KIPRAH KSI DALAM RELASI KEKELUARGAAN


Iwan Gunadi

Pemerhati Komunitas Sastra di Indonesia

Mulanya adalah rencana penerbitan buku puisi para penyair yang tinggal di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek)—buku ini kemudian diterbitkan Roda-Roda Budaya, Tangerang, Jawa Barat[1], dengan tajuk Kumpulan Puisi Trotoar. Di sela-sela persiapan penerbitan buku tersebut dan peluncurannya pada 26 Oktober 1996 di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, yang kemudian menjadi ajang pertemuan puluhan penyair Jabotabek, muncul keinginan membentuk organisasi sastrawan yang tinggal di wilayah tersebut. Dengan difasilitasi Roda-Roda Budaya dan Ina Mentari Anugrah Promindo, dirancanglah sebuah pertemuan di rumah Azwina Aziz Miraza, pemilik dan pemimpin Ina Mentari Anugrah Promindo, di Ciputat, Tangerang, Jawa Barat, untuk mewujudkan keinginan itu.

Minggu siang hingga sore, sekitar awal Agustus 1996, puluhan orang, mulai dari sastrawan, pemerhati dan peminat sastra, guru, wartawan, pengamen, hingga buruh pabrik, berkumpul di sana. Ada Agusta Karyanto, Asa Jatmiko, Asmian, Ayid Suyitno PS, Azwina Aziz Miraza, Diah  Hadaning, Dingu Rilesta, Endang Supriadi, Entis Sutisna, Hasan Bisri BFC, Hendry Ch. Bangun, Iwan Gunadi, Kardi Syaid, Kennedi Nurhan, Medy Loekito, Nanang R. Supriyatin, Nurjana Sutarji, Shobir Poerwanto, Slamet Rahardjo Rais, Sumar, Toto D. Asmoyo, Widodo Arumdono, Wig SM, Wowok Hesti Prabowo, dan lain-lain[2]. Walau tidak bulat, pertemuan tersebut menyepakati rencana pembentukan organisasi yang menghimpun sastrawan di Jabotabek.

Untuk itu, ditunjuklah sebelas orang yang dianggap dapat mewakili orang-orang yang hadir saat itu, terutama sebagai wakil komunitas awalnya. Mereka adalah Ahmadun Yosi Herfanda sebagai wakil Forum Diskusi Budaya Republika (Jakarta), Ayid Suyitno PS sebagai wakil Kelompok Sastra Kita (Jakarta), Azwina Aziz Miraza sebagai wakil Ina Mentari Anugrah Promindo (Tangerang), Diah Hadaning sebagai wakil Warung Sastra Diha (Bogor), Hasan Bisri BFC sebagai wakil Kelompok Sastra Televisi Pendidikan Indonesia (Jakarta), Iwan Gunadi sebagai wakil Kelompok Tikar Pandan (Jakarta), Medy Loekito sebagai wakil Rumah Sastra Pulo Asem (Jakarta), Shobir Poerwanto sebagai wakil Sarang Matahari Penggiat Sastra (Jakarta), Slamet Rahardjo Rais sebagai wakil Masyarakat Sastra Jakarta (Jakarta), Wig SM sebagai wakil Dapur Sastra Bekasi (Bekasi), dan Wowok Hesti Prabowo sebagai wakil Roda-Roda Budaya (Tangerang). Merekalah yang selanjutnya mengadakan serangkaian rapat untuk mewujudkan kesepakatan itu. Pada 7 September 1996, bertempat di Kantor Dinas Kebudayaan Jakarta Pusat di Jalan Tanah Abang II, Jakarta Pusat, tempat bekerja Slamet Rahardjo Rais pada saat itu, lahirlah Komunitas Sastra Indonesia.

Nama tersebut merupakan hasil perdebatan yang sengit. Semula ada yang mengusulkan nama “Komunitas Sastrawan Jabotabek” atau “Komunitas Sastrawan di Jabotabek” dengan alasan bahwa organisasi ini mengacu pada wilayah Jabotabek. Ada juga yang ingin memperluas cakupannya dengan mengajukan nama “Komunitas Sastrawan Indonesia” atau “Komunitas Sastrawan di Indonesia”, sehingga tak ada kesan pengotakan terhadap sastrawan Indonesia atau sastrawan di Indonesia. Kedua tipe usulan tersebut bertolak dari pandangan bahwa yang dapat dianggap sebagai komunitas adalah personel atau individunya, yakni sastrawan.

Namun, pandangan bahwa yang dapat dianggap komunitas itu dapat pula materinya, yakni sastra, juga ada. Bertolak dari sana, mengemukalah usulan nama “Komunitas Sastra Jabotabek” dan “Komunitas Sastra Indonesia”. Karena dua kata terakhir dalam usulan pertama dianggap tak lazim, tak ada rujukan estetikanya, dan khawatir disalahpahami sebagai genre baru, disepakatilah usulan nama kedua. Nama kedua itu merupakan buah pemikiran Viddy Alymahfoedh Daery (AD).

Kata komunitas pada Komunitas Sastra Indonesia merupakan kata yang masih sangat jarang dipakai pada saat itu untuk penamaan komunitas sastra. Kata tersebut banyak disematkan untuk nama komunitas sastra selepas 1996. Boleh jadi, Komunitas Sastra Indonesia—kemudian disingkat KSI dan terkenal dengan nama singkatan tersebut—yang lebih dulu memanfaatkannya untuk identitas namanya. Sejak itu, banyak nama komunitas sastra dan komunitas seni mengusung penamaan serupa itu, termasuk komunitas yang berdiri sebelum 1996 dan belum mencantumkan kata itu pada namanya. Bahkan, kemudian, kata komunitas makin sering dipakai banyak penulis atau pembicara dari pelbagai disiplin ilmu untuk menunjuk kelompok masyarakat tertentu.

Pada rapat selanjutnya di Planet Senen, Jakarta Pusat, 21 September 1996, Rancangan Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) KSI berhasil disusun. Dalam AD KSI disebutkan bahwa organisasi budaya ini berbentuk yayasan serta bertujuan meningkatkan dan mengembangkan kehidupan sastra. Rapat itu juga berhasil menyusun bidang-bidang kegiatan. Tapi, kepengurusan belum terbentuk karena anggota Dewan Pendiri KSI yang hadir kurang dari dua pertiga, persyaratan minimal yang harus dipenuhi.

Pada 6 Oktober 1996, dalam rapat dewan pendiri di rumah Ahmadun Y. Herfanda, Pamulang, Tangerang, Badan Pengurus KSI periode tiga tahun pertama, 1996-1999, berhasil disetujui rapat. Wowok Hesti Prabowo meraih suara terbanyak dalam pemilihan ketua, sehingga ditetapkan sebagai ketua pertama KSI. AD dan ART KSI pun disepakati.

Badan Pengurus KSI Periode 1996-1999

Penasihat:
Ahmadun Y. Herfanda
Azwina Aziz Miraza
Diah Hadaning
Eka Budianta
Korrie Layun Rampan

Ketua:
Wowok Hesti Prabowo

Wakil Ketua:
Iwan Gunadi

Sekretaris:
Medy Loekito

Wakil Sekretaris:
Wig SM

Bendahara:
Ayid Suyitno PS

Wakil Bendahara:
Hasan Bisri BFC

Koordinator Bidang Pendidikan dan Pelatihan:
Slamet Rahardjo Rais

Koordinator Bidang Sosialisasi Karya:
Shobir Poerwanto

Koordinator Bidang Penerbitan:
Viddy Alymahfoedh Daery

Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan:
Iwan Gunadi

Koordinator Bidang Pembinaan Apresiasi Sastra:
Kardi Syaid

Koordinator Bidang Dokumentasi dan Publikasi:
Wig SM

Koordinator Bidang Usaha:
Wilson Tjandinegara

Melalui bidang-bidang itulah, KSI menunjukkan aktivitasnya. Dalam tiga tahun pertama kepengurusan KSI, melalui bidang pendidikan dan pelatihan, KSI melakukan pelatihan penulisan karya sastra secara gratis dengan diasuh sejumlah sastrawan ternama, seperti Eka Budianta dan Slamet Sukirnanto. Pelatihan tersebut terbuka untuk umum. Melalui bidang sosialisasi karya, KSI menyelenggarakan dan atau memfasilitasi pembacaan puisi, cerita pendek (cerpen), dan pementasan drama di sejumlah tempat.

Melalui bidang penerbitan, sejumlah buku karya sastra telah diterbitkan. Yang paling fenomenal dari penerbitan buku karya sastra selama tiga tahun pertama kiprah KSI tentulah penerbitan Antologi Puisi Indonesia 1997 dalam dua jilid pada Oktober 1997. Buku yang dieditori Ahmadun Yosi Herfanda, Eka Budianta, Korrie Layun Rampan, Muhammd Ridlo ‘Eisy, dan Slamet Sukirnanto serta diterbitkan atas kerja sama KSI dan Penerbit Angkasa (Bandung) tersebut memuat ratusan puisi dari sekitar 140 penulis puisi Indonesia. Puisi-puisi tersebut merupakan pilihan dari 3.340 puisi dari 342 penulis puisi di seluruh Indonesia dan di sejumlah negara lain. Mereka terdiri atas nama-nama baru hingga nama-nama lama yang sudah terkenal dalam peta perpuisian Indonesia, seperti Abdul Wahid Situmeang, Ahmadun Yosi Herfanda, Diah Hadaning, Ikranagara, Korrie Layun Rampan, Slamet Sukirnanto, Soni Farid Maulana, Sutardji Calzoum Bachri, Tan Lioe Ie, Toeti Heraty Noerhadi, Wahyu Prasetya, dan Widjati.

