ANGGOTA KOMUNITAS SASTRA: KEBERAGAMAN, KETAKLOYALAN, DAN TALENT COOTER


Iwan Gunadi

Pemerhati Komunitas Sastra, Menetap di Tangerang, Banten

Kalau istilah “komunitas” dipahami sebagai masyarakat, kelompok, atau kumpulan orang, asosiasi logis yang segera muncul di kepala kita adalah jumlah anggotanya lebih dari satu orang. Asosiasi tersebut hampir sepenuhnya tepat, terkecuali untuk Forum Sepatu Biru yang digagas penyair Afrizal Malna di Jakarta pada 1990-an. Kalau Forum Sepatu Biru dianggap secara serius sebagai komunitas sastra, asosiasi itu mesti dikoreksi karena anggota komunitas sastra tersebut hanya Afrizal seorang. Tapi, tampaknya, kehadiran Forum Sepatu Biru lebih untuk menyindir maraknya pertumbuhan komunitas sastra pada saat itu dan mudahnya seseorang atau beberapa orang membentuk komunitas sastra untuk melegitimasi kesatrawanannya.

Yang pasti, jumlah anggota setiap komunitas sastra di Indonesia memang sedikit. Rata-rata tak lebih dari sepuluh orang. Yang paling banyak memang komunitas sastra dengan jumlah anggota seperti itu. Di bawah mereka adalah komunitas sastra dengan jumlah anggota puluhan orang. Yang disebut “puluhan orang” pun biasanya tak lebih dari 30 orang atau bahkan 20 orang.

Yang jauh lebih sedikit adalah komunitas sastra dengan jumlah anggota ratusan atau bahkan ribuan orang. Komunitas Sastra Indonesia (KSI), Himpunan Pengarang Indonesia (HPI) Aksara, Apresiasi Sastra (Apsas), dan Forum Lingkar Pena (FLP) merupakan sejumlah contoh yang mudah disebut. Dari era sebelumnya, 1980-an, kita dapat menyebut Himpunan Penulis, Pengarang, dan Penyair Nusantara (HP3N). Bahkan, konon, HP3N pernah memiliki koordinat di seluruh provinsi di Indonesia, kecuali Irian Jaya dan Timor Timur.

Sejak 1990-an hingga 2007, kelihatannya, hanya FLP dan Apsas yang mampu melewati kemasifan HP3N yang sudah lama tak terdengar lagi kiprahnya. Apsas memiliki jumlah anggota yang besar, yakni hampir 800 orang per awal 2007. Komunitas sastra yang luar biasa dari sisi anggota tentulah FLP. FLP pernah mengklaim bahwa jumlah anggotanya lebih dari 5.000 orang pada 2007, yang tersebar di dalam negeri dan luar negeri. Yang menarik lagi dari FLP, para anggota komunitas sastra yang didirikan pada 22 Februari 1997 tersebut dikenal memiliki loyalitas tinggi.

Padahal, loyalitas merupakan karakter yang langka pada kebanyakan komunitas sastra di Indonesia. Selain sistem keanggotaan yang longgar pada kebanyakan komunitas sastra, sebagaimana cabang kesenian yang lain, kesusastraan lengkap dengan masyarakat pendukungnya memang sudah telanjur diidentikkan sebagai dunia ketersendirian. Karakter petualang yang melekat dalam dunia ketersendirian tersebut merangsang mereka untuk terus mencari, termasuk pencarian yang menuntut mereka melakukan mobilitas yang tinggi. Kalaupun kemudian masyarakat pendukung kesusastraan itu membangun atau memasuki suatu organisasi, entah formal, lebih-lebih informal, sifat bawaan dunia ketersendirian itu seperti sukar dilepaskan. Jadilah pendirian organisasi komunitas sastra menyimpan paradoks pada dirinya sendiri.

Satu Sastrawan di Lebih dari Satu Komunitas
Ketakloyalan juga ditunjukkan dengan fakta banyaknya pekerja sastra, terutama pekerja sastra generasi 1980-an ke depan, menjadi anggota lebih dari satu komunitas sastra, walau komunitas-komunitas sastra itu tak selalu hidup dalam rentang waktu yang sama. Ada banyak sebab yang membuat mereka tampak terlibat di lebih dari satu komunitas. Satu, mereka ingin meluaskan wilayah sosialisasinya. Efek domino peluasan sosialisasi tersebut dapat berupa peluasan gagasan untuk menciptakan hegemoni atau peluasan klaim kesastrawanan. Pada komunitas-komunitas sebelumnya atau yang lain, peluasan gagasan atau klaim kesastrawanan itu sudah diperoleh mereka, tapi tak memuaskan mereka. Peluasan wilayah sosialisasi juga bisa untuk mengakomodasi luasnya bidang perhatian individu itu sendiri. Selain menyenangi kesusastraan, dia menyukai cabang kesenian yang lain atau bahkan kebudayaan secara umum.

