SEBERAPA PENTINGKAH KEBERADAAN KOMUNITAS BAGI PENULIS?


Marco

Jika menyimak proses kreatif para penulis besar seperti C.S. Lewis
atau J.R.R. Tolkien, maupun para penulis lokal semacam Kurnia
Effendi atau Eka Kurniawan, dll., Anda bisa melihat seberapa besar
peran komunitas yang pernah mereka ikuti. Tentu saja komunitas yang
mereka ikuti berbeda dengan model organisasi. Komunitas di sini
mengacu pada suatu wadah bagi mereka yang memiliki kesamaan minat
dan gagasan spesifik. Maksudnya tentu untuk mengembangkan minat atau
melakukan sesuatu yang lebih besar lagi, yang berkenaan dengan
gagasan dan minat tersebut.

Ada perbedaan mendasar antara komunitas dan organisasi. Komunitas
biasanya lebih bergerak bebas dan tidak terlalu bersifat hierarkis.
Kalaupun ada, pembedaan tersebut biasanya lebih pada pembagian
tugas. Lagipula sebuah komunitas tidak perlu berbadan hukum.

Berbagai Jenis Komunitas Penulis
Dari sisi dinamika anggotanya, komunitas penulis (mencakup penulis
fiksi maupun nonfiksi; puisi maupun prosa) mungkin bisa dibagi dua.
Pertama, komunitas yang menekankan aspek mentoring. Dalam komunitas
seperti ini, akan ada beberapa orang yang dianggap lebih senior atau
berpengalaman dibandingkan anggota lainnya. Mereka yang mengikuti
komunitas tersebut berharap akan memperoleh ilmu dari pengalaman
penulis senior tersebut. Sebaliknya, anggota senior itu juga akan
memperoleh tempat untuk membagikan ilmu termasuk idealismenya. Jenis
komunitas yang kedua tidak menekankan pada mentoring seperti di
atas. Alasannya, proses belajar dan mengajar dianggap dapat terjadi
di antara anggotanya sendiri. Jadi, seorang penulis senior pun tidak
akan merasa terbebani dengan tugas sebagai mentor. Sebaliknya,
anggota lain juga bisa lebih bebas mengutarakan pandangan dan
pendapatnya. Ia tidak perlu merasa tak punya hak hanya karena ia
bukan penulis yang telah banyak makan asam garam dunia penulisan.

Perjalanan dari masing-masing komunitas itu sendiri bermacam-macam.
Umumnya, komunitas tersebut diawali seperti layaknya komunitas hobi.
Maksudnya, pembentukan komunitas itu diawali oleh rasa ingin bersatu
dengan rekan-rekan yang memiliki satu minat. Biasanya, orang-orang
di dalamnya memilih jalan seperti ini karena tidak memiliki
lingkungan yang mendukung minat mereka dalam dunia penulisan.
Komunitas seperti ini banyak tumbuh di kalangan anak-anak muda dan
mahasiswa. Ada juga yang tumbuh dari keinginan untuk membuat proyek
atau kegiatan khusus.

Kebanyakan komunitas, termasuk komunitas penulis, awalnya terbentuk
melalui hubungan antarpribadi seperti persahabatan. Namun, di sini
terdapat perbedaan antara komunitas (penulis) dengan persahabatan
beberapa penulis atau orang-orang yang gemar menulis. Perbedaan ini
dilihat dari keinginan untuk menghasilkan suatu karya bersama yang
masih berhubungan dengan dunia penulisan. Misalnya, membuat majalah,
buku antologi, atau mengadakan lokakarya penulisan untuk masyarakat
di daerahnya, dsb. Keinginan tersebut biasanya lebih diwujudkan oleh
komunitas.

Kenapa Komunitas?
Memang benar jika dikatakan bahwa banyak penulis sukses yang sanggup
menghasilkan karya-karya bagus tanpa dibesarkan dalam tradisi
komunitas. Padahal ketika menjadi mahasiswa pun ia tak mengikuti
komunitas sastra yang ada. Salah satu penulis seperti ini, misalnya
Dewi Lestari, Nukila Amal, dsb. Lalu, perlukah sebenarnya komunitas
itu? Jawaban atas pertanyaan ini adalah kembali pada diri Anda
masing-masing.