Buku itu kemudian diluncurkan pada perayaan ulang tahun pertama KSI sekaligus peringatan Bulan Bahasa pada 25 Oktober 1997 di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat. Peluncuran buku tersebut merupakan bagian dari acara bertajuk “Temu Penyair Indonesia ‘97”. Hampir seluruh penulis puisi yang karyanya dimuat dalam dua jilid buku yang sering disingkat API itu hadir. Malamnya, mereka membacakan puisi masing-masing. Sebelumnya, dari pagi hingga sore, acara itu diisi dengan bedah buku API dan dua sesi diskusi. Buku API dibedah D. Zawawi Imron, Muhammad Ridlo ‘Eisy, dan Slamet Sukirnanto. Sesi pertama diskusi dengan tema “Sastra dan Politik” menghadirkan pembicara Daniel Dhakidae dan Eka Budianta. Sesi keduanya dengan label “Peta Kepenyairan Indonesia” diisi dua pembicara, yakni Ahmadun Yosi Herfanda dan Korrie Layun Rampan. Selama kepengurusan pertama KSI, bisa dikatakan, itulah acara KSI yang mendapat sambutan masyarakat sastra paling besar dan publikasi paling luas. Bahkan, bukunya sendiri, API, terus-menerus dibicarakan dan tetap diingat banyak pelaku sastra hingga saat ini.

Setelah itu, kumpulan puisi Indonesia setengah tiang karya Toto ST Radik diterbitkan KSI pada 1999. Buku kumpulan puisi tersebut merupakan karya terbaik dari sayembara menulis karya sastra di kalangan intern KSI. Penerbitan itu dibiayai atau ditaja Janet E. Steele, dosen dari The George Washington University, Amerika Serikat, yang kebetulan sedang berada di Indonesia pada saat itu. Sebelumnya, Janet memang menyumbangkan sejumlah dana untuk kegiatan KSI. Selain untuk penerbitan buku Toto, sebagian dana dari Janet dipergunakan untuk membeli sembako yang kemudian dibagikan kepada sejumlah buruh di Tangerang, terutama yang baru saja mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) dari pabrik mereka.

Pada tahun yang sama, 1999, KSI juga menerbitkan kumpulan puisi dua bahasa Indonesia dan Mandarin Rumah Panggung di Kampung Halaman karya Wilson Tjandinegara serta Sajak-sajak Politik Wowok Hesti Prabowo, Presiden dari Negeri Pabrik. Penerbitan berkala untuk kalangan intern KSI, Pohon, juga lahir dari bidang penerbitan.

Melalui bidang pembinaan apresiasi sastra, pemberian pemahaman tentang sastra disodorkan kepada masyarakat, termasuk masyarakat sekolah. Misalnya, pada 30 Mei 1998, melalui pernyataan sikap bertajuk “Wacana Budaya KSI Menyambut Tatanan Baru”, yang dibacakan Wowok Hesti Prabowo di tengah-tengah acara “Baca Puisi Reformasi” yang digelar KSI di PDS H.B. Jassin, TIM, Jakarta Pusat, KSI mencoba mengajak masyarakat, khususnya penguasa, agar membaca kesenian, termasuk sastra, sebagai sesuatu yang memberi secara positif. Sebab, imbas itu pula memang yang diinginkan para pekerja seni. “Tak ada pekerja seni yang ingin menciptakan chaos lewat karya seninya,” tandas pernyataan itu. Pernyataan tersebut dimaklumatkan di tengah-tengah situasi politik Indonesia yang memanas.

Penelitian pun dilakukan. Misalnya, bekerja sama dengan Litbang Harian Kompas dan di bawah bimbingan Dr. Melani Budianta, dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia, KSI meneliti pelbagai komunitas sastra di Jabotabek. Hasilnya dituangkan dalam sebuah buku bertajuk Pemetaan Komunitas Sastra di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi[3] serta dipresentasikan pada ulang tahun kedua KSI di Galeri Cipta II, TIM, Jakarta Pusat, 17 Oktober 1998. Acara ulang tahun dari pagi hingga sore tersebut juga diisi diskusi sastra dengan tema “Komunitas Sastra dan Sastra Komunitas” yang menampilkan J.B. Kristanto, Korrie Layun Rampan, Sapardi Djoko Damono, dan Will Derks sebagai pembicara. Sehari sebelumnya, Melani Budianta, Kurnia Effendi, dan Iwan Gunadi menyarikan hasil pemetaan itu di halaman satu dan empat Harian Kompas. Pemetaan tahap kedua dengan cakupan wilayah yang jauh lebih luas, yakni 13 provinsi dengan kegiatan sastra yang marak, direncanakan pada tahun berikutnya dengan harapan tetap dibiayai atau ditaja Litbang Harian Kompas. Tapi, karena sesuatu hal, rencana tersebut belum dapat diwujudkan.

Terutama melalui ketuanya, Wowok Hesti Prabowo, KSI juga terlibat dalam suatu gerakan sastra dengan pola yang tak jauh berbeda dengan pola gerakan-gerakan sastra sebelumnya. Gerakan yang mulai muncul pada sekitar Maret 1998 dan menyebut diri sebagai Gerakan Angkatan Sastra (GAS) itu mencoba melesakkan pandangan bahwa telah ada angkatan sastra terbaru dalam kesusastraan modern Indonesia, yakni Angkatan Sastra 2000. Untuk memasyarakatkan gagasan tersebut, dirancanglah suatu strategi. Diskusi digelar di sejumlah kota, yakni Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Surakarta, dan Surabaya. Jurnal Angkatan diterbitkan secara bulanan sejak September 1998. Polemik pun merebak di media massa cetak. Tapi, hingga awal 1999, isu tentang angkatan itu sempat dilupakan orang.

Isu tentang angkatan terbaru bergema lagi ketika 11 November 2000, di PDS H.B. Jassin, TIM, Jakarta Pusat, Penerbit Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo) dengan didukung KSI meluncurkan buku antologi Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia susunan Korrie Layun Rampan, penulis novel, cerita pendek, puisi, dan esai, yang juga aktif dalam sejumlah komunitas sastra, termasuk KSI. Buku tersebut merupakan buku pertama dari dua buku yang direncanakan. Buku kedua direncanakan terbit lima bulan kemudian. Tapi, hingga paruh kedua 2007, buku kedua itu tak kunjung terbit. Kedua jilid buku itu tampaknya dimaksudkan sebagai buku yang diharapkan akan memberikan referens konkret dan argumentasi yang lebih tertib tentang keberadaan angkatan terbaru tersebut. Buku tersebut plus acara proklamasi angkatan terbaru itu dipublikasikan secara luas dan menciptakan kontroversi yang lumayan panjang dari berbagai pelaku sastra di Indonesia (selanjutnya baca bab “Hiruk-pikuk Angkatan 2000”).

Dampak pelbagai aktivitas itu, dalam tiga tahun pertama, KSI telah berkembang menjadi organisasi yang cukup dikenal di Indonesia. Bahkan, ada yang menganggapnya sebagai organisasi yang kaya karena banyak menyelenggarakan kegiatan. Tak heran bila sejumlah proposal permintaan dana mampir ke KSI. Padahal, sebagaimana sebagian besar komunitas sastra, dana juga merupakan persoalan pelik yang tak henti-hentinya dihadapi KSI. Semua kegiatan KSI didanai secara swadaya dan hasil simpati sejumlah pihak.

Kecukupdikenalan itu tak lepas dari peran media massa, terutama media cetak, baik terbitan Jakarta maupun luar Jakarta, yang sering memberitakan pelbagai kegiatan yang diselenggarakan KSI. Lebih dari itu, kecukupdikenalan itu dipicu seringnya KSI menyelenggarakan pelbagai kegiatan dengan topik-topik yang selama ini kurang atau bahkan tak disentuh komunitas sastra lain. Misalnya, fenomena karya sastra yang ditulis kaum buruh pabrik atau karya sastra berbahasa Mandarin yang ditulis warga negara Indonesia (WNI) keturunan Tionghoa. Padahal, pada saat itu, dua topik itu merupakan hal yang tabu untuk diangkat ke permukaan. Rezim yang ada tak menyukainya.

Efek ikutannya, selama tiga tahun itu pula, anggota KSI bertambah banyak. Penyebarannya tak terbatas di wilayah Jabotabek. Ia merambah ke kota-kota lain di Jawa, Sumatra, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi. Karena sejak awal KSI didirikan oleh orang-orang dengan beragam latar belakang profesi, selama tiga tahun itu pula, keberagaman itu tetap dipertahankan atau bahkan makin meluas. Mulai dari buruh pabrik, guru dan dosen, wartawan, hingga praktisi hukum ada di KSI.

Dengan kondisi seperti itu, Daniel Dhakidae[4], sosiolog dan Suryadi[5], dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia, menilai bahwa kehadiran KSI menunjukkan adanya upaya membuka eksklusivitas di kalangan sastrawan. KSI merupakan sebuah upaya dekonstruksi terhadap kemapanan pekerja seni yang mengakibatkan makin transparannya batas-batas profesi sastrawan. KSI dinilai mencoba memperbaiki atau memaksimalkan hubungan yang selama ini kurang mutual dan saling curiga antarkomponen dalam sebuah komunitas sastra.

Upaya itu ditandai dengan pemberian perhatian yang lebih terhadap hal-hal yang selama ini kurang atau bahkan tidak diperhatikan komunitas lain. Misalnya, sekali lagi, karya sastra yang dihasilkan para buruh pabrik dan karya sastra yang dihasilkan WNI keturunan Tionghoa dalam bahasa ibu mereka. Kedua hal tersebut nyaris tak mendapat tempat selama rezim Orde Baru berkuasa.

Perhatian yang lebih terhadap buruh selama tiga tahun pertama kehadiran KSI sempat membuahkan cap “kiri” pada kening KSI. Bahkan, di tengah kesemangatan para anggota KSI berorganisasi dan berkarya di bawah hujan kreatif yang mengguyur bumi kesusastraan modern Indonesia, cap itu sempat menjadi badai yang siap menceraiberaikan kepengurusan KSI periode pertama. Apalagi, Ketua KSI yang pertama memang aktivis buruh dan mantan buruh pabrik. Tambahan pula, anggota KSI yang sehari-hari bekerja sebagai buruh pabrik memang cukup banyak. Bahkan, beberapa komunitas sastra berbasis buruh pabrik di Tangerang berada di bawah payung KSI.