Dua, mereka merasa tak puas dengan komunitas sebelumnya. Ketakpuasan tersebut lahir lantaran mereka beranggapan bahwa komunitas-komunitas sebelumnya itu tak mampu mengakomodasi setiap keinginann dan gagasannya. Perluasan gagasan, perluasan klaim kesastrawanan, pengujian gagasan dalam forum diskusi yang seimbang, pengayaan pengetahuan sastra, sekadar sosialisasi personal, atau hal-hal lain tak diperolehnya.

Tiga, komunitas-komunitas sebelumnya atau yang lain memang sudah bubar, tak aktif alias vakum, atau kegiatannya sangat insidental dan jarang. Mereka tampak menjadi anggota lebih dari satu komunitas karena kondisi memaksanya demikian. Kalau hal itu yang terjadi, mereka akan kembali mencari komunitas yang kurang lebih sejenis dengan komunitas yang sebelumnya mewadahinya. Jadi, sebetulnya, mereka hanya aktif di satu komunitas. Tapi, karena komunitas sebelumnya atau yang lain bubar, vakum sama sekali tapi tak pernah dinyatakan bubar, atau aktivitasnya sangat insidental dan jarang, mereka tampak seperti aktif di lebih dari satu komunitas.

Empat, membentuk atau aktif di suatu komunitas bukanlah pekerjaan yang sulit. Maklum, sekali lagi, lebih dari separuh komunitas yang ada memiliki bentuk organisasi yang nonformal atau informal dan menerapkan sistem keanggotaan yang longgar. Siapa saja dapat masuk dalam komunitas semacam itu tanpa perlu mendaftar atau mengisi formulir, apalagi membayar iuran. Selama masih betah, nyaman, dan sempat, seseorang tetap dapat aktif di sana. Kalaupun sering tak sempat datang, ia tak akan dipecat. Kalau sudah merasa tak betah dan nyaman, dia dapat hengkang ke komunitas lain. Atau, bahkan, mendirikan komunitas sendiri dengan anggota hanya dirinya sendiri.

Dari yang Khusus hingga Gado-Gado
Sebagian besar komunitas sastra memang beranggota para pekerja sastra atau orang yang selama ini dikenal sebagai sastrawan, meski punya pekerjaan lain di luar aktivitas sastra. Tapi, ada juga komunitas sastra yang anggotanya tak hanya pekerja sastra, tapi juga pelbagai pekerja seni nonsastra. Komunitas sastra yang memiliki anggota bak gado-gado pun ada. Siapa saja‘”apa pun profesi dan latar belakang pendidikannya‘”yang menyenangi sastra dan ingin terlibat dalam aktivitas sastra boleh ikut.

Sejumlah kecil komunitas sastra membatasi anggotanya dengan “persyaratan” yang lebih khusus, sehingga hanya orang tertentu yang dapat menjadi anggotanya. Ada yang membatasinya dengan semangat gender. Misalnya, Forum Sastra Wanita Merah Hitam Kuning (Tamening) di Padang, Sumatra Barat dan Komunitas Sastra Dewi Sartika di Bandung, Jawa Barat. Ada pula yang hanya menerima buruh sebagai anggotanya, seperti Budaya Buruh Tangerang di Banten. Ada pula komunitas yang anggotanya berlatar “profesi” yang sama, yakni pengamen jalanan, karena komunitas sastra itu memang komunitas pengamen jalanan. Institut Pramoedya di Bandung, Jawa Barat, dihuni para pembaca setia karya-karya sastra Pramoedya Ananta Toer.

Komunitas-komunitas sastra yang berbasis di kampus, sekolah, atau pesantren tentu punya anggota yang spesifik, yakni mahasiswa, siswa, atau santri. Komunitas-komunitas sastra itu ada yang menjadi bagian dari struktur organisasi unit kesenian yang resmi dibentuk perguruan tinggi, sekolah, atau pesantren masing-masing dan ada pula yang didirikan secara independen oleh sejumlah mahasiswa, siswa, atau santri di masing-masing lembaga pendidikan itu. Unit kesenian di kampus, sekolah, atau pesantren tentu dihadirkan setiap institusi pendidikan untuk menyalurkan minat dan bakat setiap mahasiswa, siswa, atau santri di masing-masing lembaga itu sendiri sekaligus memberi perimbangan dan atau pengayaan terhadap pelbagai pengetahuan ilmu yang mereka terima dalam proses pembelajaran dan pendidikan yang sesuai dengan tuntutan kurikulum di masing-masing lembaga itu. Andaikan mata ajar Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah merupakan persentuhan pertama mereka dengan kesusastraan secara formal sebagai suatu kewajiban yang disorongkan negara atau sekurangnya pihak di luar mereka sendiri, boleh jadi, komunitas sastra yang berbasis di kampus, sekolah, atau pesantren merupakan medan persentuhan mereka yang pertama dengan kesusastraan secara informal sebagai suatu kesadaran dan keinginan diri sendiri.

