitian yang dilakukan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) yang melakukan penelitian di Jakarta dan sebagian daerah Jawa Barat. Lihat: Melani Budianta dan Iwan Gunadi (ed.), Pemetaan Komunitas Sastra di Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi, Komunitas Sastra Indonesia, 1998. Penelitian ini diberi pengantar oleh kepala Litbang Kompas, Daniel Dhakidae. Sebuah perkembangan baru muncul tiga tahun setelah tulisan saya tentang komunitas sastra ini pertama kali dipublikasikan, yaitu komunitas-komunitas sastra yang dibentuk atas kerja sama majalah sastra Horison dengan para sastrawan Indonesia di berbagai daerah di Indonesia dan sekolah-sekolah menengah atas dalam bentuk Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSSI) dan Sanggar Sastra Remaja Indonesia (SSRI). Dari sanggar-sanggar sastra ini telah bermunculan penulis-penuis muda berbakat.

Tulisan ini dikutip dari Harian Media Indonesia (Jakarta), 24 Agustus 1997.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s