Selain itu, membawahi sejumlah komunitas di Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Serang, inilah memang fakta menarik keberadaan KSI yang membedakannya dari komunitas sastra yang lain. Meski begitu, komunitas-komunitas itu tetap bebas mengembangkan visi dan misinya. Tak ada ikatan struktural yang ketat yang memosisikan komunitas-komunitas itu sebagai cabang atau koordinat. KSI hanya berfungsi sebagai pengayom atau fasilitator. Komunitas-komunitas itu pun tetap mempertahankan nama komunitas masing-masing. Meski berposisi sebagai cabang atau koordinat, mereka tetap memiliki “otonomi luas”. Pola hubungan komunitas sastra seperti itu, konon, tak pernah ada sebelumnya di Indonesia.

Meski begitu, keinginan memiliki cabang juga muncul. Semula, keinginan tersebut lahir sebagai arus bawah. Misalnya, ada komunitas sastra di Jawa Tengah dengan nama awal menggunakan kelompok kata atau frasa komunitas sastra menginginkan menjadi cabang KSI di wilayah tersebut. Keinginan tersebut mulai terwujud sejak 1998, ketika komitmen pertama muncul dari KSI Yogyakarta pada 19 Desember 1998 dengan Bambang Widiatmoko sebagai ketuanya. Komitmen kedua bergulir pada 5 September 1999 dari KSI Kudus yang dipimpin Jumari HS.

September 1999, masa kepengurusan tiga tahun pertama KSI berakhir. Pada 16 Oktober 1999, untuk menyusun Dewan Pengurus KSI yang baru dan mengesahkan KSI sebagai badan hukum, Dewan Pendiri KSI menggelar rapat pleno di PDS H.B. Jassin, TIM, Jakarta Pusat. Sepuluh dari sebelas anggota Dewan Pendiri KSI hadir. Rapat tersebut berhasil menyusun anggota inti Dewan Pengurus KSI periode 1999-2002. Dua minggu berikutnya, 30 Oktober 1999, anggota inti tersebut melengkapi susunan kepengurusan dengan koordinator pelbagai divisi. Keinginan mengembangkan KSI ke arah yang lebih baik lagi akhirnya melahirkan penggabungan dan penambahan divisi. Kata bidang yang dipergunakan pada kepengurusan sebelumnya pun diganti menjadi divisi.

Dewan Pengurus YKSI Periode 1999-2002

Ketua:
Ahmadun Y. Herfanda

Wakil Ketua:
Slamet Rahardjo Rais

Sekretaris:
Medy Loekito

Wakil Sekretaris:
Hudan Hidayat

Bendahara:
Kurnia Effendi

Wakil Bendahara:
Shobir Poer

Koordinator Divisi Pengembangan Organisasi:
Ayid Suyitno PS

Koordinator Divisi Pendidikan, Pelatihan, dan Penelitian:
Iwan Gunadi

Koordinator Divisi Penerbitan dan Pengembangan Media:
AEF Sanusi

Koordinator Divisi Apresiasi dan Sosialisasi Karya:
Endang Supriadi

Koordinator Divisi Penerjemahan dan Dokumentasi:
Irwan Kelana

Koordinator Divisi Hubungan Masyarakat dan Luar Negeri:
Fatin Hamama

Rapat pada 16 Oktober itu untuk pertama kalinya berhasil menyusun kepengurusan Dewan Pendiri KSI. Kepengurusan tersebut untuk menegaskan adanya peran yang berbeda antara Dewan Pengurus dan Dewan Pendiri KSI. Dewan Pengurus KSI lebih berperan dalam kegiatan-kegiatan operasional. Sedangkan, Dewan Pendiri KSI lebih berperan dalam kegiatan-kegiatan konseptual dan penggalangan dana.

Dewan Pendiri KSI Periode 1999-2002

Ketua:
Wowok Hesti Prabowo

Sekretaris:
Iwan Gunadi

Bendahara:
Hasan Bisri BFC

Anggota:
Ahmadun Y. Herfanda
Ayid Suyitno PS
Azwina Aziz Miraza
Diah Hadaning
Medy Loekito
Shobir Poerwanto
Slamet Rahardjo Rais
Wig SM

Pada rapat itu juga, para pendiri KSI seperti tersadar kembali bahwa sebagaimana isi AD KSI, organisasi budaya ini berbentuk yayasan. Sayangnya, selama periode pertama kepengurusannya, kata yayasan hampir tak pernah disatukan dengan nama KSI. Setelah rapat itulah, KSI mulai diperkenalkan dengan nama Yayasan Komunitas Sastra Indonesia, yang disingkat YKSI. Pengesahan YKSI sebagai badan hukum melalui pembuatan Akta Notaris Nomor 62 di Kantor Notaris dan PPAT Herry Sosiawan, S.H., pun terjadi pada awal periode kedua Dewan Pengurus YKSI itu, yakni 21 Februari 2000. Sejak itu, singkatan YKSI mulai diperkenalkan untuk menggantikan singkatan KSI. Tapi, upaya tersebut kemudian kurang berhasil karena publik dan keluarga besar KSI sendiri kadung mengakrabi singkatan KSI ketimbang singkatan YKSI.

Melalui akta notaris itu, tujuan pendirian KSI pun diperjelas. Bila dalam AD KSI disebutkan bahwa yayasan ini bertujuan meningkatkan dan mengembangkan kehidupan sastra, dalam akta notaris itu, tujuan pendirian yayasan adalah wahana dalam upaya menumbuhkan dan meningkatkan pemberdayaan masyarakat serta menumbuhkan dan meningkatkan mutu sumber daya manusia, khususnya pemuda, melalui kegiatan-kegiatan di bidang sastra dan budaya.

Sejumlah program kegiatan dirancang kepengurusan periode kedua. Sejumlah kegiatan kembali digelar. Kegiatan-kegiatan tersebut membuat nama KSI tambah bersinar. Salah satu efeknya, kehadiran cabang atau koordinat yang sudah muncul pada kepengurusan tiga tahun pertama tambah menguat. Setelah komitmen pertama muncul dari KSI Yogyakarta dan komitmen kedua dari KSI Kudus, Wilson Tjandinegara memimpin KSI Tangerang yang menggelinding sejak 2001. Di Kairo, Mesir, hadir pula KSI Kairo sejak 2002. Kehadiran KSI Kairo tak lepas dari pindahnya secara sementara tempat tinggal salah seorang pengurus KSI, yakni Fatin Hamama, ke kota tersebut untuk mengikuti suaminya yang ditugaskan Pemerintah Indonesia di sana. Satu nama lain yang pantas disebut untuk kehadiran KSI Kairo adalah Habbiburahman El-Shirazy, pengarang novel Sang Ayat-Ayat Cinta yang laku keras setelah diterbitkan pada Desember 2004.

Kegiatan-kegiatan KSI terus bergulir. Di tengah jalan, karena kesibukan Ketua Dewan Pengurus KSI periode 1999-2002 bertambah, Ahmadun Y. Herfanda mengundurkan diri sebagai Ketua Dewan Pengurus KSI periode tersebut. Karena itu, Ahmadun mengusulkan agar Dewan Pendiri KSI segera menggelar rapat. Usulan tersebut disetujui Dewan Pendiri KSI. Pada 13-14 Januari 2001, Dewan Pendiri KSI mengadakan rapat di Studio Focus milik sutradara Ali Shahab di Puncak, Jawa Barat. Rapat yang dihadiri sembilan dari sebelas anggota Dewan Pendiri KSI itu menghasilkan sejumlah keputusan. Satu, AD dan ART KSI akan diamandemen sesuai dengan perkembangan yang ada. Dua, Ketua Dewan Pengurus KSI periode 2001-2002 berbentuk presidium. Tiga, kepengurusan Dewan Pengurus KSI periode 2001-2002 sebagaimana terpapar di bawah paragraf ini. Empat, setiap kegiatan Dewan Pengurus KSI periode 2001-2002 akan diakomodasi melalui suatu bentuk kepanitiaan atau kelompok kerja. Karena itu, Dewan Pengurus KSI tersebut tak dilengkapi personel setiap divisi.

Dewan Pengurus KSI Periode 2001-2004

Presidium:
Ahmadun Y. Herfanda
Diah Hadaning
Wowok Hesti Prabowo

Sekretaris:
Kurnia Effendi

Bendahara:
Shobir Poerwanto

Namun, khusus poin satu, hingga kepengurusan periode ini berakhir dan berlanjut dengan kepengurusan-kepengurusan berikutnya hingga 2007, pengamandemenan AD dan ART KSI belum juga terlaksana. Sulitnya menemukan kesempatan atau waktu yang disepakati bersama tampaknya menjadi perintang untuk melaksanakan keputusan pengamandemen tersebut. Meski begitu, ada satu hal yang secara faktual berubah, yang semestinya dimulai dengan perubahan dalam AD KSI, yakni Rapat Dewan Pendiri KSI dalam menentukan Dewan Pengurus KSI tak lagi bersyarat dihadiri dua pertiga dari anggota Dewan Pendiri KSI, melainkan cukup dihadiri setengah plus satu dari anggota Dewan Pendiri KSI. Fakta lain adalah struktur dan personel kepengurusan Dewan Pendiri KSI sejak pertama dibentuk hingga 2007 seperti terlupakan untuk diperbaharui atau diubah. Tentang poin dua, praktiknya, periode kepengurusan dalam bentuk presidium ini berlangsung hingga 2004.

Selama dua tahun kepengurusan Dewan Pengurus KSI, baik sebelum maupun setelah berbentuk presidium, beragam aktivitas tetap digulirkan. Pada awal kepengurusan, KSI bekerja sama dengan Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara menggebrak dengan mengusung acara bertajuk “Debat Sastra dan Pertarungan Penyair Akhir Abad XX” di Wisma Antara, Jakarta Pusat, 30 Desember 1999. Debat sastra pada siang hingga sore itu “menghadap-hadapkan” Abdul Hadi W.M., Hasan Alwi, M. Dawam Rahardjo, Rosihan Anwar, Titie Said, Wowok Hesti Prabowo, dan Yudhistira ANM Massardi. Malamnya, sejumlah penyair dan wartawan terkenal, seperti Ahmadun Yosi Herfanda, Diah Hadaning, Hamid Jabbar, Jose Rizal Manua, Parni Hadi, Taufiq Ismail, Sinansari Ecip, Sitok Srengenge, Slamet Sukirnanto, dan Sutardji Calzoum Bachri, membaca puisi. Deavie’s Sanggar Matahari memusikalisasikan sejumlah puisi. Danarto dan Hudan Hidayat membacakan fragmen cerpen masing-masing.