Yang terbanyak tentulah komunitas sastra yang berbasis di kampus lantaran sekurangnya sejak Orde Baru hampir setiap kampus atau perguruan tinggi memiliki organisasi unit kesenian mahasiswa (UKM). Pemicu utama lainnya tentulah keberadaan fakultas sastra atau fakultas ilmu budaya di suatu kampus. Dan, hampir semua perguruan tinggi berbentuk universitas di negeri ini memiliki fakultas sastra atau fakultas ilmu budaya. Peran sastrawan yang tak menjadi bagian dari komunitas kampus juga tak dapat ditepiskan. Lihat saja, misalnya, apa yang dilakukan sastrawan Hery Lamongan dan sejumlah mahasiswa di Universitas Darul Ulum, Lamongan, Jawa Timur.

Komunitas-komunitas sastra yang berbasis di kampus mampu memberikan kontribusi yang lumayan besar bagi perkembangan kesusastraan Indonesia sekurangnya selama sekitar 30 puluh tahun terakhir. Tak sedikit pekerja sastra yang memulai “karier” kesastrawanan mereka dari komunitas sastra di kampus tetap eksis dan diperhitungkan dalam peta kesusastraan Indonesia yang mutakhir. Sekurangnya, mereka sebelumnya bergaul dengan sesama pecinta sastra, meski tanpa terlibat dalam komunitas sastra yang berbasis di kampus, baik komunitas sastra yang secara struktural berada di bawah UKM yang dibentuk perguruan tinggi masing-masing maupun komunitas sastra yang dibentuk mereka, teman sesama mahasiswa, pendahulu atau senior, ataupun dosen mereka sendiri.

Perkembangan komunitas sastra yang berbasis di kampus, sekolah, atau pesantren tapi tak menjadi bagian lembaga pendidikan masing-masing secara struktural berlangsung pasang surut. Apalagi, masa kuliah, bersekolah, atau nyantri berlangsung relatif pendek. Ukuran normal yang paling lama pada masa terakhir ini adalah tujuh tahun. Pasang surut itu bergantung pada tingkat bakat, minat, dan keinginan berkelompok mahasiswa, siswa, atau santri yang keluar masuk ke masing-masing lembaga pendidikan tersebut.

Khusus komunitas sastra yang berbasis di kampus, meski suatu kampus memiliki fakultas sastra atau fakultas ilmu budaya, kepemilikan tersebut bukan jaminan bahwa kehadiran komunitas sastra di kampus tersebut akan tetap semarak selama tingkat bakat, minat, dan keinginan berkelompok itu rendah. Faktor penentu utama kesemarakan komunitas sastra di pesantren, apa pun jenis pesantrennya, tetap kiai. Kehadiran komunitas sastra yang berbasis di sekolah biasanya hasil sentuhan guru yang juga sastrawan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kegairahan melakukan kegiatan sastra dan membentuk komunitas sastra di sekolah menengah pada sejak 1990-an tak lepas dari sumbangsih upaya Majalah Sastra Horison yang membentuk Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSSI) di pelbagai wilayah di Indonesia sejak 2002.

Talent Cooter, Dewa Pemelihara Benih
Komunitas sastra sering diibaratkan sebagai habitat yang demokratis. Tak ada anggota yang berposisi lebih tinggi ketimbang anggota yang lain di luar konteks struktur organisasi. Tapi, walau tak banyak, ada saja anggota komunitas sastra yang menjadi titik as atau pusat dari komunitasnya. Anggota seperti itu biasanya punya pengaruh atau hegemoni yang lebih besar ketimbang anggota-anggota yang lain. Pada titik tertentu, hegemoni yang besar tampak dari sungkan atau “tak beraninya” para anggota yang lain membantah pendapatnya, misalnya. Pengaruh itu muncul bisa karena faktor pengetahuan atau karya sastra (otoritas kesastrawanan)-nya yang dinilai lebih unggul, hubungan yang luas, kepemilikan otoritas di rubrik sastra dan atau budaya media massa, kemampuan ekonomis yang besar, atau sekadar usia yang lebih tua atau senioritas.

Dalam kaitan itu, tak heran jika Komunitas Utan Kayu (KUK) selalu diidentikkan dengan Goenawan Mohamad, Wowok Hesti Prabowo dengan KSI, Helvy Tiana Rosa dengan FLP, dan Gola Gong dengan Rumah Dunia. Sebelumnya, pada 1980-an, Putu Arya Tirtawirya selalu dikaitkan dengan HP3N dan Umbu Landu Paranggi selalu diidentikkan dengan Persada Studi Klub (PSK) di Yogyakarta pada 1970-an. Begitu pula dengan W.S. Rendra yang diidentikkan dengan Bengkel Teater, baik ketika masih di Yogyakarta maupun setelah Bengkel Teater pindah ke Depok, Jawa Barat, hingga sekarang.
Khusus untuk faktor pengetahuan, sejumlah nama dapat disebut karena kemampuan mereka dalam melatih atau mendidik. Misalnya, selain Umbu Landu Paranggi, ada Diah Hadaning, Korrie Layun Rampan, Piek Ardijanto Soeprijadi, dan Widjati yang laksana dewi atau dewa pemelihara benih kesastrawanan atau kesastrawatian.

Tulisan ini dikutip dari Harian Jurnal Nasional (Jakarta), 2 Desember 2007.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s