APA JENIS KELAMIN KOMUNITAS SASTRA KOTA SOLO?


Aries Adenata, S.S.

 

Solo The Spirit of Java. Jargon yang kini diusung oleh Kota Budaya Solo ini menggaung santer ke seluruh pelosok negeri bahkan ke seluruh penjuru dunia. Terbukti penyelenggaraan World Congress of the Organization of Heritages Cities di bulan Oktober mendatang diselenggarakan di Kota Solo. Tak hanya itu, Solo ditetapkan sebagai World Heritage Cities. Nah, melihat jargon dan historis Solo yang semakin diakui dan dikukuhkan sebagai kota warisan budaya ini.

 

Ada sebuah pertanyaan besar yang harus dijawab oleh komunitas sastra kota. Apa peran dan jenis kelamin komunitas sastra kota saat ini dan mendatang? Beberapa tahun ini marak dan tercatat beberapa komunitas sastra kota yang sempat hidup dan meramaikan khasanah sastra Kota Solo. Sebut saja, Meja Bolong, FLP, Sketsa Kata, Pawon, HPK dan komunitas-komunitas lainnya.

 

Komunitas sastra kota ini tak jelas dengan peran yang akan diambilnya bagi Kota Solo. Ada beberapa pertanyaan besar untuk dijawab oleh komunitas sastra Kota Solo. Pertama, komunitas sastra kota akan dibawa ke arah pembentukan sastrawan atau penulis-penulis muda yang membawa kearifan lokal, sastra hijau dan sesuai dengan jenis kelamin komunitas mereka dalam kegiatan dan berkarya, atau diberi ruang untuk berekspresi sesuai dengan stereotyp yang selama ini ada. Sastra bebas berekspresi secara individual tanpa ada kekang atau mengikuti jenis kelamin dari sebuah komunitasnya. Atau keduanya disinergikan. Yaitu membawa identitas jenis kelaminnya atau genre komunitasnya sekaligus memberi ruang kepada individu untuk bereksperimen.

 

Kedua, perlukah sebuah jenis kelamin yang jelas bagi sebuah komunitas sastra? Atau justru sudah saatnya tidak tabu untuk saling memperlihatkan jenis kelamin masing-masing komunitasnya? Selama ini komunitas sastra terkesan saling bersyakwasangka antara satu dengan yang lain terkait dengan jenis kelamin. Bahkan, mereka kadang saling mengintip di balik celana komunitas lainnya hanya untuk mengetahui kelamin komunitas sastra lainnya. Walaupun mereka sering meneriakkan bahwa sastra adalah otoritas yang bebas dari nilai, kepentingan, tak berpihak, dan tak berjenis kelamin. Tetapi sesungguhnya semua komunitas sastra, disangkal atau tidak disangkal mereka mengusung ideologi atau berjenis kelamin tertentu. Namun, itu semua hanyalah pada tataran teori belaka. Tetapi, sesungguhnya di ranah kenyataan mereka masih menjaga jarak secara ideologis atau jenis kelamin, seolah bahwa komunitas mereka adalah bukan muhrimnya untuk komunitas tertentu. Akan tetapi, secara zahir mereka saling bersentuhan untuk mengadakan kegiatan yang menyemarakan jagad sastra di Kota Solo. Semoga pertanyaan kedua ini akan memantik komunitas-komunitas sastra Kota Solo untuk saling terbuka memperlihatkan jenis kelamin mereka untuk bisa menunjukkan kepada khalayak umum bahwa sastra adalah wilayah yang toleran, egaliter dan demokratis. Semua ideologi dan kepentingan dapat duduk bersama dan berdialog, bukannya untuk saling mencurigai, saling menghujat, saling menjatuhkan, saling menikam, saling-saling yang lainnya, yaitu membuat pihak lain tersudut atau tiarap untuk

sementara waktu, atau bahkan tiarap untuk selamanya. Atau justru pertanyaan kedua ini akan membuat satu komunitas dengan komunitas lainnya saling menutup rapat-rapat celana mereka agar jenis kelamin mereka tidak ketahuan dan diintip komunitas lainnya? Ah…terserah mereka John Koplo!