KSI bertandang ke Istana Negara, Jakarta Pusat, 23 Februari 2000, yang saat itu menjadi tempat bekerja Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, untuk meminta dukungan rencana penyelenggaraan Kongres Sastra Indonesia I yang akan digelar KSI pada September tahun yang sama. Setelah bertemu dengan Kepala Biro Protokol Sekretariat Presiden, Wahyu Muryadi, pemimpin rombongan KSI, Viddy Alymahfoedh Daery, mengaku bahwa pihak Istana Negara mendukung rencana tersebut. Tapi, hingga Gus Dur diberhentikan Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dari kursi kepresidenan pada 23 Juli 2001, rencana itu belum juga mewujud.

Kepedulian KSI terhadap sesama—dalam hal ini sastrawan—ditunjukkan dengan menjenguk kritikus dan dokumentator sastra H.B. Jassin yang sekitar tiga tahun tergolek lemah di rumahnya di Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, 26 Februari 2000. Dipimpin salah satu anggota Presidium KSI, Ahmadun Yosi Herfanda, rombongan KSI mendoakan kesembuhan “Paus Sastra Indonesia” tersebut dari stroke serta menyerahkan sumbangan dari para anggota dan donatur KSI kepada istrinya, Yuliko Jassin. “Bantuan yang jumlahnya tak seberapa ini sebagai tanda solidaritas dari para sastrawan muda kepada seniornya. Bangsa Indonesia, khususnya para sastrawan, berutang pada Pak H.B. Jassin,” cetus Ahmadun pada saat itu.

KSI pun tak mau ketinggalan dalam memperingati Hari Puisi Sedunia dengan menggelar acara pembacaan puisi di ruang terbuka Taman Martha Tiahahu, Terminal Blok M, Jakarta Selatan, 21 Maret 2000. Sejumlah pelaku sastra terlibat dalam pembacaan puisi tersebut, seperti Ahmadun Yosi Herfanda, Diah Hadaning, Dinullah Rayes, Doddy Achmad Fawzi, Hudan Hidayat, Viddy Alymahfoedh Daery, dan Widodo Arumdono.

Perhatian yang besar dari KSI terhadap karya sastra yang ditulis warga negara Indonesia (WNI) keturunan Tionghoa dan kaum buruh (atau mantan buruh) terus dilanjutkan. Setelah Soeharto turun dari tahta kepresidenan pada 21 Mei 1998, kedua jenis kegiatan tersebut, terutama yang kedua, lebih dapat diterima para pengurus atau anggota KSI yang lain. Sebab, cap “kiri” dengan segala konsekuensinya tentu bukan lagi menjadi sesuatu yang tak menyamankan hati.

Contoh yang pertama adalah diskusi dan peluncuran buku antologi puisi dwibahasa Indonesia-Mandarin Resonansi Indonesia di Galeri Cipta II, TIM, Jakarta Pusat, 18 Maret 2000. Selain diisi pembacaan sejumlah puisi dalam dua bahasa yang dimuat dalam buku tersebut, Abdul Hadi W.M., Diah Hadaning, Eka Budianta, dan penyair Singapura, Chan Maw Woh, mendiskusikan isi buku tersebut. Buku antologi puisi tersebut diprakarsai Perhimpunan Penulis Yin Hua dan KSI serta dieditori Ahmadun Yosi Herfanda, Cecilia K., Jeanne Jap, Medy Loekito, Wilson Tjandinegara, dan Wowok Hesti Prabowo. Antologi yang memuat 100 puisi dari 100 penyair Indonesia dan Tionghoa se-Asia Tenggara itu meraup sambutan hangat dari media-media massa berbahasa Mandarin terbitan Indonesia, Singapura, Hong Kong, dan Republik Rakyat Cina (RRC). Penyair Leon Agusta menilainya sebagai antologi dwibahasa Indonesia-Mandarin pertama dan terbaik pada saat itu (selanjutnya baca bab “Sastra Tionghoa Tionghoa: Pulanglah Si Anak Hilang”).

Untuk contoh kedua, pada 29 April 2000, KSI untuk kedua kalinya menggelar acara “Sidang Puisi Ala KSI” di PDS H.B. Jassin, TIM, Jakarta Pusat. Yang diadili adalah Wowok Hesti Prabowo, mantan buruh, lengkap dengan karyanya, yakni buku kumpulan puisi Lahirnya Revolusi. “Jaksa penuntut”-nya adalah Agus R. Sardjono, Ahmad Subhanuddin Alwy, dan Nur Zain Hae—sejak 2004 menggunakan nama Zen Hae. “Tim pembela”-nya adalah Iwan Gunadi dan Oyos Saroso HN. Sedangkan, “hakim”-nya adalah Diah Hadaning, Eka Budianta, dan Endo Senggono. Pengadilan puisi itu merupakan bagian dari diskusi rutin KSI untuk lebih meningkatkan kualitas karya para anggotanya. Tapi, tak semua diskusi rutin itu dibuka untuk umum (selanjutnya baca bab “Menebar Sastra Buruh, Menuai Badai Fitnah, dan Kesejajaran Karya”).

Berbarengan dengan perayaan ulang tahun kelima yang tak tepat digelar pada hari jadinya, tapi pada 3 November 2001, di PDS H.B. Jassin, TIM, Jakarta Pusat, KSI kembali memberikan perhatian besar pada karya sastra yang ditulis WNI keturunan Tionghoa. Tiga buku karya mereka, yakni Sajak Klasik Dinasti Tang, Lelaki Adalah Sebingkai Lukisan karya Jeanny Yap, dan Janji Berjumpa di Kota Pegunungan karya Ming Fang—semuanya terjemahan Wilson Tjandinegara—diluncurkan KSI bersama Perhimpunan Penulis Yin Hua. Buku-buku tersebut juga kemudian dibedah tiga dosen dari Jurusan Sastra Cina, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, yakni Iwan Fridolin, Rahajeng Pulungsari Hadi, dan Nurni W. Wuryandari.

Perayaan hari ulang tahun yang kelima KSI kali itu juga terasa agak istimewa. Selain menggelar diskusi dengan tajuk “Menilik Sastra Komunitas”, pembacaan dan musikalisasi puisi, serta pameran foto karya Wilson Tjandinegara, perayaan ulang tahun hasil kerja bareng KSI dengan PDS H.B. Jassin dan Perhimpunan Penulis Yin Hua itu dilengkapi dengan peluncuran buku catatan perjalanan KSI selama lima tahun yang disusun salah seorang Dewan Pendiri dan Dewan Pengurus KSI, yakni Iwan Gunadi. Walau isinya sangat sederhana, buku berjudul 5 Tahun KSI: Antara Badai dan Hujan Kreatif yang dikemas dalam bentuk buku saku tersebut tergolong buku langka untuk sebuah komunitas sastra di Indonesia. Sebab, dari begitu banyak komunitas sastra yang tumbuh dan menghilang di Indonesia, boleh jadi, itulah buku pertama yang berisi riwayat suatu komunitas sastra dari awal pendirian hingga aktivitas terakhir.

Diskusinya sendiri mencoba menampilkan tema yang replektif: kalau ada komunitas sastra, apa ada sastra komunitas? Edy A. Effendi, salah seorang pembicara dalam diskusi tersebut, mencoba menjawabnya melalui kasus KSI. Sebagaimana banyak komunitas sastra yang lain, KSI pun dinilai hanya mampu merayakan komunitas yang mengultuskan tokoh, tapi tak mampu menolak keseragaman karya sastra. Padahal, imbuhnya dalam esai bertajuk “Menolak Tokoh, Merayakan Komunitas”, “Seharusnya KSI mampu menciptakan ideologi baru yang dibangun sebagai sarana untuk memroduksi makna-makna dan gagasan-gagasan. Sebuah reproduksi makna dan gagasan yang dibingkai kemauan untuk mengubah kondisi yang stagnan.”

Sementara, Erwan Juhara, pembicara lain dalam diskusi yang sama, menengarai KSI sebagai kelompok yang menghimpun kelas-kelas masyarakat tertindas. Tak heran jika pada awal-awal kehadirannya, KSI dicurigai karena dianggap terlalu jelas memakai pendekatan politis secara organisasi kelas yang dapat mengancam kelas-kelas utama yang sudah mapan dalam kepentingan yang sama. Meski begitu, tandasnya, sebagai ruang pembelajaran dan peningkatan kualitas kreativitas bagi anggota atau masyarakat, pada tahun-tahun berikutnya, KSI sudah menjawab tugas wajib sebuah komunitas sastra.

Di bawah judul tulisan “Sastra Komunitas, Cermin dan Otokritik”, Kurnia Effendi  memang melontarkan beberapa otokritik sebagai “orang dalam” alias anggota KSI pada diskusi yang sama. Satu, pentingnya KSI memelihara komitmen awal sebagai organisasi pekerja sastra yang mengembangkan kualitas para anggotanya. Karena itu, secara tersirat, dia menyarankan KSI kembali giat menyelenggarakan workshop penulisan sebagaimana digelar pada tahun-tahun awal kehadiran KSI. Dua, pentingnya KSI menerbitkan buku yang beragam dari genre sastra yang lain. Sebab, sebelumnya, menurut Kurnia, KSI lebih banyak menerbitkan buku puisi. Tiga, KSI mesti mulai memasuki jaringan “industri” supaya karya-karya sastra para anggota KSI tak hanya dibaca di lingkungan KSI sendiri.

