KOMUNITAS SASTRA DAN SASTRA KOMUNITAS


Purhendi

Guru Bahasa Indonesia dan Pembina Sanggar Sastra Siswa/Remaja Indonesia

Suatu malam, saya pernah kedatangan rekan penulis Koko P Bhairawa (Prakoso Bhairawa Putra, Palembang) di bedeng kon trakan saya di Sekojo. Biasa, rekan-rekan (penulis) kadang sanjo. Disamping melepas kangen kalau sudah agak lama tidak bertemu, juga diskusi kecil-kecilan tentang sastra. Materi pembicaraan, meskipun tidak formal, seringnya tentang cerpen atau puisi.

Malam itu, dia agak sedikit lebih “semangat”. Terutama karena, katanya, ada teman seprofesi yang menegurnya untuk tidak “kumpul-kumpul”. Saya sih, tertawa saja. Sebab, justru dengan seringnya bertemu dan berkumpul, atau sampai membentuk komunitas, menurut saya akan lebih baik. Sebab akan lebih banyak sharing, dialog, atau katakanlah semacam tukar ilmu dan informasi. Jadi, bukan karena unsur “domplengisme”.

Dengan cerita dari rekan Koko Bhairawa tersebut, saya jadi teringat pada cerita yang pernah disampaikan oleh rekan Helvy Tiana Rosa (Jakarta) yang kemudian hari menjadi ikon bagi FLP (Forum Lingkar Pena). Dia pun pernah “disindir” dalam tulisan milis pada sebuah situs tentang “komunitas” yang dibentuknya. Kurang lebih isi milis-nya seperti ini; “Penulis yang mendirikan komunitas (penulisan) adalah mereka yang tidak percaya diri dan takut untuk tampil sendirian, atau hendak mencari nama belaka dengan komunitasnya tersebut.”

Saya tidak begitu paham terhadap pola pikir sebenarnya terhadap mereka yang “melarang atau mencurigai” komunitas (sastra). Sebab bagi saya, justru munculnya kelompok-kelompok kepenulisan seperti itu sangat baik sebagai ajang tukar pikiran, tukar informasi, tukar pengalaman, atau hal-hal lain yang bersifat humanisme kesastraan. Jadi, di sini bukan masalah numpang beken, tidak pede, atau mengekor terhadap sebuah popularitas sastra. Sebab kenyataannya, layak-tidaknya sebuah karya bukan pada komunitas atau semacamnya melainkan pada karya itu di mata masyarakat. Bahkan tidak sedikit, di kemudian hari, para penulis yang kini “naik daun” pun dulunya adalah orang-orang komunitas, dan bahkan mungkin melahirkan komunitas-komunitas baru yang kian membiak dan membaik.

Komunitas Sebagai Episentrum

Dalam pandangan saya, munculnya komunitas sastra yang kian membiak di negeri ini, merupakan suatu gejala yang sangat baik. Hal ini menandakan bahwa dunia sastra kian dimengerti dan dipahami oleh masyarakat. Kalaupun nanti lantas melahirkan “sastra komunitas”, itu lain masalah. Sebab, bisa jadi hal itu merupakan hasil “primordial” dari upaya pembelajaran.

Menjamurnya komunitas sastra dewasa ini tidak lepas dari perkembangan teknologi, terutama dunia cyber. Apalagi, tidak sedikit jalur internet yang menyediakan fasilitas “gratisan” untuk sekadar “numpang nampang” sampai pada tingkat “serius”. Coba kita buka internet, akan kita temukan telah berapa ratus komunitas sastra yang kini tersebar di berbagai pelosok negeri.

Ini baru bidang sastra. Belum berpuluh atau beratus bidang lainnya. Sehingga, tak heran jika kemudian “agen-agen” ini pun lebih dijadikan andalan untuk informasi dan komunikasi, tidak lagi jalur cetak-kirim, semisal surat atau poster. Karena itu, justru pada

masa kini, mereka yang tidak terlibat dalam komunitas akan tergilas informasi dan kian “kuper”.