 

Pertanyaan ketiga adalah apakah komunitas sastra kota dan para pegiat sastra akan bersinergi dengan tagline Kota Solo, yaitu Solo The Spirit of Java? Nah, ketika tagline ini ditarik ke arah karya sastra, akankah tagline ini dikunyah dengan mentah, ataukah tagline tersebut diejawantahkan dalam bentuk tagline yang lain sehingga bermetamorfosa menjadi tagline baru bagi pegiat sastra dan komunitas sastra kota, misalnya Solo The Spirit of Writing. Ya, Solo adalah sumber inspirasi untuk menulis. Solo gudang peristiwa sosial, budaya, sejarah dan politik. Mulai dari peristiwa geger Kerajaan Surakarta, perjuangan empat lima, kerusuhan Mei, para priyayi kampung batik, pergeseran trend belanja dari pasar tradisional menuju pasar modern dan berbagai peristiwa lain. Jika semua itu menjadi sumber inspirasi para pegiat komunitas sastra kota dan penulis Solo. Maka, peristiwa tersebut akan tercatat dalam sejarah jagad karya sastra, karena sastra adalah cermin masyarakat tersebut. Peristiwa atau sejarah yang dibungkus karya sastra bisa jadi akan banyak digemari, disenangi bahkan dibaca banyak kalangan, sebut saja karya sastra yang berlatar belakang sejarah, misalnya Para Priyayi tulisan Umar Kayam yang memotret masyarakat Jawa tempo dulu atau yang sekarang sedang meledak di pasaran yaitu karya sastra Gajah Mada tulisannya Langit Kresna Hadi. Juga ada karya sastra lainnya yang memotret Solo lebih jelas dari masa pergerakan hingga mencari bentuk nilai kebangsaan dari kacamata masyarakat Solo, yaitu De Winst tulisan Afifah Afra.

 

Jika Solo adalah sumber inspirasi bagi karya sastra dan karya sastra tersebut digemari, disenangi dan dibaca banyak kalangan. Maka, tulisan tersebut akan menjadi magnet untuk masyarakat domestik untuk meneliti bahkan berkunjung ke Solo. Dan jika karya sastra tersebut diterjemahkan ke bahasa asing kemudian menjadi konsumsi masyarakat asing, maka tulisan tersebut akan menjadi media promosi yang efektif bagi Kota Solo. Meskipun tujuan dari karya sastra sesungguhnya bukanlah media promosi, tetapi salah satu tugas karya sastra adalah memotret peristiwa yang terjadi dalam masyarakat tersebut yang akan berdampak bagi khalayak umum menjadi tertarik dengan peristiwa yang melingkupi dan tempat terjadinya peristiwa dari karya tersebut. Semoga!

 

Pertanyaan terakhir sekaligus pembuka wacana. Kini posisi komunitas sastra Kota Solo dipertaruhkan dengan keberadaan DKS (Dewan Kesenian Surakarta) apakah dengan keberadaan DKS akan menjadi tempat peraduan mereka untuk saling bersinergis dan lebih giat lagi untuk menyemarakkan jagad sastra di Solo? Ataukah DKS yang akan mengambil alih peran komunitas sastra Kota Solo? Atau akankah mereka saling baku hantam hanya sekadar untuk mendapatkan kucuran dana dari DKS yang notabene uang tersebut dari rakyat?!

 

Di atas sudah ada empat pertanyaan pemantik untuk dijawab komunitas sastra Kota Solo. Sekarang yang kita tunggu adalah sikap dari para pegiat sastra kota untuk menyikapinya. Apakah empat pemantik pertanyaan di atas ditanggapi dingin-dingin saja, ditanggapi dengan telinga merah atau akan ditanggapi dengan tangan terbuka yang kemudian akan menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama untuk merumuskan peran masalah jenis kelamin di antara komunitas sastra Kota Solo. Kini, masalah kelamin bukanlah otoritas dokter saja, tetapi juga masalah bagi pegiat dan komunitas sastra kota untuk diselesaikan. Ah…lagi-lagi masalah jenis kelamin!

 

Tulisan ini dikutip dari Harian Solo Pos (Solo), 1 Juni 2008.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s