Dewan Pengurus KSI periode ini pun tak lupa mencari bibit-bibit baru dalam penulisan karya sastra melalui sayembara penulisan karya sastra tingkat nasional untuk memperebutkan KSI Award. Tiga kali ajang KSI Award digelar pada periode ini, yakni KSI Award 2001, KSI Award 2002, dan KSI Award 2003.

Karena ingin menebarkan semangat antikekerasan, pencarian bibit-bibit baru melalui lomba penulisan puisi untuk memperebutkan KSI Award 2001 itu bertema sejalan dengan semangat tersebut. Maraknya tindak kekerasan di Indonesia pada saat itu menimbulkan kesadaran di kalangan KSI untuk turut mengembuskan semangat tersebut sejak awal 2001. Selama Februari-Maret 2001, 517 penulis puisi dari pelbagai wilayah di Indonesia dan luar Indonesia mengirimkan puisi-puisi antikekerasan. Dewan juri, yang terdiri atas Ahmadun Yosi Herfanda, Diah Hadaning, dan Endang Supriadi, kemudian menetapkan “Narasi di Tiga Hari” karya Agus Hernawan dari Padang, Sumatra Barat, sebagai kampiun sayembara tersebut. Jawara kedua direbut Iman Abda dari Bandung, Jawa Barat, melalui puisi “34 Jam Bersama Hujan”. Puisi “Ketika Lidah Sudah Jadi Pisau” gubahan Soekoso DM dari Purworejo, Jawa Tengah” menempati posisi ketiga. Ketiga puisi tersebut plus 27 puisi nominator dibukukan ke dalam Narasi 34 Jam: Antologi Puisi Antikekerasan KSI Award yang diluncurkan di Galeri Cipta II, TIM, Jakarta Pusat, pada 26 Mei 2001.  Ketiga pemenang itu diumumkan dan menerima penghargaan pada acara tersebut. Acara yang turut didukung Menteri Agama Republik Indonesia pada saat itu, Tolchah Hasan, tersebut merupakan puncak dari rangkaian kegiatan antikekerasan yang sebelumnya telah dilakukan KSI dalam bentuk diskusi tentang sastra dan kekerasan pada Maret 2001, orasi budaya antikekerasan, pernyataan antikekerasan para anggota KSI, dan pertunjukan sastra antikekersan.

KSI Award 2002 berbentuk sayembara penulisan cerita mini (cermin) dengan tema “Membangun Keserasian Hidup Antara Manusia dan Lingkungannya” sekaligus untuk memperingati Hari Bumi pada 22 April 2002. Sebanyak 1.239 cermin dari 413 penulis dari seluruh Indonesia terkumpul selama November 2001-30 Maret 2002. Cermin-cermin yang memenuhi syarat administratif kemudian dinilai tiga dewan juri, yakni Ahmadun Yosi Herfanda, Endang Supriadi, dan Kurnia Effendi. Hasilnya, KSI Award 2002 dimenangkan cermin “Elegi Gerimis Pagi” karya penulis baru, Zakh Syairum Majid Surono dari Bogor, Jawa Barat. Dewan juri juga menetapkan cermin “O Bintang ke Mana Bulan” karya Raudal Tanjung Banua dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagai juara kedua dan cermin “Karmila” besutan Iman Nurmawan dari Jakarta sebagai pemenang ketiga serta memilih 27 cermin lain sebagai nominator. Tiga puluh cermin tersebut kemudian dibukukan dengan judul Elegi Gerimis Pagi: Antologi Cerpen Mini KSI Award 2002. Pengumunan para pemenang dan peluncuran buku itu sendiri digelar di PDS H.B. Jassin, TIM, Jakarta Pusat, 27 April 2002.

Sayembara KSI Award 2003 dibuka sejak Juli 2003 dan ditutup pada 15 Agustus 2003. Untuk sayembara kali itu, KSI tak menetapkan tema, tapi kemasan, yakni manuskrip antologi puisi yang belum diterbitkan atau buku antologi puisi yang telah diterbitkan penyairnya sendiri atau komunitasnya, bukan diterbitkan penerbit besar. Kumpulan puisi itu sedikitnya memuat 40 puisi karya asli (bukan terjemahan) dan ditulis dalam bahasa Indonesia dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Ratusan antologi puisi dari 206 penyair dari seluruh Indonesia diikutkan dalam sayembara tersebut. Dewan juri yang terdiri atas Ahmadun Yosi Herfanda, Bambang Widiatmoko, Diah Hadaning, Iwan Gunadi, dan Wowok Hesti Prabowo memilih ”Di Bawah Nujum Kabut” karya Indra Tjahyadi dari Surabaya, Jawa Timur; ”Banyak Orang Bilang Aku Gila” karya Rukmi Wisnu Wardhani dari Jakarta; ”Syair Orang Tenggelam” tulisan Nur Zain Hae (Zen Hae) dari Jakarta; ”Segantang Bintang Sepasang Bulan” besutan Marhalim Zaini dari DIY; serta ”Perjalanan Ziarah” karya Heru Mugiarso dari Semarang, Jawa Tengah; sebagai nominator. Pada tahap penjurian terakhir, dari kelima nominator tersebut, Melani Budianta menobatkan ”Perjalanan Ziarah” karya Heru Mugiarso sebagai pemenang pertama yang berhak meraih KSI Award 2003. Penyerahan KSI Award 2003 tersebut kemudian dilakukan di Tangerang pada Desember tahun yang sama dalam acara peringatan ulang tahun ketujuh KSI.

Kegiatan pertunjukan karya sastra dan pemutaran film dokumenter tentang sastrawan juga dilakukan KSI. Misalnya, 28 Juni 2003, bertempat di Sekretariat KSI, Kebon Nanas, Kota Tangerang, KSI bekerja sama dengan Institut Puisi Tangerang (IPT) menggelar acara bertajuk “Lima Penyair Tangerang Baca Sajak”. Kelima penyair tersebut adalah Budi Tunggal Rahayu, Teteng Jumara, Entis Sutisna, Mahdiduri, dan Husnul Khuluqi. Usai pembacaan puisi, diadakan diskusi pembahasan puisi karya lima penyair tersebut oleh Diah Hadaning. Sedangkan, pada 19 Februari 2004, dengan menggandeng Workshop Production Network, KSI menyelengarakan acara pemutaran film dokumenter Zaman Edan Ronggowarsito di PDS H.B. Jassin, TIM, Jakarta Pusat. Diskusi dengan pembicara sastrawan Abdul Hadi W.M. dan praktisi pendidikan Karsono Saputra itu digelar setelah pemutaran film tersebut. Sebelumnya, dengan menggandeng Yayasan Lontar dari Jakarta, KSI juga mengusung pemutaran film dokumenter sejumlah pelaku sastra, seperti Pramoedya Ananta Toer dan Selasih, di sejumlah tempat di Jakarta dan Tangerang.

Sebelumnya, selama 15 April-30 Juni 2003, KSI turut mendukung hajat Direktorat Kepemudaan Departemen Pendidikan Nasional dan Creative Writing Institute (CWI) menyelenggarakan “Sayembara Penulisan Cerpen Tingkat Nasional” bagi para cerpenis muda Indonesia berusia maksimal 35 tahun dalam rangka memperingati Bulan Bahasa, menyongsong Hari Sumpah Pemuda 2003, dan meningkatkan kreativitas para cerpenis muda. Dari 560 cerpen karya 262 cerpenis yang masuk, dewan juri final yang terdiri atas Ahmadun Yosi Herfanda, Hamsad Rangkuti, Hudan Hidayat, dan Maman S. Mahayana memilih enam cerpen juara dan 24 nominator. Keenam cerpen pemenang itu secara berurut adalah “Yang Dibalut Lumut” karya Azhari dan “Sebatang Pohon” karya Dyah Indra Mertawirana dan “Jejak-Jejak Terhapus Hujan” karya Surono B. Tjasmad, ”Fragmen Sebelum Pulang” karya Badui U. Subhan, “Namaku Suci” karya Aishah Basar, dan “Kenangan Bulan Merah” karya Yetti A KA. Enam cerpen pemenang dan 24 cerpen nominator itu kemudian dibukukan dengan titel Yang Dibalut Lumut. Pengumuman pemenang dan peluncuran buku tersebut dilakukan berbarengan dengan pelaksanaan workshop penulisan dan pertunjukan baca cerpen di Jakarta, 30 September hingga 4 Oktober 2003.

Paruh kedua 2003 juga merupakan tanda dimulainya kembali bengkel penulisan karya sastra secara rutin sebulan sekali di Sekretariat KSI di Kebon Nanas, Kota Tangerang. Bengkel penulisan tersebut merupakan cikal-bakal dari apa yang kemudian disebut sebagai Akademi Sastra Tangerang (Astra) yang diluncurkan KSI pada 2004 dan dipimpin Iwan Gunadi. Astra merupakan lembaga informal yang mencoba mengarahkan dan menemukan bibit-bibit baru dalam penulisan karya sastra. Di sini, para peserta diharuskan menulis karya sastra sesuai dengan minat masing-masing. Setiap karya sastra kemudian diperdebatkan di antara para peserta sendiri dengan didampingi pengarah sesuai dengan genre atau jenis karya sastranya. Ada tiga pengarah yang setiap minggu bergantian mendampingi para peserta. Mereka adalah Humam S. Chudori, Iwan Gunadi, dan Nur Zain Hae. Rombongan kecil Gabungan Penulis Nasional (Gapena) dari Malaysia yang dipimpin ketuanya, Prof. Dr. Dato Ismail Hussein, sempat mengunjungi pelatihan Astra ketika berkegiatan di Kebon Nanas. Ketika Ketua Dewan Pendiri KSI menjadi Ketua Umum Dewan Kesenian Tangerang (DKT) dan Ketua Dewan Pengurus KSI menjadi Ketua Komite Sastra DKT sejak 2004, kegiatan Astra didukung DKT dengan membiayai honorarium para pengarah dan menyediakan tempat pelatihan di Sekretariat DKT di Balai Budaya, Kota Tangerang. Ketika DKT vakum pada paruh kedua 2006, aktivitas Astra pun terhenti.