Kantung-kantung sastra yang banyak ini, ibarat sebuah gempa, ia sebenarnya hanya merupakan episentrum. Sedangkan hiposentrumnya, tetap pada diri para pelaku sastra (sastrawan). Sebab, hukum alam yang bernama “pembaca”, toh lebih mempunyai wewenang untuk mengapresiasi dan mengkritisi.

Seorang anggota komunitas, misalnya, meskipun dia telah “terengah-engah” mengikuti berbagai kelompok dan kegiatan, jika karayanya masih “mandul”, toh tak ada juga yang mengakuinya. Sebaliknya, mereka yang tetap eksis dan memiliki “daya”, tetap saja memiliki sudut pandang tersendiri di mata masyarakat atau pembaca. Jadi, dalam hal ini,

keberadaan berbagai komunitas sebenarnya dapat “menantang” mereka yang telah “senior” dalam berkarya. Tinggal saja, keseniorannya itu karena usianya atau karena mutu karyanya. Jangan sampai, ketika kita menepuk dada sendiri, justru terbatus-batuk dan sesak napas!

Tak Ada Sastra Komunitas

Apakah ada yang dinamakan “sastra komunitas”? Bagi saya, tidak ada, jika hal ini hanya diambil dari sudut padang “kelompok”. Kalaupun “sastra komunitas” itu muncul tidak lebih karena “media” yang memfasilitasinya.

Misalnya, majalah Annida. Dengan tidak membaca majalahnya pun, kebanyakan orang akan menduga seperti apa isinya (cerpen dan puisinya). Dan (mungkin) kebetulan jika mereka yang dimuat di majalah ini pun, konon, banyak dari anggota FLP. Namun, tidak berarti kemampuan mereka hanya sebatas itu. Pada akhirnya, atau kenyataannya, di luar itu mereka adalah para penulis yang telah muncul di Kompas, Republika, dan majalah sastra Horison (maaf, kalaupun hal ini dijadikan tolok ukur standar).

Atau mungkin, kita akan lebih kaget lagi ketika melihat latar belakang mereka yang umurnya baru belasan tahun tetapi sangat produktif dan mampu melahirkan novel-novel bagus, meskipun dalam pandangan penerbit. Namun bukankah penerbit pun “mampu” mewakili sebagian besar sudut pandang pembaca?

Demikian halnya dengan majalah sastra Horison, termasuk halaman Kakilangitnya, karya-karya yang lahir/dimuat bukanlah karya-karya “sastra komunitas” kelas “sastrawan” melainkan lebih pada “siapa” masyarakat pembacanya. Ekstremnya, barangkali, karya-karya yang “bergaya” Annida atau Aneka Yes tentu tidak akan dimuat di Horison atau Kompas. Demikian sebaliknya. Pendek kata, kalau kita masih mengganggap karya orang lain sebagai karya “sastra komunitas” atau masih “mencurigai” keberadaan “komunitas sastra”, barangkali kita pun cukup dengan menjawabnya; kasian deh lo!

“Tsunami” Komunitas Sastra

Dalam sebuah milis, saya membaca tulisan yang berbunyi begini; Komunitas sastra ibarat sampan yang berlayar di lautan kaca, berisi makhluk-makhluk maya, mengarungi luasnya samudera kata-kata, hingga ada yang menggumpal menjadi puisi, cerpen ataupun esai, bagaikan pulau-pulau tempat sampah-sampah berlabuh. Pernah terbentuk

suatu komunitas sastra yang penuh gelora dan kebebasan, bebas berekspresi, berkarya sastra, mengeluarkan pendapat, dan berbeda nilai karsa akan sebuah karya sekali pun. Tapi apa lacur, kebebasan itu tak semulus yang dibayangkan, manakala perbedaan pendapat adalah bencana. Kebebasan menjadi obituari dan rasa jengah yang berujung keinginan hengkang pun tak terelakkan lagi.