C.S. Lewis maupun J.R.R. Tolkien pernah berada dalam suatu komunitas
bernama Inklinks. Mereka mengatakan bahwa komunitas mereka tersebut
ibarat kawah candradimuka yang mematangkan mereka dalam berkarya.
Dalam komunitas yang diikutinya, karya yang diperkenalkan Lewis
(termasuk “The Chronicles of Narnia”) justru beroleh kritik bahkan
dibantai oleh rekan-rekan komunitasnya. Sedikit mirip dengan itu,
semasa hidupnya, Jean Paul Sartre lebih sering menghabiskan waktunya
di kafe untuk berdiskusi. Dengan demikian, pikirannya pun terasah
sampai ia menuangkannya dalam berbagai tulisan.

Di negeri sendiri, tidak sedikit penulis yang telah meretas jalannya
sendiri di dunia penulisan tanah air. Mereka berangkat dari
komunitas-komunitas yang pernah dan masih ada. Komunitas-komunitas
tersebut di antaranya Bunga Matahari, Komunitas Bambu, Komunitas
Merapi, Akademi Kebudayaan Yogyakarta, Kesasar, atau yang berbasis
internet semisal Forum Lingkar Pena, Bumimanusia, dll. Memang, tak
sedikit pula anggota yang tenggelam di tengah kerumunan
komunitasnya.

Keberadaan komunitas juga akan membantu para penulis dalam
menghadapi sejumlah persoalan yang masih banyak menghampiri penulis
pemula. Misalnya saja masalah dana, karya yang masih belum
berkembang, komunikasi dengan penerbit, bahkan sampai yang berkenaan
dengan selera pembaca. Tak jarang melalui komunitas pulalah masalah
seperti ini teratasi secara bersama-sama.

Hambatan Masih Banyak
Jika mengamati perkembangannya, harus diakui dengan jujur, komunitas
yang biasanya mengadakan acara tatap muka cenderung berkembang lebih
cepat. Memang, komunitas penulis yang berbasis internet banyak
menghasilkan karya, baik berupa buku cetak maupun elektronik. Namun,
publikasi pers terhadap perkembangan aktivitas mereka tampaknya
cukup minim. Akibatnya, banyak aktivitas dan hasil karya mereka yang
tidak terekspos sehingga gaungnya tidak ditangkap masyarakat luas.
Hal ini memang masih menjadi kendala tersendiri di negara kita.
Terkadang, komunitas pun harus mengalah dan mengikuti aturan dalam
dunia penulisan kita. Tokoh terkenal, entah penulis/sastrawan
senior, sampai pejabat atau selebritis pun harus dirangkul dalam
suatu acara peluncuran buku antologi komunitas ataupun acara lain.
Hal ini terpaksa dilakukan agar pers atau masyarakat bersedia
melirik keberadaan mereka dan karya-karyanya.

Masalah yang berkenaan dengan bagaimana menjaga kelangsungan
komunitas tersebut juga sering muncul. Barangkali tak akan menjadi
masalah jika sebuah komunitas berhenti atau bubar karena para
anggotanya telah berhasil menapaki jalannya sendiri di dunia
penulisan. Jika itu yang terjadi, komunitas tersebut malah bisa
dibilang berhasil karena ia benar-benar mampu berfungsi sebagai
kepompong yang kemudian menghasilkan kupu-kupu yang indah. Namun,
yang juga sering terjadi adalah komunitas tersebut bubar atau tak
jelas nasibnya karena anggotanya kehilangan motivasi dan semangat
sebelum berhasil menjangkau mimpinya. Jika berbicara tentang
komunitas di dunia internet, kondisi seperti ini banyak sekali
terjadi. Milis-milis penulisan yang sepi atau forum penulisan yang
berubah menjadi sasaran spammer jelas merupakan pemandangan yang
menyedihkan. Budaya ingin hasil instan, semangat yang naik turun,
kurangnya rasa pengorbanan, serta pengelolaan tanpa didasari rencana
matang adalah beberapa hal yang mungkin menjadi alasan kurang
suksesnya sebuah komunitas. Hal-hal di atas sudah selayaknya menjadi
bahan pemikiran kita bersama.

Bacaan Pendukung:
Kurnia, Anton, Komunitas Sastra Kampus dan Mereka yang Melawan,
dalam http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2005/0319/bud2.html
Pinang, TS, Menyoal Komunitas Sastra, dalam http://titiknol.com/

Tulisan ini dikutip dari http://www.sabda.org pada 22 Januari 2007.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s