Berhimpitan dengan pendirian Astra, sejak sekitar akhir 2003, KSI juga mendirikan Lembaga Pelatihan Komunikasi Masyarakat (LPKM). Inilah upaya pertama KSI menggali sedikit dana tidak melalui cara donasi untuk turut mendukung pembiayaan pelbagai kegiatan organisasi nirlaba ini. Itu juga upaya pertama KSI menyelenggarakan kegiatan pelatihan secara terstruktur. Sekurangnya, hal itu ditandai dengan adanya pedoman pelatihan—katakanlah semacam kurikulum, walaupun masih sangat sederhana—sejumlah pengajar atau instruktur, sistem ujian, fasilitas pelatihan, waktu kegiatan yang tetap, dan sistem administrasi, walau yang terakhir ini pun masih sangat sederhana.

Program pertama yang diselenggarakan LPKM adalah pelatihan jurnalistik. Pilihan tersebut dilatari kenyataan bahwa sejumlah pengurus dan anggota KSI serta beberapa pihak yang dekat dengan KSI memang sehari-hari bekerja di dunia jurnalistik. Selama empat bulan setiap Sabtu dan Minggu, para peserta dilatih memahami dan memraktikkan kerja jurnalistik. Pada bulan terakhir, mereka dimagangkan di koran yang terbit di Banten, yakni Satelit News di Kota Tangerang dan Fajar Banten di Serang. Lulusan terbaik langsung ditempatkan di kedua koran terbitan daerah tersebut. Sayangnya, program yang dibimbing Ahmadun Yosi Herfanda, Ayu Cipta, Binhad Nurrohmat, Ciptadi, Gito Waluyo, Humam S. Chudori, dan Iwan Gunadi tersebut hanya berlangsung selama dua gelombang hingga paruh kedua 2004 karena peminatnya menyusut.

Masih pada 2004, cabang atau koordinat KSI bertambah lagi dengan dideklarasikannya KSI Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), pada 22 Februari 2004 di kantor Harian Radar Banjarmasin, Banjarmasin. Kehadiran KSI Banjarmasin bermula dari kumpul-kumpul dengan sejumlah seniman pada bulan sebelumnya di Taman Budaya Banjarmasin, termasuk dengan Ketua KSI Yogyakarta, Bambang Widiatmoko, yang kebetulan berada di kota ini. Pada saat itulah, muncul keinginan membentuk KSI Banjarmasin untuk turut menggairahkan kembali kegiatan berkesenian dan berkesusastraan di Kalsel bersama komunitas-komunitas sastra lain yang sudah lebih dulu ada. Bahkan, pembentukan KSI Banjarmasin diharapkan dapat menjadi satu batu pijakan untuk kebangkitan kembali kegiatan kesusastraan di provinsi tersebut, yang gaung kegiatannya pada 1970-an-1980-an sempat menasional.

Secara aklamasi, sebelum pendeklarasian itu, sastrawan terkenal dari Kalsel, Micky Hidayat, terpilih sebagai ketua pertamanya. Sejumlah sastrawan lain yang gaungnya menasional juga menjadi pengurus KSI Banjarmasin, seperti Jamal T. Suryanata, Maman S. Tawie, dan Tajuddin Noor Ganie. Menurut Micky Hidayat, lomba penulisan karya sastra, diskusi sastra, pembacaan karya sastra, dan penerbitan buku sastra, misalnya, menjadi ancangan kegiatan KSI Banjarmasin.[6] Pada 2004 itu juga, memang, penerbitan buku antologi puisi Sungai Hitam Semesta Berkabut besutan penyair Noor Aini Cahya Khairani berhasil diterbitkan KSI Banjarmasin, misalnya[7].

Selama periode kepengurusan ini, KSI Yogyakarta yang dikomandani Bambang Widiatmoko juga aktif menggelar sejumlah kegiatan. Misalnya, perhatian besar KSI terhadap sastra buruh dikuatkan KSI Yogyakarta—yang menggandeng Pusat Kebudayaan Indonesia-Belanda Karta Pustaka—melalui pembacaan dan musikalisasi puisi dengan tajuk “Dunia Sastra Buruh” di Bentara Budaya, Yogyakarta, 1 Desember 1999. KSI Yogyakarta menyelengarakan lomba cipta puisi dengan tema “Yogyakarta dalam Sajak” dengan penerimaan naskah paling lambat 31 Januari 2000.

Perhatian besar KSI terhadap karya sastra Melayu-Tionghoa ditegaskan kembali oleh KSI Yogyakarta—yang bekerja sama dengan Pusat Kebudayaan Indonesia-Belanda Karta Pustaka—melalui acara “Khasanah Sastra Tionghoa di Indonesia” yang diselenggarakan di Bentara Budaya, Yogyakarta, 11 Maret 2000. Momen kebangkitan kembali sastra Tionghoa di Yogyakarta dan Indonesia umumnya itu ditandai peluncuran buku kumpulan sajak dan geguritan terbitan KSI Yogyakarta, yakni Nurani Peduli edisi pertama karya seorang peranakan Tionghoa, Handoyo Wibisono. “Pentas Puisi dan Musik Perdamaian” dengan tema “Tuhan Menggambar Kita”, yang digelar di KSI Yogyalarta, Yayasan Limpad, dan Taman Budaya Yogyakarta di Purna Budaya, Yogyakarta, 29 April 2000, kembali menunjukkan perhatian besar KSI terhadap kesenian Tionghoa, khususnya musik tradisional Tionghoa. Perhatian terhadap karya sastra tradisional Jawa ditempuh melalui pembacaan geguritan pada 16 Mei 2000. Sekitar seminggu kemudian, tepatnya 23 Mei 2000, KSI Yogyakarta dan Taman Budaya Yogyakarta menyandingkan musik tradisional Tionghoa dengan musik tradisional Jawa (campursari) pada acara bertitel “Nurani Peduli” Purna Budaya, Yogyakarta. Pembacaan cerpen karya Palupi Putri, cerpenis alumnus Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata, dan diskusinya digelar di kawasan Candi Gedung Songo, Ambarawa, Semarang, 10 Maret 2002.

Hari Puisi Sedunia yang jatuh pada setiap 21 Maret diperingati KSI Yogyakarta bekerja sama dengan Taman Budaya Surakarta (TBS) dengan menggelar pembacaan puisi, musikalisasi puisi, pentas teater, pemaran foto, dan peluncuran buku Surprise, mystery: siapa pembunuh misterius itu? karya Ayu Okvitawanli di TBS, Surakarta, Jawa Tengah, 22 Maret 2003. Kegiatan KSI Yogyakarta yang paling mengesankan tampaknya memang penerbitan novel serial misteri karya Ayu Okvitawanli tersebut pada 2002. Karya sastra tersebut ditulis dan diedit Ayu sendiri, sehingga karya ini benar-benar murni hasil imajinasi dan pemikirannya. Dengan karya tersebut, perempuan kelahiran Yogyakarta, 6 Oktober 1990, tersebut dinobatkan Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai penulis novel termuda, yakni 11 tahun. Acara penyerahan piagam penghargaan penobatan tersebut berlangsung di kantor Muri pada 30 Januari 2003.

Acara bertajuk “Refleksi 8 Tahun KSI”[8] yang diselenggarakan di Sekretariat KSI di Kebon Nanas, Kota Tangerang, 24 Oktober 2004, menandai ujung kiprah kepengurusan KSI periode 2001-2004. Selain diisi pembacaan puisi oleh sejumlah penyair serta perbincangan untuk mengintrospeksi dan merefleksikan kiprah KSI selama delapan tahun tersebut, acara itu juga diisi dengan pembentukan Dewan Pengurus KSI yang baru oleh Dewan Pendiri KSI. Sebagaimana struktur kepengurusan periode sebelumnya, struktur kepengurusuan periode ini pun dibikin lebih simpel atau bahkan sangat simpel sepanjang sejarah keberadaan KSI. Personalia yang lebih banyak baru dibutuhkan ketika Dewan Pengurus KSI akan melaksanakan suatu kegiatan. Pada saat itulah dapat dibentuk tim kelompok kerja (pokja). Tim pokja tersebut tak dibentuk pada saat itu lebih karena Dewan Pendiri dan Dewan Pengurus KSI yang menghadiri acara ulang tahun kedelapan itu tak banyak. Alasan itu pula yang turut melatari dibentuknya Dewan Pengurus KSI periode 2004-2007 dengan susunan struktur dan personalia yang sangat ramping. Tapi, inti semua pilihan itu adalah kesadaran bahwa kesibukan para pendiri dan anggota KSI tak memungkinkan KSI memilih alternatif lain.

Dewan Pengurus KSI Periode 2004-2007

Ketua:
Iwan Gunadi

Sekretaris:
Humam S. Chudori

Bendahara:
Fatin Hamama

Sejumlah kegiatan dilakukan pada periode kepengurusan ini. KSI masih menyelenggarakan sejumlah kegiatan sederhana dalam cakupan yang kecil. Misalnya, pelatihan Astra di Sekretariat KSI di Kebon Nanas, Kota Tangerang, terus berlangsung dengan dukungan dari Komite Sastra Dewan Kesenian Tangerang (DKT). KSI juga turut mendukung acara malam baca puisi dan penggalangan dana di Kota Tangerang untuk korban tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatra Utara (Sumut) yang diselenggarakan DKT pada 31 Desember 2004 serta pertunjukan dan penggalangan dana “100 Seniman Peduli Aceh” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, sekitar dua pekan berikutnya.

Dukungan yang sama juga diberikan DKT untuk Lomba Cipta Puisi Minyak Tanah yang diselenggarakan DKT dan KSI pada akhir 2005 dengan tema “Jeritan Rakyat Pasca-Kenaikan Harga BBM” yang dijurii Ahmadun Yosi Herfanda, Iwan Gunadi, dan Wan Anwar. “Hikayat Buruh Perempuan dan Kompor yang Padam” karya Husnul Khuluqi dari Kota Tangerang, Banten; “Rindu Lata” karya Dian Hartati dari Bandung, Jawa Barat; dan “Reportase Menjelang Sunyi” karya Mena Dewi Lestari dari Bandung, Jawa Barat; masing-masing menjadi pemenang pertama, kedua, dan ketiga dalam lomba tersebut.