Barangkali, tulisan di atas cocok untuk “kaum sastra” yang pesimistis. Atau, paling tidak, masih memandang dan membutuhkan “nama” dan “pengkultusan kesastrawanan”. Namun, bagi mereka yang memandang komunitas sebagai sebuah “taman indah”, tentu akan beda. Pun bagi mereka yang melihatnya dari sudut pandang pembelajaran dan “laboratorium”, tentu akan berbeda pula. Namun yang pasti, komunitas-komunitas sastra yang demikian banyak itu kini sudah lebih “humanisme universal”.

Tengoklah mereka, yang telah melakukan kerja besar untuk komunitas/sastrawan lain. Misalnya, Kelompok Studi Sastra Banjarbaru (Kalimantan Selatan), Laboratorium Sastra Medan (Medan), Komunitas Sastra Indonesia (Tegal), Rumah Dunia (Banten), Forum Lingkar Pena (Jakarta), dan beberapa daerah lainnya seperti di Surabaya, Madura, Bali, Padang, Bandung, dan sebagainya.

Mereka tidak hanya beriak, bahkan kemudian bergelombang. Mereka tidak hanya menjadi episentrum, tetapi dengan kekuatan hiposentrumnya telah mampu menjadi “badai tsunami”. Mereka mampu merambah dan menerjang komunitas lain di berbagai wilayah. Namun, badai tsunami sastra ini tidak menghancurkan, tidak memporakporandakan, tetapi justru menyatukan, berkumpul, penuh keramahtamahan, dan penuh persahabatan. Sebagai contoh kecil, lahirnya buku Sajak dari Negeri Poci, Ode Kampung, 142 Penyair Menuju Bulan, dan Medan Puisi, yang merupakan kerja keras dan penuh perhatian dari para komunitas sastra dan dampak dari “tsunami” itu.

Demikian halnya dengan para sastrawan yang terangkum di dalamnya, merupakan orang-

orang yang dengan sukarela mau “bersilaturahmi”. Berkaitan dengan masalah komunitas ini, mengulang yang pernah disampaikan Helvy (FLP), tidak lain merupakan upaya “pelapisan” atau regenerasi sastra. Syukur-syukur jika kemudian benar-benar mampu mencerdaskan masyarakat, terutama dalam budaya membaca dan menulis. Harapan sederhana ini, dengan tidak disangka-sangka, bahkan kemudian FLP benarbenar mampu menjadi “tsunami” pergerakan sastra Indonesia.

Bahkan, sastrawan Taufiq Ismail mengatakannya sebagai “anugrah bagi bangsa Indonesia”. Kini, FLP tidak hanya memiliki cabang (komunitas) di berbagai pelosok di Indonesia, tetapi juga memiliki cabang di beberapa negara.

Demikian halnya dengan yang diungkapkan Firman Venayaksa (Rumah Dunia) dalam rangka Ode Kampung 2 pada Juli 2007 nanti. Ia menuturkan, “Tujuan kami membuat pertemuan komunitas sastra pada jilid 2 ini karena kami berasumsi bahwa komunitas memberikan pengaruh yang cukup besar bagi regenerasi kesusastraaan di Indonesia. Selain segi positif itu, tentu saja ada persoalan-persoalan yang mengemuka, misalnya perihal estetika, ideologi, maupun individu sastrawan sebagai penggerak komunitas sekaligus peracik karya.”

Jadi, kembali ke masalah awal, mereka yang masih menganggap bahwa “kumpulkumpul”

dalam komunitas itu merupakan suatu budaya “domplengan”, segeralah mereformasi diri. Atau, barangkali, segera menyadari bahwa kita ada pada tataran paling kuper (kurang pergaulan). Atau, meminjam istilah yang sering dilontarkan sastrawan Maman S Mahayana dalam berbagai forum, “Kembalilah ke jalan yang benar!”

Tulisan ini dikutip dari Harian Sriwijaya Post (Palembang), 10 Juni 2007.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s