Kegiatan kepedulian sosial untuk membantu pembiayaan sastrawan Maroeli Simbolon yang dirawat di Rumah Sakit Cikini, Jakarta, karena penyakit gagal ginjal pun turut didukung KSI. Kepedulian sosial juga ditunjukkan KSI dengan menjenguk orang tua dua anggota KSI yang sedang sakit, yakni ayahanda Endang Supriadi dan ibunda Bambang Widiatmoko, pada pertengahan 2007.

Kegiatan kepedulian sosial selama periode kepengurusan ini yang banyak menyita perhatian publik tentulah sejumlah kegiatan yang digelar dalam kaitan gempa di DIY dan Jawa Tengah (Jateng) pada 27 Mei 2006 (selanjutnya baca bab “Dari Tsunami, Gempa Yogya 5,9 Skala Richter, hingga Banjir Besar”). Ketika banjir besar menggenangi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) pada 2 Februari 2007,  KSI kembali mengulurkan tangan dengan membuka dapur umum dan membagikan makanan di Jakarta, Bekasi, dan Tangerang.

Ada dua kegiatan besar di luar aktivitas filantrofi itu yang diselenggarakan Dewan Pengurus KSI periode ini. Satu, malam peluncuran buku antologi puisi Papyrus karya Fatin Hamama. Dua, kegiatan bersama sastrawan dan pramuka dalam “Perkemahan Sastra Indonesia 2005” di Bumi Perkemahan Pramuka di Cibubur, Jakarta Timur (selanjutnya baca bab “Saling Masuk Sastrawan dan Pramuka”).

Satu, peluncuran buku kumpulan puisi Papyrus karya Fatin Hamama dilakukan dua kali. Kegiatan yang pertama boleh dikatakan semacam soft launching buku kumpulan puisi tersebut di kafe Bakmi Langgara, Jalan Buncit Raya, Jakarta Selatan, awal Januari 2005. Acara tersebut diisi pembacaan sejumlah puisi dalam buku antologi puisi yang pertama dari Fatin Hamama itu oleh penyairnya sendiri serta para sastrawan—terutama yang tergabung dalam KSI—dan pecinta atau peminat sastra, seperti Ahmad Hadi Yasin, Ahmadun Yosi Herfanda, Aris Kurniawan, Binhad Nurrohmat, Endang Supriadi, Diah Hadaning, Dienaldo, Hasan Bisri, Humam S. Chudori, Husnul Khuluqi, Kurnia Effendi, Mahdiduri, dan Wowok Hesti Prabowo. Perbincangan yang sederhana dan penuh kelakar juga banyak terselip di antara pembacaan puisi-puisi tersebut. Acara ini juga dimaksudkan sebagai ajang silaturahmi keluarga besar KSI dan teman-teman dekat KSI serta perpisahan sementara dengan Fatin Hamama yang akan berangkat ke Jeddah, Arab Saudi, untuk mengikuti suaminya, M. Nursamad Kamba, yang mulai bertugas di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di kota tersebut.

Peluncuran yang sesungguhnya atau grand launching Papyrus digelar di Teater Kecil, TIM, Jakarta Pusat, 23 Mei 2006, saat Fatin Hamama untuk beberapa lama sempat kembali ke Indonesia. Acara yang bertajuk “Perempuan Tak Perlu Tempat” ini menyedot perhatian banyak publik karena diisi pembacaan dan musikalilasi puisi serta komentar yang disampaikan nama-nama terkenal dalam dunia pers dan kesenian Indonesia, terutama dunia sastra Indonesia. Misalnya, Ahmadun Yosi Herfanda, Anneke Putri, Diah Hadaning, Emha Ainun Nadjib, Harry Aveling, K.H. Mustofa Bisri, Leon Agusta, Neno Warisman, Novia Kolopaking, Parni Hadi, Ratih Sanggarwati, Sutardji Calzoum Bachri, dan Taufiq Ismail. Acara ini merupakan hasil kerja bareng KSI dengan sejumlah pihak, seperti Cordoba Abila, Majalah Noor, Dewan Kesenian Jakarta, PDS H.B. Jassin, dan Harian Republika.

Dua, kegiatan bersama sastrawan dan pramuka dalam “Perkemahan Sastra Indonesia 2005” di Bumi Perkemahan Pramuka di Cibubur, Jakarta Timur, 22-23 April 2005. Kalau selama ini Majalah Horison berhasil menyelenggarakan kegiatan yang mempertemukan para sastrawan dengan para siswa dan mahasiswa di pelbagai sekolah lanjutan tingkat pertama, sekolah lanjutan tingkat atas, dan perguruan tinggi di banyak kota di Indonesia, kegiatan yang diusung Kwartir Nasional (Kwarnas) dan KSI tersebut merupakan upaya lain untuk melengkapinya dengan mempertemukan para sastrawan dan anggota pramuka dalam wadah perkemahan. Para sastrawan diperkenalkan dengan pelbagai bentuk aktivitas pramuka dan para anggota pramuka didekatkan dengan pelbagai bentuk kegiatan sastra.

Sejumlah kegiatan lain pun dapat digelar KSI tak lepas dari dukungan atau hasil kerja sama dengan pihak-pihak lain. Misalnya, diskusi buku kumpulan cerpen Mencari Kekasih karya Bambang Joko Susilo di PDS H.B. Jassin, TIM, Jakarta Pusat, 10 September 2005. Kegiatan hasil kerja sama KSI dan Penerbit Dar!Mizan, Bandung, Jawa Barat, ini menampilkan Maman S. Mahayana dan Helvy Tiana Rosa sebagai pembahas dengan moderator Ahmadun Yosi Herfanda. Selain menyampaikan proses kreatifnya, Bambang Joko Susilo membacakan salah satu cerpennya. Fatin Hamama juga turut membaca salah satu cerpen Bambang dalam buku itu.

Penerbitan buku antologi puisi Perempuan Penyair Indonesia 2006 merupakan hasil kerja sama KSI dengan Penerbit Risalah Badai yang dikomandoi Amdai Yanty Siregar. Peluncuran buku tersebut bersama dua buku lain, yakni Menantimu Dalam Mimpi karya Kevin Zhang dan Tuhan Adalah Perkara karya Julius La Dossa, di PDS H.B. Jassin, TIM, Jakarta Pusat, 22 April 2006, juga merupakan hasil kerja sama KSI dengan PDS H.B. Jasin, Komunitas Yin Hua, dan Komunitas Alinea.

Penerbitan Romansa Pemintal Benang karya Husnul Khuluqi juga hasil kerja bareng KSI dengan DKT. Itulah hasil kerja sama terakhir KSI dengan DKT setelah sebelumnya bekerja sama dalam penyelenggaraan diskusi manuskrip kumpulan puisi Rukmi Wisnu Wardhani, kumpulan cerpen Rumah Kawin besutan Zen Hae, kumpulan cerpen Lagu Cinta untuk Tuhan tulisan Aris Kurniawan, kumpulan cerpen Barangkali Tuhan Sedang Mengadili Kita karya Humam S. Chudori, kumpulan cerpen Samsara gubahan Putu Fajar Arcana, dan kumpulan puisi Aku Mengunyah Cahaya Bulan goresan Dharmadi sejak paruh pertama 2004 hingga paruh kedua 2006. Buku pertama Husnul Khuluqi sendiri kemudian didiskusikan di Universitas Tirtayasa (Untirta), Serang, Banten, pada 28 Juni 2006 dan Galeri Gudeg Kota Seni, Perumahan Citra Raya, Kabupaten Tangerang, Banten, pada 30 September 2006. Kedua kegiatan tersebut juga masing masing merupakan hasil kerja sama KSI dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra  Indonesia Untirta dan Galeri Gudeg Kota Seni.

Diskusi buku kumpulan cerpen Kincir Api karya Kurnia Effendi di Gudeg Kota Seni, Citra Raya, Tangerang, 10 Desember 2006, juga merupakan hasil kerja sama KSI dengan Galeri Gudeg Kota Seni. Zen Hae dan Mustafa Ismail menjadi pembahas dalam diskusi tersebut. KSI kembali bekerja sama dengan Perhimpunan Penulis Yin Hua menggelar acara peluncuran dan diskusi buku Air Ajaib yang Merana karya Than Youjin dari Singapura yang diterjemahkan Wilson Tjandinegara. Acara yang diselenggarakan di PDS H.B. Jassin pada 20 Januari 2007 tersebut menghadirkan Eka Budianta, Maman S. Mahayana, dan Youjin sendiri sebagai pembicara.

KSI juga turut mendukung dan menggagas Ode Kampung 2 yang digelar di Rumah Dunia, Serang, Banten, 20-22 Juli 2007. Satu hal yang cukup menarik perhatian publik dan sempat memancing polemik dari pertemuan dengan tema ”Komunitas Sastra: Ideologi dan Estetika” tersebut adalah pemaklumatan pernyatakan sikap lebih dari seratus pekerja dan peminat sastra dari pelbagai kota di Indonesia tentang apa yang mereka sebut sebagai “gejala berlangsungnya dominasi sebuah komunitas dan azas yang dianutnya terhadap komunitas-komunitas sastra lainnya” di Indonesia. Sebagai respons atas penilaian tersebut, mereka mendeklarasikan tiga pernyataan. Satu, menolak arogansi dan dominasi sebuah komunitas atas komunitas lainnya. Dua, menolak eksploitasi seksual sebagai standar estetika. Tiga, menolak bantuan asing yang memperalat keindonesiaan kebudayaan kita.

KSI juga turut menyokong acara bertajuk “Patriotisme dalam Sastra Indonesia” yang diselenggarakan Radio Republik Indonesia (RRI) pada 9 November 2007 di auditorium RRI, Jakarta.  Acara yang juga didukung Departemen Sosial tersebut digelar untuk memperingati Hari Pahlawan yang jatuh pada esok harinya, 10 November 2008. Acara itu diisi dengan dialog interaktif tentang kepahlawanan dan pementasan kesenian, terutama pembacaan puisi-puisi kepahlawanan dan cinta tanah air, yang disiarkan secara langsung oleh RRI ke seluruh pelosok negeri pada pukul 20-22.00 WIB. Acara semacam itu direncanakan digelar RRI bersama KSI setiap bulan dengan tema yang berbeda-beda dan disiarkan secara langsung ke seluruh Inodnesia.

Dimoderatori Direktur Utama RRI, Parni Hadi, lima menteri dan beberapa sastrawan terkemuka dihadirkan untuk berdialog langsung dengan para pendengar RRI. Mereka adalah Menteri Pemberdayaan Perempuan, Meutia Faridah Hatta; Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo; Menteri Sosial, Bachtiar Chamsyah; Menteri Komunikasi dan Informasi, Muhammad Nuh, serta Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal, Lukman Edi. Tampil juga Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial, Departemen Sosial, Gunawan Sumodiningrat. Selain berdialog, para menteri membacakan sajak-sajak kepahlawanan dan cinta tanah air.

Setelah para menteri dan pejabat pemerintah berdialog dan membaca sajak, para sastrawan menjelaskan makna kepahlawanan dalam sastra. Penyair Sutardji Calzoum Bachri dan Ahmadun Yosi Herfanda bicara, lalu menyambungnya dengan pembacaan sajak. Sejumlah nama lain juga tampil membaca puisi. Misalnya, Direktur Program dan Produksi RRI, Rosarita Niken Widiastuti; Kabul Budiono; Taufiq Ismail; Sujiwo Tejo; Diah Hadaning; Mustafa Ismail; Chavchay Saefullah; dan Fatin Hamama. Acara bertambah segar dengan selingan penampilan soprano Aning Katamsi dan Christopher Abimanyu dengan iringan band RRI.[9]

Hajat terakhir kepengurusan KSI periode 2004-2007 adalah penerbitan buku profil ini, yang memuat profil historis KSI serta profil karya sastra keluarga besar KSI dalam bentuk puisi, cerita pendek, dan esai sastra. Penerbitan tersebut akan menjadi bagian dari rangkaian kongres KSI yang direncanakan diselenggarakan di Kudus, Jawa Tengah, 20-22 Januari 2008. Itulah kongres pertama KSI yang akan mempertemukan seluruh eksponen KSI di pelbagai wilayah di Indonesia dan luar negeri.

Pada periode kepengurusan ini, KSI juga ditandai dengan penambahan cabang atau koordinat. Cabang atau koordinat KSI bertambah di Medan, Sumut; di Batulicin dan Tanah Bumbu (Tanbu), Kalimantan Selatan (Kalsel); di Serang, Banten; serta di Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). KSI Medan berdiri pada 2005, KSI Batulicin pada …, KSI Tanbu pada 20 Mei 2006, KSI Banten pada 24 Maret 2007, dan KSI Banda Aceh pada paruh kedua 2007.

Meski pelbagai kegiatan tetap berjalan dan sejumlah cabang atau koordinat bertambah, Ketua Dewan Pengurus KSI periode ini, Iwan Gunadi, ingin mengundurkan diri karena keterbatasan waktu yang dimiliki membuatnya tak sempat mengurusi KSI. Keinginan tersebut pertama kali disampaikannya pada suatu rapat di PDS H.B. Jassin, TIM, Jakarta Pusat, awal Agustus 2006, yang sesungguhnya tak dimaksudkan untuk itu. Sejumlah Dewan Pengurus dan Dewan Pendiri KSI yang menghadiri rapat tersebut tak menghendaki Iwan mundur. Pada rapat Dewan Pendiri KSI di tempat yang sama, 26 Agustus 2006, yang memang salah satunya dimaksudkan untuk membahas pengunduran diri Iwan, rapat yang dihadiri Wowok Hesti Prabowo sebagai Ketua Dewan Pendiri KSI serta dihadiri para anggotanya, yakni Diah Hadaning, Shobir Poerwanto, Slamet Rahardjo Rais, Wig SM, dan Iwan sendiri, memutuskan tak dapat menerima pengunduran diri itu. Sebagai jalan keluarnya, rapat memutuskan untuk lebih melengkapi struktur kepengurusan KSI dengan menghadirkan dua wakil ketua yang mampu menutupi kurangnya waktu yang dapat disediakan Ketua Dewan Pengurus KSI dan mengubah beberapa personalia jabatan. Iwan sendiri tetap menjabat sebagai Ketua Dewan Pengurus KSI hingga masa jabatannya selama tiga tahun selesai. Karena rapat sudah memutuskan seperti itu, Iwan kembali melanjutkan kepemimpinannya.

PERUBAHAN DEWAN PENGURUS KSI
PERIODE AGUSTUS 2006-SEPTEMBER 2007

Ketua:
Iwan Gunadi

Wakil Ketua I Bidang Organisasi dan Kegiatan:
Shobir Poerwanto

Wakil Ketua Bidang Penggalangan Dana dan Hubungan Luar Negeri:
Fatin Hamama

Sekretaris I:
Bambang Widiatmoko

Sekretaris II:
Aris Kurniawan

Bendahara I:
Diah Hadaning

Bendahara II:
Humam S. Chudori

Tim Kelompok Kerja:
1. Amdai Yanty Siregar
2. Endang Supriadi
3. Endo Senggono
4. Kurnia Effendi
5. Slamet Rahardjo Rais
6. Wig SM
7. Wilson Tjandinegara

Namun, tak lama kemudian, akhir Agustus 2006, Bendahara I Dewan Pengurus KSI, yakni Diah Hadaning, mengajukan surat pengunduran diri. Alasannya, sebagaimana termuat dalam surat pengunduran dirinya, ada dua. Satu, usianya yang sudah sepuh tak memungkinkannya mengikuti kiprah KSI. Dua, dia menganggap bahwa banyak teman di KSI yang lebih muda, lebih potensial, dan lebih menjanjikan untuk turut mengurusi organisasi nirlaba ini. Sejumlah anggota Dewan Pendiri KSI tampaknya memahami alasan pengunduran Diah Hadaing. Apalagi, memang, beberapa tahun sebelumnya, dia pernah menyampaikan rencananya mengurangi kiprahnya di dunia sastra, termasuk aktivitasnya di KSI, dengan alasan yang sama: usianya yang makin sepuh. Karena para anggota Dewan Pendiri KSI belum sempat berkumpul untuk merapatkan lowongnya posisi yang ditinggalkan Diah Hadaning, hingga buku ini selesai disusun, posisi tersebut dibiarkan lowong. Salah satu alasannya, Bendahara II Dewan Pengurus KSI dianggap masih mampu menutupi tugas-tugas kebendaharaan.

Kemampuan KSI bertahan dan terus berkiprah selama 1996-2007 di tengah begitu mudahnya komunitas sastra tumbuh dan tumbang itu tak lepas dari kepercayaan yang besar terhadap keteduhan payung kekeluargaan. Keterbatasan dana, keterbatasan waktu yang dimiliki tak sedikit pengurus, dan keberagaman latar sosial anggota keluarga besar KSI seperti tak menjadi persoalan yang rumit ketika setiap kiprah selalu tak melupakan keinginan untuk bersilaturahmi dan saling memahami. Perbedaan pendapat dan kesalahpahaman tentu tak terhindarkan. Walaupun mungkin masalah-masalah seperti itu ada yang tak terselesaikan secara tuntas, rasa persahabatan dan kekeluargaan yang besar akhirnya seperti menghapus semuanya begitu saja seiring perjalanan waktu.

Tulisan ini pernah dipublikasikan dalam buku yang disunting Ahmadun Yosi Herfanda dkk., Komunitas Sastra Indonesia: Catatan Perjalanan, halaman 3-22 (Tangerang: KSI, 2008).

[1] Tangerang menjadi bagian dari Provinsi Banten setelah provinsi tersebut diresmikan keberadaannya pada 2001.

[2] Saya ingin menyebut nama lain secara lengkap, tapi data saya tak mendukungnya.

[3] Melani Budianta dan Iwan Gunadi (penyunting), Pemetaan Komunitas Sastra di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Tangerang: Komunitas Sastra Indonesia, 1998).

[4] Daniel Dhakidae, “Siapa Membunuh Angin? Pengarang, Dunia Kepengarangan, dan Kekuasaan”, makalah untuk seminar perayaan setahun Komunitas Sastra Indonesia (KSI) di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 25 Oktober 1997.

[5] Suryadi, “Kado Kecil untuk Ulang Tahun KSI”, dalam Harian Media Indonesia (Jakarta), 2 November 1997.

[6] Harian Radar Banjarmasin (Banjarmasin), 23 Februari 2004.

[7] Harian Radar Banjarmasin (Banjarmasin), 28 November 2004.

[8] Pada press release dan spanduk pada saat acara, yang tertulis adalah “Refleksi 7 Tahun KSI”. Padahal, yang tepat, usia KSI sudah delapan tahun. Ini baru disadari kemudian.

[9] Harian Republika (Jakarta), 18 November 2007.

One response to “KIPRAH KSI DALAM RELASI KEKELUARGAAN

  1. Salam Budaya
    Terima Kasih nama saya telah tercatat dalam goresan riwayat KSI dan ungkapan syukur juga saya sampaikan karena setidaknya KSI pernah mempromosikan saya sebagai penyair terbaik 2003 lewat KSI AWARD 2003. Harapan dan doa saya semoga KSI tetap eksis dan berperan dalam bersumbangsih memajukan sastra Indonesia. Jalan Puisi memang jalan yang sunyi, tetapi tidak bagi KSI. Lewat kiprahnya KSI telah banyak tercatat dalam memajukan perpuisian Indonesia. Salam buat Mas Wowok, mas Iwan Gunadi, Mas Achmadun, Bunda Diah Hadaning. Kenangan indah di Tangerang pada penghujung 2003 tetap abadi di hati saya. (Heru Mugiarso, Semarang)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s